Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...
Bahan blog kali ini tentang bisnis kecil-kecilan saya. Sebelumnya saya mau sampaikan, Suami saya cukup modis untuk ukuran laki-laki dan bukan tipe orang kuno yang pandangan Islamnya terkotakkan hingga terkesan mengekslusifkan diri. Ia bahkan sangat open minded terhadap science dan ide-ide dari luar. Saya selalu diajarkan dan diingatkan untuk melihat dan memahami segala sesuatunya itu tidak dengan 'mata telanjang' saja, tapi juga dengan mata hati. Membiasakan diri untuk kritis pada tempatnya dan malu pada tempatnya. Tapi toh dalam beberapa hal, beliau termasuk laki-laki Muslim konservatif yang tidak bisa ditawar-tawar, contohnya soal peran seorang istri dalam rumahtangga. Ngomel boleh, tapi tidak mengencangkan suara. Ngambek boleh, tapi tetep ngurus Suami. Capek boleh, tapi sholat sunnat (kalau bisa) tetep didirikan. Kerja boleh, tapi (kalau bisa juga) dari rumah saja, sesuai kodratnya. "Toh aku masih bisa menafkahi Sayang dan anak kita," begitu selalu kalimatnya. "Ibu rumahtangga itu pekerjaan termulia dunia akhirat. Toh di rumah ada laptop dan wifi kalau ingin berbisnis. Ada OkeVision juga kalau butuh hiburan. Sayang bisa berekspresi sebebas mungkin tapi dengan penuh tanggungjawab dan tetap bisa menjaga kepercayaan Suami, bisa bisnis apa saja yang halal, apapun yang bisa jadi uang. Dunia global sekarang tidak terbatas ruang dan waktu. Dari rumah orang juga bisa menghasilkan uang, melihat dunia, bertemu banyak orang. Apalagi Sayang senang membaca, pinter nulis; lakukan sesuatu yang positif dengan itu semua. Dan satu lagi kelebihan seorang ibu rumahtangga dibanding ibu berkarier : waktu dan kesempatan beribadah lebih banyak!" Ehh kok jadi ngomongin agama ya? Hehehe... Diskusi 'berat' soal begini ada dalam blog books and discuss saya di wordpress.com (sudah janji sama beberapa teman, tapi sementara belum siap. Mengko di publish).
Karena saya tidak diperbolehkan bekerja diluar rumah (untuk saat ini), maka saya pikir nggak ada salahnya mencoba saran Suami itu. Kalau bisa, wifi itu bisa 'membayar dirinya sendiri'. Waktu itu kira-kira empat tahun lalu, banyak teman dan sodara saya yang suka jualan baju, seprei atau tas-tas KW. Mereka biasanya nyari supplier dari Jakarta dan Jawa. Saya pernah sih nyoba jualan baju, tapi yang ada malah kredit macet cet! Hihihi... mau nagih nggak enak, giliran nagih juga kesannya jadi saya yang "the bad one." Udah pembeli-pembeli kayak gitu ditambah saya orangnya nggak tegaan, kombinasi yang sangat merugikan buat pedagang. Kalau tas, saya kurang suka jualan KW, alasannya (sekali lagi) dalam blog saya yang lain.
Akhirnya saya coba jualan produk Oriflame dan bros. Untuk Oriflame, lumayan juga. Sementara ini, saya nggak aktif di MLM-nya, tapi dari hasil jualan produk-produknya saja saya sudah bisa dapat penghasilan tambahan yang lumayanlah buat beli bensin. Khusus untuk bros, saya cari supplier yang desain handmade dan hasil jadinya keren, tidak ndeso dan harganya terjangkau untuk grosiran. Saya senang dengan produk-produk handmade yang nyeni, tidak asal jadi mbuatnya. Syarat lain selain itu tentunya supplier yang mudah dan asik komunikasinya, open minded dengan saran dan kritik, nggak mudah tersinggung. Repot juga kalau kerjasama dengan supplier nyinyir dan tukang ngambek. Alhamdulillah selain kerjasama dengan seorang teman Nyonya di kantor Suami yang juga pinter membuat bros dan aksesoris bagus, saya juga dapat seorang supplier yang meskipun sudah punya blog populer, menurut saya sangat rendah hati dan terbuka dengan masukan-masukan dari pelanggan, termasuk re-seller seperti saya. Sampai sekarang, saya masih bekerjasama dengannya. Responnya sangat cepat, pengarsipan dan pengirimannya juga rapih plus sangat menghargai saya sebagai re-seller. Dia mengerti kebutuhan-kebutuhan re-seller, termasuk tidak menyertakan brand karyanya dalam setiap kemasan bros-brosnya dan tidak pula menyertakan daftar harga kalau kebetulan melakukan pengiriman langsung ke pelanggan saya (dropship). Sementara kalau bicara soal kemasan, kemasannya juga keren abislah pokoknya. Sebenarnya dia juga menyelenggarakan kelas-kelas workshop bagi yang berminat belajar bikin bros sendiri, sayangnya jauh. Kalau nggak di Jakarta ya di Jawa Barat.
Selanjutnya saya coba-coba juga jualan makanan seperti Rendang dan Sambal Goreng a la Luwuk. Resep Sambal Gorengnya dari Mama yang emang enak banget! Pakai irisan cabe dan kentang garing. Tore kalo' kata orang Luwuk. Untuk Rendang, resep tentunya dari Mami mertua saya yang memang asli Minang dan dulunya pernah punya RM Padang di Blora. Hasil jadi rendangnya agak kering, berwarna gelap dan ada campuran kacang brennebon goreng. Awet, bisa bertahan dua mingguan kalau disimpan di freezer dan makin dipanasin, makin enak. Duh, Suami dan anakku suka banget! Setiapkali ada pesenan, saya selalu sengaja masak yang banyak untuk mereka di rumah. Capeknya sama, jadi dibikin sekalian aja. Untuk bisnis makanan ini, saya memang cukup capek karena mulai dari belanja, milih rempah-rempah sampai ngolah dan masaknya, semua saya yang kerjakan. Kadang-kadang saya juga yang nganterin ke rumah pembeli. Uda suka protes kalau saya nekat terima pesenan lebih dari 4 kg. Katanya nggak suka liat saya berkutat dengan daging dan rempah-rempah berjam-jam begitu sementara dia nggak bisa bantu apa-apa selain ngaduk-ngadukin rendangnya dalam wajan. Gak tega lihat saya kecapekan. Biasanya sih setelah semua kelar, saya suka dimasakin air hangat dan dipijitin ama beliau, walaupun sambil tetep protes. Suamiku yang penyayang itu menjaga saya seperti telur emas. Gak boleh pecah, gak boleh lecet, gak boleh ini, gak boleh itu. Hehehe... kenapa saya kadang nekat begitu? Karena untungnya lumayan besar dan instan lho! Untuk pesenan di atas 3 kg saja sudah sepadan dengan setoran sekali jalan ke rekening bisnis. Itupun kata Suami, Mama dan Mami; saya pasang harga terlalu rendah per kilonya. Mereka suka bilang saya sejatinya sulit kaya dari bisnis begini karena keseringan nggak tegaan sama pembeli. Hehehe... Yah begitulah... jadi orang baik... :-D
Untuk blog-blog ini pun sebenarnya selain ingin menyalurkan hobi nulis, belajar tata bahasa, permintaan teman dan saudara, tujuan saya juga ingin punya penghasilan sih. Seperti adik saya yang seorang dokter SpOG dan punya web tentang Tips Kehamilan bekerjasama dengan temannya yang pakar IT. Web itu begitu sukses dan uang yang dihasilkan dari sana bener-bener amazing (Oya, numpang promote ya buat adik saya, sekiranya ada dari teman-teman yang pengen tahu tentang "Hasil kolaborasi adik saya dan teman IT-nya", silah ketik keyword : tips hamil). Cuma saya belum tahu caranya dan unlike my doc sister, i'm not lucky enough to have an IT friend like hers. Saya pikir saya tidak perlu ngoyolah. Khawatir nanti malah idealisme menulis berubah menjadi money oriented. Tujuan saya toh berbeda dengan adik saya. Saya malah tidak secara terang-terangan mempublikasikan blog yang satu ini segencar saya mem-publish blog film saya, meskipun banyak yang suka nanya. Nggak pede aja. Saya pikir, kalau ada yang menemukan by any chance, Alhamdulillah. Seperti putra Almh. Tante Sri Murni (yang juga seorang dokter) yang secara mengejutkan dan tidak saya sangka-sangka, memasang tulisan saya di blog ini. Waktu itu judulnya tentang cerita saya saat melayat Ibunya yang juga teman karib Mama saya. Tulisan itu ia jadikan tautan di akun facebook-nya dan itu membuat saya terharu. My appreciate to him. Yang pasti, saya masih bercita-cita ingin menghasilkan buku, entah itu novel ataupun antologi puisi. Mudah-mudahan Allah SWT Meridhoi, Aamiin YRA.
Terakhir, tawaran NextG yang datang pada saya, buat saya merupakan anugerah akhir tahun masehi dari Allah SWT melalui Minerva McGonagall. Bagaimana tidak? Pertama, sistem binary-nya mencari member baru sangat mudah (hanya kaki kiri dan kanan), sangat menguntungkan (1 rekrutan bisa dapat bonus 1,2 juta plus 400ribu bila terjadi sepasang); kedua, sistem binary itu sendiri independen. Artinya, tidak memberatkan member secara keseluruhan. Member yang hanya mau menjalankan ticketing, monggo. Tidak ada larangan atau beban bulanan atau target apapun yang harus dikejar; ketiga, seringkali terjadi : pasangan rekrutan kita sudah ada diisikan oleh sponsor/upline kita. Jadi begitu kita dapat 1 orang saja yang join atas ajakan kita, otomatis bonus sepasang tadi langsung jadi milik kita juga! Bahkan bila kita belum dapat rekrutan sama sekali, bila upline/sponsor mengisikan rekrutan mereka di kiri dan kanan kita, kita sudah dapat bonus pasangan 400ribu secara cuma-cuma (tanpa kerja)! Seru kan?; keempat, kita sudah punya web berisi menu-menu yang sangat memudahkan banget buat para agennya. Kalau menurut saya, tim NextG ini benar-benar sangat memanjakan para agennya lho. Beneran nih, saya nggak asal ngomong. Saya sudah membuktikan sendiri! Buat yang sering online atau nge-game, menu-menu dalam web NextG perkara gampang aja. Gak sampai sehari pasti sudah pada bisa asal rajin-rajin buka. Kelima, kita dibantu dan di pandu sampai bisa ngurus ticketing sendiri. Keenam, bisnis ini sangat menguntungkan. Saya ambil 'jalur lambat' hanya jualan tiket saja, belum sebulan join sudah dapat total komisi dari maskapai sebanyak 900ribuan! Itu pun hanya komisi murni dari maskapai, saya belum menambahkan service fee (yang juga dibolehkan dengan syarat dan ketentuan dalam NextG). Kalau saya getol ambil 'jalur tol' yang bisa cepat menghasilkan, bayangin berapa keuntungan saya sebulan? Dengan sudah ada 77 orang di kaki kanan saya, saya tinggal menuai bonus 400 ribu kan setiapkali mengisi member baru di kaki kiri saya? Sejauh ini saya baru merekrut dua orang. Itu saja, bonusnya sudah bisa dipakai untuk bayar lemari buku di tukang kayu, bonus depositnya buat nambah bayarin tiket Suami dari PUM ke Makassar dan masih bisa nabung pula. Alhamdulillah banget kan? Dan masih banyak keuntungan-keuntungan lainnya yang bahkan saya sendiri belum nemu hari ini, karena masih begitu banyak ilmu yang belum saya peroleh dari kedua web-nya. Bahkan Suami saya sendiri yang awalnya skeptis (lihat cerita saya tentang awal bergabung dengan NextG), sekarang mendukung 100%! Katanya daripada saya capek jualan makanan, mendingan fokus di bisnis ini aja. Lebih keren, nggak capek dan untungnya cepet.
Makanya saya menyayangkan banget kalau ada orang yang mungkin tidak membaca broadcast messenger atau pesan-pesan yang saya kirimkan. Padahal niat saya ingin membantu mereka juga, ingin mereka tahu manfa'at besar dari bisnis ini. Banyak orang yang tidak peduli, belum tahu apa-apa, belum mencoba mempelajari tapi sudah menjatuhkan penilaian duluan, yang terdengar pongah karena saya tahu betul yang mereka katakan itu salah besar. Suatu hal yang bisa diterima bila orang tidak bergabung karena sudah mempelajari sepenuhnya dan tetap dengan keputusannya. I'll immediately leave them alone. Tapi yang disayangkan adalah orang yang tidak bergabung hanya karena belum tahu apa-apa tentang bisnis ini, menolak membaca dan menolak meluangkan sedikit waktu untuk mempelajari lebih lanjut. Let's be smart, learn first before judge anything or anyone.
Wassalam.