Good day all...
Waktu baru tiba di Blora jelang dinihari 30 Juli 2014, karena kelelahan, saya fikir saya berhalusinasi saat melihat rambut Papi putih semua. Selama ini frame wajah Papi dalam ingatan saya adalah dengan tampilan rambut hitam lebat. Ternyata keesokan harinya, kami baru tahu bahwa rambut Papi sudah tidak di toning lagi karena alasan tertentu.
Seperti biasa deh, keponakan yang berjumlah delapan orang menambah riuh suasana rumah Mami Papi. Kalau kata Uda, "Orang sekampung dalam satu rumah." Hehehe... It's a compliment yaa! Sejak sebelum adzan Subuh berkumandang, semua penghuni rumah sudah pada bangun. Ada saja aktivitas yang dikerjakan sebelum dan setelah Subuhan. Biasanya sih para lelaki sholat Subuh berjama'ah di masjid dimana Papi selalu menjadi imam dan yang perempuan berjama'ah bergantian dalam rumah. Setelah itu ada yang menyempatkan mengaji, lalu sibuk di dapur dengan beragam kegiatan pagi hari. What amazed me the most adalah pertumbuhan para keponakan yang terlihat signifikan dari tahun ke tahun. Dengan pengecualian untuk Aa' Haqqi yang sudah bekerja di Jakarta; uni Fira (yang tahun ini resmi menjadi mahasiswi Itenas, Bandung) tampak makin kurus dan kalem. Tinggi badannya didahului jauh oleh Sella, Della dan bahkan Lyza yang masih berusia SMP. Abrar sendiri sudah semakin gede, Aisyah yang rajin dan Taqqi yang sekarang sudah lancar berbicara. Fiqri putra Da Wan dan Mbak Reni juga nggak kalah jangkung dan pendiamnya. Lebih banyak menyendiri dan bungkam bila sedang berkumpul ramai-ramai. Saya senang melihat rambut ponakan-ponakan perempuan yang sudah remaja : lurus, panjang, tebel. Andai rambut Lyza bisa selurus itu, mungkin akan saya biarkan tumbuh memanjang juga.
Pada hari Kamis setelah dek Anton memimpin acara reuni sekolahnya (seperti Uda ku, dek Anton dulu juga Ketua OSIS di SMA lho :-D), kami berangkat menuju Solo untuk silaturahim ke Tante Solo (kakak ipar Mami) yang akan berangkat haji tahun ini. Dari Solo, rombongan berencana langsung ke rumah mbak Reni di Yogya untuk menyudahi liburan. Katanya di sana ada tempat rekreasi laut di Wonosari. Meskipun Uda jelas menegaskan tidak mau ikut rombongan ke Yogya dengan alasan lelah nyetir ke Surabaya, dalam hati saya masih berharap kami bisa ikut ke kota dimana saya pernah tinggal selama 10 tahun itu. Selalu rindu untuk kembali ke sana. Diam-diam saya menyelipkan beberapa potong pakaian kami bertiga dalam tas bekal kami. Hehehe...
Selain saya dan Uda, yang ikut dalam mobil kami : Mami, Papi dan Abrar. Lyza ikut mobil dek Anton dan dek Anya yang isinya anak-anak semua :-D Sedang anggota keluarga lain ikut dalam dua mobil terpisah. Kehadiran Abrar dalam mobil bersama Uda yang seneng becanda dengan anak-anak pastinya ramai terus. Saya, Mami dan Papi tertawa terus mendengar celotehan Abrar yang bersahut-sahutan dengan Om nya. Karena lelah, saya menggantikan Uda nyetir mulai dari Purwodadi. Tapi sesaat sebelum memasuki Kota Solo, Uda mengambil alih karena hari mulai gelap dan saya tidak memakai kacamata minus saya. Selama ada Uda, saya tidak pernah diijinkan nyetir di malam hari, khawatir dengan kondisi mata saya yang rabun jauh.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang seakan tidak pernah usai karena harus bolak-balik mencari-cari alamat rumah, Alhamdulillah sampai juga kami di rumah Tante Solo. Adzan Maghrib yang sudah berkumandang beberapa menit sebelumnya membuat kami harus sholat Maghrib berjama'ah dulu sebelum makan malam masakan Tante Solo. Lalu setelah itu Papi memimpin (ceille... memimpin. Bahasaku tinggimen... apa dong ya?), yaaa Papi memberi semacam kata sambutan mengenai kedatangan kami, selain silaturrahim Idul Fitri, tentunya juga ingin melepas keberangkatan Tante Solo dengan do'a, semoga menjadi haji mabrur dan kembali ke tanah air dengan selamat. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin. Tante Solo juga meminta kami untuk selalu menjaga tali silaturrahim dan menitipkan keluarganya pada keluarga besar Mami Papi.
Setelah berpamitan dengan keluarga Tante Solo nih yang sedikit mengharu-biru, terutama buat Lyza. Dia menangis sedih karena Papi dan Uda memutuskan tidak ikut ke Yogya seperti harapannya (dan harapanku juga sebetulnya). padahal seluruh anggota keluarga, mulai dari sodara-sodara sampai ke ponakan-ponakan sudah ngebujukin sedemikian rupa, ada yang kompak berseru, "Om Heri! Om Heri!" giliran Uda mulai goyah dan setuju dengan syarat nanti nyetirnya harus gantian dengan aku, ehh Papi yang bersikeras nggak mau karena tidak bawa baju ganti dan sejak awal rencananya akan kembali ke Blora lagi. Saya dan Mami hanya bisa pasrah. Kalimat-kalimat dek Anton, dek Anya, Mbak Titik dan anak-anak, "Kasihan Lyza, Kak..." "Ayo dong, Kak. Ke Yogya aja dulu rame-rame, besok kan bisa lanjut pulang Blora?" "Kasihan Lyza, dek Reyna..." "Te, masa' tega dek Lyza dibiarin sedih gitu?" mengiang terus di telinga saya selama perjalanan pulang ke Blora. Saya banyak diam karena sedih. Kasihan banget sama anak kami yang harus sendirian lagi. Dia tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan pulang. Saya pikir inilah mudik terkelam kami selama ini :-(
Walaupun tidak kebagian tugas nyetir lagi, saya nyaris tidak tidur karena ingin menjaga Suami yang terus menyetir sejak tadi. Waktu perjalanan dari Surabaya ke Blora, saya bisa nyaman tidur karena tahu ada Lyza yang menyanggupi menjaga Papanya nyetir. Saat itu dia sedang ceria-cerianya karena akan bertemu dengan sepupu-sepupunya. Kali ini situasinya sangat berbeda. Diajak foto sebelum rombongan berpisah saja, dia sudah nggak mau, apalagi diminta nemenin Uda nyetir. Sesekali Uda butuh minum atau makan sesuatu yang tak jarang harus saya suapi.
Esok harinya, menjelang Jum'atan, sambil meletakkan songkok di atas kepala di depan cermin, Uda berkata bahwa ada hikmahnya kami tidak ikut ke Yogya. Hari gini tentu rombongan baru menuju tempat rekreasi siang hari setelah Jum'atan, pulangnya bisa jadi malam hari. Gimana kami bisa kembali ke Blora dan melanjutkan ke Surabaya tanpa merasa kelelahan? Yah, beginilah dinamika kehidupan.
Segini dulu ya? Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar