Sabtu, 01 November 2014

WEEKEND ALL DAY LONG!

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...

Weekend kali ini banyak waktu ngisi blogs karena Uda ku absen pulang. Hiks...:-(
Pendidikannya di Jakarta agak ketat schedule setelah final exam. Yang biasanya Jum'at sore udah kelar kelasnya dan bisa langsung menuju bandara untuk pulang ke Makassar, kali ini kegiatannya sampai Sabtu. Yah, sedih sih... kita sama-sama nggak biasa berjauhan, jadi komunikasi aja yang dikencengin. Yang pasti, selalu sama-sama mensyukuri keadaan, bagaimanapun itu. Allah udah Ngasih begitu banyak nikmat.
Setelah final exam, selain diskusi dan evaluasi materi and so on, and so on; ternyata semua peserta Executive Program itu diharuskan breakfast dan lunch di beberapa hotel berbintang untuk kemudian membuat review tentang pelayanannya, hospitality para staff, kualitas makanan, menu, dan seterusnya. Tadi malah lunch di Resto Pawaka Valley, Sentul. Pastinya saya belum pernah kesana, tapi sounds fancy! Asyik ya? Diminta me-review kegiatan makan-makan! Hehehe...
Maaf... lanjut cerita ya... semalem abis ngeloni anak tidur, lama banget teleponan sama Uda... 
(02 Nopember, jam 07.50 wita)
So,  semalem itu saya baru tidur jam 00.45 wita karena setelah teleponan dengan Suami, saya masih membaca sebentar. Pagi-pagi jam 04.30 sudah harus bangun lagi nyiapin anak yang ikut Kegiatan Jalan Sehat bersama Walikota dalam rangka HUT Makassar yang ke-407. Tempatnya di Lapangan Karebosi, lumayan jauh dari rumah. Kami berangkat dari rumah jam 05.30, molor setengah jam dari target saya. Jadi sudah bisa dipastikan, kami bertemu dengan kemacetan luarbiasa sampai jarak pendek yang normalnya bisa ditempuh dalam 5 menit dengan mobil, tadi nyaris 45 menit sampai bisa lolos ke depan Lapangan Karebosi. Dimana-mana, bertebaran manusia berkaos oranye seperti yang dipakai anak saya. Tua muda, anak kecil sampai remaja, tumplek jadi satu di jalanan. Ruang gerak mobil jadi sempit banget. Walaupun bensin merosot drastis, saya cukup bersyukur body mobil nggak dapet tambahan baret. Melegakan akhirnya bisa keluar dari chaos itu tanpa goresan sedikitpun (satu hal yang perlu disyukuri kalau anda pengendara mobil di Makassar). 
Si Lyza yang sudah SMP itu saya lepas dengan bismillah, berbekal uang 20ribu, pulsa HP 15ribu, roti coklat dan Frestea yang dibeli semalem waktu mau ke rumah Oma Opa plus bawa bekal jatah susu bantal dan sebungkus Sozzis dari Pemkot yang memang sudah satu paket sama undangan yang dibagikan sekolah. 20ribu yang kemarin dibayarkan di sekolahan adalah biaya kontribusi yang kecil kalau dibandingkan dengan doorprize-nya yang ada rumah segala'! Begitu propagandanya.
Oya, semalem abis beli bekal anak di Alfamidi, saya sempatkan mampir rumah orangtua. Udah lama banget ditinggal ke Palu-Gorontalo-Luwuk. Akhir-akhir ini saya jadi sering kepikiran orangtua. Antara rindu, sedih, senang, kasihan, semua jadi satu. Rindunya karena sudah lama Mama Papa diluar kota, sedihnya ya karena sebagai anak, masih merasa belum sepenuhnya bisa membahagiakan orangtua. Usia Papa diatas 70 tahun, Mama sudah menjelang 60 tahun. Mami Papi mertua malah sudah melampaui usia 74 dan 77 tahun. Mudah-mudahan deh masih diberi kesempatan berbakti lebih lama.
Sekarang cerita urusan NextG dan tiket pesawat nih yaa... 
Kalau bicara urusan tiket, seperti yang pernah saya ceritakan dulu : yang namanya customers itu dimana-mana pasti beraneka ragam karakternya. Ada yang kalau beli tiket tuh cepet tanpa banyak drama dan pertanyaan. Mendadak issued pokoknya. Beda dengan customers lain yang tiket ke Jakarta dari Makassar (misalnya) menurut saya sudah sangat murah karena promo, masih juga dikatakan "mahal ya? Masih ada yang dibawah harga itu lagi?" atau yang minta tiket termurah, setelah dikasih info tiket termurah, muncul pertanyaan yang nggak perlu, "Itu sudah yang termurah? Kalau yang lewat bla... bla lebih mahal ya?" C'mon! Nah, kalau customers istimewa diatas, pertanyaan mereka lain lagi, "Kok murah ya?" Hihihihi... yang model begini ini saya demen. Apalagi mereka ini selalu pasti beli tiketnya, jadi kalau mereka nge-PiNG! di BBM untuk nanya tiket, mau saya sedang sakit kek, sedang nyetir kek, sedang persiapan baru mau tidur kek, atau bahkan baru aja tutup laptop; saya pasti akan bela-belain urus segera. Mobil dipinggirin dulu kalau lagi nyetir, tidur ditunda aja kalau lagi siap-siap tidur. Tab dan Q5 diberdayakan kalau laptop udah off. Selalu inget sama pesan Suami : "Bisnis Sayang yang manapun yang berpotensi menghasilkan uang, itu yang segera didahulukan yah. Hal yang sama juga berlaku dengan customers." Dan regular customers ini rata-rata pengertian. Mereka sudah tahu saya tidak nambah-nambah service fee, cukup hanya ngambil komisi resmi dari maskapai, dengan demikian, saya juga nggak nyimpen modal besar. Jadi, customers golongan ini selalu akan langsung transfer uangnya segera setelah mereka menentukan flights yang mereka inginkan. Transfernya juga cepet karena via sms banking dan hebatnya lagi, sekali mereka punya nomer rekening saya, langsung tuh di saved. Begitu oke dengan tiketnya, mereka nggak pake' nanya-nanya lagi nomer rekening saya. Langsung bet, bet, bet. Transfer berhasil! Jadi saya pun langsung bet, bet, bet, tiket ter-issued! Hehehe.
Meanwhile, at the opposite side, tentunya ada juga customers yang ibaratnya hard people to deal with (orang-orang dimana saya kesulitan kalau berurusan dengan mereka). Contoh soalnya sudah sering saya sebutkan di posts sebelumnya. Nah yang paling hit minggu ini adalah customer yang gayanya paling bikin saya sebel : Demanding banget (nge-PiNG! berulang-ulang, kadang-kadang sampe' nelepon berkali-kali nggak kenal waktu) mau nanya tiket, begitu sudah diinfokan apa yang mereka minta, eh... menghilang! Dikonfirmasi juga diem aja. Kalaupun merespon, isi responsnya nggak enak banget. Yang lagi kumpul dengan teman-teman kantornya sedang membahas urusan maha pentinglah, yang lagi sibuk dengan orang Kementrian ngurus urusan negaralah, yang minta saya sabar dikit nape lah. Ckckck! Padahal sudah sering saya jelaskan bahwa ketersediaan seats pesawat itu waktunya singkat sekali sebab saya kan online dengan para agen travel di seluruh Indonesia. Nanti beberapa jam kemudian atau beberapa hari kemudian, orang-orang seperti ini menghubungi lagi dan nanya tiket yang sama. Kalau harganya sudah naik, komentarnya : "Yah, yang kemarin sudah tidak ada ya?... kok jadi mahal sih?... Coba cek lagi penerbangan lain, kalau bisa yang harganya tidak jauh-jauh dari harga yang kemarin..." bla... bla... bla. Nah, ntar kalau sudah di booking-kan, giliran mau bayar juga adaaaaaa saja alesannya. Pake' drama-drama segala. Yang bilang time limit terlalu singkatlah, tidak ada yang antar dia ke ATMlah. Duh, itu kan bukan masalah saya sebagai agen travel? Toh saya pernah meng-handle dulu tiket beberapa dari mereka itu dan buntutnya saya juga yang kelimpungan nagih sana-sini. Lha yang ditagih acuh beibeh aja. Nggak ada kabar beritanya, sudah lewat dari batas waktu yang dia janjikan juga nggak ada revisi janjinya, giliran ditagih, jawabannya tajem-tajem coba. Saya yang korban akhirnya jadi tersangka, yang dianggap nggak peka dengan kesibukan dan masalah pribadinya. Pembayaran akhirnya terjadi setelah molor beberapa hari lho. Itu juga berkat upaya keras saya berjuang nagih setiap hari. Saya nggak suka banget deh sama customers model begini!  Nggak ada manner sama sekali. Nyebelin abis. Bikin kepala pening dan mengganggu mood aja. Memang sih pelanggan itu raja, saya mengerti poin itu; tapi please deh, Negara ini susah maju kalau customers seenaknya begitu. Lagipula yang dimaksud "Pelanggan/pembeli adalah raja" itu adalah pelanggan/pembeli yang demanding-nya positif, misalnya tidak menerima barang yang rusak saat diterima dan memperjuangkan haknya untuk mendapatkan ganti, yang suka nanya-nanya kritis spesifikasi barang sebelum membeli, yang mungkin nanya-nanya banyak flights demi mendapatkan komparasi yang menguntungkan dia. Kalau seperti itu kan enak? Semua ada aturannya, nggak sesuka hati aja. Pendapat saya pribadi begitu ya, karena sebagai pelanggan, saya juga bersikap seperti itu. Misalnya kaos yang pernah saya beli di sebuah mall di Blora untuk Suami saya ternyata setelah dicoba dirumah, kekecilan; dan saat mau dituker, struknya ketlingsut entah dimana. Yang saya lakukan? Ya saya tetap berangkat mencoba menukar di mall itu, tapi sebatas nyoba-biar-nggak-penasaran saja. Karena saya tahu saya yang salah, saya nggak akan protes andai petugasnya menolak dengan alasan tidak ada struk belanjanya. Kan begitu ya? Penjual dan pembeli sama-sama tahu diri dan tahu aturan. Ini saya harus ceritakan sebagai sharing aja. Lha kalau di agen-agen travel besar, customers model begini jelas nggak kepake'. "Anda punya uang, ayo beli. Tidak punya, jangan beli tiket... Mau yang murah, budgetmu berapa? Nggak ada yang sesuai budget ya nggak berangkat." Dan seterusnya begitu kan? Mereka nggak melayani drama-dramaan. Banyak ragam model bad customers lainnya yang nggak bisa saya ceritakan satu-persatu.
Sekarang sih, biar saya nggak sering-sering sakit kepala, kalau ada customers model begitu, saya berusaha untuk nggak terlalu mikirin. Tips dari Suami tercinta nih. Makin sering dia nggak merespon kalau saya menginfokan soal tiket, makin sering saya mengesampingkan dia dulu, prioritaskan yang potensial dulu. Ntar-ntar aja dong, toh sudah bisa dipastikan dia hanya nanya untuk membandingkan aja (cari yang paling murah)? Kalau dia sebut-sebut soal masalah pribadinya sampai nggak bisa ke ATM, saya diemin aja. Nggak perlu semua saya respon. Kalau masih ngotot cerita macem-macem untuk nyari justifikasi atas kesalahannya yang menyebabkan time limit lewat, saya akan merespon dengan saran supaya segera membuat mobile/internet banking untuk mempermudah urusan transfer uang. Sejak kejadian tidak mengenakkan soal handle-meng-handle tiket pesawat orang dulu, dengan sangat menyesal saya nggak mau lagi nalangin tiket bad customers. Demi kebaikan bersama, biar sama-sama enak aja. Lagipula saya memang nggak punya modal besar kok. Kalau sudah punya modal untuk diputarpun, harus tetap selektif.
Ssst, si nona udah sms minta dijemput lagi, jadi to be continued setelah saya pulang dari Karebosi ya.
(02 Nopember, jam 16.43 wita). Ternyata pulang dari Karebosi saya nggak bisa langsung ngisi blog lagi. Harus nyiapin makan siang anak, mantau dia ngapa-ngapain, nyuci-nyuci seragamnya untuk Senin besok dan ngurus beberapa tiket pesenan. Biar kate udah remaja juga, kalau nggak dikomando dan dipantau, masih aja nyante dengerin musik atau baca buku. Setelah itu malah ngantuk dan bobok deh ama anak. Eh sebelumnya ambil TM dulu biar bisa ngobrol sambil becanda ama Papanya di telepon. Hehehe... Ini tadi bangun tidur, abis sholat Asar, saya leyeh-leyeh lagi BBM-an ama Uda dan dek Ana. Suamiku pamit lunch di depan TMP Kalibata dan ke Kemang sebentar ama temen-temennya, saya sekalian nitip memory card untuk salah satu ponsel Blackberry yang baru 'sembuh sakit' beberapa minggu lalu. Trus adik bungsu saya yang dokter Sp.OG itu selain mesen tiket (inget cerita saya tadi pagi tentang regular customers? Nah, ini salah satunya), juga ngajak ngobrol soal tempat tinggalnya di guest house selama pendidikan Laparoskopi tiga bulan di RS. Fatmawati, Jakarta. Ceritanya kurang lebih begini (pake' gaya bahasa asli yang campur-campur ya? Apa adanya ini, nggak saya edit. Beginilah gaya bahasa kami sehari-hari kalo' ngobrol) :  
"Kak Reyn, this guest house is better than apartment! Lebih feels like home *sambil ngirim beberapa foto interior ruangan yang super duper keren* Tidak perlu naik turun tangga, no lift juga. Dua kamar dan komplit, semua ada. Bahkan lebe komplit dari torang pe rumah di Tenggarong. Hehehe... Yang punya arsitek, Kak Reyn. Dia kenal Om Ary Pedju. Guest houses-nya dibikin dengan konsep apartemen tapi hanya tiga unit dengan dua pintu, jadi penghuni tidak saling ketemu. Uniknya ada temanya masing-masing : Jawa, Bali, Cina. Torang dapat yang Cina lee. Penyewa lainnya ada pramugari dengan suaminya dan satunya lagi mahasiswa, anaknya Ketua KPPU. Owner-nya juga baik, suami istri, ramah-ramah, walaupun ada depe asisten, dorang sempatkan ketemuan dengan kitorang. Kalo' pemilik apartemen yang torang sewa dulu, selama tiga bulan di sana, torang te' pernah ketemu. Uniknya lagi, depe kotak voucher listrik ada tulisan : Jawa, Bali, Cina." Dan seterusnya obrolan berlanjut.
Keren ya? Di Jakarta itu banyak profesi keren yang mencengangkan lho, banyak ide-ide kreatif bertaburan. Sky is the limit. Kita jadi ngobrol soal bisnis masa depan, zona nyaman, kepindahan Uda ke Divisi Hotel di Jakarta, dst... dst. Mengenai Om Ary Pedju yang disebutkan adik saya diatas, beliau Insinyur senior kebanggaan keluarga besar Papa yang juga masuk jajaran think tank Kepresidenan RI. Tapi cerita mengenai beliau ntar aja ya nyusul di post lainnya.
Baiklah, Alhamdulillah kelar juga cerita panjang lebar hari ini. Lumayan deh, bisa mengalihkan pikiran dari rasa sedih karena kangen sama Suami dan orangtua saya. Terimakasih buat yang sudah membaca. Semoga akhir pekan kalian juga penuh warna. Good day and Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar