Rabu, 02 September 2015

Pengalaman Mudik dengan Pesawat Udara

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...


Seperti biasa, baru bisa nongol lagi setelah lamaaaaaa banget. Hehehe...
Baru tergerak ngisi blog setelah nyadar kalau bedrest seharian ngikutin saran dokter kandungan itu sungguh membosankan dan malah bikin kepala pusing. So, here i am. ketak-ketuk keyboard laptop yang mulai berdebu karena semua kerjaan online belakangan banyak dikerjakan lewat tab dan Q5. Ngisi blog-nya sambil nonton Parkland di HBO Hits. Keren juga ini skenarionya. Saya suka film-film based on true story. Tapi saya nggak cerita film disini yah, karena ada blog khusus saya yang isinya seputar film di www.sabbimovie.blogspot.com. Ceritanya di sana aja.
Seperti biasa juga, Lebaran tahun ini mudik ke rumah mertua di Blora, Jawa Tengah. Suka ada yang nanya, "Mertua orang Jawa ya?" Bukan kok. Mertua saya orang Minang tulen. Hanya, setelah nikah di tahun 1960an, mertua tinggal di tanah Jawa (beberapa kali pindah), sampai akhirnya pensiun dan menetap di Blora. Betah banget di Blora. Saya menyaksikan sendiri kerukunan antar warga di Jawa itu juara punya deh. Dari kecil, anak-anak dibiasakan bersosialisasi dengan cara bermain keluar rumah di sore hari, sepedaan, jalan rame-rame dengan teman-teman sepantaran. Menurut saya pribadi, kebiasaan seperti ini bagus sekali untuk melatih anak-anak bersosialisasi sejak dini, bisa melakukan problem solve untuk masalah-masalah kecil mereka sehari-hari, meskipun dengan cara sederhana a la kanak-kanak. Selain itu, jadi punya kenangan masa kecil yang indah, teman-teman sepermainan yang meskipun suatu saat pasti akan berpisah, tapi di satu waktu kelak, bisa jadi reuni kembali. Jadi punya sesuatu untuk diceritakan. Ini pengalaman yang saya saksikan sendiri waktu masih tinggal di Yogya dulu. Kalau pengalaman fase Blora, mungkin karena disini banyak menetap pensiunan yang anak-anaknya sudah pada berkeluarga dan sukses di perantauan, yang saya saksikan ya kebiasaan orangtua-orangtua jaman dahulu yang suka saling menyapa akrab di jalanan, rajin bertamu dan saling membalas hantaran makanan. Kebiasaan yang dilestarikan warga sini. Saya suka nyoba kebiasaan bagus begini dengan para tetangga disini.
Di tahun-tahun sebelumnya sih dari Makassar kami ke Surabaya lalu biasanya langsung ke Blora lewat perjalanan darat dengan mobil yang disediakan rekanan adhi karya di Surabaya. Nah tahun ini karena Suamiku tercinta ditugaskan di Semarang officially dan beliaunya pengen banget anak istrinya lihat kota Semarang dan bertolak ke Blora dari sana dengan mobil yang disediakan, jadilah kami butuh total 6 tiket sekali berangkat ke Semarang karena harus transit di Jakarta. Dan pastinya nggak murah. Meskipun saya agen travel online, tetep nggak jaminan dapetin promo.
Wait, ada tamu. Ntar dilanjutkan ya. See you.
Melanjutkan kisah sebelumnya, jadilah kami sekeluarga berangkat lewat Semarang. Seru ternyata, terutama karena dari Makassar pesawat yang rencananya akan membawa kami ke Jakarta delay berjam-jam dan otomatis pesawat berikutnya dari Jakarta ke Semarangpun terancam 'hangus' tiketnya karena berlainan maskapai. Saya emang sengaja nggak ngambil penerbangan connect seperti biasanya karena udah pada habis (Well, biasanya kan dari UPG langsung Surabaya, banyak pilihannya. Kali ini mesti transit dan tiket penerbangan connect di peak season begitu ternyata nggak mudah ngedapetinnya). Di Bandara Hasanuddin kami udah berbagi tugas seperti biasanyalah style suami istri ini. Uda ngelobi dengan maskapai UPG-JKT di lantai bawah sedang saya konsen nelepon call center maskapai yang akan membawa kami dari JKT-Semarang. Sayangnya meskipun udah ngeluarin semua jurus ngelobi a la travel agent dan ibu-ibu memelas (biasanya sih berhasil), maskapai itu keukeuh tidak mau menjanjikan atau berkompromi apapun. Gosh yaa Allah! Uda memantau lewat telepon dan kami sama-sama harus kecewa karena misi bersama untuk ngelobi harus menemui jalan buntu. Saat akhirnya maskapai UPG-JKT lepas landas, kami sepakat untuk tawakkal saja dan pasrah dengan apapun yang terjadi. Berharap penerbangan menuju Semarang juga mengalami delay karena alasan bencana alam di Lombok ini toh mempengaruhi banyak rute penerbangan domestik. Andai nggak delay, dengan estimasi waktu tibanya, rasanya mustahil kami bisa nggak ketinggalan penerbangan berikutnya. Satu-satunya cara kami bisa duduk dengan sukses diatas kursi Batik Air menuju Semarang adalah dengan lari sprint segera setelah turun dari pesawat ini, ngantri ambil bagasi maskapai pertama, ke counter check in Batik Air, masukin bagasi seabrek sebelum menuju gate untuk boarding. Sungguh sangat mustahil, kecuali kami adalah keluarga The Incredibles. Hahaha. Ya sutralah, kalau udah kayak gitu, yang bisa dilakukan manusia hanya tawakkal. Mau gimana lagi? Ketinggalan pesawat apa boleh buat. Tapi Udaku yang Hebat itu ngajak tetap berpikir positif aja. Waktu sedang ngantri di boarding gate, meja kecil di sebelah kiri kami dikerubuti gerombolan manusia (kebanyakan bapak-bapak berjaket yang sedang marah-marah). Mereka komplain dengan keterlambatan yang molor berjam-jam hari itu. Para ground crew yang hanya berjumlah tiga orang nampak ketakutan dalam kepungan. Tidak ada satupun dari ground crew disitu yang ingin bernama "Achmad" saat itu karena sejak tadi namanya terus diteriakin orang banyak. Dicari-cari dengan macam-macam ancaman. Dimana-mana yang terdengar hanya suara teriakan dan gebrakan meja. Chaos bener.
Di Bandara Soetta, kami kembali berbagi tugas : Uda ke counter Batik Air sedang saya dan anak duduk di depan conveyor belt nungguin bagasi. Soal ketinggalan pesawat itu sudah pasti, sebab jam keberangkatan ke Semarang saat itu sudah lewat setengah jam dari schedule (udah siap-siap ngeluarin duit lagi untuk beli tiket baru). Yang mengejutkan, Uda muncul sejam kemudian sambil ngangkat bahu dan tersenyum menenangkan kearah kami yang udah lemas letih lesu duduk diatas trolley barang, sambil ngelus-ngelus kepala saya, Suami saya itu minta saya minum air putih dulu sebelum ngajak kami nyari makan malam. Di KFC aja yang paling deket. Lalu Suami mulai cerita tentang betapa riuhnya para penumpang di counter Batik Air saat itu. Ternyata banyak yang bernasib sama dengan kami karena tertahan rangkaian delay. Semua marah, semua menggebrak meja. Persis dengan yang terjadi di Makassar tadi. Lalu Suami mundur sesaat untuk mengamati situasi itu sambil mikir. Akhirnya setelah merhatiin seorang petugas laki-laki yang sejak tadi kelimpungan meladeni banyak komplain dan saat itu sedang minggir, mendekatlah Suami untuk ngelobi. Pake' jurus "bicara baik-baik" kalau nggak ingin dikatakan melas, Subhanallah, entah karena memang kami sedang beruntung aja atau terkesan dengan satu bapak-bapak ajaib yang tetep kalem di tengah-tengah amukan penumpang lainnya (biasanya Suami galak banget lho kalau ada kejadian kayak gini. Pernah ngalamin soalnya waktu terbang dengan Merpati beberapa tahun lalu saat bersama anak nengok Nenek dan harus mendarat darurat dinihari di Surabaya alih-alih di Makassar akibat cuaca buruk sejak dari Yogyakarta, semua penumpang kala itu kalap sementara Suami saya yang tadinya juga marah-marah akhirnya membantu para ground crew untuk nyarikan solusi dan berakhir happy ending), diam-diam petugas itu memberi tiga tiket gratis Lion Air untuk kami besok subuh ke Semarang. Begini katanya, "Pak, saya mohon maaf Bapak dan keluarga tetap nggak bisa berangkat malam ini juga. Penuh semua, Pak. Kami udah kewalahan ini karena memang harus mendahulukan penumpang yang sudah terlantar sejak pagi. Saya hanya bisa membantu tiga tiket ini free, tapi Bapak besok harus on time tiba disini lagi." Begitulah, meskipun rada kecewa karena rencananya ingin menghabiskan waktu semalam dulu explore Kota Semarang sebelum bertolak ke Blora, toh sisi baiknya kami punya tiket gratis. Yang cukup menyita energi justru lamanya kami duduk di KFC karena Uda nggak mau beranjak sebelum pasti mendapatkan hotel deket bandara dan kami harus di antar-jemput dari dan ke bandara. Saya ingin bertanya mengapa kami tidak naik taksi aja biar cepet sampe' di hotel? Tumit udah lecet-lecet begini dan badan pegel-pegel semua, tapi batal. Tahu banget dengan Suami yang pasti akan menasehati panjang kali lebar soal menahan diri, alasannya mengapa begini dan begitu dulu, dst. Toh beliau juga 'orang hotel' sekarang, saya nggak mau repot-repot mempertanyakan keputusannya yang serius dengan android-nya untuk hunting hotel. Tapi melihat wajah saya, Uda bisa 'membaca' kalau saya lelah dan bilang kalau ia juga sama lelahnya, minta saya dan Lyza bersabar lebih lama lagi. "Aku nggak bilang apa-apa, Sayang..." saya hanya merespon begitu sambil balas tersenyum balik. "Kalau cuma Uda sendiri nih, Uda tidur di bandarapun jadi. Tapi Uda bawa anak dan istri, harus tanggungjawab dapet tempat istirahat yang nyaman." 
Tepat saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.31 wib dan semua tulang ayam sudah habis dikasiin ke kucing yang setia nemenin kami duduk-duduk di KFC, datanglah mobil jemputan Puspamaya Hotel. Alhamdulillah malam itu setelah bersih-bersih badan, sholat dan nge-charge semua gadgets, kami bisa istirahat dan kembali diantar mobil yang sama menuju bandara keesokan harinya.
Tiba di Semarang, kotanya sepi karena ditinggal mudik sebagian besar masyarakat perantau. Mampir mess untuk mandi-sholat-ngaso dan beberes bawaan lagi, nyiapin mobil dan bekal selama perjalanan, mampir makan siang di Ayam Goreng Suharti lalu ke Blora kami menuju.




Selasa, 31 Maret 2015

MELUKIS

Assalamu'alaikum wr wb

Belakangan ini di sela-sela waktu luang, saya lagi seneng-senengnya nonton video Youtube tentang seni lukis, terutama tehnik melukis wajah dan pemandangan, menggunakan cat air dan cat minyak. Kadang-kadang juga mereka memberikan pelajaran menggambar. Favorit saya adalah Portrait Painter Pabst, Heather Rooney, Sheldon's Portfolio Art School, Sergey Gusev, agnescecile, Kevin Hill dan Wilson Bickford. Kalau ingin melihat gaya melukis yang brisik dimana pelukisnya nggak henti-hentinya bicara dan bahkan nyanyi, anda bisa tambahkan Bill Alexander Art juga (yang ini rada kocak. Hehehe. Kesan pertama buat saya : Alexander tampak seperti hitman Al Capone yang berasal dari Sisilia atau bahkan Don dari satu keluarga mafia asal Itali. Ternyata oh bukan, bukaaan! Alexander bukan mobster, dia pure seorang painter kok). Tehnik-tehnik melukis mereka luar biasa. Amazing banget!
Khusus untuk Bill Alexander, metodenya terkesan asal saput saja sehingga di awal memulai, orang bisa dibuat yakin bahwa ia sesungguhnya nggak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tapi makin mendekati rampung, karyanya terlihat begitu indah sampe' bisa mengembangkan senyum di wajah seseorang. Yang begitu terukur dan sistematis adalah Sheldon, Wilson dan Agnes. Saya lebih menyukai mereka yang melukis sambil berbicara karena tips dan trik-triknya justru ada disitu. Untungnya saya faham bahasa Inggris, jadi mengasyikkan aja bisa mengerti sepenuhnya apa yang mereka katakan. They could easily absorbed in my mind. Hanya nggak ngerti aja kenapa untuk Bill Alexander, sering diberi subtittle. Hehehe... "Isn't that wonderful?", he'd say. Sedang untuk Sheldon, dia nampak seperti one of a kind dan menonjol di antara yang lain karena dalam kata-kata pengantarnya, selalu terselip jokes dan selain menggunakan cat minyak, beliau juga bisa pake' cat air, crayon, pensil dan acrylic.
Kesamaan yang dimiliki oleh para seniman ini (well, at least bagi mereka yang berbicara sepanjang kerja) adalah :
1. Untuk bisa melukis, tidak harus pandai menggambar. Beberapa dari mereka bahkan berkata kalo' mereka tuh kadang nggak menggambar sesuatu terlebih dulu. Sepenuhnya hanya 'menuangkan' apa yang tergambar jelas dalam benak. Jadi, kita nggak perlu mengikuti plek apa yang mereka gambarkan atau warna yang mereka gunakan. Keren kan kalau kemampuan melukis bisa beyond imagination kita?
2. Saat melukis, jangan terpaku pada keinginan untuk wajib sempurna! Sheldon berkata, "Murid-murid saya pada awalnya sering merasa harus sempurna segalanya. Ya Tuhan, mereka membuat gila diri mereka sendiri. Mereka membuat gila saya! Tarik nafas panjang dan santai aja, oke?"
3. Jangan berharap hasil akhir akan sempurna dalam percobaan-percobaan awal. Semua butuh proses dan latihan terus-menerus. Wilson Bickford berkata, "Semua butuh latihan dan ketekunan. Tentu saja! Apa sih yang tidak membutuhkan itu?" Nah tuh, pelajaran dari para pelukis handal kelas dunia (pelajaran juga buat saya) : Semua butuh proses dan latihan.
Nah, ngomong-ngomong soal melukis dan menggambar, saya dulu senang sekali menggambar. Tiada hari tanpa ngadep kertas, kalau bukan nulis jurnal, ya menggambar. Saya masih ingat, buku gambar stand by terus di meja belajar. Pewarnanya spidol atau pensil warna/perep kalau kata orang Luwuk (membaca "e" nya as in "ember"). Bahkan waktu Mama arisan, saya 'abadikan' dalam bentuk gambar. Kalau lagi mood, bisa detail banget (ehem, bangga sesekali tak mengapalah yaa...), sampe' diliatin Mama ke teman-temannya dan disimpan dalam laci lemari pakaiannya. Hehehe... Sering dapet nilai bagus deh untuk pelajaran Menggambar. Saya pernah mendapat angka 9 plus plus untuk gambar mendetail saya yang kata Bu Gurunya : miriiiiiip mendekati aslinya. Waktu itu beliau yang orang Jawa itu meminta kami menggambar meja yang di atasnya diberi taplak meja yang sedikit terlipat di bagian sudutnya dan ditahan dengan vas bunga. Saya nggak akan pernah melupakan wajah dan sense of art Guru Kesenian saya itu. Saking kesengsem sama hobi menggambar ini, saya pernah punya cita-cita jadi komikus. Niru-niru gambar Dewi Kunti dalam Buku Cerita Mahabhrata, Anita dalam serial di majalah Bobo dan tentu saja Donal Bebek dkk. Hahaha. Pernah juga nih saya menggambar Bapak A.H. Nasution dan Suami saya hanya dengan menggunakan pensil dan dalam bentuk titik-titik di atas gambar dasarnya. Yang untuk Sang Jenderal Besar, sayangnya sudah saya kirimkan beserta surat tahun 2000 ke alamat rumah beliau, jadi nggak punya fotonya sekarang. Tapi yang punya Suami Alhamdulillah masih tersimpan rapih. Saya buatin itu di hari ultahnya yang ke-40 tahun.
Nah, seiring dengan berjalannya waktu, makin keteteran dan nggak pernah sempat menggambar-menggambar lagi sekarang ini. paling banter oret-oretan sekenanya aja, itu juga sebatas sketsa-sketsa di atas kertas lepas dan seringnya malah gambar-gambar interior rumah. Hihihi... apa karena Suami Insinyur ya? #Lho.
Nah, belakangan saya kok teringat hobi yang satu ini, tapi ingin mencoba lagi dengan menggunakan cat air atau cat minyak. Terkesan lebih dewasa dari sekedar menggambar kali' ya? Lalu tergeraklah ingin melihat dan mempelajari tehnik-tehnik para maestro masa kini. Ketemulah nama-nama di atas. Keren-keren deh beliau-beliau itu. Banyak sekali tehnik dan trik yang bahkan tak pernah terbayang atau melintas di benak saya. Jadi nitip dibeliin perlengkapan melukis sama Suami yang kebetulan tugas di Jakarta. Kebetulan Suami tercinta juga penggemar lukisan, eh langsung dibeliin sepaket waktu jalan sama temennya ke Penville! Horeee, Senangnya sampe membuncah-buncah! Hahaha... Ntar saya susul fotonya kalau udah dibawain Suami weekend ini.
Oya, beberapa video boleh deh saya selipkan disini sebagai penutup cerita.

Thanks, guys. Wassalam.

Rabu, 21 Januari 2015

Tulisan Perdana Di 2015

Assalamu'alaikum wr wb

Yaa Allah, lama bener nggak post di blog-blog saya. Di blog film mungkin ada delapan bulanan. Payah deh. Maafkan yaa... terhalang terus dengan berbagai kesibukan a la mommies ini. Hehehe... Insya Allah yang membicarakan soal Hari Pahlawan itu akan saya lanjutkan.
Di bulan-bulan terakhir tahun 2014 saya dan Suami sibuk menyelesaikan urusan keluarga kecil kami (Classified. Sorry), lalu semangat mendandani rumah, hunting mobil sampai ke Jakarta, merancang ini-itu dan liburan akhir tahun dengan anak gadis kami ke Jakarta. Ditambah dengan urusan domestik saya dalam rumah, kegiatan-kegiatan pengajian dan ibu-ibu di organisasi Rukun Ibu Adhi kantor Suami dan rutin nge-gym, sudah cukup menyita waktu saya sehari-hari. Kalau ada waktu luang sedikit,  habis untuk membaca buku, curi-curi nonton film-film bakal review di blog film saya atau... tidurrrr. Hehehe... Itu bahasa ngelesnya, kalau mau jujur, mungkin sayanya aja yang masih kurang pinter bagi waktu. Karena semuanya di urus dan dihandle sendiri, jadi badan sudah kelelahan. Kalau lelah, saya wajib tidur karena kalau kurang tidur, saya jadi nggak bisa olahraga high impact (dilarang keras ama Suami) dan seharian mood dan tubuh saya 'pasang alarm' pusing dan mual terus. Jiahhh, alasan lagi. Hahaha... tapi soal tidur itu beneran lho! Jatahnya harus cukup kalau nggak mau nggak produktif seharian keesokan harinya.
Well, sebenernya nih pengennya liburan ke Bali lagi akhir tahun kemarin. Dua kali ke Bali kok waktunya serba terburu-buru dan belum semua tempat bisa puas dikunjungi, jadi rasanya kurang menikmati. Kalau mau jujur, saya pengen honeymoon dengan Suami di hotel keren, wisata kuliner secara baik dan benar (yang ujung-ujungnya nggak bikin perut murus-murus), menghirup aroma laut di pantai-pantai indahnya (yang ini belum pernah lho setiap ke Bali), nonton Tari Kecak dengan Suami dan anak di ketinggian Uluwatu sembari menikmati panorama sunset ciptaan Allah, santai jalan-jalan seharian di Krisna milih-milih oleh-oleh tanpa harus terburu-buru, bisa mengunjungi semua tempat wisata-menikmatinya-foto-foto sepuasnya.
Berhubung Suami masih ngantor pada Senin dan ada rakor pada hari Selasanya, maka akan sangat mubazir waktunya kalau kami ngotot liburan ke Bali kali ini, so diputuskanlah liburan akhir tahun kemarin ke Jakarta aja. Lagipula udah lama kami punya cita-cita ingin ngajak Icha ke Dufan, lihat Ancol, TMII dan Monas seperti dulu orangtua-orangtua kami ngajakin kami kesana. Kalau saya sih pengennya bisa ke museum-museum sebanyak mungkin, tur ke Istana Negara dan ziarah makam Opa dan Oma Jakarta di Tanah Kusir. Sayang manusia hanya bisa berencana, Allah juga yang Mengatur segala urusan manusia. Jangankan ziarah, ngunjungin satu museum pun kami nggak sempat. Pertamakali tiba di Jakarta itu tanggal 24 Desember. Kebetulan adik saya yang Sp.OG sedang pelatihan Laparoskopi di RS. Fatmawati selama tiga bulan dan tinggal di sebuah guest house di Tanjung Barat. She and her husband, they insisted us to stay there selama kami di Jakarta. Bukan guest house-nya yang mewah, bukan juga traktiran demi traktiran menyenangkan yang kami terima dari adik-adik kami yang generous ini, tapi hospitality mereka berdua, sikap ramah dan takzim yang mereka tunjukkan pada kami yang bikin senang dan betah.
Oya, pulangnya tanggal 03 Januari. Itu juga udah extended satu hari. Hehehe... Tentang liburan akhir tahun kami kemarin ntar di post lain yah. Nggak seru kalau nggak sama foto-fotonya. Nunggu Uda pulang Makassar dulu biar acara mindah-mindahin foto ke laptop bisa dibikin sekalian sekali kerja.
Pendek kata, saya beberapa bulan ini sulit sekali membagi waktu. Belum mahir aja kali' ya mengelola waktu. Hanya bisa menulis beberapa moments atau hal-hal penting yang kalau nggak dicatet pasti bakalan lupa. Baiklah, sampai disini dulu.

Wassalam.

Sabtu, 01 November 2014

WEEKEND ALL DAY LONG!

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...

Weekend kali ini banyak waktu ngisi blogs karena Uda ku absen pulang. Hiks...:-(
Pendidikannya di Jakarta agak ketat schedule setelah final exam. Yang biasanya Jum'at sore udah kelar kelasnya dan bisa langsung menuju bandara untuk pulang ke Makassar, kali ini kegiatannya sampai Sabtu. Yah, sedih sih... kita sama-sama nggak biasa berjauhan, jadi komunikasi aja yang dikencengin. Yang pasti, selalu sama-sama mensyukuri keadaan, bagaimanapun itu. Allah udah Ngasih begitu banyak nikmat.
Setelah final exam, selain diskusi dan evaluasi materi and so on, and so on; ternyata semua peserta Executive Program itu diharuskan breakfast dan lunch di beberapa hotel berbintang untuk kemudian membuat review tentang pelayanannya, hospitality para staff, kualitas makanan, menu, dan seterusnya. Tadi malah lunch di Resto Pawaka Valley, Sentul. Pastinya saya belum pernah kesana, tapi sounds fancy! Asyik ya? Diminta me-review kegiatan makan-makan! Hehehe...
Maaf... lanjut cerita ya... semalem abis ngeloni anak tidur, lama banget teleponan sama Uda... 
(02 Nopember, jam 07.50 wita)
So,  semalem itu saya baru tidur jam 00.45 wita karena setelah teleponan dengan Suami, saya masih membaca sebentar. Pagi-pagi jam 04.30 sudah harus bangun lagi nyiapin anak yang ikut Kegiatan Jalan Sehat bersama Walikota dalam rangka HUT Makassar yang ke-407. Tempatnya di Lapangan Karebosi, lumayan jauh dari rumah. Kami berangkat dari rumah jam 05.30, molor setengah jam dari target saya. Jadi sudah bisa dipastikan, kami bertemu dengan kemacetan luarbiasa sampai jarak pendek yang normalnya bisa ditempuh dalam 5 menit dengan mobil, tadi nyaris 45 menit sampai bisa lolos ke depan Lapangan Karebosi. Dimana-mana, bertebaran manusia berkaos oranye seperti yang dipakai anak saya. Tua muda, anak kecil sampai remaja, tumplek jadi satu di jalanan. Ruang gerak mobil jadi sempit banget. Walaupun bensin merosot drastis, saya cukup bersyukur body mobil nggak dapet tambahan baret. Melegakan akhirnya bisa keluar dari chaos itu tanpa goresan sedikitpun (satu hal yang perlu disyukuri kalau anda pengendara mobil di Makassar). 
Si Lyza yang sudah SMP itu saya lepas dengan bismillah, berbekal uang 20ribu, pulsa HP 15ribu, roti coklat dan Frestea yang dibeli semalem waktu mau ke rumah Oma Opa plus bawa bekal jatah susu bantal dan sebungkus Sozzis dari Pemkot yang memang sudah satu paket sama undangan yang dibagikan sekolah. 20ribu yang kemarin dibayarkan di sekolahan adalah biaya kontribusi yang kecil kalau dibandingkan dengan doorprize-nya yang ada rumah segala'! Begitu propagandanya.
Oya, semalem abis beli bekal anak di Alfamidi, saya sempatkan mampir rumah orangtua. Udah lama banget ditinggal ke Palu-Gorontalo-Luwuk. Akhir-akhir ini saya jadi sering kepikiran orangtua. Antara rindu, sedih, senang, kasihan, semua jadi satu. Rindunya karena sudah lama Mama Papa diluar kota, sedihnya ya karena sebagai anak, masih merasa belum sepenuhnya bisa membahagiakan orangtua. Usia Papa diatas 70 tahun, Mama sudah menjelang 60 tahun. Mami Papi mertua malah sudah melampaui usia 74 dan 77 tahun. Mudah-mudahan deh masih diberi kesempatan berbakti lebih lama.
Sekarang cerita urusan NextG dan tiket pesawat nih yaa... 
Kalau bicara urusan tiket, seperti yang pernah saya ceritakan dulu : yang namanya customers itu dimana-mana pasti beraneka ragam karakternya. Ada yang kalau beli tiket tuh cepet tanpa banyak drama dan pertanyaan. Mendadak issued pokoknya. Beda dengan customers lain yang tiket ke Jakarta dari Makassar (misalnya) menurut saya sudah sangat murah karena promo, masih juga dikatakan "mahal ya? Masih ada yang dibawah harga itu lagi?" atau yang minta tiket termurah, setelah dikasih info tiket termurah, muncul pertanyaan yang nggak perlu, "Itu sudah yang termurah? Kalau yang lewat bla... bla lebih mahal ya?" C'mon! Nah, kalau customers istimewa diatas, pertanyaan mereka lain lagi, "Kok murah ya?" Hihihihi... yang model begini ini saya demen. Apalagi mereka ini selalu pasti beli tiketnya, jadi kalau mereka nge-PiNG! di BBM untuk nanya tiket, mau saya sedang sakit kek, sedang nyetir kek, sedang persiapan baru mau tidur kek, atau bahkan baru aja tutup laptop; saya pasti akan bela-belain urus segera. Mobil dipinggirin dulu kalau lagi nyetir, tidur ditunda aja kalau lagi siap-siap tidur. Tab dan Q5 diberdayakan kalau laptop udah off. Selalu inget sama pesan Suami : "Bisnis Sayang yang manapun yang berpotensi menghasilkan uang, itu yang segera didahulukan yah. Hal yang sama juga berlaku dengan customers." Dan regular customers ini rata-rata pengertian. Mereka sudah tahu saya tidak nambah-nambah service fee, cukup hanya ngambil komisi resmi dari maskapai, dengan demikian, saya juga nggak nyimpen modal besar. Jadi, customers golongan ini selalu akan langsung transfer uangnya segera setelah mereka menentukan flights yang mereka inginkan. Transfernya juga cepet karena via sms banking dan hebatnya lagi, sekali mereka punya nomer rekening saya, langsung tuh di saved. Begitu oke dengan tiketnya, mereka nggak pake' nanya-nanya lagi nomer rekening saya. Langsung bet, bet, bet. Transfer berhasil! Jadi saya pun langsung bet, bet, bet, tiket ter-issued! Hehehe.
Meanwhile, at the opposite side, tentunya ada juga customers yang ibaratnya hard people to deal with (orang-orang dimana saya kesulitan kalau berurusan dengan mereka). Contoh soalnya sudah sering saya sebutkan di posts sebelumnya. Nah yang paling hit minggu ini adalah customer yang gayanya paling bikin saya sebel : Demanding banget (nge-PiNG! berulang-ulang, kadang-kadang sampe' nelepon berkali-kali nggak kenal waktu) mau nanya tiket, begitu sudah diinfokan apa yang mereka minta, eh... menghilang! Dikonfirmasi juga diem aja. Kalaupun merespon, isi responsnya nggak enak banget. Yang lagi kumpul dengan teman-teman kantornya sedang membahas urusan maha pentinglah, yang lagi sibuk dengan orang Kementrian ngurus urusan negaralah, yang minta saya sabar dikit nape lah. Ckckck! Padahal sudah sering saya jelaskan bahwa ketersediaan seats pesawat itu waktunya singkat sekali sebab saya kan online dengan para agen travel di seluruh Indonesia. Nanti beberapa jam kemudian atau beberapa hari kemudian, orang-orang seperti ini menghubungi lagi dan nanya tiket yang sama. Kalau harganya sudah naik, komentarnya : "Yah, yang kemarin sudah tidak ada ya?... kok jadi mahal sih?... Coba cek lagi penerbangan lain, kalau bisa yang harganya tidak jauh-jauh dari harga yang kemarin..." bla... bla... bla. Nah, ntar kalau sudah di booking-kan, giliran mau bayar juga adaaaaaa saja alesannya. Pake' drama-drama segala. Yang bilang time limit terlalu singkatlah, tidak ada yang antar dia ke ATMlah. Duh, itu kan bukan masalah saya sebagai agen travel? Toh saya pernah meng-handle dulu tiket beberapa dari mereka itu dan buntutnya saya juga yang kelimpungan nagih sana-sini. Lha yang ditagih acuh beibeh aja. Nggak ada kabar beritanya, sudah lewat dari batas waktu yang dia janjikan juga nggak ada revisi janjinya, giliran ditagih, jawabannya tajem-tajem coba. Saya yang korban akhirnya jadi tersangka, yang dianggap nggak peka dengan kesibukan dan masalah pribadinya. Pembayaran akhirnya terjadi setelah molor beberapa hari lho. Itu juga berkat upaya keras saya berjuang nagih setiap hari. Saya nggak suka banget deh sama customers model begini!  Nggak ada manner sama sekali. Nyebelin abis. Bikin kepala pening dan mengganggu mood aja. Memang sih pelanggan itu raja, saya mengerti poin itu; tapi please deh, Negara ini susah maju kalau customers seenaknya begitu. Lagipula yang dimaksud "Pelanggan/pembeli adalah raja" itu adalah pelanggan/pembeli yang demanding-nya positif, misalnya tidak menerima barang yang rusak saat diterima dan memperjuangkan haknya untuk mendapatkan ganti, yang suka nanya-nanya kritis spesifikasi barang sebelum membeli, yang mungkin nanya-nanya banyak flights demi mendapatkan komparasi yang menguntungkan dia. Kalau seperti itu kan enak? Semua ada aturannya, nggak sesuka hati aja. Pendapat saya pribadi begitu ya, karena sebagai pelanggan, saya juga bersikap seperti itu. Misalnya kaos yang pernah saya beli di sebuah mall di Blora untuk Suami saya ternyata setelah dicoba dirumah, kekecilan; dan saat mau dituker, struknya ketlingsut entah dimana. Yang saya lakukan? Ya saya tetap berangkat mencoba menukar di mall itu, tapi sebatas nyoba-biar-nggak-penasaran saja. Karena saya tahu saya yang salah, saya nggak akan protes andai petugasnya menolak dengan alasan tidak ada struk belanjanya. Kan begitu ya? Penjual dan pembeli sama-sama tahu diri dan tahu aturan. Ini saya harus ceritakan sebagai sharing aja. Lha kalau di agen-agen travel besar, customers model begini jelas nggak kepake'. "Anda punya uang, ayo beli. Tidak punya, jangan beli tiket... Mau yang murah, budgetmu berapa? Nggak ada yang sesuai budget ya nggak berangkat." Dan seterusnya begitu kan? Mereka nggak melayani drama-dramaan. Banyak ragam model bad customers lainnya yang nggak bisa saya ceritakan satu-persatu.
Sekarang sih, biar saya nggak sering-sering sakit kepala, kalau ada customers model begitu, saya berusaha untuk nggak terlalu mikirin. Tips dari Suami tercinta nih. Makin sering dia nggak merespon kalau saya menginfokan soal tiket, makin sering saya mengesampingkan dia dulu, prioritaskan yang potensial dulu. Ntar-ntar aja dong, toh sudah bisa dipastikan dia hanya nanya untuk membandingkan aja (cari yang paling murah)? Kalau dia sebut-sebut soal masalah pribadinya sampai nggak bisa ke ATM, saya diemin aja. Nggak perlu semua saya respon. Kalau masih ngotot cerita macem-macem untuk nyari justifikasi atas kesalahannya yang menyebabkan time limit lewat, saya akan merespon dengan saran supaya segera membuat mobile/internet banking untuk mempermudah urusan transfer uang. Sejak kejadian tidak mengenakkan soal handle-meng-handle tiket pesawat orang dulu, dengan sangat menyesal saya nggak mau lagi nalangin tiket bad customers. Demi kebaikan bersama, biar sama-sama enak aja. Lagipula saya memang nggak punya modal besar kok. Kalau sudah punya modal untuk diputarpun, harus tetap selektif.
Ssst, si nona udah sms minta dijemput lagi, jadi to be continued setelah saya pulang dari Karebosi ya.
(02 Nopember, jam 16.43 wita). Ternyata pulang dari Karebosi saya nggak bisa langsung ngisi blog lagi. Harus nyiapin makan siang anak, mantau dia ngapa-ngapain, nyuci-nyuci seragamnya untuk Senin besok dan ngurus beberapa tiket pesenan. Biar kate udah remaja juga, kalau nggak dikomando dan dipantau, masih aja nyante dengerin musik atau baca buku. Setelah itu malah ngantuk dan bobok deh ama anak. Eh sebelumnya ambil TM dulu biar bisa ngobrol sambil becanda ama Papanya di telepon. Hehehe... Ini tadi bangun tidur, abis sholat Asar, saya leyeh-leyeh lagi BBM-an ama Uda dan dek Ana. Suamiku pamit lunch di depan TMP Kalibata dan ke Kemang sebentar ama temen-temennya, saya sekalian nitip memory card untuk salah satu ponsel Blackberry yang baru 'sembuh sakit' beberapa minggu lalu. Trus adik bungsu saya yang dokter Sp.OG itu selain mesen tiket (inget cerita saya tadi pagi tentang regular customers? Nah, ini salah satunya), juga ngajak ngobrol soal tempat tinggalnya di guest house selama pendidikan Laparoskopi tiga bulan di RS. Fatmawati, Jakarta. Ceritanya kurang lebih begini (pake' gaya bahasa asli yang campur-campur ya? Apa adanya ini, nggak saya edit. Beginilah gaya bahasa kami sehari-hari kalo' ngobrol) :  
"Kak Reyn, this guest house is better than apartment! Lebih feels like home *sambil ngirim beberapa foto interior ruangan yang super duper keren* Tidak perlu naik turun tangga, no lift juga. Dua kamar dan komplit, semua ada. Bahkan lebe komplit dari torang pe rumah di Tenggarong. Hehehe... Yang punya arsitek, Kak Reyn. Dia kenal Om Ary Pedju. Guest houses-nya dibikin dengan konsep apartemen tapi hanya tiga unit dengan dua pintu, jadi penghuni tidak saling ketemu. Uniknya ada temanya masing-masing : Jawa, Bali, Cina. Torang dapat yang Cina lee. Penyewa lainnya ada pramugari dengan suaminya dan satunya lagi mahasiswa, anaknya Ketua KPPU. Owner-nya juga baik, suami istri, ramah-ramah, walaupun ada depe asisten, dorang sempatkan ketemuan dengan kitorang. Kalo' pemilik apartemen yang torang sewa dulu, selama tiga bulan di sana, torang te' pernah ketemu. Uniknya lagi, depe kotak voucher listrik ada tulisan : Jawa, Bali, Cina." Dan seterusnya obrolan berlanjut.
Keren ya? Di Jakarta itu banyak profesi keren yang mencengangkan lho, banyak ide-ide kreatif bertaburan. Sky is the limit. Kita jadi ngobrol soal bisnis masa depan, zona nyaman, kepindahan Uda ke Divisi Hotel di Jakarta, dst... dst. Mengenai Om Ary Pedju yang disebutkan adik saya diatas, beliau Insinyur senior kebanggaan keluarga besar Papa yang juga masuk jajaran think tank Kepresidenan RI. Tapi cerita mengenai beliau ntar aja ya nyusul di post lainnya.
Baiklah, Alhamdulillah kelar juga cerita panjang lebar hari ini. Lumayan deh, bisa mengalihkan pikiran dari rasa sedih karena kangen sama Suami dan orangtua saya. Terimakasih buat yang sudah membaca. Semoga akhir pekan kalian juga penuh warna. Good day and Wassalam.

Kamis, 30 Oktober 2014

Entri Di Ujung Oktober

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all

Hai, hai...
Belakangan sedang males nulis selain karena laptop ngadat terus dilanda virus. Urusan bisnis tiket jadi terganggu. Saya kesulitan mengakses web ticketing plus nggak bisa web check in. Web ticketing menjadi sering nge-hang, baik melalui Firefox maupun Google Chrome. Untung ada tab yang selama ini hanya duduk di bangku cadangan (Hahaha, bahasanya penggemar sepakbola) dan hanya saya gunakan untuk urusan tiket saat bepergian aja. Sang pemain bintang sedang cedera, jadi pemain cadangan diturunkan dan ternyata pemain cadangan dengan HALO Hybrid-nya cukup memuaskan Pelatih. Hehehe... bahasa sepakbola lagi.
Ngomong-ngomong soal kesibukan ibu-ibu, ibu-ibu itu makhluk yang paling beruntung sedunia. Mau disebutin rentetan keberuntungan itu? Nih ya :
1. Semua Ibu dipastikan sudah pernah mengalami yang namanya masa kanak-kanak, remaja dan gadis, tapi nggak semua gadis akan merasakan menjadi Ibu;
2. Pilihan busana ibu-ibu lebih beragam. Bisa pakai celana panjang, boleh pakai sarung, pakai kemeja tak mengapa, nganggo topi yo sah-sah wae'. Nah Bapak-bapak? Busananya dari itu ke itu aja sepanjang jaman. #Hehehe... ini kan topiknya soal keberuntungan wanita ya.
3. Bagi Ibu rumahtangga atau yang bekerja dari rumah, punya banyak kesempatan mengabdi ngurus keluarga dan lebih banyak waktu beribadah. Makin sering dirumah kan waktu ibadah jadi lebih panjang, ladang pahala juga lebih luas tebarannya kan ya?
4. Namanya Ibu-ibu, sudah punya anak, sudah punya Suami; hati tenang...
5. Setiap hari diberi kesempatan sama Allah untuk melatih kesabaran, keikhlasan , kepekaan, sekaligus kegesitan dalam banyak hal : manajemen waktu, manajemen keuangan sampai manajemen stress;
6. Punya banyak waktu upgrade iman, punya banyak waktu upgrade ilmu juga. Kalau saya lebih memilih mengisi otak dengan hal-hal yang bermanfa'at dan berbobot. Misalnya dengan membaca buku-buku berkualitas, seperti buku-buku agama, ilmu pengetahuan, motivasi dan pengembangan diri sampai ke novel-novel detektif. Tapi bukan berarti saya nggak nonton tv sama sekali ya? Bukan berarti saya nggak membaca majalah atau novel-novel cinta ya? Semua itu tetep, tapi pake' 'penyaring'. Misalnya untuk acara-acara tv, saya hanya menyaksikan ceramah-ceramah agama Mamah Dedeh/Kajian Quraish Shihab, nonton acara-acara kuis mendidik (misalnya Famili 100), talk show berbobot seperti Mata Najwa dan serial/film-film pilihan (ini wajib karena saya aktif menulis di blog film). Sedang untuk bacaan, saya masih suka baca koran. Majalah seperti Femina, AyahBunda, Tempo, Intisari, GoodHouseKeeping dan Martha Stewart. Novel-novel non detektif yang saya baca adalah tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer, Remy Silado, Danielle Steele, Mira W, Dee, Charlotte Bronte dan Linda Howard. Novel-novel detektif masih menjadi kegemaran saya sejak kecil : Agatha Christie, Enyd Blython, Mary Higgins Clark dan Sidney Sheldon. Khusus bacaan nih ya, saya senang dengan yang punya tata bahasa teratur dan berkelas, gaya bahasanya bernas dan tanpa ada cacat kesalahan penulisan sama sekali. Substansinya : di usia 30an, saya berusaha hanya mendengar dan melihat yang baik-baik saja, yang manfa'at saja dan yang sudah pasti akan membuat saya jadi ketambahan ilmu, melatih otak semakin pinter dan punya pikiran 'tajam'. Terus, kalau ada yang nanya, saya tahu updates news gimana dong? Ya biasanya lewat yang cara penyampaiannya cepat dan lugas aja, misalnya radio atau koran tadi.
7. Jadi punya banyak waktu me-time, misalnya : nyoba-nyoba resep masakan untuk Suami dan anak, berkebun, merawat diri, menata foto dalam album, bikin kliping, membaca, trial error model-model hijab (bagi yang berkerudung). Banyak deh. You name it lah. Menyenangkan jadi Ibu, meskipun harus jadi stay at home Mom.
8. Yang masih punya orangtua, Alhamdulillah sering-sering punya kesempatan berbakti.
Apalagi yah? Banyak pastinya. Jadi, nikmat Allah itu kalau kita hitung-hitung, ya sejatinya nggak terhitung. Harus banyak-banyak bersyukur dan kurangi mengeluh. Oya, kebiasaan baik yang selalu saya 'bunyikan' alarmnya dalam kepala juga tuh : JANGAN MENGELUH. Itu larangan terbesar buat diri saya sendiri. Sering sekali saya mengingatkan diri, juga menjaga lisan dan tidak mencela oranglain. Tiga hal yang saya hindari banget. Khawatir akan berbalik menyerang aspek-aspek tertentu dalam kehidupan saya. Nggak barokah hidup kalau kita sering mengeluh, bicara sembarangan atau menyakiti hati oranglain.
Ini cerita saya jadi bercabang-cabang ya? Maklum, borongan. Lama nggak post cerita, jadi dirapel. Hehehe. Segitu dulu kali' ya. Wassalam and good day.

Senin, 22 September 2014

A Trip To Surabaya : Bumimoro, Museum Kapal Selam Pasopati & Mami Papi.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Hai, semoga semua pembaca dalam keadaan sehat wal'afiat dan beraktivitas dengan sempurna sampai ke akhir hari, Aamiin... Seperti biasa, setiap melakukan perjalanan, sebisa mungkin saya ingin berbagi cerita di jurnal/blog, bahkan bila hanya saya pembacanya. Hehehe...
Baru ngisi blog lagi, semalem baru tiba dari Surabaya. Perjalanan yang singkat aja sebetulnya karena saya dan anak saya berangkat hari Sabtu, 20 September pagi, bertemu dengan Suami yang sudah tiba duluan di Surabaya langsung dari Jakarta. Senin malam kemarin sudah pulang Makassar lagi, sementara Uda kembali ke Jakarta karena hari ini pendidikannya berlangsung seperti biasa. Oya, kami ke Surabaya dalam rangka menghadiri pernikahan putri Mr. S di Graha Samudera, Bumimoro-Surabaya. Mr. S dulu hadir di pernikahan kami, ngamplop dalam jumlah besar dan selalu setia meminjamkan mobil pada kami setiap kami mudik ke Blora. He's our VIP friend, jadi ketika pertamakali menerima undangan pernikahan di kantor Uda, saya langsung terpikir akan hadir bersama Suami di acara itu. Kami merasa banyak berhutang budi, jadi wajib bagi kami berdua untuk hadir.
Saya dan Icha berangkat Sabtu pagi dengan Sriwijaya yang take-off jam 09.45 wita. Kami dapat tempat duduk paling belakang karena baru dibantu check in oleh seorang teman petugas bandara di last minutes. Nggak apa-apa sih buat saya, yang penting kami terangkut ke Surabaya. Yang kemudian menjadi masalah adalah penerbangan yang kurang mengenakkan. Sejak take off sampai akhirnya landing, pesawat terguncang-guncang keras. Proses landing pun tidak berlangsung mulus. Ketika akhirnya sudah menginjakkan kaki di Bandara Juanda sampai malam hari, saya masih merasa pusing dan mual karena jet lag. Ini baru ke Surabaya, gimana kalau keluar negeri ya? Fiuhhh... pathetic me :-) 
I hate fly actually... Hal yang paling menyenangkan tentu saja bisa bertemu Suami lagi setelah hampir dua minggu berpisah. Alhamdulillah Uda dapet pinjaman mobil dari Mr. Ng. Segala sesuatunya sudah diatur dan diperhitungkan Uda, termasuk soal urusan tiket pesawat, transport dan hotel. Biasanya kami berbagi tugas : saya yang handle urusan tiket pesawat, barang-barang bawaan dan biaya yang harus dikeluarkan selama di luar kota; Uda yang handle urusan transport dan hotel.
Hari Sabtu siang itu kami lunch di Restoran Palem Sari di Jalan Kartini. Restonya tidak begitu mewah tapi makanannya enak-enak, pelayanannya cepat, akurasi pesanan juga patut diacungi jempol. Kami langsung terkesan sehingga esok harinya kembali lunch di sana lagi bersama Mami Papi, dengan pesanan yang lebih banyak sampai pada kekenyangan. Hihihihi...
Di Hotel G Suites yang funky, kami serasa masuk salon besar karena nyaris semua petugasnya berdandan seperti para kapster : rambut merah, baju sempit-sempit dan celana melorot yang menyempit di bagian betis. Bahkan ada seorang petugas security pake' anting sebelah dan bergaya rambut mohawk! Sore itu setelah sholat jama', kami istirahat dulu karena sama-sama bangun terlalu pagi untuk mengejar pesawat. Pesawat saya jam 09.45 wita, tapi pesawat Uda jam 05.00 wib; So, saya tetep harus bangun jam 3 dinihari untuk membangunkan Uda lewat telepon. Dua setengah jam sebelum acara resepsi, saya sudah bangun duluan, mandi dan nyiapin segala keperluan Suami dan anak. Thanks to seragam bahan kain India pemberian seorang relasi Uda yang dijahit Tante Nun untuk saya-Icha dan Ko' Irian untuk Uda. Subhanallah, kain dengan kolaborasi warna yang indah sekali!
Butuh waktu setengah jam untuk kami akhirnya menemukan gedung tempat acara. Kata Mr. Ng yang sebelumnya nganter Uda survei ke lokasi, gedung milik TNI AL itu hanya digunakan untuk acara-acara oleh kaum jetset. Kami parkir tak jauh dari pos security tentara TNI AL, menyusuri jalan beraspal mulus yang di kiri kanannya berdiri rangkaian-rangkaian bunga ucapan selamat dari berbagai bank dan perusahaan. Memasuki bagian dalam gedung, suasana meriah langsung terasa. Saya jadi ingat acara pernikahan dek Ana beberapa tahun lalu yang juga semeriah itu. Sama-sama menggunakan jasa EO, ada photo booth dengan berbagai properti lucu, souvenir gede dan desain interior mewah dengan pilihan makanan berlimpah di mana-mana. Saya masih merasakan pusing-pusing dan mual akibat perjalanan pesawat pagi harinya, jadi kurang berselera makan malam itu. Uda dan Lyza yang antusias ngider nyobain makanan-makanan di sana. Hehehe. Kami bertemu dengan beberapa rekan dari Adhi Karya dan Rukun Ibu Adhi Makassar, satu diantaranya saya ajak foto bersama.
Esok harinya kami sarapan di Kitchen and Bar hotel. Uda meminta saya membantu me-review setiap hotel yang kami datangi. Sebetulnya, jauh sebelum Uda mengikuti pendidikan perhotelan, kami sudah punya tradisi nginep di hotel-hotel setiapkali ada rejeki lebih dan momennya pas saat long weekend atau jelang akhir tahun. Bahkan saat masih gadis, kalau tidak bisa bekerja sebagai wartawan perang di daerah-daerah konflik atau bekerja di Istana Negara, saya punya cita-cita bekerja di front office hotel lho. Alasan saya : 1. Saya senang mengurus rumahtangga dan hotel bagi saya laksana rumahtangga skala besar. Saya pikir, peluang saya untuk sukses disana cukup menjanjikan; 2. Saya senang bersosialisasi, senang bergaul dengan banyak orang, temen saya banyak, ada dimana-mana; saya fasih berbahasa Inggris dan excite dengan suasana kerja yang dinamis, hotel adalah tempat bekerja yang menyenangkan karena semua keinginan di atas terpenuhi. Pasti akan sangat menyenangkan bekerja di hotel; 3. Saya suka berangan-angan mengumpulkan tanda tangan tokoh-tokoh penting dunia untuk koleksi. Bisa dibayangkan kesempatan-kesempatan gratis yang akan saya dapatkan bila bekerja di hotel kan? Semua cita-cita itu tidak terwujud sampai hari ini karena saya terlalu permisif dengan campur tangan oranglain dalam memutuskan apa yang terbaik dalam hidup saya :-( Anyways, karena kali ini hotel yang kami tempati hanya bintang tiga, kami tidak bisa berharap banyak soal kenyamanan tempat bersantap. Tapi untuk ukuran hotel berbintang tiga, G Suites boleh dikatakan menyenangkan lah. Desain interiornya sederhana saja, dengan meja dan kursi dominan warna merah putih tanpa table manner komplit dan beberapa kursi empuk berbalut kulit hitam atau merah. Mini bar dipenuhi display gelas dan botol-botol raksasa Jack Daniels, begitu juga dengan semua lukisan yang tergantung di dinding, semua berlabel "Jack Daniels", semakin menegaskan ciri khas funky hotel yang terletak di daerah Gubeng ini.
Mami Papi tiba dengan mobil travel menjelang waktu Lohor dan kami menghabiskan waktu dua jam ngobrol di kamar Mami Papi. Malam itu Lyza tidur di kamar Mami Papi dan saya dan Uda di kamar lainnya.
Hari Senin pagi setelah sarapan, kami akhirnya mengajak Mami Papi mengunjungi Museum Kapal Selam Pasopati di Jalan Pemuda. Letaknya tidak begitu jauh dari hotel, Uda secara mengejutkan menguasai betul jalanan Surabaya. Bangga deh sama Suami saya, ia mengurus kami dengan sangat baik dan penuh tanggungjawab ;-) Entah karena saya memang penggemar sejarah ataukah memang museum itu luarbiasa sekali, saya sangat terkesan dengan Museum sejarah TNI AL tersebut. Saya tidak melewatkan kesempatan mengambil foto sebanyak mungkin. Bukan hanya saya; Uda, Mami Papi sampai Lyza pun terkagum-kagum lho dengan museum yang satu ini. Padahal biasanya anak-anak seusia dia suka bosen diajak ke museum. Lyza tidak begitu. Ia sangat manis dan memberikan momen-momen indah buat kami hari itu. Tidak terhitung kalimat ekspresif Uda, Lyza dan Mami Papi untuk menyatakan kekaguman dan rasa bangga Negara kita pernah punya kapal selam sebesar itu dengan prajurit-prajuritnya yang gagah berani. Sebagian orang mungkin akan tak bergeming karena bagi mereka, sejarah tidak berarti apapun. Tapi untuk sebagian lainnya, pengalaman seperti itu benar-benar tidak tergantikan. Saya baru tahu kalau video rama tentang sejarah kapal selam dan TNI AL baru akan diputar pada pukul 10.00 wib sementara saat itu jam baru menunjukkan pukul 09. 15 wib. Kasihan Mami Papi kalau harus menunggu lama, maka ditemani Lyza, saya mendatangi petugas pemutar video rama nya dan mulai melancarkan aksi meminta dispensasi. Hehehe. Alasan saya : orangtua yang sudah akan pulang ke Blora, Suami yang akan balik ke Jakarta dan saya dan anak yang akan pulang ke Makassar ini jarang-jarang punya waktu berkumpul seperti ini di Surabaya, padahal kami ingin sekali tahu sejarah kapal selam itu. Siapa tahu kami terkesan dan akan membawa rombongan lebih banyak lagi? Tidak butuh waktu lama untuk petugas itu berpikir, dia serta-merta meminta saya mengajak keluarga saya menyaksikan video rama saat itu juga meskipun pemutaran berikutnya sebenarnya baru akan terjadi 45 menit kemudian. Saya pun bergegas ngajak Uda dan Mami Papi yang sudah nunggu di bawah tenda payung merah deket kapal selam.
Dari museum, kami keliling nyari rumah makan yang kira-kira menyediakan take away nasi lauk lengkap dengan sendok makannya untuk dibawa Mami Papi dalam perjalanan pulang ke Blora. Mami Papi masih kenyang, mintanya dibungkus aja untuk perjalanan. Mami Papi adalah orangtua yang ta'at beragama, rendah hati, tidak pernah mengeluh, penuh kasih sayang, tidak suka menjudge dan tidak butuh upaya keras untuk menyenangkan hati mereka. Saya ingin hidup penuh ketenangan dan kedamaian hati seperti itu bersama Uda. Semua hal yang melekat pada Mami Papi itu yang selalu membuat hati ini sedih setiapkali harus berpisah lagi dengan mereka. Tidak terkecuali saat kemarin siang kami menemani Mami Papi menanti jemputan mobil travel di lobi Hotel G Suites. Rasanya sediiiih banget waktu nganter Mami Papi menaiki mobil travel hijau itu... Diam-diam saya dan Mami sepakat sering-sering berdo'a semoga Uda ditugaskan di Surabaya, biar deket sama Mami Papi; saya pun tidak terlalu jauh dengan Mama Papa di Makassar. Bisa sewaktu-waktu mengunjungi mereka juga. You know, setiapkali melihat orangtua kita melambaikan tangan saat berpisah, saat itu juga kita langsung merindukan mereka lagi. Tak peduli seberapa lama kita baru saja bertemu dan mengobrol dengan mereka. Don't you think? Itu yang selalu saya rasakan. Hanya bisa berdo'a dan berharap kami diberi kesempatan panjang untuk berbakti dan menyenangkan orangtua.
Begitulah, semalam akhir perjalanan kami di Surabaya ditutup dengan kembalinya Uda ke Jakarta dan saya dan Lyza ke Makassar. Pesawat saya Lion Air take off jam 17.50 wib, pesawat Uda Sriwijaya take off jam 20.00 wib. Sebelumnya saya sudah web check in melalui komputer di lobi G Suites, sayang Sriwijaya belum menyediakan layanan web check in, jadi ketersediaan seat sepenuhnya bergantung pada waktu kedatangan di bandara. Seperti biasa deh, Uda nemenin saya check in dulu, kami suka saling mengingatkan segala sesuatunya supaya tidak ada yang ketinggalan. Kami punya waktu 30 menit duduk-duduk dulu di luar gate saya (Gate 2). Selalu saling merindukan dan waktu bertemu serasa tidak pernah cukup. Hiks... Saya dan Lyza nangis saat tiba waktunya berpisah. Perasaan yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang saling menyayangi tapi harus tinggal berjauhan. Mudah-mudahan Allah SWT Meridhoi kehidupan kami, kami diberi rejeki yang halal dan selalu pandai bersyukur. 
Jarak antar seat Lion Air depan dan belakang masih sempit seperti biasa, tapi yang perlu diperhatikan adalah interiornya yang bersih dan nyaman. Bau AC-nya juga tidak sememabukkan bau AC Sriwijaya yang bikin saya mual. Begitu lelahnya saya sampai terkantuk-kantuk dalam pesawat dan dalam taksi Bosowa sepanjang jalan menuju rumah. Saya baru terjaga saat sudah mendekati Antang. Sampai rumah, hal pertama yang saya lakukan adalah manasin mobil, nyiram tanaman-tanaman, masak dinner dan buka semua pintu-pintu untuk pergantian udara. Baru setelah itu makan malam bersama Lyza dan bersih-bersih diri. Alhamdulillah Uda, juga Mami Papi sudah tiba dengan selamat di tempat tujuan masing-masing. Definitely need a big sleep. Pagi tadi, masih dengan rasa ngantuk yang mendera, saya menyiapkan segala keperluan Lyza ke sekolah, termasuk nyiapin kostum latihan basketnya, bekal lunch dan ngubungin ojek langganan untuk nganter ke sekolah. Bismillah, end of story today. Wassalam.

P.S : In Shaa Allah saya akan kembali untuk posting foto-foto (Sept, 23 2014).

Rabu, 03 September 2014

Mengenang Adik Asuh : Engkos Koswara

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Boleh dikata, cerita saya kali ini cerita usang, mengingat waktu pemicu idenya adalah tahun 2004 silam.
Di akhir tahun '90an, saat saya dan seorang adik masih kuliah di Yogyakarta, orangtua kami punya rumah pribadi di sebuah komplek perumahan di daerah Ringroad Utara. Bukan hanya mendapatkan banyak teman dan sahabat keluarga selama episode hidup itu, Mama dan Papa juga punya beberapa anak asuh, sebutan populer bagi orangtua yang menampung para siswa Sekolah Penerbang (SEKBANG) TNI AU saat mereka libur/weekend. Normalnya yang rutin berkunjung hanya dua orang (sebut saja Ade' dan Sorong), tapi kadang-kadang mereka juga mengajak beberapa temannya, meskipun hanya mampir makan dan duduk-duduk ngobrol sebelum akhirnya pergi lagi. Untuk Ade' dan Sorong, orangtua saya membuatkan kamar khusus di sisa tanah di atas lahan sempit di belakang rumah kami. Mungkin karena nggak punya anak laki-laki, Mama dan Papa dengan ikhlas melakukan itu. Saya dan adik-adik pun senang karena serasa punya sodara laki-laki yang tidak pernah kami miliki sebelumnya. Setiapkali mereka datang, Mama atau saya biasanya masak untuk makan siang dan makan malam mereka (soal adik-adik spesial ini, lain waktu saya cerita lagi. Kali ini pengen cerita tentang seseorang yang lain).
Saat Ade' dan Sorong masing-masing sudah ditempatkan di TNI AL Surabaya dan Kepolisian Pondok Cabe , Ade' punya teman sekolah masa kecilnya di Jawa Barat yang meskipun seangkatan, baru diterima masuk SEKBANG pada tahun 2000. Suatu malam, saat saya sedang sendiri di rumah, Ade' yang kebetulan sedang jalan-jalan ke Yogya ngajak saya menemani dia ke SEKBANG dan kenalan dengan temannya itu, namanya Engkos Koswara. Saya masih ingat dia muncul di ruang tamu mess dengan badan kurusnya yang dibalut kaos putih dan celana panjang biru tua. Meskipun usianya sama dengan Ade', dia tetap menunjukkan sikap hormat layaknya yunior ke senior seperti lazimnya dalam dunia militer. Selama perjalanan, Ade' sudah ngasih kata pengantar betapa unik dan lugunya temannya yang bernama Engkos itu. Dan setelah saya bertemu langsung, Can't agree more, ceritanya itu memang terbukti. Engkos anak yang ramah, lugu dan sangat sopan. Bahkan kesopanannya yang berlebihan mungkin terasa janggal di jaman ketika tata krama sudah mengalami degradasi saat itu. Saya langsung merasa seperti mendapatkan lagi adik laki-laki baru setelah Ade' dan Sorong ditugaskan di luar Yogya. Engkos pernah beberapa kali berkunjung dan nginap di rumah. Yang paling berkesan buat saya adalah adik yang baik hati itu tidak pernah mengeluh. Ia pernah berjalan kaki sekitar 4 km di siang bolong setelah turun dari Kopata di jalan raya Ringroad dan sesampainya di rumah, dengan wajah sumringah berkeringat  dan aksen sundanya yang khas, dia berujar sambil melangkah masuk, "Fiuhhh, maaf ya Mbak... Engkos tadi jalan kaki dari depan. Ibu ada? Sehat-sehat semua, Mbak?"--Gaya bicaranya dengan membahasakan diri sebagai orang ketiga (menyebut nama diri sendiri).

Hal berkesan adalah soal makanan. Yang paling digemarinya dari masakan saya adalah Terong Pete' Sambel. Sebenarnya itu hasil kreasi saya dari bahan-bahan yang ada dalam kulkas : terong, pete, cabe merah, tomat dan gula merah. Hehehe... Tapi tahukah anda apa komentarnya setelah melahap menu itu dengan tiga piring nasi? "Enak banget, Mbak Reyn masakannya. Terimakasih banyak ya Mbak. Engkos jadi inget Mama di Subang. Mama tahu ini makanan kesukaan Engkos, jadi kalau Engkos pulang kampung, pasti dimasakin beginian." 
Pernah suatu ketika, Engkos akan menghadiri sebuah pesta pernikahan. Begitu gugupnya dia sampai berkali-kali mematut diri di hadapan saya, bertanya apakah dandanannya sudah rapih atau ada yang kurang pas. Lucu sekali gayanya, seperti bocah berusia 12 tahun alih-alih 22. Sampai ketika sudah ditempatkan di markas TNI AD di Semarang, Engkos masih menjaga tali silaturrahim dengan kami di Yogya. Di masa-masa penugasan di Semarang itu, ia juga sempat beberapa kali mampir ke rumah di Yogya. Kali pertama dia pernah nemenin saya dan Mama jalan-jalan ke Mall Galeria, dengan Lyza yang masih batita. Kami ke mallnya sambil gotong-gotong kereta bayi Lyza waktu itu. Untung ada Engkos, dia yang telaten bolak-balik melipat dan membuka kereta itu, termasuk menggotong saat mau naik turun eskalator. Yang luarbiasa : dia pake seragam komplit dengan atributnya sebagai Siswa Sekolah Penerbang, tapi nggak sedikitpun dia ragu dan malu melakukan itu semua. Kali kedua adalah ketika dia nelepon ke ponsel saya nanyain saya mau dibawain apa dari Semarang. Waktu itu saya ingat, saya sedang di atas bis Kopaja (apa Kopata ya? Sampe' lupa saya) dalam perjalanan mau membayar tagihan listrik rumah di kantor PLN Mangkubumi Yogyakarta. Saya menolak mesen apapun tapi dia maksa nanya terus sampai sayapun bilang "makanan khas Semarang aja, Dek.". Akhirnya dia bawain kami Lumpia Semarang.
Sampai saat dia ditugaskan di Aceh yang kala itu masih merupakan wilayah konflik pun, Engkos masih sesekali menelepon nanyain kabar kami sekeluarga dan bahkan sempat ngirim fotonya bersama calon istri ke Mama melalui MMS (populer di jaman itu). Rasa berterimakasihnya pada kami sekeluarga atas kebaikan menampung dan menjadikannya bagian dari keluarga selama di Yogyakarta selalu diucapkan berkali-kali, meskipun kami yakin semua keluarga akan melakukan hal yang sama.
Tapi kebersamaan kami layaknya keluarga ternyata tidak berlangsung lama. Pada tanggal 12 Oktober 2004 menjelang Maghrib, saya yang waktu itu masih rajin ngikutin berita di tv, membaca newstickers yang muncul di layar televisi tentang sebuah helikopter jenis Bell dengan nomor registrasi 5078 milik TNI AD yang pada siang hari itu jatuh di km. 34 jalan antara Takengon, Aceh Tengah-Bireun, Aceh. Delapan personel TNI AD dilaporkan tewas dalam kecelakaan tersebut. Untuk sesaat, pikiran saya melayang pada Engkos karena saat kontak terakhir sekian bulan sebelumnya, dia pernah bercerita tentang tugas barunya sebagai co-pilot helikopter TNI AD di Aceh sana. Seingat saya, sudah cukup lama juga adik asuh saya itu tidak memberi kabar karena keberadaannya di daerah konflik yang tentunya sangat membatasi ruang gerak, tapi buru-buru saya menepis pikiran itu. Di saat perasaan mulai nggak enak, malam itu sekitar pukul 19.37 wib, Mama nelepon menyampaikan kabar duka yang juga diperkuat Ade' yang mengabarkan via SMS bahwa Engkos termasuk salah satu korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Inna lillahi wainna ilaihi roji'uun. Saya terpukul dan sangat sedih mendapat kabar dari Ade'. Hari itu, saya kehilangan seorang adik asuh yang sudah saya anggap seperti adik laki-laki saya sendiri. Adik yang baiiik sekali hatinya.
Oya, berikut nama-nama personel TNI AD yang tewas dalam kecelakaan helikopter Bell tersebut :
1. Kapten Pilot Mayor Pnb. Heru Iryanto
2. Co-pilot Letda Pnb. Engkos Koswara
3. Teknisi Serda Sulaiman
4. Teknisi Serda Yarjun
5. (Penumpang) Letkol. Suparman
6. (Penumpang) Mayor Rudi
7. (Penumpang) Letnan Dwi Yuda Febrianto
8. (Penumpang) Pratu Irawan

Jaman dulu saya senang sekali ngikutin Olimpiade (terutama olahraga beregu seperti basket, voli, renang indah dan atletik cabang lari estafet) dan berita. Saking gandrungnya, sampe' rajin nyatet segala. Maklum, dulu kan belum populer Google atau search engines sejenis di internet. Nggak ada wifi-wifi an dan sebagainya. Berita apapun jadi semacam harta karun yang harus saya 'selamatkan'. Nggak ada yang lebih memuaskan dibanding nyatet dan nyimpen sendiri semua detail berita. Nah, khusus berita kecelakaan heli Engkos ini, ada beberapa catatan saya jaman itu yang masih rapih tersimpan dalam organizer saya dengan sumber berita dari berbagai reportase berita stasiun tv RCTI, Metro TV dan SCTV. Saya bagikan aja disini :
1. 12 Oktober 2004 jam 20.31 wib--Belum diketahui penyebab pasti jatuhnya heli jenis Bell milik TNI AD, tapi siang tadi memang cuaca sedang buruk.
2. Jubir Koopslihkam Letkol CAJ. Asep Sapari membantah jatuhnya heli karena ditembak oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka-R). Sebelumnya, GAM di wilayah Batee Iliek Pimpinan Darwis Djeunib mengklaim telah menembak jatuh helikopter tersebut dengan kalashnikov dan granat peluncur.
3. 12 Oktober 2004 jam 22.15 wib--Semua korban tewas telah di evakuasi.
4. Letda Dwi Yudha Febrianto akan dimakamkan di Surabaya. Almarhum bertugas di Aceh sejak Nopember 2003 sebagai Danramil. Yudha adalah Lulusan Terbaik AKMIL (Akademi Militer-Magelang) tahun 2002 dan pernah mendapatkan "Pedang Trisakti Wiratama".-This one stayed young forever.
5. Pernyataan dari KASAD (Kepala Staf Angkatan Darat) Ryamizard Ryacudu : "Heli jenis Bell 205 yang jatuh di Takengon-Bireun itu dibuat pada tahun 1970 dan digunakan sejak tahun 1974, tapi hingga kini masih layak terbang kok! Jangan berspekulasi macam-macam dulu ya! Kita masih selidiki terus penyebabnya itu!"-Galak, seperti biasanya:-) Tapi emang harus begitu, Jenderal.
6. 13 Oktober 2004 jam 16.25 wib--Jajaran KODAM Iskandar Muda mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati delapan prajurit TNI AD yang tewas dalam kecelakaan helikopter jenis Bell-205 di Bireun kemarin.
7. Sementara itu, TNI AD telah mengirim tim untuk menyelidiki penyebab di belakang jatuhnya heli jenis Bell-205 tersebut.-I wonder how's precisely the investigation go?
8. 13 Oktober 2004--KASAD kembali menegaskan bahwa kejadian yang menimpa heli AD tersebut adalah murni kecelakaan dan bukan karena tembakan GAM.
9. 13 Oktober 2004 jam 20.00 wib--Jenazah delapan anggota TNI AD tiba di Jakarta, disambut dengan upacara kehormatan militer. Tidak ada yang lebih membanggakan bagi seorang prajurit selain gugur saat menjalankan tugas. Yang menggetarkan hati adalah : Almarhum Engkos harus mencoba berkali-kali mendaftar di SEKBANG sebelum akhirnya keterima. Begitu besar keinginannya menjadi tentara. Saya pernah nanya kenapa Engkos begitu gigihnya mendaftar di Sekbang sampai berkali-kali? Bukannya banyak profesi lain yang menjanjikan untuk anak muda seperti dia? Lalu dijawab bahwa sejak dulu dia memang hanya ingin jadi tentara dan membuat bangga ibu dan keluarga besarnya. Dan dia diwafatkan dalam keadaan sedang bertugas untuk sebuah profesi yang begitu dicintainya.

Ade' rajin ngubungin saya untuk mengabarkan perkembangan terkini dan ngasih alamat rumah Engkos di Subang kalau-kalau ingin ngirim karangan bunga. Kami juga nitip sejumlah uang untuk keluarganya.
Mengapa seringkali orang baik dipanggil lebih cepat? Saya teringat sebuah perumpamaan manis seorang Ibu untuk putranya yang bertanya hal serupa, dalam salah satu share kisah mengharukan di beranda Facebook, "Kalau adik berada di sebuah taman dengan banyak bunga dan ada yang sedang mekar dengan indahnya, kira-kira bunga yang mana yang akan adik pilih untuk dipetik?" Tentu siapapun akan memetik bunga yang paling indah kan?"
Kelihatannya saya memang tidak ditakdirkan memiliki adik laki-laki. Sedih rasanya... Hanya bisa mendo'akan dan berharap saat sakaratul maut, dia tidak merasakan sakit lama-lama dan husnul khotimah. Anak baik, yang tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berprasangka buruk pada siapapun, killed in action; therefore, forever young :-(
Sejak kepergiannya, saya sering merenung tentang kematian, yang begitu tipis bedanya dengan kehidupan dan bisa datang menjemput manusia kapan saja, tidak peduli tua atau muda. Tidak peduli apakah sedang sakit atau dalam keadaan sehat wal'afiat. Kalau kemudian saya sering melarang diri sendiri untuk dikit-dikit ngeluh, itu sebagian besar untuk Engkos. Untuk mengenang sifat-sifat baiknya semasa hidup. Saya selalu ingat adik yang satu itu setiap hari. Sejak hari kepergiannya sampai saat ngetik ini. Al-Faatihah untuk Engkos Koswara. Semoga dilapangkan kuburmu, Dek. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin.
By the way, apa kabar Ade' dan Sorong, adik-adik asuh lainnya itu? Sorong entah gimana kabarnya sekarang. Tahun 2008 dia pernah mampir ke rumah Mama Papa di Makassar. Kalau nggak salah ingat, dia disewa menerbangkan helikopter untuk Kalla Group (yang juga pemilik perumahan yang kami tempati sehingga helipad-nya memang dalam lokasi perumahan kami). Waktu itu saya dan Suami masih numpang di Pondok Indah Mertua, jadi kami sempat ketemu sebentar. Sayang, Uda sedang parah-parahnya kena cacar air 'hasil' tularan Lyza, jadi nggak bisa diajak terbang dengan heli deh. Hehehe. Serius lho mau di ajak waktu itu. Karena saya harus nungguin Suami, Lyza belum sembuh betul dan Mama takut; akhirnya hanya Papa yang bersedia mengajukan diri untuk touring dengan Sorong. Semua yang lebih muda dirumah kalah dengan Papa. Hahaha.
Kali kedua, kami bertemu lagi di Hotel Marbella, Bandung saat Ade' nikah tahun 2011. Saya dan Suami datang mewakili Mama dan Papa yang berhalangan hadir, Sorong masih setia sebagai penerbang helikopter TNI AD.
Dan untuk Ade', setelah 10 tahun pengabdian di TNI AL, dia beralih menjadi Pilot Garuda Indonesia. Sampai sekarang.


Wassalam.