Good day...
Ketemu lagi.
Alhamdulillah masih diberi kesehatan. Minggu ini minggu yang melelahkan buat saya. Hari Selasa seperti biasa jam 4 pagi saya sudah harus bangun, kali ini bukan sekedar nyiapin sarapan keluarga dan perlengkapan mereka ke kantor dan sekolah, tapi juga harus nyiapin keperluan Suami keluar kota karena Uda ada rapat dengan pihak Sumitomo dan Antam di Jakarta. Kalau Suami mau keluar kota gitu, saya selalu harus nyiapin pakaian, bekal rotinya, racikan susunya untuk breakfast yang saya masukkan dalam kantong-kantong plastik mini, obat-obatan dalam kotak kecil, sajadah, sarung, kaos kaki, air mineral, dst, dst. Pasti yang ibu-ibu faham tuh repotnya kayak gimana.
Alhamdulillah masih diberi kesehatan. Minggu ini minggu yang melelahkan buat saya. Hari Selasa seperti biasa jam 4 pagi saya sudah harus bangun, kali ini bukan sekedar nyiapin sarapan keluarga dan perlengkapan mereka ke kantor dan sekolah, tapi juga harus nyiapin keperluan Suami keluar kota karena Uda ada rapat dengan pihak Sumitomo dan Antam di Jakarta. Kalau Suami mau keluar kota gitu, saya selalu harus nyiapin pakaian, bekal rotinya, racikan susunya untuk breakfast yang saya masukkan dalam kantong-kantong plastik mini, obat-obatan dalam kotak kecil, sajadah, sarung, kaos kaki, air mineral, dst, dst. Pasti yang ibu-ibu faham tuh repotnya kayak gimana.
Setelah nganter anak ke sekolah, kami langsung ke Bandara Sultan Hasanuddin lewat jalur tol. Jalur populer kami kalau mau ke bandara.
Dari bandara, sambil nyetir, saya sedikit membayangkan kasur. Maklum, malam sebelumnya saya baru tidur di atas jam 23.30, jadi emang ngantuk banget. Saya pikir setelah nyuci piring-gelas bekas makan-minum, nyuci dan jemur-jemur pakaian; saya bisa tidur dulu barang sejam. Ternyata rencana hanya sekedar rencana. Dalam keadaan terjebak macet di depan Makassar Town Square, Mama nelepon dari Jakarta. Suaranya yang bercampur tangis langsung bikin lemes. Pasti nih kabar duka.
Inna lillahi wainna ilaihi roji'un. Ternyata kabar duka datang dari sahabat lama Mama yang suaminya juga rekan sejawat Papa (dokter Murni Ra'uf) dari Luwuk sejak tahun 1980an. Namanya ibu Sri Mandayati. Sejak jaman bocah di Luwuk dulu, saya dan adik-adik biasa manggilnya : Tante Murni. Tapi baiknya dalam blog ini saya sebut : "Tante Sri Mandayati" saja, untuk mengenang beliau. Tante Sri Mandayati adalah seorang ibu rumahtangga teladan menurut saya. Sangat jarang yang namanya Tante Sri Mandayati ngider di mall atau jalan-jalan keluyuran dengan teman-temannya. Ia banyak berada di rumah mengurus Suami dan anak-anak. Dari Mama saya tahu, nyaris semua makanan untuk keluarganya juga dibikin sendiri lho; mulai dari selai, mentega, sirup, mayones sampai snacks dan camilan. Ayam yang di konsumsi keluarganya juga ayam kampung yang dibeli dari penjual langganan. Nyembelihnya nggak sembarangan. Beliau sahabat yang baik buat Mama, jenis sahabat yang mungkin sudah jarang ditemui jaman sekarang.
Beberapa yang bisa saya ceritakan : Tante Sri ini rajin mendatangi Mama minimal seminggu sekali (berhubung rumah sangat berjauhan), kadang-kadang Mama bertamu ke rumahnya. Kalau beliau yang ke rumah Mama, ada satu-dua peralatan memasak Mama yang rusak seperti oven atau rice cooker, langsung diangkat dan dibawa ke tempat service untuk diperbaiki. Maksudnya sih biar nggak keburu rusak dan bisa cepet dimanfaatkan lagi mengolah makanan untuk keluarga. Kalau bikin kue kering, selalu disisain buat Mama, disimpan rapih dalam toples. Ayam-ayam kampung juga Mama ngambil ke rumahnya, sudah disembelih, dicabutin bulu dan dipotong-potong sesuai permintaan. Waktu Mama sakit karena pendarahan, beliau juga yang marut kunyit, bikin ramuannya dan di antar sendiri ke rumah Mama. Setiap hari selama Mama sakit, beliau datang dan nungguin Mama minum ramuannya. Tidak segan juga menegur bila ada yang salah. Kasih sayangnya untuk Mama yang membuat Mama merasa sangat kehilangan. Saya ikut merasakan itu, karena sesekali tante yang baik itu nelepon saya sekedar nanya kabar. Om Murni yang Soleh juga adalah saksi pada pernikahan saya dan Suami. Menurut Papa, waktu Mama Papa meminta kesediaannya untuk menjadi saksi pernikahan kami, beliau segera menyanggupi padahal permintaannya mendadak dan Om Murni sedang ada sesi operasi di RS. Jadi bagi saya dan Suami, kedua beliau tersebut adalah sahabat orangtua yang punya peranan penting dalam kehidupan kami dan keluarga sekaligus berkesan karena beliau berdua pernah menjadi bagian dalam momen kenangan indah kami.
Setelah menerima telepon, perasaan saya campur aduk. Rasa kantuk lenyap begitu saja. Saya menyetir sampai rumah dulu karena udah deket juga, sarapan sebentar sebelum ganti pakaian yang pantas dan meluncur lagi ke rumah duka, sebelumnya jemput Tante Nunung dulu.
Banyak sekali yang datang melayat. Kami nyaris tidak mendapat parkiran karena sejauh mata memandang, kendaraan parkir dimana-mana. Kebanyakan dari mobil-mobil itu berstiker ataupun punya plat logo (sebut saja begitu karena saya nggak tahu apa istilahnya di kalangan dokter) "IDI". Sambil berjalan menuju rumah duka, saya bertemu seorang Sp.OG ramah, namanya dr Fatmawati. Dulu pernah jadi pasiennya sebelum beralih ke dr Nusratuddin. Karena masih terbayang-bayang wajah Tante Sri, saya banyak diam dan membiarkan Tante Nunung dan dr Fatma berjalan sambil ngobrol di depan saya. Waktu tahu dari Tante Nunung saya kakak dr Rosdiana, dr Fatma malah ngajak saya ngobrol terus. Semangat doctorhood di antara para dokter memang patut diacungi jempol. Somehow, mereka akan saling mengenal satu sama lain.
Rumah duka dipenuhi banyak pelayat. Kaum lelaki yang ingin ikut sholat jenazah pun banyak yang tidak kebagian tempat saking penuhnya. Pertama-tama tiba, saya mencoba masuk ke dalam kamar tidur dimana jenazah Tante Sri dibaringkan. Orang begitu penuh sesak tapi saya merangsek maju sampai berjarak hanya sejengkal dari kaki beliau. Ada rasa haru juga saat melihat penutup wajahnya dibuka cucu-cucunya yang ingin mencium wajah nenek mereka. Terbayang di masa kecil dulu, beliau yang menjahitkan rok saya bersama dengan rok seragam anak-anaknya sendiri karena saat itu Mama sedang ikut Papa yang studi M.H.A di Filipina. Masih terngiang juga suaranya... perhatian-perhatiannya... bulu mata lentik dan wajah putih bersih itu.
Sebelum meninggal, beliau memang tidak pernah menggunakan riasan wajah berlebihan sehingga saat sudah meninggalpun, Tante Sri tampak seakan masih ada bersama kami. Nggak terasa airmata saya jatuh. Terharu juga karena selama sakitnya Mama selalu datang menjenguk, mengaji, ngobrol, nyuapin makannya; tapi ketika ia wafat justru ketika Mama dan Papa sedang menghadiri pesta pernikahan anak sodara di Jakarta. Saya sendiri hanya sempat menjenguk satu kali bersama Suami, karena Uda di luar kota, kami berencana hari Sabtu minggu ini baru akan datang lagi karena pengen ngaji berdua di sana. Sayang, Selasanya beliau sudah berpulang ke Rahmatullah. Terus terang saya nyeseeel sekali. Itu sebabnya dalam perjalanan dari bandara saya terus istighfar. Hal-hal sepele seperti itu sebisa mungkin disegerakan.
Sementara karena alasan asma, Tante Nunung menunggu diluar rumah, saya bertahan selama mungkin dalam kamar itu sampai kami diminta keluar dulu oleh pihak keluarga. Nggak lama berselang, anak-anak Tante Sri sudah dalam posisi siap memandikan jenazah dalam kamar mandi. Saya sudah tidak mengenali mereka lagi karena terakhir benar-benar bertemu kalau tidak salah saat masih bocah-bocah di Luwuk tahun 1980an, mungkin hanya wajah Indri yang masih saya ingat karena ia hadir dalam pernikahan saya.
Diluar, saya bergabung dengan Tante Nunung dan pengen sekali menyalami tangan Om Murni yang beberapa kali lewat di depan kami, tapi beliau diam seribu bahasa dengan mata sembap dan kepala tertunduk, tidak pernah menengok ke sekelilingnya. Jadi terharu melihat keadaannya. MasyaAllah, begitulah kondisi seorang suami soleh yang kehilangan istrinya yang solihah. Saya tidak tega menyapa beliau. Sambil mendengarkan cerita dr Fatma yang duduk di samping saya, saya bisa mendengar celotehan ibu-ibu disitu tentang kesan-kesan mereka akan sosok Tante Sri. Subhanallah, hanya orang istimewa yang sanggup membuat siapapun yang ditinggalkannya merasa seakan merekalah sahabat terdekatnya.
![]() |
| Keluarga besar Dr. Murni Ra'uf. Tante Sri duduk di tengah berkerudung coklat. Foto diambil dari album FB dr. Ihwan. Semoga berkenan. |
Selamat jalan, Tante Sri. Saya pribadi akan selalu mengingat Tante dalam kenangan dan do'a. Semoga dilapangkan kuburnya dan semoga Tante menjadi bidadari surga yang menantikan kedatangan suami yang soleh dari dunia fana ini. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin.
Wassalam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar