Rabu, 02 September 2015

Pengalaman Mudik dengan Pesawat Udara

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...


Seperti biasa, baru bisa nongol lagi setelah lamaaaaaa banget. Hehehe...
Baru tergerak ngisi blog setelah nyadar kalau bedrest seharian ngikutin saran dokter kandungan itu sungguh membosankan dan malah bikin kepala pusing. So, here i am. ketak-ketuk keyboard laptop yang mulai berdebu karena semua kerjaan online belakangan banyak dikerjakan lewat tab dan Q5. Ngisi blog-nya sambil nonton Parkland di HBO Hits. Keren juga ini skenarionya. Saya suka film-film based on true story. Tapi saya nggak cerita film disini yah, karena ada blog khusus saya yang isinya seputar film di www.sabbimovie.blogspot.com. Ceritanya di sana aja.
Seperti biasa juga, Lebaran tahun ini mudik ke rumah mertua di Blora, Jawa Tengah. Suka ada yang nanya, "Mertua orang Jawa ya?" Bukan kok. Mertua saya orang Minang tulen. Hanya, setelah nikah di tahun 1960an, mertua tinggal di tanah Jawa (beberapa kali pindah), sampai akhirnya pensiun dan menetap di Blora. Betah banget di Blora. Saya menyaksikan sendiri kerukunan antar warga di Jawa itu juara punya deh. Dari kecil, anak-anak dibiasakan bersosialisasi dengan cara bermain keluar rumah di sore hari, sepedaan, jalan rame-rame dengan teman-teman sepantaran. Menurut saya pribadi, kebiasaan seperti ini bagus sekali untuk melatih anak-anak bersosialisasi sejak dini, bisa melakukan problem solve untuk masalah-masalah kecil mereka sehari-hari, meskipun dengan cara sederhana a la kanak-kanak. Selain itu, jadi punya kenangan masa kecil yang indah, teman-teman sepermainan yang meskipun suatu saat pasti akan berpisah, tapi di satu waktu kelak, bisa jadi reuni kembali. Jadi punya sesuatu untuk diceritakan. Ini pengalaman yang saya saksikan sendiri waktu masih tinggal di Yogya dulu. Kalau pengalaman fase Blora, mungkin karena disini banyak menetap pensiunan yang anak-anaknya sudah pada berkeluarga dan sukses di perantauan, yang saya saksikan ya kebiasaan orangtua-orangtua jaman dahulu yang suka saling menyapa akrab di jalanan, rajin bertamu dan saling membalas hantaran makanan. Kebiasaan yang dilestarikan warga sini. Saya suka nyoba kebiasaan bagus begini dengan para tetangga disini.
Di tahun-tahun sebelumnya sih dari Makassar kami ke Surabaya lalu biasanya langsung ke Blora lewat perjalanan darat dengan mobil yang disediakan rekanan adhi karya di Surabaya. Nah tahun ini karena Suamiku tercinta ditugaskan di Semarang officially dan beliaunya pengen banget anak istrinya lihat kota Semarang dan bertolak ke Blora dari sana dengan mobil yang disediakan, jadilah kami butuh total 6 tiket sekali berangkat ke Semarang karena harus transit di Jakarta. Dan pastinya nggak murah. Meskipun saya agen travel online, tetep nggak jaminan dapetin promo.
Wait, ada tamu. Ntar dilanjutkan ya. See you.
Melanjutkan kisah sebelumnya, jadilah kami sekeluarga berangkat lewat Semarang. Seru ternyata, terutama karena dari Makassar pesawat yang rencananya akan membawa kami ke Jakarta delay berjam-jam dan otomatis pesawat berikutnya dari Jakarta ke Semarangpun terancam 'hangus' tiketnya karena berlainan maskapai. Saya emang sengaja nggak ngambil penerbangan connect seperti biasanya karena udah pada habis (Well, biasanya kan dari UPG langsung Surabaya, banyak pilihannya. Kali ini mesti transit dan tiket penerbangan connect di peak season begitu ternyata nggak mudah ngedapetinnya). Di Bandara Hasanuddin kami udah berbagi tugas seperti biasanyalah style suami istri ini. Uda ngelobi dengan maskapai UPG-JKT di lantai bawah sedang saya konsen nelepon call center maskapai yang akan membawa kami dari JKT-Semarang. Sayangnya meskipun udah ngeluarin semua jurus ngelobi a la travel agent dan ibu-ibu memelas (biasanya sih berhasil), maskapai itu keukeuh tidak mau menjanjikan atau berkompromi apapun. Gosh yaa Allah! Uda memantau lewat telepon dan kami sama-sama harus kecewa karena misi bersama untuk ngelobi harus menemui jalan buntu. Saat akhirnya maskapai UPG-JKT lepas landas, kami sepakat untuk tawakkal saja dan pasrah dengan apapun yang terjadi. Berharap penerbangan menuju Semarang juga mengalami delay karena alasan bencana alam di Lombok ini toh mempengaruhi banyak rute penerbangan domestik. Andai nggak delay, dengan estimasi waktu tibanya, rasanya mustahil kami bisa nggak ketinggalan penerbangan berikutnya. Satu-satunya cara kami bisa duduk dengan sukses diatas kursi Batik Air menuju Semarang adalah dengan lari sprint segera setelah turun dari pesawat ini, ngantri ambil bagasi maskapai pertama, ke counter check in Batik Air, masukin bagasi seabrek sebelum menuju gate untuk boarding. Sungguh sangat mustahil, kecuali kami adalah keluarga The Incredibles. Hahaha. Ya sutralah, kalau udah kayak gitu, yang bisa dilakukan manusia hanya tawakkal. Mau gimana lagi? Ketinggalan pesawat apa boleh buat. Tapi Udaku yang Hebat itu ngajak tetap berpikir positif aja. Waktu sedang ngantri di boarding gate, meja kecil di sebelah kiri kami dikerubuti gerombolan manusia (kebanyakan bapak-bapak berjaket yang sedang marah-marah). Mereka komplain dengan keterlambatan yang molor berjam-jam hari itu. Para ground crew yang hanya berjumlah tiga orang nampak ketakutan dalam kepungan. Tidak ada satupun dari ground crew disitu yang ingin bernama "Achmad" saat itu karena sejak tadi namanya terus diteriakin orang banyak. Dicari-cari dengan macam-macam ancaman. Dimana-mana yang terdengar hanya suara teriakan dan gebrakan meja. Chaos bener.
Di Bandara Soetta, kami kembali berbagi tugas : Uda ke counter Batik Air sedang saya dan anak duduk di depan conveyor belt nungguin bagasi. Soal ketinggalan pesawat itu sudah pasti, sebab jam keberangkatan ke Semarang saat itu sudah lewat setengah jam dari schedule (udah siap-siap ngeluarin duit lagi untuk beli tiket baru). Yang mengejutkan, Uda muncul sejam kemudian sambil ngangkat bahu dan tersenyum menenangkan kearah kami yang udah lemas letih lesu duduk diatas trolley barang, sambil ngelus-ngelus kepala saya, Suami saya itu minta saya minum air putih dulu sebelum ngajak kami nyari makan malam. Di KFC aja yang paling deket. Lalu Suami mulai cerita tentang betapa riuhnya para penumpang di counter Batik Air saat itu. Ternyata banyak yang bernasib sama dengan kami karena tertahan rangkaian delay. Semua marah, semua menggebrak meja. Persis dengan yang terjadi di Makassar tadi. Lalu Suami mundur sesaat untuk mengamati situasi itu sambil mikir. Akhirnya setelah merhatiin seorang petugas laki-laki yang sejak tadi kelimpungan meladeni banyak komplain dan saat itu sedang minggir, mendekatlah Suami untuk ngelobi. Pake' jurus "bicara baik-baik" kalau nggak ingin dikatakan melas, Subhanallah, entah karena memang kami sedang beruntung aja atau terkesan dengan satu bapak-bapak ajaib yang tetep kalem di tengah-tengah amukan penumpang lainnya (biasanya Suami galak banget lho kalau ada kejadian kayak gini. Pernah ngalamin soalnya waktu terbang dengan Merpati beberapa tahun lalu saat bersama anak nengok Nenek dan harus mendarat darurat dinihari di Surabaya alih-alih di Makassar akibat cuaca buruk sejak dari Yogyakarta, semua penumpang kala itu kalap sementara Suami saya yang tadinya juga marah-marah akhirnya membantu para ground crew untuk nyarikan solusi dan berakhir happy ending), diam-diam petugas itu memberi tiga tiket gratis Lion Air untuk kami besok subuh ke Semarang. Begini katanya, "Pak, saya mohon maaf Bapak dan keluarga tetap nggak bisa berangkat malam ini juga. Penuh semua, Pak. Kami udah kewalahan ini karena memang harus mendahulukan penumpang yang sudah terlantar sejak pagi. Saya hanya bisa membantu tiga tiket ini free, tapi Bapak besok harus on time tiba disini lagi." Begitulah, meskipun rada kecewa karena rencananya ingin menghabiskan waktu semalam dulu explore Kota Semarang sebelum bertolak ke Blora, toh sisi baiknya kami punya tiket gratis. Yang cukup menyita energi justru lamanya kami duduk di KFC karena Uda nggak mau beranjak sebelum pasti mendapatkan hotel deket bandara dan kami harus di antar-jemput dari dan ke bandara. Saya ingin bertanya mengapa kami tidak naik taksi aja biar cepet sampe' di hotel? Tumit udah lecet-lecet begini dan badan pegel-pegel semua, tapi batal. Tahu banget dengan Suami yang pasti akan menasehati panjang kali lebar soal menahan diri, alasannya mengapa begini dan begitu dulu, dst. Toh beliau juga 'orang hotel' sekarang, saya nggak mau repot-repot mempertanyakan keputusannya yang serius dengan android-nya untuk hunting hotel. Tapi melihat wajah saya, Uda bisa 'membaca' kalau saya lelah dan bilang kalau ia juga sama lelahnya, minta saya dan Lyza bersabar lebih lama lagi. "Aku nggak bilang apa-apa, Sayang..." saya hanya merespon begitu sambil balas tersenyum balik. "Kalau cuma Uda sendiri nih, Uda tidur di bandarapun jadi. Tapi Uda bawa anak dan istri, harus tanggungjawab dapet tempat istirahat yang nyaman." 
Tepat saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.31 wib dan semua tulang ayam sudah habis dikasiin ke kucing yang setia nemenin kami duduk-duduk di KFC, datanglah mobil jemputan Puspamaya Hotel. Alhamdulillah malam itu setelah bersih-bersih badan, sholat dan nge-charge semua gadgets, kami bisa istirahat dan kembali diantar mobil yang sama menuju bandara keesokan harinya.
Tiba di Semarang, kotanya sepi karena ditinggal mudik sebagian besar masyarakat perantau. Mampir mess untuk mandi-sholat-ngaso dan beberes bawaan lagi, nyiapin mobil dan bekal selama perjalanan, mampir makan siang di Ayam Goreng Suharti lalu ke Blora kami menuju.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar