Rabu, 03 September 2014

Mengenang Adik Asuh : Engkos Koswara

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Boleh dikata, cerita saya kali ini cerita usang, mengingat waktu pemicu idenya adalah tahun 2004 silam.
Di akhir tahun '90an, saat saya dan seorang adik masih kuliah di Yogyakarta, orangtua kami punya rumah pribadi di sebuah komplek perumahan di daerah Ringroad Utara. Bukan hanya mendapatkan banyak teman dan sahabat keluarga selama episode hidup itu, Mama dan Papa juga punya beberapa anak asuh, sebutan populer bagi orangtua yang menampung para siswa Sekolah Penerbang (SEKBANG) TNI AU saat mereka libur/weekend. Normalnya yang rutin berkunjung hanya dua orang (sebut saja Ade' dan Sorong), tapi kadang-kadang mereka juga mengajak beberapa temannya, meskipun hanya mampir makan dan duduk-duduk ngobrol sebelum akhirnya pergi lagi. Untuk Ade' dan Sorong, orangtua saya membuatkan kamar khusus di sisa tanah di atas lahan sempit di belakang rumah kami. Mungkin karena nggak punya anak laki-laki, Mama dan Papa dengan ikhlas melakukan itu. Saya dan adik-adik pun senang karena serasa punya sodara laki-laki yang tidak pernah kami miliki sebelumnya. Setiapkali mereka datang, Mama atau saya biasanya masak untuk makan siang dan makan malam mereka (soal adik-adik spesial ini, lain waktu saya cerita lagi. Kali ini pengen cerita tentang seseorang yang lain).
Saat Ade' dan Sorong masing-masing sudah ditempatkan di TNI AL Surabaya dan Kepolisian Pondok Cabe , Ade' punya teman sekolah masa kecilnya di Jawa Barat yang meskipun seangkatan, baru diterima masuk SEKBANG pada tahun 2000. Suatu malam, saat saya sedang sendiri di rumah, Ade' yang kebetulan sedang jalan-jalan ke Yogya ngajak saya menemani dia ke SEKBANG dan kenalan dengan temannya itu, namanya Engkos Koswara. Saya masih ingat dia muncul di ruang tamu mess dengan badan kurusnya yang dibalut kaos putih dan celana panjang biru tua. Meskipun usianya sama dengan Ade', dia tetap menunjukkan sikap hormat layaknya yunior ke senior seperti lazimnya dalam dunia militer. Selama perjalanan, Ade' sudah ngasih kata pengantar betapa unik dan lugunya temannya yang bernama Engkos itu. Dan setelah saya bertemu langsung, Can't agree more, ceritanya itu memang terbukti. Engkos anak yang ramah, lugu dan sangat sopan. Bahkan kesopanannya yang berlebihan mungkin terasa janggal di jaman ketika tata krama sudah mengalami degradasi saat itu. Saya langsung merasa seperti mendapatkan lagi adik laki-laki baru setelah Ade' dan Sorong ditugaskan di luar Yogya. Engkos pernah beberapa kali berkunjung dan nginap di rumah. Yang paling berkesan buat saya adalah adik yang baik hati itu tidak pernah mengeluh. Ia pernah berjalan kaki sekitar 4 km di siang bolong setelah turun dari Kopata di jalan raya Ringroad dan sesampainya di rumah, dengan wajah sumringah berkeringat  dan aksen sundanya yang khas, dia berujar sambil melangkah masuk, "Fiuhhh, maaf ya Mbak... Engkos tadi jalan kaki dari depan. Ibu ada? Sehat-sehat semua, Mbak?"--Gaya bicaranya dengan membahasakan diri sebagai orang ketiga (menyebut nama diri sendiri).

Hal berkesan adalah soal makanan. Yang paling digemarinya dari masakan saya adalah Terong Pete' Sambel. Sebenarnya itu hasil kreasi saya dari bahan-bahan yang ada dalam kulkas : terong, pete, cabe merah, tomat dan gula merah. Hehehe... Tapi tahukah anda apa komentarnya setelah melahap menu itu dengan tiga piring nasi? "Enak banget, Mbak Reyn masakannya. Terimakasih banyak ya Mbak. Engkos jadi inget Mama di Subang. Mama tahu ini makanan kesukaan Engkos, jadi kalau Engkos pulang kampung, pasti dimasakin beginian." 
Pernah suatu ketika, Engkos akan menghadiri sebuah pesta pernikahan. Begitu gugupnya dia sampai berkali-kali mematut diri di hadapan saya, bertanya apakah dandanannya sudah rapih atau ada yang kurang pas. Lucu sekali gayanya, seperti bocah berusia 12 tahun alih-alih 22. Sampai ketika sudah ditempatkan di markas TNI AD di Semarang, Engkos masih menjaga tali silaturrahim dengan kami di Yogya. Di masa-masa penugasan di Semarang itu, ia juga sempat beberapa kali mampir ke rumah di Yogya. Kali pertama dia pernah nemenin saya dan Mama jalan-jalan ke Mall Galeria, dengan Lyza yang masih batita. Kami ke mallnya sambil gotong-gotong kereta bayi Lyza waktu itu. Untung ada Engkos, dia yang telaten bolak-balik melipat dan membuka kereta itu, termasuk menggotong saat mau naik turun eskalator. Yang luarbiasa : dia pake seragam komplit dengan atributnya sebagai Siswa Sekolah Penerbang, tapi nggak sedikitpun dia ragu dan malu melakukan itu semua. Kali kedua adalah ketika dia nelepon ke ponsel saya nanyain saya mau dibawain apa dari Semarang. Waktu itu saya ingat, saya sedang di atas bis Kopaja (apa Kopata ya? Sampe' lupa saya) dalam perjalanan mau membayar tagihan listrik rumah di kantor PLN Mangkubumi Yogyakarta. Saya menolak mesen apapun tapi dia maksa nanya terus sampai sayapun bilang "makanan khas Semarang aja, Dek.". Akhirnya dia bawain kami Lumpia Semarang.
Sampai saat dia ditugaskan di Aceh yang kala itu masih merupakan wilayah konflik pun, Engkos masih sesekali menelepon nanyain kabar kami sekeluarga dan bahkan sempat ngirim fotonya bersama calon istri ke Mama melalui MMS (populer di jaman itu). Rasa berterimakasihnya pada kami sekeluarga atas kebaikan menampung dan menjadikannya bagian dari keluarga selama di Yogyakarta selalu diucapkan berkali-kali, meskipun kami yakin semua keluarga akan melakukan hal yang sama.
Tapi kebersamaan kami layaknya keluarga ternyata tidak berlangsung lama. Pada tanggal 12 Oktober 2004 menjelang Maghrib, saya yang waktu itu masih rajin ngikutin berita di tv, membaca newstickers yang muncul di layar televisi tentang sebuah helikopter jenis Bell dengan nomor registrasi 5078 milik TNI AD yang pada siang hari itu jatuh di km. 34 jalan antara Takengon, Aceh Tengah-Bireun, Aceh. Delapan personel TNI AD dilaporkan tewas dalam kecelakaan tersebut. Untuk sesaat, pikiran saya melayang pada Engkos karena saat kontak terakhir sekian bulan sebelumnya, dia pernah bercerita tentang tugas barunya sebagai co-pilot helikopter TNI AD di Aceh sana. Seingat saya, sudah cukup lama juga adik asuh saya itu tidak memberi kabar karena keberadaannya di daerah konflik yang tentunya sangat membatasi ruang gerak, tapi buru-buru saya menepis pikiran itu. Di saat perasaan mulai nggak enak, malam itu sekitar pukul 19.37 wib, Mama nelepon menyampaikan kabar duka yang juga diperkuat Ade' yang mengabarkan via SMS bahwa Engkos termasuk salah satu korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Inna lillahi wainna ilaihi roji'uun. Saya terpukul dan sangat sedih mendapat kabar dari Ade'. Hari itu, saya kehilangan seorang adik asuh yang sudah saya anggap seperti adik laki-laki saya sendiri. Adik yang baiiik sekali hatinya.
Oya, berikut nama-nama personel TNI AD yang tewas dalam kecelakaan helikopter Bell tersebut :
1. Kapten Pilot Mayor Pnb. Heru Iryanto
2. Co-pilot Letda Pnb. Engkos Koswara
3. Teknisi Serda Sulaiman
4. Teknisi Serda Yarjun
5. (Penumpang) Letkol. Suparman
6. (Penumpang) Mayor Rudi
7. (Penumpang) Letnan Dwi Yuda Febrianto
8. (Penumpang) Pratu Irawan

Jaman dulu saya senang sekali ngikutin Olimpiade (terutama olahraga beregu seperti basket, voli, renang indah dan atletik cabang lari estafet) dan berita. Saking gandrungnya, sampe' rajin nyatet segala. Maklum, dulu kan belum populer Google atau search engines sejenis di internet. Nggak ada wifi-wifi an dan sebagainya. Berita apapun jadi semacam harta karun yang harus saya 'selamatkan'. Nggak ada yang lebih memuaskan dibanding nyatet dan nyimpen sendiri semua detail berita. Nah, khusus berita kecelakaan heli Engkos ini, ada beberapa catatan saya jaman itu yang masih rapih tersimpan dalam organizer saya dengan sumber berita dari berbagai reportase berita stasiun tv RCTI, Metro TV dan SCTV. Saya bagikan aja disini :
1. 12 Oktober 2004 jam 20.31 wib--Belum diketahui penyebab pasti jatuhnya heli jenis Bell milik TNI AD, tapi siang tadi memang cuaca sedang buruk.
2. Jubir Koopslihkam Letkol CAJ. Asep Sapari membantah jatuhnya heli karena ditembak oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka-R). Sebelumnya, GAM di wilayah Batee Iliek Pimpinan Darwis Djeunib mengklaim telah menembak jatuh helikopter tersebut dengan kalashnikov dan granat peluncur.
3. 12 Oktober 2004 jam 22.15 wib--Semua korban tewas telah di evakuasi.
4. Letda Dwi Yudha Febrianto akan dimakamkan di Surabaya. Almarhum bertugas di Aceh sejak Nopember 2003 sebagai Danramil. Yudha adalah Lulusan Terbaik AKMIL (Akademi Militer-Magelang) tahun 2002 dan pernah mendapatkan "Pedang Trisakti Wiratama".-This one stayed young forever.
5. Pernyataan dari KASAD (Kepala Staf Angkatan Darat) Ryamizard Ryacudu : "Heli jenis Bell 205 yang jatuh di Takengon-Bireun itu dibuat pada tahun 1970 dan digunakan sejak tahun 1974, tapi hingga kini masih layak terbang kok! Jangan berspekulasi macam-macam dulu ya! Kita masih selidiki terus penyebabnya itu!"-Galak, seperti biasanya:-) Tapi emang harus begitu, Jenderal.
6. 13 Oktober 2004 jam 16.25 wib--Jajaran KODAM Iskandar Muda mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati delapan prajurit TNI AD yang tewas dalam kecelakaan helikopter jenis Bell-205 di Bireun kemarin.
7. Sementara itu, TNI AD telah mengirim tim untuk menyelidiki penyebab di belakang jatuhnya heli jenis Bell-205 tersebut.-I wonder how's precisely the investigation go?
8. 13 Oktober 2004--KASAD kembali menegaskan bahwa kejadian yang menimpa heli AD tersebut adalah murni kecelakaan dan bukan karena tembakan GAM.
9. 13 Oktober 2004 jam 20.00 wib--Jenazah delapan anggota TNI AD tiba di Jakarta, disambut dengan upacara kehormatan militer. Tidak ada yang lebih membanggakan bagi seorang prajurit selain gugur saat menjalankan tugas. Yang menggetarkan hati adalah : Almarhum Engkos harus mencoba berkali-kali mendaftar di SEKBANG sebelum akhirnya keterima. Begitu besar keinginannya menjadi tentara. Saya pernah nanya kenapa Engkos begitu gigihnya mendaftar di Sekbang sampai berkali-kali? Bukannya banyak profesi lain yang menjanjikan untuk anak muda seperti dia? Lalu dijawab bahwa sejak dulu dia memang hanya ingin jadi tentara dan membuat bangga ibu dan keluarga besarnya. Dan dia diwafatkan dalam keadaan sedang bertugas untuk sebuah profesi yang begitu dicintainya.

Ade' rajin ngubungin saya untuk mengabarkan perkembangan terkini dan ngasih alamat rumah Engkos di Subang kalau-kalau ingin ngirim karangan bunga. Kami juga nitip sejumlah uang untuk keluarganya.
Mengapa seringkali orang baik dipanggil lebih cepat? Saya teringat sebuah perumpamaan manis seorang Ibu untuk putranya yang bertanya hal serupa, dalam salah satu share kisah mengharukan di beranda Facebook, "Kalau adik berada di sebuah taman dengan banyak bunga dan ada yang sedang mekar dengan indahnya, kira-kira bunga yang mana yang akan adik pilih untuk dipetik?" Tentu siapapun akan memetik bunga yang paling indah kan?"
Kelihatannya saya memang tidak ditakdirkan memiliki adik laki-laki. Sedih rasanya... Hanya bisa mendo'akan dan berharap saat sakaratul maut, dia tidak merasakan sakit lama-lama dan husnul khotimah. Anak baik, yang tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berprasangka buruk pada siapapun, killed in action; therefore, forever young :-(
Sejak kepergiannya, saya sering merenung tentang kematian, yang begitu tipis bedanya dengan kehidupan dan bisa datang menjemput manusia kapan saja, tidak peduli tua atau muda. Tidak peduli apakah sedang sakit atau dalam keadaan sehat wal'afiat. Kalau kemudian saya sering melarang diri sendiri untuk dikit-dikit ngeluh, itu sebagian besar untuk Engkos. Untuk mengenang sifat-sifat baiknya semasa hidup. Saya selalu ingat adik yang satu itu setiap hari. Sejak hari kepergiannya sampai saat ngetik ini. Al-Faatihah untuk Engkos Koswara. Semoga dilapangkan kuburmu, Dek. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin.
By the way, apa kabar Ade' dan Sorong, adik-adik asuh lainnya itu? Sorong entah gimana kabarnya sekarang. Tahun 2008 dia pernah mampir ke rumah Mama Papa di Makassar. Kalau nggak salah ingat, dia disewa menerbangkan helikopter untuk Kalla Group (yang juga pemilik perumahan yang kami tempati sehingga helipad-nya memang dalam lokasi perumahan kami). Waktu itu saya dan Suami masih numpang di Pondok Indah Mertua, jadi kami sempat ketemu sebentar. Sayang, Uda sedang parah-parahnya kena cacar air 'hasil' tularan Lyza, jadi nggak bisa diajak terbang dengan heli deh. Hehehe. Serius lho mau di ajak waktu itu. Karena saya harus nungguin Suami, Lyza belum sembuh betul dan Mama takut; akhirnya hanya Papa yang bersedia mengajukan diri untuk touring dengan Sorong. Semua yang lebih muda dirumah kalah dengan Papa. Hahaha.
Kali kedua, kami bertemu lagi di Hotel Marbella, Bandung saat Ade' nikah tahun 2011. Saya dan Suami datang mewakili Mama dan Papa yang berhalangan hadir, Sorong masih setia sebagai penerbang helikopter TNI AD.
Dan untuk Ade', setelah 10 tahun pengabdian di TNI AL, dia beralih menjadi Pilot Garuda Indonesia. Sampai sekarang.


Wassalam.



2 komentar:

  1. Saya baru ingat nama Engkos Koswara ini ketika buka alumni Sekbang 65 PSDP 17. Beliau teman saya satu barak sewaktu masih tes di Skadik Halim. Orangnya memang sopan dan lucu jadi sering ngobrol dengan beliau. Baru tahu ternyata sudah almarhum di tahun 2004 lalu.

    BalasHapus
  2. Tgl 11 aa tlp ke rumah. Yg angkat mama. Terus aa bilang tgl 13 aa pulang nanti mau ada acara di rumah ya mah buat lamaran sm kk saya. Ya Allah jd keinget lg sm aa kos. Mksh atas ceritanya.

    BalasHapus