Sabtu, 23 Agustus 2014

Sate Blora dan Batik Mbloro

Assalamu'alaikum wr wb
Good day everyone

Banyak cerita tertinggal sejak terakhir kali saya posting tentang rangkaian cerita Ied Mubarak 1 Syawal 1435 H. Beberapa diantaranya adalah saya yang tidak melewatkan kesempatan menyantap Sate Blora mumpung sedang berada di kota asalnya. Rasanya memang nikmat sekali. Ada citarasa gurih dan manis di atas setiap daging ayam empuk. Racikan kuahnya juga beda dengan racikan kuah sate pada umumnya. Kuliner ini adalah juara di hati saya : Selalu saya cari setiap ke Blora. Hahaha. Karena kalau sudah di Blora Lyza jadi jarang bersama saya dan Suami berhubung sudah bertemu saudara-saudara sepupunya dan Mami Papi dan yang lainnya sepertinya kurang suka bila berkali-kali mengunjungi bakul Sate Blora, maka seringnya saya hanya pergi makan kuliner yang satu ini bersama Suami saya saja. Biasanya kami naik mobil tapi seringkali dengan goncengan berdua aja menggunakan motor Papi. Rasanya lebih syahdu dan merakyat. Biasanya sambil makan sate, saya dan Uda ngobrol dan berdiskusi tentang banyak hal.
Sebelum atau setelah makan sate, kami bisa sambil mengelilingi kota yang masih banyak dipenuhi rumah-rumah tua (in which i love to watch). Uda suka cerita dimana ia biasa bermain di masa kecil, tempatnya dilahirkan, bersekolah, sampai ke jalan yang dilalui untuk berangkat ke sekolah. Uda juga senang menunjukkan rumah-rumah teman-teman masa kecil sampai remajanya, rumah guru-guru sekolahnya dulu, rumah teman-teman Mami Papi sampai ke rumah-rumah gedongan warga Cina peranakan. Saya menikmati setiap momen Uda bercerita tentang hal-hal seperti itu. Dan kalau laper lagi, biasanya saya nemenin Uda makan Pecel Tahu. Saya? Teteeep... Sate Blora. Hehehe...
Cerita lainnya adalah di pagi hari sebelum bertolak menuju Kota Solo, saya dan Uda nganterin Mami ngambil cabai giling, daging sapi dan kikil di RM. Padang milik Uni Yus. Uni Yus adalah keluarga Mami yang rajin menjenguk Mami Papi sekaligus sering memberi Mami stok cabe giling. RM Uni Yus yang 'digandeng' dengan toko pakaian itu sangat ramai pengunjung. Itu kunjungan kedua saya. Kunjungan pertama saya terjadi dua tahun sebelumnya dan saya langsung terkesan dengan sambutan Uni Yus yang hangat. Pada kunjungan yang juga bersama Mami dan Uda kala itu, saya diperkenalkan dengan Suami Uni Yus yang menurut Uda adalah orang yang rajin dan kreatif, saya juga berkesempatan mengunjungi dapurnya yang sederhana tapi penuh dengan peralatan masak canggih berukuran raksasa. Uni Yus yang ramah bercerita bahwa ia hanya dibantu dua tenaga setiap harinya. Saya terkesan sekali. Subhanallah. Kemarin saat berkunjung, saya dan Uda tidak masuk sampai ke dapur. Kami sudah disuruh Mami duduk manis aja di meja paling belakang yang berdekatan dengan pintu menuju dapur. Kali ini kami tidak menerima tawaran makan nasi lauk karena diam-diam saya dan Uda sudah berencana makan Sate Blora lagi sebelum berangkat ke Solo :-D Sambil nunggu Mami yang ngambil pesenan ke dapur, seorang asisten Uni Yus datang membawakan minuman untuk saya dan Uda. Yang membuat saya terkaget-kaget saat itu adalah Uda yang terus makan buah jambu yang disuguhkan di hadapannya :-D selain sayur-sayuran, saya tahu Suami saya itu doyan makan buah, tapi nggak nyangka kalau Uda juga senang jambu dan dalam jumlah banyak pula. Hehehe. Pulangnya, tanpa sepengetahuannya, saya ambil sebanyak yang saya bisa untuk bekal perjalanan ke Solo.
Dari tempat Uni Yus, mendadak Mami nanya apa saya pernah menginjakkan kaki di Mall Luwes. Saya jawab "belum", jadilah saya dan Mami jalan-jalan di sana sementara Uda pulang mandi dulu. Saya beli kaos berkrah untuk Uda dan Papi plus jilbab untuk anak-anak dan Mbak-Mbak di rumah. Khusus dek Anya jilbabnya besar-besar, model yang tidak dijual bebas di mana-mana. So, she was the only woman in the house didn't get that. Dari mall itu, terlontar ide untuk  melihat-lihat sejenak Batik khas Blora. Waktu saya datang merawat Mami sakit di Bulan Maret barusan, Da Ril pernah bercerita tentang Batik Blora yang populer disebut "Batik Mbloro". Sayang waktu itu saya belum sempat melihat karena kepentingannya lain saat itu. Menurut Da Ril, batik khas Blora itu sekarang sedang booming dan Pemda setempat bahkan meminta semua pegawai ramai-ramai mengenakan batik ini setiap hari required. Mami ngajak kami ke ruko di Pusat Oleh-Oleh Blora. Tempatnya sekaligus lokasi terminal bis luar kota. Masih baru, jadi masih bersih (mudah-mudahan selamanya bisa sebersih itu). Ada dua toko berdampingan yang menjual batik dalam motif yang nyaris sama, hanya saja salah satunya juga menjual kaos oblong. Saya tahu Uda suka banget sama kaos jadi saya ajak aja Uda milih-milih. Ada dua tokoh besar asal Blora yang namanya sudah tidak asing lagi dan sering Uda ceritakan, mereka adalah Samin dan Pramoedya Ananta Toer. Uda bahkan selalu mengajak saya melewati rumah Pramoedya sekedar untuk melihat dan foto-foto karena tahu saya penggemar karya-karyanya. Mudah-mudahan suatu waktu nanti saya diajak Suami saya untuk bertamu dan melihat-lihat dalemnya rumah beliau ya? Hehehe... Tiap tahun mung dijhak lewat thok...#TepokJidat. Uda kalau mau beli sesuatu, milihnya nggak bisa sebentar. Banyak nanya dan banyak aspek yang dipertimbangkan sampai saya pegel. Jadi bisa dipastikan, dengan sedikit waktu yang kami punya saat itu, Uda belum bisa menjatuhkan pilihan. Saya hanya membeli sarimbit untuk saya dan untuk pasangan Pimpinan di kantor Suami di Makassar yang istrinya begitu perhatian dan ramah sama saya. Saya ingat beliau yang asli Madura itu pernah berkata kalau ia senang koleksi batik dari berbagai daerah. Batik Mbloro saya rasa adalah oleh-oleh yang paling pas untuk beliau. Sarimbit batik itu dihargai @Rp. 99.000,- Sayangnya untuk saya dan Uda, hanya tersedia satu untuk motif yang kami sukai, jadi Mami ngajak kami melihat di tempat lain. Batiknya cukup bagus, kemasannya juga keren. Untuk batik tulisnya tentunya lebih mahal per meternya karena one of a kind, tidak diproduksi massal.
Tujuan terakhir kami hari itu adalah pasar tradisional. Saya turun menemani Mami dan setelah mengambil pesanan dalam pasar, sambil nunggu Uda muter mobil, saya duduk bersama Mami di atas bangku kayu depan jalan raya. Dalam perjalanan pulang itulah, Papi nelepon Mami dan menyampaikan info bahwa Dek Anton dan Dek Anya sudah pulang dari acara puncak reuni SMA. Kami berencana berangkat ke Solo setelah acara reuni mereka kelar sehingga kabar dari Papi itu menjadi pertanda bahwa sebentar lagi kami akan berangkat. Tapi setelah nge-drop Mami di rumah, Uda tetep ngajak saya makan Sate Blora. "Masih cukup kok waktunya. Kita kan sudah siap, tinggal Sholat dijamak aja." Alhamdulillah, sempat juga merasakan nikmatnya Sate khas Blora hari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar