Belakangan ini di sela-sela waktu luang, saya lagi seneng-senengnya nonton video Youtube tentang seni lukis, terutama tehnik melukis wajah dan pemandangan, menggunakan cat air dan cat minyak. Kadang-kadang juga mereka memberikan pelajaran menggambar. Favorit saya adalah Portrait Painter Pabst, Heather Rooney, Sheldon's Portfolio Art School, Sergey Gusev, agnescecile, Kevin Hill dan Wilson Bickford. Kalau ingin melihat gaya melukis yang brisik dimana pelukisnya nggak henti-hentinya bicara dan bahkan nyanyi, anda bisa tambahkan Bill Alexander Art juga (yang ini rada kocak. Hehehe. Kesan pertama buat saya : Alexander tampak seperti hitman Al Capone yang berasal dari Sisilia atau bahkan Don dari satu keluarga mafia asal Itali. Ternyata oh bukan, bukaaan! Alexander bukan mobster, dia pure seorang painter kok). Tehnik-tehnik melukis mereka luar biasa. Amazing banget!
Khusus untuk Bill Alexander, metodenya terkesan asal saput saja sehingga di awal memulai, orang bisa dibuat yakin bahwa ia sesungguhnya nggak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tapi makin mendekati rampung, karyanya terlihat begitu indah sampe' bisa mengembangkan senyum di wajah seseorang. Yang begitu terukur dan sistematis adalah Sheldon, Wilson dan Agnes. Saya lebih menyukai mereka yang melukis sambil berbicara karena tips dan trik-triknya justru ada disitu. Untungnya saya faham bahasa Inggris, jadi mengasyikkan aja bisa mengerti sepenuhnya apa yang mereka katakan. They could easily absorbed in my mind. Hanya nggak ngerti aja kenapa untuk Bill Alexander, sering diberi subtittle. Hehehe... "Isn't that wonderful?", he'd say. Sedang untuk Sheldon, dia nampak seperti one of a kind dan menonjol di antara yang lain karena dalam kata-kata pengantarnya, selalu terselip jokes dan selain menggunakan cat minyak, beliau juga bisa pake' cat air, crayon, pensil dan acrylic.
Kesamaan yang dimiliki oleh para seniman ini (well, at least bagi mereka yang berbicara sepanjang kerja) adalah :
1. Untuk bisa melukis, tidak harus pandai menggambar. Beberapa dari mereka bahkan berkata kalo' mereka tuh kadang nggak menggambar sesuatu terlebih dulu. Sepenuhnya hanya 'menuangkan' apa yang tergambar jelas dalam benak. Jadi, kita nggak perlu mengikuti plek apa yang mereka gambarkan atau warna yang mereka gunakan. Keren kan kalau kemampuan melukis bisa beyond imagination kita?
2. Saat melukis, jangan terpaku pada keinginan untuk wajib sempurna! Sheldon berkata, "Murid-murid saya pada awalnya sering merasa harus sempurna segalanya. Ya Tuhan, mereka membuat gila diri mereka sendiri. Mereka membuat gila saya! Tarik nafas panjang dan santai aja, oke?"
3. Jangan berharap hasil akhir akan sempurna dalam percobaan-percobaan awal. Semua butuh proses dan latihan terus-menerus. Wilson Bickford berkata, "Semua butuh latihan dan ketekunan. Tentu saja! Apa sih yang tidak membutuhkan itu?" Nah tuh, pelajaran dari para pelukis handal kelas dunia (pelajaran juga buat saya) : Semua butuh proses dan latihan.
Khusus untuk Bill Alexander, metodenya terkesan asal saput saja sehingga di awal memulai, orang bisa dibuat yakin bahwa ia sesungguhnya nggak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tapi makin mendekati rampung, karyanya terlihat begitu indah sampe' bisa mengembangkan senyum di wajah seseorang. Yang begitu terukur dan sistematis adalah Sheldon, Wilson dan Agnes. Saya lebih menyukai mereka yang melukis sambil berbicara karena tips dan trik-triknya justru ada disitu. Untungnya saya faham bahasa Inggris, jadi mengasyikkan aja bisa mengerti sepenuhnya apa yang mereka katakan. They could easily absorbed in my mind. Hanya nggak ngerti aja kenapa untuk Bill Alexander, sering diberi subtittle. Hehehe... "Isn't that wonderful?", he'd say. Sedang untuk Sheldon, dia nampak seperti one of a kind dan menonjol di antara yang lain karena dalam kata-kata pengantarnya, selalu terselip jokes dan selain menggunakan cat minyak, beliau juga bisa pake' cat air, crayon, pensil dan acrylic.
Kesamaan yang dimiliki oleh para seniman ini (well, at least bagi mereka yang berbicara sepanjang kerja) adalah :
1. Untuk bisa melukis, tidak harus pandai menggambar. Beberapa dari mereka bahkan berkata kalo' mereka tuh kadang nggak menggambar sesuatu terlebih dulu. Sepenuhnya hanya 'menuangkan' apa yang tergambar jelas dalam benak. Jadi, kita nggak perlu mengikuti plek apa yang mereka gambarkan atau warna yang mereka gunakan. Keren kan kalau kemampuan melukis bisa beyond imagination kita?
2. Saat melukis, jangan terpaku pada keinginan untuk wajib sempurna! Sheldon berkata, "Murid-murid saya pada awalnya sering merasa harus sempurna segalanya. Ya Tuhan, mereka membuat gila diri mereka sendiri. Mereka membuat gila saya! Tarik nafas panjang dan santai aja, oke?"
3. Jangan berharap hasil akhir akan sempurna dalam percobaan-percobaan awal. Semua butuh proses dan latihan terus-menerus. Wilson Bickford berkata, "Semua butuh latihan dan ketekunan. Tentu saja! Apa sih yang tidak membutuhkan itu?" Nah tuh, pelajaran dari para pelukis handal kelas dunia (pelajaran juga buat saya) : Semua butuh proses dan latihan.
Nah, ngomong-ngomong soal melukis dan menggambar, saya dulu senang sekali menggambar. Tiada hari tanpa ngadep kertas, kalau bukan nulis jurnal, ya menggambar. Saya masih ingat, buku gambar stand by terus di meja belajar. Pewarnanya spidol atau pensil warna/perep kalau kata orang Luwuk (membaca "e" nya as in "ember"). Bahkan waktu Mama arisan, saya 'abadikan' dalam bentuk gambar. Kalau lagi mood, bisa detail banget (ehem, bangga sesekali tak mengapalah yaa...), sampe' diliatin Mama ke teman-temannya dan disimpan dalam laci lemari pakaiannya. Hehehe... Sering dapet nilai bagus deh untuk pelajaran Menggambar. Saya pernah mendapat angka 9 plus plus untuk gambar mendetail saya yang kata Bu Gurunya : miriiiiiip mendekati aslinya. Waktu itu beliau yang orang Jawa itu meminta kami menggambar meja yang di atasnya diberi taplak meja yang sedikit terlipat di bagian sudutnya dan ditahan dengan vas bunga. Saya nggak akan pernah melupakan wajah dan sense of art Guru Kesenian saya itu. Saking kesengsem sama hobi menggambar ini, saya pernah punya cita-cita jadi komikus. Niru-niru gambar Dewi Kunti dalam Buku Cerita Mahabhrata, Anita dalam serial di majalah Bobo dan tentu saja Donal Bebek dkk. Hahaha. Pernah juga nih saya menggambar Bapak A.H. Nasution dan Suami saya hanya dengan menggunakan pensil dan dalam bentuk titik-titik di atas gambar dasarnya. Yang untuk Sang Jenderal Besar, sayangnya sudah saya kirimkan beserta surat tahun 2000 ke alamat rumah beliau, jadi nggak punya fotonya sekarang. Tapi yang punya Suami Alhamdulillah masih tersimpan rapih. Saya buatin itu di hari ultahnya yang ke-40 tahun.
Nah, seiring dengan berjalannya waktu, makin keteteran dan nggak pernah sempat menggambar-menggambar lagi sekarang ini. paling banter oret-oretan sekenanya aja, itu juga sebatas sketsa-sketsa di atas kertas lepas dan seringnya malah gambar-gambar interior rumah. Hihihi... apa karena Suami Insinyur ya? #Lho.
Nah, belakangan saya kok teringat hobi yang satu ini, tapi ingin mencoba lagi dengan menggunakan cat air atau cat minyak. Terkesan lebih dewasa dari sekedar menggambar kali' ya? Lalu tergeraklah ingin melihat dan mempelajari tehnik-tehnik para maestro masa kini. Ketemulah nama-nama di atas. Keren-keren deh beliau-beliau itu. Banyak sekali tehnik dan trik yang bahkan tak pernah terbayang atau melintas di benak saya. Jadi nitip dibeliin perlengkapan melukis sama Suami yang kebetulan tugas di Jakarta. Kebetulan Suami tercinta juga penggemar lukisan, eh langsung dibeliin sepaket waktu jalan sama temennya ke Penville! Horeee, Senangnya sampe membuncah-buncah! Hahaha... Ntar saya susul fotonya kalau udah dibawain Suami weekend ini.
Oya, beberapa video boleh deh saya selipkan disini sebagai penutup cerita.
Thanks, guys. Wassalam.
Oya, beberapa video boleh deh saya selipkan disini sebagai penutup cerita.
Thanks, guys. Wassalam.