Sabtu, 23 Agustus 2014

Slondok Magelang di Baureno

                                                                                                               Makassar, 23 Agustus 2014
Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Setelah kebersamaan yang singkat dengan keluarga besar di Blora, hari keberangkatan kami ke Surabaya pun tiba pada 02 Agustus siang. Setiap akan meninggalkan Blora, yang paling berat rasanya adalah harus berpisah dengan Mami Papi. Saking beratnya, waktu keberangkatan suka diundur-undur sampai sudah mepet banget. Akhirnya setiapkali punya maksud ingin jalan-jalan seharian di Surabaya sebelum pulang ke Makassar, selalu saja gagal karena hari sudah malam saat kami memasuki Surabaya dan hanya punya dua-tiga jam untuk sekedar cari makan malam. Happened all the time.
Dibanding saya dan Lyza, Uda mungkin lebih sanggup menata perasaannya meskipun saya tahu hatinya juga sedih. Caranya mengekspresikan kesedihan dengan banyak diam. Saya selalu nangis setiapkali mobil kami menjauh dari rumah Mami Papi. Kasih sayang dan perhatian Mami yang hangat dan tulus yang selalu saya rindukan segera setelah berpisah dari Mami. Papi pun sosok orangtua bijaksana yang ngangenin. Jadi wajar kalau selalu sedih setiap momen seperti ini tiba. Lyza apalagi. Nangis dan sedihnya bisa berhari-hari. Kemarin bahkan setelah meninggalkan rumah Kakek Nenek, dia minta Papanya belok ke jalan depan rumah Kakek Nenek sekedar lewat sekali lagi. Bukan karena kami mellow, tapi karena dibanding keluarga saudara Uda lainnya, kami yang paling jauh kota domisilinya. Dengan kesibukan Uda dan tidak ada yang bisa saya mintai tolong menjaga dan mengurus Lyza di rumah, kami jadi jarang-jarang bisa ke Blora selain saat mudik seperti itu.
Salah satu snack yang dibawain Mami dalam tas bekal kami adalah Slondok Magelang. Mami ya begitu itu perhatiannya : tahu Uda seneng Krupuk Rambak produksi rumahan, besoknya sudah dibelikan Mami banyak-banyak. Lihat saya senang makan krupuk Slondok dalam toples di rumah Mami, hari itu saya dibawakan yang banyak. Saya baru tahu ada Slondok dalam tas kami sesaat sebelum kami mampir sekalian silaturrahim di rumah kerabat Mami Papi lainnya.
Slondok itu saya makan sambil sesekali nyuapin Uda yang ngegodain, "Suaminya juga mau dong, Sayang. Pengen tahu rasanya snacks yang dimakan istriku e." Hehehe... bukannya nggak mau nawarin, tapi saya tahu Suami nggak doyan ngemil seperti saya, tapi karena ingin ikut rame dengan istri dan anak, Uda ikutan makan meskipun perutnya sempat mules karena nggak biasa. He's a sweet Man. Karena 'bekerjasama', walhasil beberapa kilometer sebelum masuk pelataran masjid di Baureno, sebungkus besar Slondok Magelang itu habis sudah. Hihihi...
Sedikit tentang Slondok Magelang ya? Camilan asal Magelang yang masuk kategori "Krupuk" ini terbuat dari bahan singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya menjadi mirip rasa kentang. Menurut onlinelarissa.blogspot.com, di Magelang terdapat banyak home industries yang memproduksi ratusan jenis Slondok dengan keunikan rasa dan tampilan kemasan yang beraneka ragam. Ada varian rasa bawang dan rasa manis pedas yang dijual per gram sampai per kilogram.
Akhirul kalam, sampai disini dulu Kisah Slondok. Selamat beraktivitas buat semua pembaca. Wassalam dan good day.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar