Good day
Hai, semoga semua pembaca dalam keadaan sehat wal'afiat dan beraktivitas dengan sempurna sampai ke akhir hari, Aamiin... Seperti biasa, setiap melakukan perjalanan, sebisa mungkin saya ingin berbagi cerita di jurnal/blog, bahkan bila hanya saya pembacanya. Hehehe...
Baru ngisi blog lagi, semalem baru tiba dari Surabaya. Perjalanan yang singkat aja sebetulnya karena saya dan anak saya berangkat hari Sabtu, 20 September pagi, bertemu dengan Suami yang sudah tiba duluan di Surabaya langsung dari Jakarta. Senin malam kemarin sudah pulang Makassar lagi, sementara Uda kembali ke Jakarta karena hari ini pendidikannya berlangsung seperti biasa. Oya, kami ke Surabaya dalam rangka menghadiri pernikahan putri Mr. S di Graha Samudera, Bumimoro-Surabaya. Mr. S dulu hadir di pernikahan kami, ngamplop dalam jumlah besar dan selalu setia meminjamkan mobil pada kami setiap kami mudik ke Blora. He's our VIP friend, jadi ketika pertamakali menerima undangan pernikahan di kantor Uda, saya langsung terpikir akan hadir bersama Suami di acara itu. Kami merasa banyak berhutang budi, jadi wajib bagi kami berdua untuk hadir.
Saya dan Icha berangkat Sabtu pagi dengan Sriwijaya yang take-off jam 09.45 wita. Kami dapat tempat duduk paling belakang karena baru dibantu check in oleh seorang teman petugas bandara di last minutes. Nggak apa-apa sih buat saya, yang penting kami terangkut ke Surabaya. Yang kemudian menjadi masalah adalah penerbangan yang kurang mengenakkan. Sejak take off sampai akhirnya landing, pesawat terguncang-guncang keras. Proses landing pun tidak berlangsung mulus. Ketika akhirnya sudah menginjakkan kaki di Bandara Juanda sampai malam hari, saya masih merasa pusing dan mual karena jet lag. Ini baru ke Surabaya, gimana kalau keluar negeri ya? Fiuhhh... pathetic me :-)
I hate fly actually... Hal yang paling menyenangkan tentu saja bisa bertemu Suami lagi setelah hampir dua minggu berpisah. Alhamdulillah Uda dapet pinjaman mobil dari Mr. Ng. Segala sesuatunya sudah diatur dan diperhitungkan Uda, termasuk soal urusan tiket pesawat, transport dan hotel. Biasanya kami berbagi tugas : saya yang handle urusan tiket pesawat, barang-barang bawaan dan biaya yang harus dikeluarkan selama di luar kota; Uda yang handle urusan transport dan hotel.
Hari Sabtu siang itu kami lunch di Restoran Palem Sari di Jalan Kartini. Restonya tidak begitu mewah tapi makanannya enak-enak, pelayanannya cepat, akurasi pesanan juga patut diacungi jempol. Kami langsung terkesan sehingga esok harinya kembali lunch di sana lagi bersama Mami Papi, dengan pesanan yang lebih banyak sampai pada kekenyangan. Hihihihi...
Di Hotel G Suites yang funky, kami serasa masuk salon besar karena nyaris semua petugasnya berdandan seperti para kapster : rambut merah, baju sempit-sempit dan celana melorot yang menyempit di bagian betis. Bahkan ada seorang petugas security pake' anting sebelah dan bergaya rambut mohawk! Sore itu setelah sholat jama', kami istirahat dulu karena sama-sama bangun terlalu pagi untuk mengejar pesawat. Pesawat saya jam 09.45 wita, tapi pesawat Uda jam 05.00 wib; So, saya tetep harus bangun jam 3 dinihari untuk membangunkan Uda lewat telepon. Dua setengah jam sebelum acara resepsi, saya sudah bangun duluan, mandi dan nyiapin segala keperluan Suami dan anak. Thanks to seragam bahan kain India pemberian seorang relasi Uda yang dijahit Tante Nun untuk saya-Icha dan Ko' Irian untuk Uda. Subhanallah, kain dengan kolaborasi warna yang indah sekali!
Butuh waktu setengah jam untuk kami akhirnya menemukan gedung tempat acara. Kata Mr. Ng yang sebelumnya nganter Uda survei ke lokasi, gedung milik TNI AL itu hanya digunakan untuk acara-acara oleh kaum jetset. Kami parkir tak jauh dari pos security tentara TNI AL, menyusuri jalan beraspal mulus yang di kiri kanannya berdiri rangkaian-rangkaian bunga ucapan selamat dari berbagai bank dan perusahaan. Memasuki bagian dalam gedung, suasana meriah langsung terasa. Saya jadi ingat acara pernikahan dek Ana beberapa tahun lalu yang juga semeriah itu. Sama-sama menggunakan jasa EO, ada photo booth dengan berbagai properti lucu, souvenir gede dan desain interior mewah dengan pilihan makanan berlimpah di mana-mana. Saya masih merasakan pusing-pusing dan mual akibat perjalanan pesawat pagi harinya, jadi kurang berselera makan malam itu. Uda dan Lyza yang antusias ngider nyobain makanan-makanan di sana. Hehehe. Kami bertemu dengan beberapa rekan dari Adhi Karya dan Rukun Ibu Adhi Makassar, satu diantaranya saya ajak foto bersama.
Esok harinya kami sarapan di Kitchen and Bar hotel. Uda meminta saya membantu me-review setiap hotel yang kami datangi. Sebetulnya, jauh sebelum Uda mengikuti pendidikan perhotelan, kami sudah punya tradisi nginep di hotel-hotel setiapkali ada rejeki lebih dan momennya pas saat long weekend atau jelang akhir tahun. Bahkan saat masih gadis, kalau tidak bisa bekerja sebagai wartawan perang di daerah-daerah konflik atau bekerja di Istana Negara, saya punya cita-cita bekerja di front office hotel lho. Alasan saya : 1. Saya senang mengurus rumahtangga dan hotel bagi saya laksana rumahtangga skala besar. Saya pikir, peluang saya untuk sukses disana cukup menjanjikan; 2. Saya senang bersosialisasi, senang bergaul dengan banyak orang, temen saya banyak, ada dimana-mana; saya fasih berbahasa Inggris dan excite dengan suasana kerja yang dinamis, hotel adalah tempat bekerja yang menyenangkan karena semua keinginan di atas terpenuhi. Pasti akan sangat menyenangkan bekerja di hotel; 3. Saya suka berangan-angan mengumpulkan tanda tangan tokoh-tokoh penting dunia untuk koleksi. Bisa dibayangkan kesempatan-kesempatan gratis yang akan saya dapatkan bila bekerja di hotel kan? Semua cita-cita itu tidak terwujud sampai hari ini karena saya terlalu permisif dengan campur tangan oranglain dalam memutuskan apa yang terbaik dalam hidup saya :-( Anyways, karena kali ini hotel yang kami tempati hanya bintang tiga, kami tidak bisa berharap banyak soal kenyamanan tempat bersantap. Tapi untuk ukuran hotel berbintang tiga, G Suites boleh dikatakan menyenangkan lah. Desain interiornya sederhana saja, dengan meja dan kursi dominan warna merah putih tanpa table manner komplit dan beberapa kursi empuk berbalut kulit hitam atau merah. Mini bar dipenuhi display gelas dan botol-botol raksasa Jack Daniels, begitu juga dengan semua lukisan yang tergantung di dinding, semua berlabel "Jack Daniels", semakin menegaskan ciri khas funky hotel yang terletak di daerah Gubeng ini.
Mami Papi tiba dengan mobil travel menjelang waktu Lohor dan kami menghabiskan waktu dua jam ngobrol di kamar Mami Papi. Malam itu Lyza tidur di kamar Mami Papi dan saya dan Uda di kamar lainnya.
Hari Senin pagi setelah sarapan, kami akhirnya mengajak Mami Papi mengunjungi Museum Kapal Selam Pasopati di Jalan Pemuda. Letaknya tidak begitu jauh dari hotel, Uda secara mengejutkan menguasai betul jalanan Surabaya. Bangga deh sama Suami saya, ia mengurus kami dengan sangat baik dan penuh tanggungjawab ;-) Entah karena saya memang penggemar sejarah ataukah memang museum itu luarbiasa sekali, saya sangat terkesan dengan Museum sejarah TNI AL tersebut. Saya tidak melewatkan kesempatan mengambil foto sebanyak mungkin. Bukan hanya saya; Uda, Mami Papi sampai Lyza pun terkagum-kagum lho dengan museum yang satu ini. Padahal biasanya anak-anak seusia dia suka bosen diajak ke museum. Lyza tidak begitu. Ia sangat manis dan memberikan momen-momen indah buat kami hari itu. Tidak terhitung kalimat ekspresif Uda, Lyza dan Mami Papi untuk menyatakan kekaguman dan rasa bangga Negara kita pernah punya kapal selam sebesar itu dengan prajurit-prajuritnya yang gagah berani. Sebagian orang mungkin akan tak bergeming karena bagi mereka, sejarah tidak berarti apapun. Tapi untuk sebagian lainnya, pengalaman seperti itu benar-benar tidak tergantikan. Saya baru tahu kalau video rama tentang sejarah kapal selam dan TNI AL baru akan diputar pada pukul 10.00 wib sementara saat itu jam baru menunjukkan pukul 09. 15 wib. Kasihan Mami Papi kalau harus menunggu lama, maka ditemani Lyza, saya mendatangi petugas pemutar video rama nya dan mulai melancarkan aksi meminta dispensasi. Hehehe. Alasan saya : orangtua yang sudah akan pulang ke Blora, Suami yang akan balik ke Jakarta dan saya dan anak yang akan pulang ke Makassar ini jarang-jarang punya waktu berkumpul seperti ini di Surabaya, padahal kami ingin sekali tahu sejarah kapal selam itu. Siapa tahu kami terkesan dan akan membawa rombongan lebih banyak lagi? Tidak butuh waktu lama untuk petugas itu berpikir, dia serta-merta meminta saya mengajak keluarga saya menyaksikan video rama saat itu juga meskipun pemutaran berikutnya sebenarnya baru akan terjadi 45 menit kemudian. Saya pun bergegas ngajak Uda dan Mami Papi yang sudah nunggu di bawah tenda payung merah deket kapal selam.
Dari museum, kami keliling nyari rumah makan yang kira-kira menyediakan take away nasi lauk lengkap dengan sendok makannya untuk dibawa Mami Papi dalam perjalanan pulang ke Blora. Mami Papi masih kenyang, mintanya dibungkus aja untuk perjalanan. Mami Papi adalah orangtua yang ta'at beragama, rendah hati, tidak pernah mengeluh, penuh kasih sayang, tidak suka menjudge dan tidak butuh upaya keras untuk menyenangkan hati mereka. Saya ingin hidup penuh ketenangan dan kedamaian hati seperti itu bersama Uda. Semua hal yang melekat pada Mami Papi itu yang selalu membuat hati ini sedih setiapkali harus berpisah lagi dengan mereka. Tidak terkecuali saat kemarin siang kami menemani Mami Papi menanti jemputan mobil travel di lobi Hotel G Suites. Rasanya sediiiih banget waktu nganter Mami Papi menaiki mobil travel hijau itu... Diam-diam saya dan Mami sepakat sering-sering berdo'a semoga Uda ditugaskan di Surabaya, biar deket sama Mami Papi; saya pun tidak terlalu jauh dengan Mama Papa di Makassar. Bisa sewaktu-waktu mengunjungi mereka juga. You know, setiapkali melihat orangtua kita melambaikan tangan saat berpisah, saat itu juga kita langsung merindukan mereka lagi. Tak peduli seberapa lama kita baru saja bertemu dan mengobrol dengan mereka. Don't you think? Itu yang selalu saya rasakan. Hanya bisa berdo'a dan berharap kami diberi kesempatan panjang untuk berbakti dan menyenangkan orangtua.
Begitulah, semalam akhir perjalanan kami di Surabaya ditutup dengan kembalinya Uda ke Jakarta dan saya dan Lyza ke Makassar. Pesawat saya Lion Air take off jam 17.50 wib, pesawat Uda Sriwijaya take off jam 20.00 wib. Sebelumnya saya sudah web check in melalui komputer di lobi G Suites, sayang Sriwijaya belum menyediakan layanan web check in, jadi ketersediaan seat sepenuhnya bergantung pada waktu kedatangan di bandara. Seperti biasa deh, Uda nemenin saya check in dulu, kami suka saling mengingatkan segala sesuatunya supaya tidak ada yang ketinggalan. Kami punya waktu 30 menit duduk-duduk dulu di luar gate saya (Gate 2). Selalu saling merindukan dan waktu bertemu serasa tidak pernah cukup. Hiks... Saya dan Lyza nangis saat tiba waktunya berpisah. Perasaan yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang saling menyayangi tapi harus tinggal berjauhan. Mudah-mudahan Allah SWT Meridhoi kehidupan kami, kami diberi rejeki yang halal dan selalu pandai bersyukur.
Jarak antar seat Lion Air depan dan belakang masih sempit seperti biasa, tapi yang perlu diperhatikan adalah interiornya yang bersih dan nyaman. Bau AC-nya juga tidak sememabukkan bau AC Sriwijaya yang bikin saya mual. Begitu lelahnya saya sampai terkantuk-kantuk dalam pesawat dan dalam taksi Bosowa sepanjang jalan menuju rumah. Saya baru terjaga saat sudah mendekati Antang. Sampai rumah, hal pertama yang saya lakukan adalah manasin mobil, nyiram tanaman-tanaman, masak dinner dan buka semua pintu-pintu untuk pergantian udara. Baru setelah itu makan malam bersama Lyza dan bersih-bersih diri. Alhamdulillah Uda, juga Mami Papi sudah tiba dengan selamat di tempat tujuan masing-masing. Definitely need a big sleep. Pagi tadi, masih dengan rasa ngantuk yang mendera, saya menyiapkan segala keperluan Lyza ke sekolah, termasuk nyiapin kostum latihan basketnya, bekal lunch dan ngubungin ojek langganan untuk nganter ke sekolah. Bismillah, end of story today. Wassalam.
P.S : In Shaa Allah saya akan kembali untuk posting foto-foto (Sept, 23 2014).
P.S : In Shaa Allah saya akan kembali untuk posting foto-foto (Sept, 23 2014).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar