Sabtu, 23 Agustus 2014

Slondok Magelang di Baureno

                                                                                                               Makassar, 23 Agustus 2014
Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Setelah kebersamaan yang singkat dengan keluarga besar di Blora, hari keberangkatan kami ke Surabaya pun tiba pada 02 Agustus siang. Setiap akan meninggalkan Blora, yang paling berat rasanya adalah harus berpisah dengan Mami Papi. Saking beratnya, waktu keberangkatan suka diundur-undur sampai sudah mepet banget. Akhirnya setiapkali punya maksud ingin jalan-jalan seharian di Surabaya sebelum pulang ke Makassar, selalu saja gagal karena hari sudah malam saat kami memasuki Surabaya dan hanya punya dua-tiga jam untuk sekedar cari makan malam. Happened all the time.
Dibanding saya dan Lyza, Uda mungkin lebih sanggup menata perasaannya meskipun saya tahu hatinya juga sedih. Caranya mengekspresikan kesedihan dengan banyak diam. Saya selalu nangis setiapkali mobil kami menjauh dari rumah Mami Papi. Kasih sayang dan perhatian Mami yang hangat dan tulus yang selalu saya rindukan segera setelah berpisah dari Mami. Papi pun sosok orangtua bijaksana yang ngangenin. Jadi wajar kalau selalu sedih setiap momen seperti ini tiba. Lyza apalagi. Nangis dan sedihnya bisa berhari-hari. Kemarin bahkan setelah meninggalkan rumah Kakek Nenek, dia minta Papanya belok ke jalan depan rumah Kakek Nenek sekedar lewat sekali lagi. Bukan karena kami mellow, tapi karena dibanding keluarga saudara Uda lainnya, kami yang paling jauh kota domisilinya. Dengan kesibukan Uda dan tidak ada yang bisa saya mintai tolong menjaga dan mengurus Lyza di rumah, kami jadi jarang-jarang bisa ke Blora selain saat mudik seperti itu.
Salah satu snack yang dibawain Mami dalam tas bekal kami adalah Slondok Magelang. Mami ya begitu itu perhatiannya : tahu Uda seneng Krupuk Rambak produksi rumahan, besoknya sudah dibelikan Mami banyak-banyak. Lihat saya senang makan krupuk Slondok dalam toples di rumah Mami, hari itu saya dibawakan yang banyak. Saya baru tahu ada Slondok dalam tas kami sesaat sebelum kami mampir sekalian silaturrahim di rumah kerabat Mami Papi lainnya.
Slondok itu saya makan sambil sesekali nyuapin Uda yang ngegodain, "Suaminya juga mau dong, Sayang. Pengen tahu rasanya snacks yang dimakan istriku e." Hehehe... bukannya nggak mau nawarin, tapi saya tahu Suami nggak doyan ngemil seperti saya, tapi karena ingin ikut rame dengan istri dan anak, Uda ikutan makan meskipun perutnya sempat mules karena nggak biasa. He's a sweet Man. Karena 'bekerjasama', walhasil beberapa kilometer sebelum masuk pelataran masjid di Baureno, sebungkus besar Slondok Magelang itu habis sudah. Hihihi...
Sedikit tentang Slondok Magelang ya? Camilan asal Magelang yang masuk kategori "Krupuk" ini terbuat dari bahan singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya menjadi mirip rasa kentang. Menurut onlinelarissa.blogspot.com, di Magelang terdapat banyak home industries yang memproduksi ratusan jenis Slondok dengan keunikan rasa dan tampilan kemasan yang beraneka ragam. Ada varian rasa bawang dan rasa manis pedas yang dijual per gram sampai per kilogram.
Akhirul kalam, sampai disini dulu Kisah Slondok. Selamat beraktivitas buat semua pembaca. Wassalam dan good day.



Sate Blora dan Batik Mbloro

Assalamu'alaikum wr wb
Good day everyone

Banyak cerita tertinggal sejak terakhir kali saya posting tentang rangkaian cerita Ied Mubarak 1 Syawal 1435 H. Beberapa diantaranya adalah saya yang tidak melewatkan kesempatan menyantap Sate Blora mumpung sedang berada di kota asalnya. Rasanya memang nikmat sekali. Ada citarasa gurih dan manis di atas setiap daging ayam empuk. Racikan kuahnya juga beda dengan racikan kuah sate pada umumnya. Kuliner ini adalah juara di hati saya : Selalu saya cari setiap ke Blora. Hahaha. Karena kalau sudah di Blora Lyza jadi jarang bersama saya dan Suami berhubung sudah bertemu saudara-saudara sepupunya dan Mami Papi dan yang lainnya sepertinya kurang suka bila berkali-kali mengunjungi bakul Sate Blora, maka seringnya saya hanya pergi makan kuliner yang satu ini bersama Suami saya saja. Biasanya kami naik mobil tapi seringkali dengan goncengan berdua aja menggunakan motor Papi. Rasanya lebih syahdu dan merakyat. Biasanya sambil makan sate, saya dan Uda ngobrol dan berdiskusi tentang banyak hal.
Sebelum atau setelah makan sate, kami bisa sambil mengelilingi kota yang masih banyak dipenuhi rumah-rumah tua (in which i love to watch). Uda suka cerita dimana ia biasa bermain di masa kecil, tempatnya dilahirkan, bersekolah, sampai ke jalan yang dilalui untuk berangkat ke sekolah. Uda juga senang menunjukkan rumah-rumah teman-teman masa kecil sampai remajanya, rumah guru-guru sekolahnya dulu, rumah teman-teman Mami Papi sampai ke rumah-rumah gedongan warga Cina peranakan. Saya menikmati setiap momen Uda bercerita tentang hal-hal seperti itu. Dan kalau laper lagi, biasanya saya nemenin Uda makan Pecel Tahu. Saya? Teteeep... Sate Blora. Hehehe...
Cerita lainnya adalah di pagi hari sebelum bertolak menuju Kota Solo, saya dan Uda nganterin Mami ngambil cabai giling, daging sapi dan kikil di RM. Padang milik Uni Yus. Uni Yus adalah keluarga Mami yang rajin menjenguk Mami Papi sekaligus sering memberi Mami stok cabe giling. RM Uni Yus yang 'digandeng' dengan toko pakaian itu sangat ramai pengunjung. Itu kunjungan kedua saya. Kunjungan pertama saya terjadi dua tahun sebelumnya dan saya langsung terkesan dengan sambutan Uni Yus yang hangat. Pada kunjungan yang juga bersama Mami dan Uda kala itu, saya diperkenalkan dengan Suami Uni Yus yang menurut Uda adalah orang yang rajin dan kreatif, saya juga berkesempatan mengunjungi dapurnya yang sederhana tapi penuh dengan peralatan masak canggih berukuran raksasa. Uni Yus yang ramah bercerita bahwa ia hanya dibantu dua tenaga setiap harinya. Saya terkesan sekali. Subhanallah. Kemarin saat berkunjung, saya dan Uda tidak masuk sampai ke dapur. Kami sudah disuruh Mami duduk manis aja di meja paling belakang yang berdekatan dengan pintu menuju dapur. Kali ini kami tidak menerima tawaran makan nasi lauk karena diam-diam saya dan Uda sudah berencana makan Sate Blora lagi sebelum berangkat ke Solo :-D Sambil nunggu Mami yang ngambil pesenan ke dapur, seorang asisten Uni Yus datang membawakan minuman untuk saya dan Uda. Yang membuat saya terkaget-kaget saat itu adalah Uda yang terus makan buah jambu yang disuguhkan di hadapannya :-D selain sayur-sayuran, saya tahu Suami saya itu doyan makan buah, tapi nggak nyangka kalau Uda juga senang jambu dan dalam jumlah banyak pula. Hehehe. Pulangnya, tanpa sepengetahuannya, saya ambil sebanyak yang saya bisa untuk bekal perjalanan ke Solo.
Dari tempat Uni Yus, mendadak Mami nanya apa saya pernah menginjakkan kaki di Mall Luwes. Saya jawab "belum", jadilah saya dan Mami jalan-jalan di sana sementara Uda pulang mandi dulu. Saya beli kaos berkrah untuk Uda dan Papi plus jilbab untuk anak-anak dan Mbak-Mbak di rumah. Khusus dek Anya jilbabnya besar-besar, model yang tidak dijual bebas di mana-mana. So, she was the only woman in the house didn't get that. Dari mall itu, terlontar ide untuk  melihat-lihat sejenak Batik khas Blora. Waktu saya datang merawat Mami sakit di Bulan Maret barusan, Da Ril pernah bercerita tentang Batik Blora yang populer disebut "Batik Mbloro". Sayang waktu itu saya belum sempat melihat karena kepentingannya lain saat itu. Menurut Da Ril, batik khas Blora itu sekarang sedang booming dan Pemda setempat bahkan meminta semua pegawai ramai-ramai mengenakan batik ini setiap hari required. Mami ngajak kami ke ruko di Pusat Oleh-Oleh Blora. Tempatnya sekaligus lokasi terminal bis luar kota. Masih baru, jadi masih bersih (mudah-mudahan selamanya bisa sebersih itu). Ada dua toko berdampingan yang menjual batik dalam motif yang nyaris sama, hanya saja salah satunya juga menjual kaos oblong. Saya tahu Uda suka banget sama kaos jadi saya ajak aja Uda milih-milih. Ada dua tokoh besar asal Blora yang namanya sudah tidak asing lagi dan sering Uda ceritakan, mereka adalah Samin dan Pramoedya Ananta Toer. Uda bahkan selalu mengajak saya melewati rumah Pramoedya sekedar untuk melihat dan foto-foto karena tahu saya penggemar karya-karyanya. Mudah-mudahan suatu waktu nanti saya diajak Suami saya untuk bertamu dan melihat-lihat dalemnya rumah beliau ya? Hehehe... Tiap tahun mung dijhak lewat thok...#TepokJidat. Uda kalau mau beli sesuatu, milihnya nggak bisa sebentar. Banyak nanya dan banyak aspek yang dipertimbangkan sampai saya pegel. Jadi bisa dipastikan, dengan sedikit waktu yang kami punya saat itu, Uda belum bisa menjatuhkan pilihan. Saya hanya membeli sarimbit untuk saya dan untuk pasangan Pimpinan di kantor Suami di Makassar yang istrinya begitu perhatian dan ramah sama saya. Saya ingat beliau yang asli Madura itu pernah berkata kalau ia senang koleksi batik dari berbagai daerah. Batik Mbloro saya rasa adalah oleh-oleh yang paling pas untuk beliau. Sarimbit batik itu dihargai @Rp. 99.000,- Sayangnya untuk saya dan Uda, hanya tersedia satu untuk motif yang kami sukai, jadi Mami ngajak kami melihat di tempat lain. Batiknya cukup bagus, kemasannya juga keren. Untuk batik tulisnya tentunya lebih mahal per meternya karena one of a kind, tidak diproduksi massal.
Tujuan terakhir kami hari itu adalah pasar tradisional. Saya turun menemani Mami dan setelah mengambil pesanan dalam pasar, sambil nunggu Uda muter mobil, saya duduk bersama Mami di atas bangku kayu depan jalan raya. Dalam perjalanan pulang itulah, Papi nelepon Mami dan menyampaikan info bahwa Dek Anton dan Dek Anya sudah pulang dari acara puncak reuni SMA. Kami berencana berangkat ke Solo setelah acara reuni mereka kelar sehingga kabar dari Papi itu menjadi pertanda bahwa sebentar lagi kami akan berangkat. Tapi setelah nge-drop Mami di rumah, Uda tetep ngajak saya makan Sate Blora. "Masih cukup kok waktunya. Kita kan sudah siap, tinggal Sholat dijamak aja." Alhamdulillah, sempat juga merasakan nikmatnya Sate khas Blora hari itu.

Kamis, 14 Agustus 2014

Whilst in Blora, Central Java.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...

Waktu baru tiba di Blora jelang dinihari 30 Juli 2014, karena kelelahan, saya fikir saya berhalusinasi saat melihat rambut Papi putih semua. Selama ini frame wajah Papi dalam ingatan saya adalah dengan tampilan rambut hitam lebat. Ternyata keesokan harinya, kami baru tahu bahwa rambut Papi sudah tidak di toning lagi karena alasan tertentu.
Seperti biasa deh, keponakan yang berjumlah delapan orang menambah riuh suasana rumah Mami Papi. Kalau kata Uda, "Orang sekampung dalam satu rumah." Hehehe... It's a compliment yaa! Sejak sebelum adzan Subuh berkumandang, semua penghuni rumah sudah pada bangun. Ada saja aktivitas yang dikerjakan sebelum dan setelah Subuhan. Biasanya sih para lelaki sholat Subuh berjama'ah di masjid dimana Papi selalu menjadi imam dan yang perempuan berjama'ah bergantian dalam rumah. Setelah itu ada yang menyempatkan mengaji, lalu sibuk di dapur dengan beragam kegiatan pagi hari. What amazed me the most adalah pertumbuhan para keponakan yang terlihat signifikan dari tahun ke tahun. Dengan pengecualian untuk Aa' Haqqi yang sudah bekerja di Jakarta; uni Fira (yang tahun ini resmi menjadi mahasiswi Itenas, Bandung) tampak makin kurus dan kalem. Tinggi badannya didahului jauh oleh Sella, Della dan bahkan Lyza yang masih berusia SMP. Abrar sendiri sudah semakin gede, Aisyah yang rajin dan Taqqi yang sekarang sudah lancar berbicara. Fiqri putra Da Wan dan Mbak Reni juga nggak kalah jangkung dan pendiamnya. Lebih banyak menyendiri dan bungkam bila sedang berkumpul ramai-ramai. Saya senang melihat rambut ponakan-ponakan perempuan yang sudah remaja : lurus, panjang, tebel. Andai rambut Lyza bisa selurus itu, mungkin akan saya biarkan tumbuh memanjang juga.
Pada hari Kamis setelah dek Anton memimpin acara reuni sekolahnya (seperti Uda ku, dek Anton dulu juga Ketua OSIS di SMA lho :-D), kami berangkat menuju Solo untuk silaturahim ke Tante Solo (kakak ipar Mami) yang akan berangkat haji tahun ini. Dari Solo, rombongan berencana langsung ke rumah mbak Reni di Yogya untuk menyudahi liburan. Katanya di sana ada tempat rekreasi laut di Wonosari. Meskipun Uda jelas menegaskan tidak mau ikut rombongan ke Yogya dengan alasan lelah nyetir ke Surabaya, dalam hati saya masih berharap kami bisa ikut ke kota dimana saya pernah tinggal selama 10 tahun itu. Selalu rindu untuk kembali ke sana. Diam-diam saya menyelipkan beberapa potong pakaian kami bertiga dalam tas bekal kami. Hehehe...
Selain saya dan Uda, yang ikut dalam mobil kami : Mami, Papi dan Abrar. Lyza ikut mobil dek Anton dan dek Anya yang isinya anak-anak semua :-D Sedang anggota keluarga lain ikut dalam dua mobil terpisah. Kehadiran Abrar dalam mobil bersama Uda yang seneng becanda dengan anak-anak pastinya ramai terus. Saya, Mami dan Papi tertawa terus mendengar celotehan Abrar yang bersahut-sahutan dengan Om nya. Karena lelah, saya menggantikan Uda nyetir mulai dari Purwodadi. Tapi sesaat sebelum memasuki Kota Solo, Uda mengambil alih karena hari mulai gelap dan saya tidak memakai kacamata minus saya. Selama ada Uda, saya tidak pernah diijinkan nyetir di malam hari, khawatir dengan kondisi mata saya yang rabun jauh.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang seakan tidak pernah usai karena harus bolak-balik mencari-cari alamat rumah, Alhamdulillah sampai juga kami di rumah Tante Solo. Adzan Maghrib yang sudah berkumandang beberapa menit sebelumnya membuat kami harus sholat Maghrib berjama'ah dulu sebelum makan malam masakan Tante Solo. Lalu setelah itu Papi memimpin (ceille... memimpin. Bahasaku tinggimen... apa dong ya?), yaaa Papi memberi semacam kata sambutan mengenai kedatangan kami, selain silaturrahim Idul Fitri, tentunya juga ingin melepas keberangkatan Tante Solo dengan do'a, semoga menjadi haji mabrur dan kembali ke tanah air dengan selamat. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin. Tante Solo juga meminta kami untuk selalu menjaga tali silaturrahim dan menitipkan keluarganya pada keluarga besar Mami Papi.
Setelah berpamitan dengan keluarga Tante Solo nih yang sedikit mengharu-biru, terutama buat Lyza. Dia menangis sedih karena Papi dan Uda memutuskan tidak ikut ke Yogya seperti harapannya (dan harapanku juga sebetulnya). padahal seluruh anggota keluarga, mulai dari sodara-sodara sampai ke ponakan-ponakan sudah ngebujukin sedemikian rupa, ada yang kompak berseru, "Om Heri! Om Heri!" giliran Uda mulai goyah dan setuju dengan syarat nanti nyetirnya harus gantian dengan aku, ehh Papi yang bersikeras nggak mau karena tidak bawa baju ganti dan sejak awal rencananya akan kembali ke Blora lagi. Saya dan Mami hanya bisa pasrah. Kalimat-kalimat dek Anton, dek Anya, Mbak Titik dan anak-anak, "Kasihan Lyza, Kak..." "Ayo dong, Kak. Ke Yogya aja dulu rame-rame, besok kan bisa lanjut pulang Blora?" "Kasihan Lyza, dek Reyna..." "Te, masa' tega dek Lyza dibiarin sedih gitu?" mengiang terus di telinga saya selama perjalanan pulang ke Blora. Saya banyak diam karena sedih. Kasihan banget sama anak kami yang harus sendirian lagi. Dia tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan pulang. Saya pikir inilah mudik terkelam kami selama ini :-(
Walaupun tidak kebagian tugas nyetir lagi, saya nyaris tidak tidur karena ingin menjaga Suami yang terus menyetir sejak tadi. Waktu perjalanan dari Surabaya ke Blora, saya bisa nyaman tidur karena tahu ada Lyza yang menyanggupi menjaga Papanya nyetir. Saat itu dia sedang ceria-cerianya karena akan bertemu dengan sepupu-sepupunya. Kali ini situasinya sangat berbeda. Diajak foto sebelum rombongan berpisah saja, dia sudah nggak mau, apalagi diminta nemenin Uda nyetir. Sesekali Uda butuh minum atau makan sesuatu yang tak jarang harus saya suapi.
Esok harinya, menjelang Jum'atan, sambil meletakkan songkok di atas kepala di depan cermin, Uda berkata bahwa ada hikmahnya kami tidak ikut ke Yogya. Hari gini tentu rombongan baru menuju tempat rekreasi siang hari setelah Jum'atan, pulangnya bisa jadi malam hari. Gimana kami bisa kembali ke Blora dan melanjutkan ke Surabaya tanpa merasa kelelahan? Yah, beginilah dinamika kehidupan.
Segini dulu ya? Wassalam.

Rabu, 13 Agustus 2014

Balada Mudik

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all ...

Pertama-tama, tentunya saya harus ngucapin : Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H buat semua teman pembaca yang merayakan, mohon maaf lahir dan bathin yaa...
Kedua, saya merasa sedikit guilty karena masih ada hutang cerita mudik dua tahun lalu. One day, in Shaa Allah akan saya tepati.
Mudik kali ini boleh dikata rada kelam kalau tidak ingin secara ekstrem mengatakan "gagal". Tapi who knows ya? Bagi sebagian orang, mungkin justru yang kelam seperti inilah yang dikatakan "berkesan". To me? "kelam" it is. Tetep ya? Hehehe...
Resolusi keluarga kami tahun ini adalah efisiensi anggaran rumahtangga mengingat Suami sedang menjalani Pendidikan Executive Program dari kantornya, anak masuk SMP, saya yang sedang gencar program hamil lagi dan rencana kami mengganti kendaraan. Cita-cita dan semangat itu terpaksa harus tak sejalan seiring dengan mandegnya pembayaran mobil kami dari pembeli yang belum lunas membayar, tapi sudah menggunakan dan membongkar bodi dan interior mobil lama kami. Belum lagi janji-janji kosongnya soal waktu pembayaran yang molor jauh dari waktu yang disepakati bersama, sulit diajak komunikasi, BPKB sudah di tangannya dan galakan dia daripada kami! Duh, MasyaAllah bener-bener cobaan. Pelajaran berharganya adalah : sebisa mungkin, jangan menjual barang pada keluarga/kerabat, apalagi kalau sifat dasarnya emang nggak punya rasa tanggungjawab. Dijamin : lengkaplah sudah penderitaanmu!
Hal lainnya yang tak sejalan dengan semangat efisiensi tadi adalah pengeluaran untuk tiket pesawat yang secara tak terduga justru tekor gila-gilaan akibat lamanya mengambil keputusan tanggal keberangkatan plus karena jadi orang yang terlampau baik. Kenapa bisa begitu? Karena sama-sama tidak ingin mengecewakan Mama, kami manut aja dengan usulnya untuk tidak mengambil jalan tol menuju bandara dengan alasan di hari kedua Lebaran, jalanan Makassar diperkirakan akan lengang, terbukti dengan suasana pertigaan PLTU deket PLN Tello yang sunyi senyap. Siapa sangka, kurang dari 3 KM mendekati Bandara Hasanuddin, kami terperangkap dalam kemacetan parah yang nyaris tak bergerak! Setelah muter balik lewat PT. Kima untuk potong kompas di tol pun, tidak banyak yang bisa kami lakukan selain ikut berbaris rapat-rapat dalam kemacetan yang sama. Padahal seorang kenalan di bandara sudah membantu kami check in sejak pagi, kami hanya perlu memasukkan bagasi saja. Sebut saja namanya "Jey". Saya sudah cemas sejak Jey mengirim SMS kedua bahwa kami masih ditunggu. Waktu memasuki jalan tol yang macet itu, SMS Jey sudah berjumlah 8 kali! Papa yang duduk di kursi di depan saya masih mencoba menenangkan saya, "Tenang, Eyn. Masih riki ini," lalu berkelakar ke Uda yang duduk di belakang setir, "Bendahara so pusing." And they laughed together! Kehadiran dua pria yang saya kagumi dan sayangi itu dalam mobil mungkin yang paling menentramkan hati saya saat itu. Selain dari itu, hanya membuat hati ini mangkel. Sayangnya, classified, tidak bisa saya ceritakan disini. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 13.45 wita, tapi mengingat kemacetan sudah berlangsung hampir dua jam dan diperkirakan banyak penumpang yang terjebak didalamnya, maka sampai jam 14.00 wita, rupanya pesawat kami masih menunggu kedatangan para penumpangnya di bandara. Akhirnya, pada pukul 14.35 wita, SMS ke-sepuluh Jey meruntuhkan semua harapan saya : "Ibu, sudah panggilan ketiga. Mau berangkat mi pesawat ta'." Saya pikir mereka akan menunggui sampai setiap penumpangnya duduk di kursi masing-masing, ternyata mereka hanya menjaring penumpang sebanyak mungkin yang bisa tiba di jam batas toleransi yang mereka tentukan. Well, they can't wait forever juga kan?
Di bandara, kami masih diajak Jey berlarian ke Gate 2, saking nggak sempat lagi, semua barang yang rencananya akan dimasukkan bagasi, harus digotong ramai-ramai ke ruang tunggu. Dan ternyata memang takdir kami untuk tidak ikut pesawat jam 13.45 wita tersebut. Hiks, so close...
Seorang petugas laki-laki dari Sriwijaya menyarankan kami mengecek harga tiket pesawat Sriwijaya yang akan berangkat berikutnya : jam 15.00 wita dan jam 17.35 wita. Katanya kemacetan di luar bandara akan berlangsung lama dan akan ada saja penumpang-penumpang di kedua jam keberangkatan itu yang ketinggalan pesawat. Kalimatnya itu rasanya nggak enak di saya karena sama dengan kami mendo'akan oranglain bernasib sama dengan kami, tapi sikon memaksa kami berpikir dan bertindak cepat. Kalau sudah sampai di situasi seperti ini, kami cepat mengambil keputusan dan berbagi tugas. Uda turun ke loket Sriwijaya bersama Junaedi dengan barang-barang yang akan masuk bagasi pesawat, sedang saya bersama Icha tetap menanti di atas dengan barang-barang yang akan masuk bagasi kabin. Tugas saya enak? Jelas! Begitulah Suami saya : saya diminta melakukan pekerjaan seringan mungkin dan biar beliau yang mengemban bagian-bagian terberat. Saya bahkan diminta menunggunya di Starbucks sambil bergantian sholat dengan Icha.
Saya melihat Jey berdiri mengawasi kami dari kejauhan dengan tampang prihatin. Dia memang punya otoritas untuk melobi hal-hal kecil di bandara, but not big enough for things like this dan kami sepenuhnya mengerti itu. Wajahnya bersemu senang saat saya menyerahkan kantong plastik berisi nasi rendang dalam styrofoam, dua buah ketupat utuh dan setoples kue kering Lebaran.
Hampir setengah jam kemudian, Mama nelepon nanya bagaimana nasib kami dan apakah saya sempat bertemu dengan dek Mona dan Ucan yang juga baru tiba dari Gorontalo. Setelah dapat kabar dari Uda kalau akhirnya kami ikut pesawat jam 17.35 wita, saya akhirnya turun keluar pintu keberangkatan untuk berjumpa dengan adik kedua saya yang jarang-jarang bisa saya temui. Dalam setahun belum tentu kami bisa bertemu lho, kalaupun bertemu, tidak pernah lama-lama. Sebenarnya waktu itu dada saya sesak karena fikiran penuh, melihat adik saya turun dari mobil itu ingin rasanya saya menangis. Serasa baru kemarin kami bermain dan hanging out bersama selama apapun kami mau. Tapi Alhamdulillah saya berhasil menguasai perasaan saya. Airmata saya hanya akan membuat sedih semua yang ada dalam mobil itu dan itu adalah hal terakhir yang saya inginkan. Dek Mona mencium tangan saya. kami berpelukan, saling menjauhkan bahu untuk berpandangan sebentar dan berucap maklum untuk pertemuan sesaat itu. Ponakanku semata wayang yang super duper lucu terlihat makin besar, dengan rambut keriwil yang dipotong rapih, dia tersenyum lebar melompati lutut Opa yang duduk bersamanya di jok belakang. "Tante Rrreyyyn...!" Saya peluk dia erat-erat and that's it! Kami berpisah deh :-(
Karena saya belum pegang tiket terbaru, saya jadi nggak bisa masuk kembali, jadilah ngambil baggage trolley dan duduk sambil nelepon Mami dan Uda. Setelah Uda keluar dan ngabari perkembangan terbaru, barulah saya menghubungi Call Center Sriwijaya. Sempet emosi juga bicara dengan mereka. Singkat kata, semuanya serba tekor, termasuk perasaan. Sampai saat dengar suara Mami, tangis saya pecah sudah. Astaghfirullaaah...
Saya mengangsurkan kopi yang saya belikan Uda di Starbucks tadi sambil kami menenangkan diri. Selama ini, kalau mau keluar kota dengan pesawat, kami selalu mengambil jalan tol menuju bandara. Yang sangat disayangkan adalah mengapa kami sempat-sempatnya memikirkan perasaan oranglain yang tidak berangkat dan membiarkan oranglain yang memutuskan jalan mana yang harus kami lalui? Begitulah jadinya kalau terdapat banyak kepentingan di atas kendaraan yang sama. Andaipun tadi kami sudah melewati tol sejak awal dan pada akhirnya tetap terjebak kemacetan, toh itu keputusan kami? Rasanya tidak akan seperti saat ini... Dan yang paling bikin miris adalah saya agen tiket. I could've been better... #Shy.
Diluar itu semua, hal yang paling melegakan adalah sikap Uda yang selalu tenang dan bisa menguasai diri. Saya tidak tahu darimana Suami saya bisa bersikap seperti itu dalam segala situasi. You Believe it, believe it not.
Setelah akhirnya semua urusan kelar, kami berjalan masuk ruang tunggu. Seluruh energi serasa terkuras habis. Uda dan Lyza sholat ke mushola bergantian dengan saya biar ada yang nungguin tas-tas dan bagasi kabin. Setelah itu, Uda tidur di pangkuan saya di atas kursi tunggu sambil menunggu panggilan boarding. Saya masih menyempatkan diri ng-issued tiga tiket pesawat untuk teman. Setelah boarding, kami diminta naik ke sebuah mobil minivan berisi ground crew (i guess). Anehnya, penumpang mobil itu hanya kami bertiga dan saat memasuki pesawat, semua penumpang lainnya sudah duduk manis di kursinya masing-masing. Saya memandang Uda dengan terheran-heran, tapi Uda ngecup dan berbisik, "Ssssst... yang penting kita berangkat." Hehehe...
Waktu mau duduk, pramugari dan seorang ground crew sempat bersikeras kami duduk terpisah-pisah di antara kursi-kursi kosong. Come on, guys! Bagaimana bisa satu keluarga duduk terpisah-pisah? Alhamdulillah ini pun bisa kelar karena mereka akhirnya mengalah. Saya lega melihat Uda tidur pulas dan Lyza sumringah melihat pemandangan di luar jendela.
Sekitar jam 19.30 wib kami tiba di Surabaya. Yaa Allah, siapa nyana, maksud hati ingin tiba lebih cepat di Blora sebelum gelap menyergap, akhirnya jatohnya malem juga tiba di rumah Mami Papi :-D

Pelajaran saat itu :
1. Tetapkan tanggal keberangkatan mudik lebih dini lagi,
2. Tidak ada yang lebih berhak selain yang akan bepergian yang boleh memutuskan jalan mana yang akan dilalui.

Terimakasih sudah menyempatkan membaca. Wassalam.


  

Selasa, 04 Februari 2014

NextG : Nama Baru Berikut Kejutan Lainnya

Assalamu'alaikum wr wb
Good day y'all...

   Pertama-tama, titip do'a semoga hari ini barokah dan urusan kita semua diMudahkan Allah SWT dan bernilai ibadah yaa. Aamiin YRA...
   Baru posting lagi nih... kemarin-kemarin ada Suami datang dari proyek dan kalau beliau ada di rumah, tentunya saya tidak bisa sering-sering ngadep laptop, kecuali kalau ada yang mau beli tiket pesawat atau berencana belajar/lihat berita/nyari info berdua di depan laptop/iPad. Lainnya itu juga banyak yang harus dikerjakan. Biasanya kalau liburan, saya suka merawat Suami dan anak. Perawatan rambut, wajah dan badan deh. Dan kalau Uda di Makassar, sudah kewajiban saya untuk belanja ke pasar dan masakin menu-menu kesukaannya, bacain headline-headline berita dari harian Kompas. Capek? Banget! Tapi hati senang dan bahagia karena dilakukan dengan ikhlas dan penuh rasa sayang.
   Minggu ini pesenan tiket pesawat tidak seramai minggu-minggu kemarin, jadi saya banyak mengalihkan waktu saya untuk menata ulang akun-akun media sosial, gencar memasarkan bros-bros (terutama yang ready stock di rumah), beresin kamar tidur anak, nyuci kamar mandi-kamar mandi dan nyortir isi lemari persediaan makanan.
   By the way, Voltras beberapa hari lalu mengabarkan melalui newsletter mengenai perubahan namanya dari Travel Network (Tnet) menjadi Voltras Agent Network (VAN). Saya kurang tahu betul history details tentang Voltras ini, yang pasti, mereka bekerjasama dengan Next Generation Travel Agent sebagai penyedia engine web ticketing dan payment gateway-nya. Kalau ada informasi terbaru mengenai keterangan ini, saya susul di posting berikutnya. Selain berita terbaru itu, VAN juga mengabarkan bahwa tersedia hadiah tablet Lenovo dan insentif (mulai dari Rp. 75.000,- sampai Rp. 500.000,-) untuk upgrade keanggotaan. Semalem saya dapat e-mail tentang kuesioner dalam rangka peningkatan mutu layanan mereka yang berhadiah tiket sekali terbang (saya belum tahu rute kemana). They're really something! Terus terang aja, selama ini, sejak tahun 1996, saya sudah mengenal banyak jenis bisnis. Mulai dari bisnis-bisnis MLM sampai ke bisnis wirausaha kecil-kecilan, tapi belum pernah saya sekonsisten ini menjalani bisnis. Biasanya sih paling lama bertahan 2-3 bulan, udah kabur sampai akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan. Hehehe... Tapi NextG nih, sudah mau 5 bulan, saya semakin merasa punya hubungan erat dan merasa sangat bersyukur diberi kesempatan terlibat di dalam bisnis agen travel ini dan punya banyak teman baru yang hebat-hebat. Jempol deh buat NextG!
Oya, bagi yang domisili di Makassar dan sekitarnya dan ingin tahu lebih lanjut tentang bisnis agen travel network berikut tips-tips mendapatkan komisi 100% dari masters-nya, hubungi saya yah? Ada undangan @Rp.15.000,- include lunch di New Dona-Doni Jl. Cendrawasih jam 12 siang. Untuk bisa mengetahui sesuatu, tak ada jalan lain selain membaca tuntas supaya benar-benar faham. Don't worry, saya dengan senang hati akan membimbing teman-teman sampai bisa sendiri menjalankan bisnis ini.
Oke deh, gotta go. Wassalam.

Jumat, 24 Januari 2014

Tentang NextG : Penulisan Nama dan Data Lainnya

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all ...

   Soal penulisan nama dalam meng-input data calon penumpang, saya sangat berhati-hati. Pada dasarnya saya tipe orang yang sangat peduli dengan penulisan suatu kata secara benar dan memasukkan unsur seni dalam rangkaian keseluruhan kata itu bila bergabung menjadi satu kalimat. Mungkin ini dipengaruhi oleh kebiasaan senang menulis dan membaca sejak lama ya? Jadi selalu membiasakan diri menulis nama orang dimulai dengan huruf besar, dimanapun itu. Bahkan bila hanya menulis pesan melalui SMS, BBM, whatsapp atau apa saja; don't care whether anyone notice it or not. I won't impress people, i impress myself. Tapi kadang-kadang, ada juga orang yang memperhatikan. Malahan ada seorang teman yang secara khusus menyapa saya di BBM, memberitahu bahwa dia mulai menulis nama orang dengan huruf besar pada huruf depan karena terinspirasi saya. Saya sampai kaget ada yang menggunakan kata 'terinspirasi' segala hanya untuk cara penulisan saya saja. Dalam memilih harian atau majalah pun saya hanya punya beberapa pilihan tertentu karena tiga syarat : tidak mengulang suatu kata dalam jeda waktu berdekatan, gaya kepenulisan yang bernas dan tidak ada kesalahan ketik satu kalipun! Saya orang yang aneh ya? Hehehe... emmmang! Tapi toh ada kok harian, majalah dan buku-buku yang memenuhi syarat itu, dan kebanyakan harian, majalah dan buku-buku tersebut memang merupakan bacaan populer dan unggulan, bahkan banyak diantaranya yang memenangkan penghargaan di seantero Nusantara dan dunia. So? It's indeed an important thing.
   Manfa'at yang saya rasakan dari kebiasaan kecil ini adalah terbawanya kebiasaan menulis dengan baik dan benar sampai ke dalam bisnis NextG yang saya jalankan. Baik saat meng-input : data member baru yang join di bawah sponsorship saya, flight yang dipilih, nama-nama calon penumpang, nomor HP, dst. Semua saya pelototin, dicocokkan berulang-ulang, bahkan kadang-kadang saya merasa perlu menuliskan untuk dilihat dan diamati lebih teliti satu-persatu, sambil komat-kamit juga biar terngiang-ngiang di kepala. Meskipun terdengar ribet, tapi penting artinya hal ini bagi saya. Alhamdulillah sampai sekarang, setelah 3 bulan bergabung dengan NextG, saya sudah menjual lebih dari 100 tiket pesawat dan tidak ada masalah karena kesalahan-kesalahan penulisan. Tidak ada kesalahan rute, flights atau tanggal keberangkatan akibat kesalahan saya. Itu patut saya syukuri. Jadi saya fikir, meskipun masih banyak kekurangan saya dalam segi gaya dan tata bahasa, toh kebiasaan sebisa mungkin menulis dengan baik dan benar itu worth it banget lah.
  

Senin, 20 Januari 2014

Antara NextG, Bros dan Rendang

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...


   Bahan blog kali ini tentang bisnis kecil-kecilan saya. Sebelumnya saya mau sampaikan, Suami saya cukup modis untuk ukuran laki-laki dan bukan tipe orang kuno yang pandangan Islamnya terkotakkan hingga terkesan mengekslusifkan diri. Ia bahkan sangat open minded terhadap science dan ide-ide dari luar. Saya selalu diajarkan dan diingatkan untuk melihat dan memahami segala sesuatunya itu tidak dengan 'mata telanjang' saja, tapi juga dengan mata hati. Membiasakan diri untuk kritis pada tempatnya dan malu pada tempatnya. Tapi toh dalam beberapa hal, beliau termasuk laki-laki Muslim konservatif yang tidak bisa ditawar-tawar, contohnya soal peran seorang istri dalam rumahtangga. Ngomel boleh, tapi tidak mengencangkan suara. Ngambek boleh, tapi tetep ngurus Suami. Capek boleh, tapi sholat sunnat (kalau bisa) tetep didirikan. Kerja boleh, tapi (kalau bisa juga) dari rumah saja, sesuai kodratnya. "Toh aku masih bisa menafkahi Sayang dan anak kita," begitu selalu kalimatnya. "Ibu rumahtangga itu pekerjaan termulia dunia akhirat. Toh di rumah ada laptop dan wifi kalau ingin berbisnis. Ada OkeVision juga kalau butuh hiburan. Sayang bisa berekspresi sebebas mungkin tapi dengan penuh tanggungjawab dan tetap bisa menjaga kepercayaan Suami, bisa bisnis apa saja yang halal, apapun yang bisa jadi uang. Dunia global sekarang tidak terbatas ruang dan waktu. Dari rumah orang juga bisa menghasilkan uang, melihat dunia, bertemu banyak orang. Apalagi Sayang senang membaca, pinter nulis; lakukan sesuatu yang positif dengan itu semua. Dan satu lagi kelebihan seorang ibu rumahtangga dibanding ibu berkarier : waktu dan kesempatan beribadah lebih banyak!" Ehh kok jadi ngomongin agama ya? Hehehe... Diskusi 'berat' soal begini ada dalam blog books and discuss saya di wordpress.com (sudah janji sama beberapa teman, tapi sementara belum siap. Mengko di publish).
   Karena saya tidak diperbolehkan bekerja diluar rumah (untuk saat ini), maka saya pikir nggak ada salahnya mencoba saran Suami itu. Kalau bisa, wifi itu bisa 'membayar dirinya sendiri'.  Waktu itu kira-kira empat tahun lalu, banyak teman dan sodara saya yang suka jualan baju, seprei atau tas-tas KW. Mereka biasanya nyari supplier dari Jakarta dan Jawa. Saya pernah sih nyoba jualan baju, tapi yang ada malah kredit macet cet! Hihihi... mau nagih nggak enak, giliran nagih juga kesannya jadi saya yang "the bad one." Udah pembeli-pembeli kayak gitu ditambah saya orangnya nggak tegaan, kombinasi yang sangat merugikan buat pedagang. Kalau tas, saya kurang suka jualan KW, alasannya (sekali lagi) dalam blog saya yang lain. 
   Akhirnya saya coba jualan produk Oriflame dan bros. Untuk Oriflame, lumayan juga. Sementara ini, saya nggak aktif di MLM-nya, tapi dari hasil jualan produk-produknya saja saya sudah bisa dapat penghasilan tambahan yang lumayanlah buat beli bensin. Khusus untuk bros, saya cari supplier yang desain handmade dan hasil jadinya keren, tidak ndeso dan harganya terjangkau untuk grosiran. Saya senang dengan produk-produk handmade yang nyeni, tidak asal jadi mbuatnya. Syarat lain selain itu tentunya supplier yang mudah dan asik komunikasinya, open minded dengan saran dan kritik, nggak mudah tersinggung. Repot juga kalau kerjasama dengan supplier nyinyir dan tukang ngambek. Alhamdulillah selain kerjasama dengan seorang teman Nyonya di kantor Suami yang juga pinter membuat bros dan aksesoris bagus, saya juga dapat seorang supplier yang meskipun sudah punya blog populer, menurut saya sangat rendah hati dan terbuka dengan masukan-masukan dari pelanggan, termasuk re-seller seperti saya. Sampai sekarang, saya masih bekerjasama dengannya. Responnya sangat cepat, pengarsipan dan pengirimannya juga rapih plus sangat menghargai saya sebagai re-seller. Dia mengerti kebutuhan-kebutuhan re-seller, termasuk tidak menyertakan brand karyanya dalam setiap kemasan bros-brosnya dan tidak pula menyertakan daftar harga kalau kebetulan melakukan pengiriman langsung ke pelanggan saya (dropship). Sementara kalau bicara soal kemasan, kemasannya juga keren abislah pokoknya. Sebenarnya dia juga menyelenggarakan kelas-kelas workshop bagi yang berminat belajar bikin bros sendiri, sayangnya jauh. Kalau nggak di Jakarta ya di Jawa Barat.
   Selanjutnya saya coba-coba juga jualan makanan seperti Rendang dan Sambal Goreng a la Luwuk. Resep Sambal Gorengnya dari Mama yang emang enak banget! Pakai irisan cabe dan kentang garing. Tore kalo' kata orang Luwuk. Untuk Rendang, resep tentunya dari Mami mertua saya yang memang asli Minang dan dulunya pernah punya RM Padang di Blora. Hasil jadi rendangnya agak kering, berwarna gelap dan ada campuran kacang brennebon goreng. Awet, bisa bertahan dua mingguan kalau disimpan di freezer dan makin dipanasin, makin enak. Duh, Suami dan anakku suka banget! Setiapkali ada pesenan, saya selalu sengaja masak yang banyak untuk mereka di rumah. Capeknya sama, jadi dibikin sekalian aja. Untuk bisnis makanan ini, saya memang cukup capek karena mulai dari belanja, milih rempah-rempah sampai ngolah dan masaknya, semua saya yang kerjakan. Kadang-kadang saya juga yang nganterin ke rumah pembeli. Uda suka protes kalau saya nekat terima pesenan lebih dari 4 kg. Katanya nggak suka liat saya berkutat dengan daging dan rempah-rempah berjam-jam begitu sementara dia nggak bisa bantu apa-apa selain ngaduk-ngadukin rendangnya dalam wajan. Gak tega lihat saya kecapekan. Biasanya sih setelah semua kelar, saya suka dimasakin air hangat dan dipijitin ama beliau, walaupun sambil tetep protes. Suamiku yang penyayang itu menjaga saya seperti telur emas. Gak boleh pecah, gak boleh lecet, gak boleh ini, gak boleh itu. Hehehe... kenapa saya kadang nekat begitu? Karena untungnya lumayan besar dan instan lho! Untuk pesenan di atas 3 kg saja sudah sepadan dengan setoran sekali jalan ke rekening bisnis. Itupun kata Suami, Mama dan Mami; saya pasang harga terlalu rendah per kilonya. Mereka suka bilang saya sejatinya sulit kaya dari bisnis begini karena keseringan nggak tegaan sama pembeli. Hehehe... Yah begitulah... jadi orang baik... :-D
   Untuk blog-blog ini pun sebenarnya selain ingin menyalurkan hobi nulis, belajar tata bahasa, permintaan teman dan saudara, tujuan saya juga ingin punya penghasilan sih. Seperti adik saya yang seorang dokter SpOG dan punya web tentang Tips Kehamilan bekerjasama dengan temannya yang pakar IT. Web itu begitu sukses dan uang yang dihasilkan dari sana bener-bener amazing (Oya, numpang promote ya buat adik saya, sekiranya ada dari teman-teman yang pengen tahu tentang "Hasil kolaborasi adik saya dan teman IT-nya", silah ketik keyword : tips hamil). Cuma saya belum tahu caranya dan unlike my doc sister, i'm not lucky enough to have an IT friend like hers. Saya pikir saya tidak perlu ngoyolah. Khawatir nanti malah idealisme menulis berubah menjadi money oriented. Tujuan saya toh berbeda dengan adik saya. Saya malah tidak secara terang-terangan mempublikasikan blog yang satu ini segencar saya mem-publish blog film saya, meskipun banyak yang suka nanya. Nggak pede aja. Saya pikir, kalau ada yang menemukan by any chance, Alhamdulillah. Seperti putra Almh. Tante Sri Murni (yang juga seorang dokter) yang secara mengejutkan dan tidak saya sangka-sangka, memasang tulisan saya di blog ini. Waktu itu judulnya tentang cerita saya saat melayat Ibunya yang juga teman karib Mama saya. Tulisan itu ia jadikan tautan di akun facebook-nya dan itu membuat saya terharu. My appreciate to him. Yang pasti, saya masih bercita-cita ingin menghasilkan buku, entah itu novel ataupun antologi puisi. Mudah-mudahan Allah SWT Meridhoi, Aamiin YRA.
   Terakhir, tawaran NextG yang datang pada saya, buat saya merupakan anugerah akhir tahun masehi dari Allah SWT melalui Minerva McGonagall. Bagaimana tidak? Pertama, sistem binary-nya mencari member baru sangat mudah (hanya kaki kiri dan kanan), sangat menguntungkan (1 rekrutan bisa dapat bonus 1,2 juta plus 400ribu bila terjadi sepasang); kedua, sistem binary itu sendiri independen. Artinya, tidak memberatkan member secara keseluruhan. Member yang hanya mau menjalankan ticketing, monggo. Tidak ada larangan atau beban bulanan atau target apapun yang harus dikejar; ketiga, seringkali terjadi : pasangan rekrutan kita sudah ada diisikan oleh sponsor/upline kita. Jadi begitu kita dapat 1 orang saja yang join atas ajakan kita, otomatis bonus sepasang tadi langsung jadi milik kita juga! Bahkan bila kita belum dapat rekrutan sama sekali, bila upline/sponsor mengisikan rekrutan mereka di kiri dan kanan kita, kita sudah dapat bonus pasangan 400ribu secara cuma-cuma (tanpa kerja)! Seru kan?; keempat, kita sudah punya web berisi menu-menu yang sangat memudahkan banget buat para agennya. Kalau menurut saya, tim NextG ini benar-benar sangat memanjakan para agennya lho. Beneran nih, saya nggak asal ngomong. Saya sudah membuktikan sendiri! Buat yang sering online atau nge-game, menu-menu dalam web NextG perkara gampang aja. Gak sampai sehari pasti sudah pada bisa asal rajin-rajin buka. Kelima, kita dibantu dan di pandu sampai bisa ngurus ticketing sendiri. Keenam, bisnis ini sangat menguntungkan. Saya ambil 'jalur lambat' hanya jualan tiket saja, belum sebulan join sudah dapat total komisi dari maskapai sebanyak 900ribuan! Itu pun hanya komisi murni dari maskapai, saya belum menambahkan service fee (yang juga dibolehkan dengan syarat dan ketentuan dalam NextG). Kalau saya getol ambil 'jalur tol' yang bisa cepat menghasilkan, bayangin berapa keuntungan saya sebulan? Dengan sudah ada 77 orang di kaki kanan saya, saya tinggal menuai bonus 400 ribu kan setiapkali mengisi member baru di kaki kiri saya? Sejauh ini saya baru merekrut dua orang. Itu saja, bonusnya sudah bisa dipakai untuk bayar lemari buku di tukang kayu, bonus depositnya buat nambah bayarin tiket Suami dari PUM ke Makassar dan masih bisa nabung pula. Alhamdulillah banget kan? Dan masih banyak keuntungan-keuntungan lainnya yang bahkan saya sendiri belum nemu hari ini, karena masih begitu banyak ilmu yang belum saya peroleh dari kedua web-nya. Bahkan Suami saya sendiri yang awalnya skeptis (lihat cerita saya tentang awal bergabung dengan NextG), sekarang mendukung 100%! Katanya daripada saya capek jualan makanan, mendingan fokus di bisnis ini aja. Lebih keren, nggak capek dan untungnya cepet.
   Makanya saya menyayangkan banget kalau ada orang yang mungkin tidak membaca broadcast messenger atau pesan-pesan yang saya kirimkan. Padahal niat saya ingin membantu mereka juga, ingin mereka tahu manfa'at besar dari bisnis ini. Banyak orang yang tidak peduli, belum tahu apa-apa, belum mencoba mempelajari tapi sudah menjatuhkan penilaian duluan, yang terdengar pongah karena saya tahu betul yang mereka katakan itu salah besar. Suatu hal yang bisa diterima bila orang  tidak bergabung karena sudah mempelajari sepenuhnya dan tetap dengan keputusannya. I'll immediately leave them alone. Tapi yang disayangkan adalah orang yang tidak bergabung hanya karena belum tahu apa-apa tentang bisnis ini, menolak membaca dan menolak meluangkan sedikit waktu untuk mempelajari lebih lanjut. Let's be smart, learn first before judge anything or anyone.

Wassalam.