Sabtu, 31 Agustus 2013

1 Syawal 1434 H Part Three : Yogyakarta, Soto Lamongan & KaaL '88.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...

   Masih melanjutkan cerita kemarin, tanggal 9 pagi-pagi saya bangun mandi dan sholat Subuh, membangunkan Uda dan Icha Sholat Subuh, lalumelanjutkan nyiapin sarapan dan packing. Masih ada Rotiboy dari bandara Hasanuddin kemarin untuk dihabiskan Suami dan anakku pagi ini. Karena di rumah Mami Papi tersedia banyak, kami sengaja nggak bawa handuk dan sajadah. Jadi sejak semalam, kami sholat menggunakan plastik wrap koper sebagai sajadah darurat.
   Setelah mandi dan sarapan, Uda pamit membersihkan mobil dari bau rokok yang melekat di mana-mana. Saya diminta nunggu di kamar saja, "Ta' bersi'in dulu bau rokoknya biar Sayang nyaman dalam perjalanan yaa? Sekalian aku atur koper dan tas-tas kita," kata Uda sambil ngecup pipiku. Karena diminta nunggu di kamar aja, saya buka-buka ucapan-ucapan Lebaran yang sejak kemarin masuk bertubi-tubi ke Blackberry, sementara Lyza nyetel acara kartun di tv. Saya terkagum-kagum dengan begitu banyaknya ucapan yang panjang-panjang dan unik-unik. Satu yang jadi favorit saya adalah sebuah ucapan dari seorang distributor HDI langganan saya yang menyertakan gambar masjid yang bila diamati terdiri dari rangkaian huruf-huruf kanji. Saya copy paste (copas) ucapannya itu untuk membalas ucapan-ucapan dari saudara-saudara dan teman-teman lainnya. Ada beberapa dari mereka yang greetings-nya juga cukup unik untuk bisa saya copas dan dikirim silang. I just had to make sure i didn't send the greeting to it's sender :-D
   Menjelang jam 10 pagi kami start dari Surabaya menuju Blora lewat jalur tol. Seperti halnya kemarin, saya rajin ngabarin Mama dan Mami, hari itu saya juga ngabarin Mami waktu keberangkatan dari Surabaya. Malam sebelumnya Dek Anton (adik bungsu Uda) ngirim bbm, "titidj ya kak.. kami tunggu di rumah Nenek." Ada ide darinya untuk ngajak kami jalan-jalan ke Yogya, sekalian nganter Papi kontrol kesehatan. Saya sih selalu senang berkunjung ke Yogyakarta lagi. Kota kenangan masa remaja tempat saya pernah kuliah dulu yang selalu ngangenin. Di samping itu, kebetulan Alastor Moody dan Molly Weasley (maaf, saya harus ngasih nama samaran), Om dan tante kesayangan saya sedang berada di kota yang sama mengunjungi anak mereka  di Sleman. Akan sangat menyenangkan sekali andai saya bisa bertemu dan merasakan kehangatan kasih sayang mereka lagi dalam suasana Lebaran sekaligus ulang tahun saya begini, tapi rupanya Suamiku kelelahan dan merasa tidak sanggup bila harus memasukkan Yogyakarta ke dalam agenda mudik kali ini. Uda orang yang penuh perhitungan dan rasional, jadi saya tidak terlalu berharap yang muluk-muluk, sehingga bila Uda berkata "tidak", saya tidak akan merasa kecewa. Saya yakin semua keputusannya sudah dipikirkan dengan matang.
   Lewat telepon, Dek Anton masih memberikan usulan seperti mengembalikan saja mobil pada Mr. S dan melakukan perjalanan ke Blora dengan mobil travel atau membeli tiket pesawat dari Yogyakarta saja, tapi Uda masih bertahan dengan pendapatnya semula. Saya menunjukkan wajah nggak tega harus mengecewakan saudara-saudara yang jarang-jarang ketemu, Uda bisa 'membaca' itu dan berjanji sama adiknya untuk membicarakan soal itu nanti saja di Blora. Setelah menutup telepon, Uda berkata jujur bahwa baru kali ini ia benar-benar merasakan kelelahan yang luarbiasa. Travelling nyaris setiap dua-tiga hari sekali ke kota-kota yang berbeda, mengurusi proyek orang-orang asing di sebuah desa di Sulawesi Tenggara sambil terus 'memeras' otak merespon kiriman surel dalam bahasa asing yang datang bertubi-tubi tak kenal waktu selama sebulan terakhir sebelum mudik ini dirasanya begitu membuat tertekan dan kelelahan tenaga dan fikiran. Ditambah lagi pengalaman kami tahun lalu waktu mencoba jalan-jalan ke Yogyakarta sepulang dari Blora lalu kembali ke Surabaya lagi. Memang kami sempat silaturrahim ke rumah sodara-sodara dan sahabat yang berdomisili disana plus napak tilas karena saya dan Suami pernah lama tinggal di kota itu, tapi lelah dan waktu yang banyak terkuras juga membuat kali ini kami jadi mikir-mikir.
   Uda megang tangan saya waktu saya banyak diam setelah Uda bicara, "Sayang, kalau waktu kita panjang, aku juga senang kok jalan-jalan ke Yogya. Cuma waktu kita nggak banyak. Aku tanggal 14/15 sudah ditunggu di proyek. Lagipula hanya setahun sekali aku bisa ke Blora, tanah kelahiranku, kota tempat aku dibesarkan. Sama dengan Sayang kalau ke Luwuk gimana sih perasaannya? Jarang-jarang bisa datang, pengennya lama ada disana kan? Pengen napak tilas, nostalgia dan ketemu teman-teman lama. Aku sebenarnya pengen ngajak Sayang jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Blora, seperti ke Waduk Tempuran. Ada waktunya nanti kita ke Yogya itu, ya Sayang yaa?" Saya berusaha meyakinkan Uda kalau saya ngikut saja apapun keputusannya. Nggak ke Yogya, nggak apa-apa. Ke Yogya pun hayuk-hayuk saja. Saya diam tadi sekedar merenungkan andai kami bisa ramai-ramai konvoi ke Yogyakarta, dengan seluruh sodara-sodara Uda berikut keluarganya masing-masing yang ramai dan riuh itu, plus Mami Papi ada di tengah-tengah kami, Subhanallah pasti akan menjadi satu perjalanan menyenangkan yang tidak akan terlupakan.
   Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami akan mampir makan siang Soto Lamongan tepat sebelum memasuki jalan tol Gresik. Soto dan krupuknya enak banget deh. Tempat-tempat persinggahan selanjutnya adalah pom bensin dan masjid. Uda Jum'atan di sebuah masjid di kota Babat. Selama nunggu Uda Jum'atan, menyenangkan sekali bisa ngobrol dan meladeni pertanyaan-pertanyaan anak ABG kami tentang banyak hal. Walaupun kadang-kadang saya harus narik perut karena ngomel, tapi ada saja tingkah atau celetukan yang bikin tertawa dari dia. 
   Oya, Uda baru ngomong pagi itu kalau acara reuni 25 tahun SMA-nya dilangsungkan siang hari mulai jam 13.00. Saya kaget setengah mati. Kirain acara penting itu dilangsungkan malam hari. Saya komplain kenapa baru ngasih tahu info itu, padahal kalau tahu acaranya siang begitu, saya tentu akan melakukan sesuatu supaya kami bisa berangkat lebih pagi lagi. Jam satu siang kami baru meninggalkan Babat, mana keburu sampai di Blora sebelum acara dimulai? Wah sayang sekali :-( padahal kalau datang tepat waktu, Uda bisa bertemu dengan para mantan gurunya, foto-foto dengan teman-teman yang tentunya belum pada pulang. Saya mengerti sekali pentingnya acara-acara seperti itu, jadi sepanjang jalan saya nanya-nanya terus apa Uda masih keburu hadir. 
    Saat memasuki Jepon, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Saya udah lemes aja. Apa masih ada orang di tempat acara? Uda sih tetap tenang. "Kita datang aja walaupun telat. In Shaa Allah teman-temanku masih ada," katanya.
Sampai di rumah Mami Papi, kami disambut Mami, Haqqi (putra sulung Mbak Titik dan Mas Toni), Abrar dan Aisyah (putra putri Dek Anton dan Dek Anya), Papi dan Fikri (putra sulung Mbak Reni dan Da Wan). Saya langsung wudhu, sholat dan ganti pakaian. Sambil ngurus baju ganti Lyza, saya keluar kamar lagi dan bergabung dengan Mbak Titik, Mas Toni, Dek Anton, Dek Anya, Mbak Reni, Da Wan dan Fira (putri kedua Mbak Titik dan Mas Toni) yang sudah ngobrol ramai dengan Uda. Kami lalu pamit ke acara reuni Uda. Sebetulnya saya malu ikutan acara itu, tapi kata Uda udah lama pengen ngajak saya ikut dan berkenalan dengan teman-teman sekolahnya dulu. Uda sempat bercerita tentang singkatan "Kaal" di angkatannya yang merupakan ide Uda saat masih menjabat Ketua Alumni dulu. Maksudnya biar tampil unik dan beda dari angkatan-angkatan lain yang umumnya menggunakan singkatan yang sama. "Kaal" itu sendiri merupakan kepanjangan dari "Keluarga Alumni."
   Memasuki Gedung DPRD tempat acara berlangsung, surprisingly masih rame aja lho. Lega juga hati ini karena Suamiku masih sempat jadi bagian dari acara itu, meskipun sudah sangat terlambat. Ada seorang mantan guru (yang ternyata adalah guru terakhir yang meninggalkan tempat acara) yang sedang berjalan pulang langsung mengenali Uda dan mereka berjabat tangan erat. Saya selalu terharu dengan yang namanya Guru sampai-sampai lupa mengabadikan momen itu. Uda disambut hangat teman-teman seangkatannya (Suamiku dulu Ketua Osis, ketua kelas, Jagoan Matematika, juara kelas, pemuda masjid yang pandai mengaji dan banyak prestasi lainnya. Ternyata Suamiku dulu terkenal dan dikenang sampai sekarang lho. Hehehe... bangga sama Suami sendiri boleh ya?).
   Saya membiarkan Uda berkeliling menyapa teman-temannya yang berebut salaman dan ngobrol dengannya. Saya duduk saja di satu tempat, memperhatikan sisa-sisa acara yang masih berlangsung seperti foto bersama, tampilan slight yang memperlihatkan foto-foto jaman dulu angkatan '88 SMA 1 bergulir di layar-layar besar di sisi kiri dan kanan aula besar itu dan banyak teman-teman seangkatan Uda yang berseliweran dengan kaos seragam. Uda sejak awal berbisik, "Asem. Aku nggak punya kaos seragam e..." dan saya balas berbisik, "Tenang, Sayang... biasanya ada aja tuh disediakan kaos di tempat acara. Nanti Uda coba tanya panitianya." Alhamdulillah terbukti benar, seorang panitia laki-laki manggil seorang panitia perempuan yang bertanggungjawab atas kaos dan atribut reuni tersebut. Mbak Ina namanya. Dia langsung nyerahin kaos seragam dan sebuah tas ijo berisi suvenir Kaal '88. Orangnya berkacamata, ramah dan apparently, dialah teman sekolah perempuan Uda yang paling ramah dan welcome pada saya. Dia mau berepot-repot ria mencarikan saya minuman madu dalam kemasan gelas di antara timbunan gelas-gelas kosong dan setelah berhasil nemu satu, saya di ajak duduk dan ngobrol. "Namanya siapa?... Asalnya darimana?... Bisa bahasa Jawa kan?... Kapan tiba di Blora?... Kok anaknya gak di ajak?... Saya Ina, dulu temen marching band Heri... Tinggal di Makassar ya?... Saya punya temen orang Makassar lho di Jakarta... Kalau saya tinggal di BSD... " dst, dst. Kami ngobrol cukup lama dan setiap ada teman yang mendatangi, Mbak Ina selalu bilang, "Ini Mbak Herinaldi..." Hehehe...
   Walaupun sebagai salah satu panitia Mbak Ina harus ninggalin saya duduk sendirian, she kept coming back and said, "Aku temani istrinya Heri ahh... " Satu lagi temen Uda yang rajin moto sana-sini dengan kamera tele-nya (kali ini teman laki-laki), namanya Isnin. Mas Isnin beberapa kali nyapa saya dan setelah cukup lama ditinggal Mbak Ina, Mas Isnin duduk di tempat Mbak Ina, "Saya temani istrinya Heri kalo' gitu." Saya senang lihat Uda bahagia ngobrol dengan teman-teman sekolahnya. Ada romantika tersendiri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata mengetahui Suamiku sedang berkumpul dengan teman-teman sekolahnya dulu.
   Saya menghormati semua yang mengenakan seragam reuni KaaL '88 yang berada disitu sore itu terutama karena mereka adalah saksi hidup saat-saat orang yang saya cintai masih berusia belasan tahun, pernah muda dan mengenakan seragam putih abu-abu, sedangkan saya mengenalnya saat sudah menjadi pria dewasa berusia 30-an tahun. Bila memungkinkan, saya ingin bertukar tempat dengan mereka, diberi kesempatan mengenal lebih lama pria yang saya kagumi dan sayangi. Masa-masa remaja yang membingungkan dan melelahkan akan terasa indah andai punya seorang teman berkarakter seperti Uda. I'm sure i'd be a better person in those days. Well, toh hidup harus selalu disyukuri.
   Kembali ke acara reuni, saking lebih lamanya Mas Isnin duduk menemani saya ketimbang Uda sendiri, sampai-sampai ada seorang temannya dengan polos bertanya, "Nyonya, I'?" Mas Isnin buru-buru menjelaskan.  Saat Uda datang, Uda bilang, "Say, ini Isnin, dulu kita sering belajar bersama. Calon Menteri Pertanian nih. Dulu PMDK ke IPB." Mas Isnin tertawa malu dan nawarin kami foto-foto. Saya minta tolong Mas Isnin foto Uda di depan bentangan terpal bertuliskan perayaan 25 tahun angkatan mereka, tapi karena suasana ramai, Mas Isnin nangkepnya saya minta difoto sama Uda. Padahal bukan begitu maksud saya. Umumnya semua teman Uda welcome pada saya, tapi keramahan duo Mbak Ina dan Mas Isnin yang paling mengesankan saya. Oya, ada juga satu teman SMA-nya yang sudah saya kenal karena kami pernah mendatangi dia di hotel di Makassar. Boney namanya. Dari jauh, Boney sudah tersenyum lebar melihat saya dan saat salaman, kami sempat ngobrol sebentar.
   Sepanjang sisa waktu berada disana, saya juga terkesan dengan ide tampilan slight flashback itu. Siapatahu bisa diadopsi ke dalam pembuatan konsep reuni sekolah saya, terutama dengan teman-teman putih biru dan teman-teman purna paskib di Sulawesi. Bersama teman-teman tertentu yang terlibat di dalamnya, saya juga ikut jadi konseptor acara-acara reuni SMP dan PPI '94. Atau mungkin yang bersifat jangka panjang : Reunion Organizer. Siapa yang tahu ya? Toh saya dan Uda pernah membicarakan tentang ide organizer seperti itu dan Uda yang juga konseptor ulung karena sejak muda rajin ikut berbagai organisasi antusias sekali kalau di ajak diskusi soal-soal sejenis. Saya banyak 'menyerap' ilmu tentang organisasi dari Uda.
   Di slights yang ditampilkan, ada foto-foto angkatan mereka saat masih bersekolah dulu. Kalau nggak salah lihat nih ya (karena tempat duduk saya cukup jauh di belakang dan saya tidak pakai kacamata minus saya), ada foto dari kegiatan-kegiatan Pramuka, Marching Band, daftar absensi, dalam kelas, dan di seputaran sekolah. Lalu terakhir ditampilkan foto-foto semua alumnus dengan komposisi : foto jaman SMA dalam ukuran kecil di sudut bawah atau atas, foto terkini ukuran besar dan tampilan nama, pekerjaan, domisili sekarang dan nomor ponsel. Sebagai komparasi saja, kalau di acara reuni Spendoel pernah juga menampilkan slight serupa; bedanya, layarnya menjadi pusat perhatian di tengah, lampu dimatikan saat kami akan menonton dan yang ditampilkan hanya deretan foto mantan guru-guru, staf TU dan teman-teman seangkatan yang sudah meninggal. Di acara Uda, layarnya gede-gede di sisi kiri dan kanan dan penampilannya secara terus-menerus sepanjang acara. Hmmm, worth to try that.
   Menurut Mbak Ina, sumbangan dana minimal 300ribu tapi tidak diwajibkan bagi teman-teman mereka yang kurang beruntung dan sumbangan teman-teman yang mampu diharapkan bisa menjadi subsidi bagi golongan pertama tadi. Ada seorang teman mereka yang menyumbang 15juta sehingga kabarnya sanggup menutupi hampir semua anggaran untuk pengadaan kaos. Wow! Subhanallah, bisa dibayangkan betapa besar artinya teman-teman seangkatannya bagi Si-Penyumbang-15juta itu ya? Saya bertanya-tanya dalam hati, di angkatan saya, ada juga beberapa yang kaya raya seperti itu, tapi apakah mereka bisa seperti teman Uda yang pemurah itu? Wallahu'alam.
   Tak ada pesta yang tak usai. Menjelang Maghrib acara mulai sepi, kami pulang dan berkumpul lagi dengan keluarga besar di rumah. Disini aku baru bertemu dengan Della dan Sella. Rupanya waktu kami tiba, dua ponakan kami dari Mbak Titik dan Mbak Reni ini masih di supermarket. Saya terheran-heran melihat Sella yang tahun sebelumnya tinggi badannya masih di bawah Della, sekarang sudah sama tinggi dengan Della. Cepat sekali waktu berlalu bagi anak-anak seusia mereka. Berbeda dengan ponakan lainnya, Haqqi dan Sella tidak ada jeda malu-malunya. Mereka langsung ramai bercanda dengan saya dan Uda. Hehehe...
   Segini dulu cerita saya. Mudah-mudahan yang membaca tidak bosan.

Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar