Good day
Alhamdulillah walaupun lama akhirnya bisa nulis lagi. Sebelum buka Lenovo, saya mikir dulu mau berbagi cerita tentang apa. Soalnya sering nih kejadian : saat belum buka laptop, bahan cerita banyak melintas di kepala. Begitu laptop membuka di depan saya, yang ada malah bengong, kadang-kadang menggo' ke FB atau baca IMDb. Teralihkanlah pokoknya. So, karena yang baru saja lewat adalah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, pilihan judul jatuh pada peristiwa teranyar dulu deh.
Seperti tahun-tahun yang lalu, setiapkali Lebaran, kami selalu mudik ke Blora-Jawa Tengah, kota kelahiran Suami saya dan sampai sekarang menjadi kota domisili mertua saya tercinta, meskipun aslinya mereka berdarah Minang tulen. Sejak kami menikah hingga kini Alhamdulillah tidak pernah absen mudik ke Blora, meskipun waktu berangkatnya berbeda-beda di setiap tahunnya. Berhubung orangtua saya dua-duanya masih ada dan domisili di kota yang sama dengan saya dan Suami, maka kadang-kadang kami melewatkan sholat Ied, sungkeman dan silaturrahim dulu bersama mereka di hari pertama Lebaran, lalu sore harinya kami took-off menuju Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Blora. Tapi pernah juga kami malah sudah bertolak menuju tanah Jawa tersebut beberapa hari sebelum Lebaran.
![]() | |
| Keluarga di Makassar |
Tahun ini, kami berangkat dari Makassar pada hari H di sore hari. Sejak pagi, seperti biasa, saya sudah sibuk ngecek-ngecek keperluan suami dan anak untuk sholat Ied nanti, mulai dari pakaian, mukena, sajadah, peci, sarung, koran untuk alas sampai ke sarapan mereka. Yah, tugas rutin seorang ibu dan istrilah (yang ibu-ibu pasti langsung ngeh nih. Hehehe...). Sebenernya sudah saya siapkan sejak malam sebelumnya, tapi biasanya ada saja yang ketinggalan. Sehari sebelumnya suamiku sudah ngingetin bahwa pada saat Idul Fitri, kita disunnah-kan menyantap sarapan dulu sebelum berangkat Sholat Ied, sedangkan pada saat Idul Qurban, disunnah-kan sebaliknya. Jadi sejak malam, saya sudah nyiapin sop daging sengkel dengan sawi dan irisan wortel. Pagi tinggal dipanasin. Uda berkali-kali bilang enak dan hanya itu yang ingin didengar setiap juru masak rumahan di dunia ini.
Tempat Sholat Ied di komplek perumahan kami sudah penuh sesak saat kami tiba. Saya dan anak saya hanya kebagian tempat di pinggiran jalan, tapi tetap bersyukur karena walaupun sayup-sayup, saya masih bisa mendengarkan topik yang sedang dibicarakan khotib, yaitu tentang krisis sosial dan pergaulan remaja sekarang yang sudah banyak yang 'menjauh' dari agama. Yang ta'at jadi bahan tertawaan karena dianggap aneh dalam pengucilan sementara yang tidak berada dalam jalan Allah yang lurus justru dianggap lumrah dalam masyarakat. MasyaAllah.
Pulang Sholat Ied, kami salam-salaman dulu dengan tetangga sebelah rumah sebelum saya dan Lyza sungkem sama Suami. Yah, karena kami bertiga sama-sama merasa masih punya kekurangan dan pasti ada salah dan khilaf terhadap satu sama lain, suasana haru tidak bisa dihindarkan. Saya nangis, Uda (panggilan suami saya) nangis, Lyza pun nangis, bahkan dia lama rebah di lutut Papanya, minta maaf dan meluk saya juga. Mudah-mudahan setiap hari kami bisa menjadi rahmatan lil 'alamin, lebih baik dari hari ke hari. Aamiin YRA.
Pulang Sholat Ied, kami salam-salaman dulu dengan tetangga sebelah rumah sebelum saya dan Lyza sungkem sama Suami. Yah, karena kami bertiga sama-sama merasa masih punya kekurangan dan pasti ada salah dan khilaf terhadap satu sama lain, suasana haru tidak bisa dihindarkan. Saya nangis, Uda (panggilan suami saya) nangis, Lyza pun nangis, bahkan dia lama rebah di lutut Papanya, minta maaf dan meluk saya juga. Mudah-mudahan setiap hari kami bisa menjadi rahmatan lil 'alamin, lebih baik dari hari ke hari. Aamiin YRA.
Setelah itu, kami menuju rumah Mama Papa yang sekomplek juga, jadi nggak begitu jauh. Saya agak kaget, waktu membukakan pintu rumahnya, tidak seperti biasanya, Papa yang pendiam dan sama sekali bukan tipe melankolik itu, menjawab salam saya dan bertanya, "Eyn sayang Papa?" jadi terharu dan sedih dengarnya. Masa' iya ada anak nggak sayang orangtuanya? Pertanyaan dan wajah Papa pagi itu mengisi fikiran saya selama berhari-hari kemudian.
Pertama-tama kami sungkem dulu sama Mama Papa. Saya menangis, teringat dosa-dosa pada mereka di masa lalu dan betapa hati mereka begitu seluas samudera untuk saya. Kedua, saya bantu-bantu Mama nyiapin hidangan di dapur dan Uda nemenin Papa nonton Laporan langsung Sholat Ied di Masjid Istiqlal, Jakarta. Kami makan bersama sambil ngobrol dan foto-foto. Menu hari itu yang masih saya ingat sampai sekarang adalah : Burasa', ketupat, mi goreng, ayam bakar rica, ayam panggang dan coto Makassar. Ada juga cake-cake antara lain pemberian Dek Ana, pemberian dari pihak RSUP Wahidin (dikirim setiap tahun untuk para pensiunan mantan direksi mereka) sampai yang disiapkan Mama sendiri. Cake dari RSW itu yang terasa paling pas di lidah saya karena tidak eneg.
Adik saya, Dek Ana dan Suaminya, Dek Iel beserta orangtua Dek Iel datang kira-kira pukul 10. Setelah makan, Dek Iel yang ramah dan kocak itu bercerita tentang perjalanan hidupnya jaman masih bersekolah di Malang plus masa-masa mengikuti tes Hakim, sesekali diselingi cerita dari Papanya yang juga ramah. Ramai sekali obrolan hari itu. Saking keseringan tertawa, pipi sampai terasa kaku. Hehehe.
Well, si Lyza sudah pulang Kumon, udahan dulu yee. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Wassalam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar