Good day all ...
Saya nggak bisa sering-sering posting di blog yang satu ini, tapi mudah-mudahan setiap posting dari saya bermanfa'at buat oranglain atau setidaknya saya bisa sedikit meringankan isi hati dan kepala saya.
Cerita tentang perjalanan mudik ke Blora bersama Suami dan anak saya in Shaa Allah berlanjut suatu hari nanti. Sekarang ini saya ingin berbagi cerita tentang bisnis baru saya yang menurut saya cukup menjanjikan untuk menyejahterakan (atau 'mensejahterakan' ya? Maaf, tata Bahasa Indonesia saya belum sempurna-sempurna banget. Pardon my grammar) keluarga kita.
Nama bisnis ini : NextGeneration Travel Agent atau di kalangan kami populer dengan sebutan NextG. Saya pertamakali mendapat info tentang bisnis ini dari kiriman BM (broadcast messenger) via Blackberry seorang tetangga sekomplek, sebut saja nama beliau Minerva McGonagall ya? Sebab saya ragu apakah beliau bersedia saya menyebutkan nama aslinya disini. Minerva McGonagall adalah salah seorang guru yang bijaksana, pandai dan dihormati di sekolah sihir Hogwarts dalam cerita dongeng Harry Potter karya penulis J.K. Rowling. Saya rasa tokoh ini pas dengan tetangga saya yang juga seorang mantan guru, bijak dan cukup dihormati di lingkungan tempat tinggalnya. Kembali ke NextG tadi, tidak seperti biasanya, saya langsung tertarik membaca kiriman BM itu yang antara lain menyebutkan bahwa calon member tidak perlu harus punya ijin usaha travel agent, tidak perlu repot dengan urusan karyawan atau tempat usaha; tapi punya akses penuh untuk ngecek, reservasi atau issued tiket pesawat dari rumah sendiri, dari dalam kamar tidur sendiri, atau bahkan saat bepergian sekalipun, cukup dengan memiliki gadget pendukung yang sudah punya koneksi internet seperti iPad, galaxy tab, android atau laptop. Juga tidak perlu deposit puluhan juta rupiah per maskapai seperti yang biasa diwajibkan pada travel agent konvensional. Keuntungan lainnya adalah untuk setiap tiket yang kita issued, kita dapat komisi langsung dari maskapai; untuk setiap orang yang kita rekrut, kita dapat bonus uang 1,2juta (1juta dipotong 10ribu untuk admin, masuk ke rekening pribadi kita. 200rb secara otomatis dikreditkan ke dalam saldo deposit kita) dan setiap terjadi sepasang di bawah kita, kita masih mendapat bonus 400ribu (300rb dikreditkan ke dalam rekening pribadi kita dan 100rb secara otomatis masuk lagi ke dalam saldo deposit kita). Saya langsung berminat dan bertanya pada Minerva McGonagall syarat apa saja yang harus dipenuhi. Awalnya ketika teman saya itu menjelaskan tentang uang 4juta yang harus disetorkan untuk membeli software dan mendapatkan dua web (jaringan dan ticketing), saya sempat merasa berat, karena saat-saat sekarang ini kami sedang banyak pengeluaran yang harus lebih diutamakan seperti sekolah anak kami yang tahun depan inshaAllah akan melanjutkan ke SMP, Suami yang berencana mengambil program S2, belum lagi biaya yang dibutuhkan untuk tabungan haji dan program hamil saya.
Karena pertimbangan-pertimbangan di atas, saya pun mengatakan akan pikir-pikir dulu. Sempat saya bicarakan dengan Uda dan Uda yang mungkin karena orang kantoran dan sedikit skeptis terhadap bisnis-bisnis MLM, tidak terdengar antusias sama sekali. Ia yang serba hati-hati dalam menerima informasi-informasi baru seperti itu secara gamblang meminta saya melihatnya dari sisi Teori Bisnis dan tinjauan SWOT juga. Sayapun berpikir hal yang sama. Saya bukan orang baru di dunia MLM, jadi ngerti betul bahwa bukan MLM-nya yang nggak bagus, tapi sayanya yang nggak bakat deh kayaknya untuk urusan mengejar target bulanan, syarat tutup poin atau mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk join. Tapi beberapa hari kemudian, terjadi sebuah peristiwa kecil yang akhirnya mengubah perspektif Uda terhadap bisnis ini, walaupun belum sepenuhnya.
Ceritanya begini. Suami saya yang seorang karyawan BUMN di sebuah perusahaan konstruksi saat ini sedang ditugaskan di sebuah proyek PLTU yang bekerjasama dengan pihak Antam dan perusahaan asal Jepang di suatu kota kecil di Propinsi Sulawesi Tenggara, sebut saja nama kotanya "PUM" ya. Menjelang Hari Raya Idul Adha 1435 H, Suami saya yang selalu mengharuskan diri untuk selalu bersama saya di hari raya seperti itu, baru mendapatkan tiket pada sore hari, dengan kata lain, ia tidak keburu Sholat Ied bersama saya dan anak kami. Betapa sedihnya kami semua saat Suami saya nelepon memberitahu berita itu tiga hari sebelum Idul Adha, kami sampai bertangis-tangisan di telepon. Saya yang gak tega dengar Suami saya nangis karena bakalan sendirian tanpa pelukan dan masakan saya saat Malam Takbiran, akhirnya ikut nangis juga. Anak kami yang melihat saya nangis pun jadi ikut nangis. Benar-benar malam yang menguras emosi kami sekeluarga. Saya mencoba menguatkan dengan mengatakan bahwa mungkin Bagian Umum Proyek belum nyoba mencari tiket di agen travel lain, siapatahu masih ada tiket tersedia di agen travel lainnya. Tapi kata Uda seharian itu sudah mencoba ngelobi Bagian Umum kantor maupun proyek, keduanya angkat tangan dan mengatakan tiket sudah terjual habis karena ada event Antam di kota PUM sehingga tiket-tiket itu mungkin diborong rombongan dari kota-kota lain. Penerbangan yang biasanya tiga kali seharipun menjadi hanya satu kali sehari khusus H-1 dan hari H. Sebagai istri, walaupun dalam hati juga sedih dan resah, saya pikir Suami yang sedang down seperti itu tidak perlu tahu perasaan saya. Saya akhirnya menguatkan hati Uda dan mengatakan sebelum hari Idul Adha tiba, kita harus semangat terus mencoba mencari tiket. Saya masih yakin, dengan ijin Allah SWT, kami masih punya kesempatan berharap bisa bersama-sama saat Hari Raya Idul Adha.
Singkat kata, setelah menutup telepon, saya menghubungi Mama saya yang langganan tetap sebuah agen travel besar di Makassar bernama Limbunan. Setahu saya, karena sudah belasan tahun jadi pelanggan setia Limbunan, orangtua saya biasanya tidak pernah gagal mendapatkan tiket pesawat ke kota manapun mereka mau. Saya baru mendapat jawaban keesokan paginya bahwa tiket dari kota PUM ke Makassar memang sudah ludes terjual. Saat itu saya tiba-tiba teringat Minerva McGonagall yang juga jualan tiket pesawat. Iseng saya minta tolong cek satu tiket untuk Uda. Eh diluar dugaan, Minerva McGonagall mengatakan masih tersedia tujuh seats dari PUM ke UPG! Saya segera minta di booking-kan dan teman saya bilang karena sudah tinggal dua hari lagi, time limitnya singkat, kalau tidak salah hanya empat jam. Saya senang sekali tapi lalu kecewa karena lagi-lagi Uda gak antusias. Katanya, "Kalau sudah ada kode booking gitu berarti sudah dibayar dong, Sayang? Sementara harganya dua kali lipat begitu, belum tentu juga kita ambil tiketnya." Memang soal harga itu juga sudah saya tanyakan, tapi Minerva McGonagall menjelaskan bahwa perbedaan harga itu karena perbedaan kelas-kelas; sementara soal kode booking, tidak masalah bila limit waktunya lewat, akan terhapus by system. Dengan sikap Suami yang masih sangat meragukan begitu, saya jadi terpengaruh dan ragu-ragu juga. Tapi saat teman saya mengingatkan waktu issued-nya sudah dekat dan bertanya apa saya mau issued atau tidak, saya beranikan diri mengiyakan karena Uda juga sepertinya fifty-fifty. Minerva mengatakan ia akan menggunakan depositnya dulu, asalkan saya sudah oke untuk di issued. Akhirnya, dengan Bismillah, saya pun mantap mengiyakan. Saya meyakinkan Uda bahwa kalaupun tiket itu bermasalah, tentu Minerva akan nggak enak hati juga untuk menagih uang tiket semahal itu. Saya terus menyemangati Uda.
Sehari sebelum Idul Adha, sesuai jadwal tiket, Uda akan ikut satu-satunya penerbangan hari itu, yaitu pada jam 15.05. Paginya, Uda masih menghadiri meeting di site proyeknya. Suami saya adalah seorang yang teliti dan rapih untuk ukuran laki-laki, tapi khusus soal mesen tiket/hotel atau kapan harus berada di bandara untuk check in dll, wah... lelet banget! Hehehe. Jadi disini saya harus turun tangan, mengingatkan berkali-kali, sebab tak jarang Uda ketinggalan pesawat :-D Menjelang siang, saya sudah ribut ngingetin berkali-kali bahwa Uda harus sudah menuju bandara saat itu juga. Responnya masih saja bernada ragu. Berkali-kali juga Uda mengatakan bahwa Bagian Umum dimintanya ngecek dulu kode booking itu ke bandara, dan seterusnya, dan seterusnya. Karena alot begitu, saya jadi ngambek. Merasa upaya-upaya saya sia-sia semua. Tapi Uda tipe Suami Penyayang, akhirnya katanya, Uda pengen sekali kumpul dengan anak istri di rumah, Idul Adha bersama-sama. Ia akan ke bandara, tapi tanpa beban. Andai nggak bisa ya balik mess lagi. Saya jadi semangat lagi tapi juga mengatakan bahwa kita sama-sama berusaha, kalaupun ternyata tiket itu bermasalah, anggap saja Allah belum Meridhoi kita berkumpul kali ini.
Saat Uda bilang sudah dalam perjalanan menuju bandara, saya mulai deg-degan karena kalau dipikir-pikir, nggak mungkin banget Bagian Umum kantor dan proyek yang sudah bertahun-tahun punya hubungan bisnis dengan agen-agen travel konvensional tidak mendapatkan tiket, sementara Minerva McGonagall yang baru memulai bisnis ini hanya dari rumahnya sambil mengurusi keluarganya justru bisa mendapatkan tiketnya, dari bisnis travel yang saya kenal atau join pun belum! Dan lebih gila lagi, saya memaksa Suami saya (yang juga sudah belasan tahun mempunyai kebiasaan terstruktur dibelikan tiket oleh perusahaan) untuk percaya pada saya dan teman saya yang sama-sama hanya ibu rumahtangga dengan bisnis-bisnis kecilnya! Mendadak badan saya terasa lemas dan saya yang saat itu sedang ngeloni anak tidur siang, jadi gelisah dan keluar kamar. Saya minum air mineral banyak-banyak dan duduk diam di sofa ruang tamu. Tenggelam dalam spekulasi-spekulasi pikiran saya sendiri. Perlahan-lahan saya jadi mengerti sikap Suami dan semua kekecewaan saya atas sikapnya kemarin dan pagi tadi tiba-tiba menguap entah kemana, berganti menjadi merasa bersalah dan khawatir. Saya berpikir begini : Suami saya sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa ia tidak bisa bermalam takbiran dan Sholat Ied bareng kami di Makassar. Dengan mendapatkan tiket untuknya dan memintanya datang ke bandara saat itu, sama saja saya menumbuhkan harapan baru di hatinya. Bagaimana kalau ternyata tiket itu palsu atau bermasalah? Apakah itu tidak sama dengan saya menyakiti hati Suami saya lagi karena harapannya hancur? Wah, you have no idea how melancolic i'am deh. Saya berpikir saya baru bisa tenang kalau Suami tercinta saya sudah berada di ruang tunggu bandara, atau bahkan saat sudah berada di atas pesawat. Sebelum itu, saya merasa perlu khawatir. Setelah penantian yang menegangkan, akhirnya Uda ngabarin sudah di ruang tunggu, Alhamdulillah nggak ada kendala apapun saat checked-in!
Setelah di Makassar, kami masih sempat terheran-heran juga karena ternyata kalau tiket dikatakan sudah habis, kita tidak boleh menyerah mencari di tempat lain, bahkan bila tampaknya sudah mustahil akan mendapatkan sekalipun! Disini saya baru menyadari bahwa apa yang kita pikirkan demikian adanya ternyata masih bisa berkembang dengan jalan dan cara yang tidak meminta pemahaman kita atau pun harus atas sepengetahuan kita (mudah-mudahan cara membahasakannya terdengar pas di telinga pembaca). Yang paling membahagiakan saya adalah Suami saya berubah pikiran dan mengijinkan saya mendengarkan presentasi di rumah Minerva McGonagall. Seperti biasa, saya diantar-jemput, diberi dukungan penuh dengan kalimat-kalimat penyemangat, do'a dan kerjasamanya mengurus anak dan rumah selama saya berada diluar rumah.
Di rumah Minerva McGonagall, saya juga berkesempatan mendengarkan presentasi lengkap yang dibawakan oleh upline Minerva, sebut saja namanya Mbak Vin. Mbak Vin berpembawaan tenang, sistematis dan sabar dalam menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan saya. Orangnya juga cukup rama, membuat saya segera merasa berada di tengah-tengah teman lama.
Berikut poin-poin penjelasan Mbak Vin :
1. Software NextG dibuat oleh tim IT maskapai Garuda dan Sriwijaya,
2. Software ini berisi 2 web yang akan diberikan kepada member yang sudah bergabung, yaitu web jaringan dan web ticketing, plus kita mendapatkan virtual account Bank Permata untuk keperluan deposit (deposit akan selalu tertera di bagian bawah web ticketing),
3. Dua keuntungan yang didapatkan saat join, yaitu 1. komisi langsung dari maskapai untuk setiap tiket yang kita issued, 2. setiap merekrut 1 orang bergabung, kita mendapatkan bonus uang 1,2juta. 1juta (potong 10ribu untuk admin) masuk rekening pribadi kita, 200rb masuk ke dalam deposit kita di web ticketing. Kemudian setiap terjadi sepasang di bawah jaringan kita, kita mendapat bonus uang lagi 400rb : 300ribu masuk ke dalam rekening pribadi kita dan 100rb kembali dikreditkan ke dalam deposit kita.
4. Web jaringan itu gunanya untuk memantau perkembangan orang-orang yang kita rekrut dan yang berada dalam cakupan jaringan kita (yang direkrut orang yang kita rekrut, dst, dst ke bawah). Juga bila ada yang akan bergabung di bawah sponsorship kita, kita bisa mendaftarkan mereka dengan mengisi data di web ini. Keterangan lebih lanjut bisa didiskusikan dan ditanyakan pada sponsor atau upline masing-masing,
5. Untuk web ticketing, sudah tersedia pilihan-pilihan di dalamnya. Kita tinggal membuka, meng-klik sana-sini dan rajin belajar aja biar makin mahir. Bila ada pertanyaan soal ticketing, bisa diajukan pada "Ask Helpdesk". Jawaban mereka akan dikirimkan ke e-mail add penanya yang nge-link dengan gadget sehingga kita bisa langsung melihat jawaban pertanyaan-pertanyaan kita. Dan setelah saya bergabung dengan NextG, saya membuktikan sendiri respon tim Helpdesk ini sangat cepat dan memuaskan. Saya selalu mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang saya ajukan;
6. Di NextG kita kerjasama dengan tim, jadi jangan ragu deh untuk bertanya atau mengajak teman-teman NextG kita berdiskusi,
7. Harga software yang (promo selama 2013) 4juta akan terasa kecil bila dibandingkan dengan kita membuka agen travel konvensional, mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk sewa/beli tempat, gaji karyawan, urus ijin usaha, belum lagi kita harus deposit sekian juta per maskapai. kalau sudah dibandingkan dengan itu semua, 4juta terasa kecil kan?
8. Kalau sudah bergabung dengan NextG, kita sudah punya akses ticketing sendiri dirumah, bebas dari travel agent konvensional. Minimal kita bisa menggunakannya untuk diri sendiri dan keluarga. Kalau mau, untuk keluarga, kita tidak perlu mengambil komisinya, jadi jatuhnya harga tiket bisa lebih murah lagi. kalau bukan keluarga, kita selalu bisa mengambil komisinya;
9. Bisnis ini cocok buat siapa saja yang ingin punya penghasilan tambahan, ingin punya bisnis tapi hanya punya modal 4-5juta atau anak-anak usia SMP yang gemar menggunakan laptop dan gadget (mulai Januari 2014, harga software menjadi 4,5juta).
Semua keterangan lebih lanjut tentang poin-poin di atas, akan dijelaskan mendetail saat sudah bergabung.
Keterangan lebih lanjut, teman-teman bisa menghubungi saya di nomor 081343816080 atau di PiN BB 23902F09. In Shaa Allah dengan senang hati saya akan membantu menjelaskan. Terimakasih bagi yang sudah berbaik hati menyempatkan membaca :-)
Wassalam, Good day.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar