Assalamu'alaikum wr wb
Good day all ...
Pertama-tama, tentunya saya harus ngucapin :
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H buat semua teman pembaca yang merayakan, mohon maaf lahir dan bathin yaa...
Kedua, saya merasa sedikit
guilty karena masih ada hutang cerita mudik dua tahun lalu.
One day,
in Shaa Allah akan saya tepati.
Mudik kali ini boleh dikata rada kelam kalau tidak ingin secara ekstrem mengatakan "gagal". Tapi
who knows ya? Bagi sebagian orang, mungkin justru yang kelam seperti inilah yang dikatakan "berkesan".
To me? "kelam"
it is. Tetep ya? Hehehe...
Resolusi keluarga kami tahun ini adalah efisiensi anggaran rumahtangga mengingat Suami sedang menjalani Pendidikan Executive Program dari kantornya, anak masuk SMP, saya yang sedang gencar program hamil lagi dan rencana kami mengganti kendaraan. Cita-cita dan semangat itu terpaksa harus tak sejalan seiring dengan mandegnya pembayaran mobil kami dari pembeli yang belum lunas membayar, tapi sudah menggunakan dan membongkar bodi dan interior mobil lama kami. Belum lagi janji-janji kosongnya soal waktu pembayaran yang molor jauh dari waktu yang disepakati bersama, sulit diajak komunikasi, BPKB sudah di tangannya dan galakan dia daripada kami! Duh, MasyaAllah bener-bener cobaan. Pelajaran berharganya adalah : sebisa mungkin, jangan menjual barang pada keluarga/kerabat, apalagi kalau sifat dasarnya emang nggak punya rasa tanggungjawab. Dijamin : lengkaplah sudah penderitaanmu!
Hal lainnya yang tak sejalan dengan semangat efisiensi tadi adalah pengeluaran untuk tiket pesawat yang secara tak terduga justru tekor gila-gilaan akibat lamanya mengambil keputusan tanggal keberangkatan
plus karena jadi orang yang terlampau baik. Kenapa bisa begitu? Karena sama-sama tidak ingin mengecewakan Mama, kami manut aja dengan usulnya untuk tidak mengambil jalan tol menuju bandara dengan alasan di hari kedua Lebaran, jalanan Makassar diperkirakan akan lengang, terbukti dengan suasana pertigaan PLTU deket PLN Tello yang sunyi senyap. Siapa sangka, kurang dari 3 KM mendekati Bandara Hasanuddin, kami terperangkap dalam kemacetan parah yang nyaris tak bergerak! Setelah muter balik lewat PT. Kima untuk potong kompas di tol pun, tidak banyak yang bisa kami lakukan selain ikut berbaris rapat-rapat dalam kemacetan yang sama. Padahal seorang kenalan di bandara sudah membantu kami check in sejak pagi, kami hanya perlu memasukkan bagasi saja. Sebut saja namanya "Jey". Saya sudah cemas sejak Jey mengirim SMS kedua bahwa kami masih ditunggu. Waktu memasuki jalan tol yang macet itu, SMS Jey sudah berjumlah 8 kali! Papa yang duduk di kursi di depan saya masih mencoba menenangkan saya, "Tenang, Eyn. Masih riki ini," lalu berkelakar ke Uda yang duduk di belakang setir, "Bendahara so pusing."
And they laughed together! Kehadiran dua pria yang saya kagumi dan sayangi itu dalam mobil mungkin yang paling menentramkan hati saya saat itu. Selain dari itu, hanya membuat hati ini mangkel. Sayangnya,
classified, tidak bisa saya ceritakan disini. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 13.45 wita, tapi mengingat kemacetan sudah berlangsung hampir dua jam dan diperkirakan banyak penumpang yang terjebak didalamnya, maka sampai jam 14.00 wita, rupanya pesawat kami masih menunggu kedatangan para penumpangnya di bandara. Akhirnya, pada pukul 14.35 wita, SMS ke-sepuluh Jey meruntuhkan semua harapan saya : "Ibu, sudah panggilan ketiga. Mau berangkat mi pesawat ta'." Saya pikir mereka akan menunggui sampai setiap penumpangnya duduk di kursi masing-masing, ternyata mereka hanya menjaring penumpang sebanyak mungkin yang bisa tiba di jam batas toleransi yang mereka tentukan.
Well, they can't wait forever juga kan?
Di bandara, kami masih diajak Jey berlarian ke Gate 2, saking nggak sempat lagi, semua barang yang rencananya akan dimasukkan bagasi, harus digotong ramai-ramai ke ruang tunggu. Dan ternyata memang takdir kami untuk tidak ikut pesawat jam 13.45 wita tersebut. Hiks,
so close...
Seorang petugas laki-laki dari Sriwijaya menyarankan kami mengecek harga tiket pesawat Sriwijaya yang akan berangkat berikutnya : jam 15.00 wita dan jam 17.35 wita. Katanya kemacetan di luar bandara akan berlangsung lama dan akan ada saja penumpang-penumpang di kedua jam keberangkatan itu yang ketinggalan pesawat. Kalimatnya itu rasanya nggak enak di saya karena sama dengan kami mendo'akan oranglain bernasib sama dengan kami, tapi sikon memaksa kami berpikir dan bertindak cepat. Kalau sudah sampai di situasi seperti ini, kami cepat mengambil keputusan dan berbagi tugas. Uda turun ke loket Sriwijaya bersama Junaedi dengan barang-barang yang akan masuk bagasi pesawat, sedang saya bersama Icha tetap menanti di atas dengan barang-barang yang akan masuk bagasi kabin. Tugas saya enak? Jelas! Begitulah Suami saya : saya diminta melakukan pekerjaan seringan mungkin dan biar beliau yang mengemban bagian-bagian terberat. Saya bahkan diminta menunggunya di Starbucks sambil bergantian sholat dengan Icha.
Saya melihat Jey berdiri mengawasi kami dari kejauhan dengan tampang prihatin. Dia memang punya otoritas untuk melobi hal-hal kecil di bandara,
but not big enough for things like this dan kami sepenuhnya mengerti itu. Wajahnya bersemu senang saat saya menyerahkan kantong plastik berisi nasi rendang dalam
styrofoam, dua buah ketupat utuh dan setoples kue kering Lebaran.
Hampir setengah jam kemudian, Mama nelepon nanya bagaimana nasib kami dan apakah saya sempat bertemu dengan dek Mona dan Ucan yang juga baru tiba dari Gorontalo. Setelah dapat kabar dari Uda kalau akhirnya kami ikut pesawat jam 17.35 wita, saya akhirnya turun keluar pintu keberangkatan untuk berjumpa dengan adik kedua saya yang jarang-jarang bisa saya temui. Dalam setahun belum tentu kami bisa bertemu lho, kalaupun bertemu, tidak pernah lama-lama. Sebenarnya waktu itu dada saya sesak karena fikiran penuh, melihat adik saya turun dari mobil itu ingin rasanya saya menangis. Serasa baru kemarin kami bermain dan
hanging out bersama selama apapun kami mau. Tapi Alhamdulillah saya berhasil menguasai perasaan saya. Airmata saya hanya akan membuat sedih semua yang ada dalam mobil itu dan itu adalah hal terakhir yang saya inginkan. Dek Mona mencium tangan saya. kami berpelukan, saling menjauhkan bahu untuk berpandangan sebentar dan berucap maklum untuk pertemuan sesaat itu. Ponakanku semata wayang yang super duper lucu terlihat makin besar, dengan rambut keriwil yang dipotong rapih, dia tersenyum lebar melompati lutut Opa yang duduk bersamanya di jok belakang. "Tante Rrreyyyn...!" Saya peluk dia erat-erat and that's it! Kami berpisah deh :-(
Karena saya belum pegang tiket terbaru, saya jadi nggak bisa masuk kembali, jadilah ngambil baggage trolley dan duduk sambil nelepon Mami dan Uda. Setelah Uda keluar dan ngabari perkembangan terbaru, barulah saya menghubungi Call Center Sriwijaya. Sempet emosi juga bicara dengan mereka. Singkat kata, semuanya serba tekor, termasuk perasaan. Sampai saat dengar suara Mami, tangis saya pecah sudah.
Astaghfirullaaah...
Saya mengangsurkan kopi yang saya belikan Uda di Starbucks tadi sambil kami menenangkan diri. Selama ini, kalau mau keluar kota dengan pesawat, kami selalu mengambil jalan tol menuju bandara. Yang sangat disayangkan adalah mengapa kami sempat-sempatnya memikirkan perasaan oranglain yang tidak berangkat dan membiarkan oranglain yang memutuskan jalan mana yang harus kami lalui? Begitulah jadinya kalau terdapat banyak kepentingan di atas kendaraan yang sama. Andaipun tadi kami sudah melewati tol sejak awal dan pada akhirnya tetap terjebak kemacetan, toh itu keputusan kami? Rasanya tidak akan seperti saat ini... Dan yang paling bikin miris adalah saya agen tiket.
I could've been better... #Shy.
Diluar itu semua, hal yang paling melegakan adalah sikap Uda yang selalu tenang dan bisa menguasai diri. Saya tidak tahu darimana Suami saya bisa bersikap seperti itu dalam segala situasi
. You Believe it, believe it not.
Setelah akhirnya semua urusan kelar, kami berjalan masuk ruang tunggu. Seluruh energi serasa terkuras habis. Uda dan Lyza sholat ke mushola bergantian dengan saya biar ada yang nungguin tas-tas dan bagasi kabin. Setelah itu, Uda tidur di pangkuan saya di atas kursi tunggu sambil menunggu panggilan boarding. Saya masih menyempatkan diri ng-
issued tiga tiket pesawat untuk teman. Setelah
boarding, kami diminta naik ke sebuah mobil
minivan berisi
ground crew (i guess). Anehnya, penumpang mobil itu hanya kami bertiga dan saat memasuki pesawat, semua penumpang lainnya sudah duduk manis di kursinya masing-masing. Saya memandang Uda dengan terheran-heran, tapi Uda ngecup dan berbisik, "Ssssst... yang penting kita berangkat." Hehehe...
Waktu mau duduk, pramugari dan seorang
ground crew sempat bersikeras kami duduk terpisah-pisah di antara kursi-kursi kosong.
Come on, guys! Bagaimana bisa satu keluarga duduk terpisah-pisah?
Alhamdulillah ini pun bisa kelar karena mereka akhirnya mengalah. Saya lega melihat Uda tidur pulas dan Lyza sumringah melihat pemandangan di luar jendela.
Sekitar jam 19.30 wib kami tiba di Surabaya. Yaa Allah, siapa nyana, maksud hati ingin tiba lebih cepat di Blora sebelum gelap menyergap, akhirnya jatohnya malem juga tiba di rumah Mami Papi :-D
Pelajaran saat itu :
1. Tetapkan tanggal keberangkatan mudik lebih dini lagi,
2. Tidak ada yang lebih berhak selain yang akan bepergian yang boleh memutuskan jalan mana yang akan dilalui.
Terimakasih sudah menyempatkan membaca.
Wassalam.