Kamis, 16 Januari 2014

Next Generation Travel Agent (lagi)

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all ...


Sebelum saya mulai sharing, bagi teman-teman, sodara-sodara atau siapa saja yang pengen tahu lebih lanjut tentang NextG Travel Agent, bisa menghubungi saya di :

E-mail address --> erha7769@gmail.com, sabbihisma@hotmail.com (atau di) dacascosmian@yahoo.co.id.
Invite PiN BB --> 23902F09
Add friend --> Roemah Rey ChanZa
SMS --> 0813 4381 6080

   Sebenarnya kalau saya harus menjelaskan semua sekarang juga, bakalan panjang lebar dan saya sendiri masih perlu banyak belajar juga, sebab bisnis ini "learning by doing." Makin sering praktek dan nanya-nanya ke Helpdesk-nya, semakin banyak ketambahan ilmu baru tentang dunia per-tiket-an. Hehehe... (Itu saya minjem istilah Minerva McGonagall). Apalagi kalau tinggal di kota Makassar, makin rajin menghadiri workshop atau training-training yang diadakan, in Shaa Allah akan makin mahir dan mantap terjun di bisnis ini.
   Beberapa minggu yang lalu saya dan teman-teman NextG sempat dibuat heboh dengan kehadiran pesaing yang "hanya bayar enam digit" sudah bisa macem-macem deh. Ternyata setelah diskusi dan bertemu Pak Jeremy, baru tahu kalau bisnis-bisnis sejenis tentunya sudah ada. Malah di Jawa Timur aja kata Pak Jeremy sudah ada sekitar 20-an. Tapi kekurangannya masih banyak. Ada yang terbatas jumlah maskapai yang bergabung, ada yang harus 'parkir' dana dengan jumlah tertentu di deposit, ada yang harus issued (bayar tiket) dengan bantuan operator. Alhamdulillah sejauh ini belum ada yang seperti NextG : issued bisa sendiri, kecuali kalau jumlah penumpang sudah di atas 24 orang; kerjasama dengan semua maskapai, deposit boleh Rp. 0,- (hanya diisi saat mau issued tiket saja), ada layanan jual tiket kereta api juga, satu layar tampil semua maskapai, boleh booking dan ternyata cancel, bantuan Helpdesk-nya sangat responsif, bantuan auto ticket untuk penumpang yang ingin langsung transfer ke maskapainya, bisa pakai nama perusahaan kita, bisa ngasih username dan password untuk 2 admin yang kita percaya, bisa invoice dan masih banyak lagi kelebihan dan kemudahan-kemudahan lainnya. Sebentar lagi akan ada layanan untuk umroh, ke holly land, bayar listrik, air, dll. Silahkan nanya-nanya ya bagi yang berminat :-)

Rabu, 15 Januari 2014

Antara Cuaca Buruk, Poco-Poco dan NextG

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all ...


   Hari ini, 16 Januari 2014, cuaca di Makassar masih nggak menentu (seringnya sih buruk). Sejak dinihari tadi, saya sudah sulit tidur karena suara angin ribut yang membawa hujan petir kencang sekali. Yang membuat saya khawatir adalah polikarbonat tua di bagian belakang rumah yang menaungi jemuran kami itu sudah setengah sobek di satu sisi. Jadi bisa dibayangkan kalau angin kencang serupa badai begitu, suara yang ditimbulkan polikarbonat yang sobek itu cukup mengerikan. Ditambah dengan suasana sunyi sepi, listrik dipadamkan dan bunyi keriat-keriut polikarbonat seperti ada sekrup raksasa yang siap lepas dan akan melukai siapapun yang terkena hantamannya. Lengkaplah sudah rasa ngeri yang saya rasakan. Astaghfirullah... Saya hanya bisa beristighfar dan terus-menerus berdo'a semoga kelalaian kami tidak segera memperbaiki kerusakan itu tidak merugikan orang lain.
   Saat nganter Lyza sekolah tadi, jalanan yang dilalui mobil penuh dengan ranting-ranting sampai dedaunan yang berguguran akibat angin kencang dinihari tadi. Saya masih beruntung sebab pernah satu-satunya akses yang bisa dilalui mobil di dekat rumah saya terhalang pohon besar yang tumbang. Butuh waktu tiga jam dengan satu tim hasil gotong-royong petugas kebersihan dan warga untuk bisa memindahkan pohon itu. Komplek tempat kami tinggal memang dipenuhi dengan pohon-pohon besar yang tumbuh subur dimana-mana. Ada sih petugas kebersihan berseragam yang sigap menyapu setiap hari pagi dan sore, juga petugas sampah, yang bertugas nyiram taneman dan seterusnya. Tapi kalau sudah masuk musim penghujan begini, mereka ketambahan tugas lain : motong pohon-pohon yang berpotensi tumbang atau membahayakan warga sekitar, membersihkan dahan-dahan yang berguguran akibat hujan angin kencang plus itu tadi : membereskan pohon-pohon yang tumbang. Anyways, saya sedikit tenang karena anak sudah aman berada dalam sekolah. Sudah saya bekali makanan, susu tetrapak dan jaket anti air juga.
   Beralih ke cerita lain. In Shaa Allah Jum'at nanti ada acara serah-terima ibu bos baru di kantor Suami, jadi kami yang tergabung dalam organisasi ibu-ibunya (serupa Dharma Wanita kalau jaman dahulu), seperti biasalah ngadain acara. Karena saya Kasie Pendidikan, saya ikut jadi seksi sibuknya. Hehehe. Tugasnya? Ada deh.
Kemarin kami latihan nari poco-poco di rumah Sekretaris Organisasi. Padahal dulu, saya rutin nari dimana-mana, jadi utusan sekolah nari di sana-sini. Setelah ikut paskib, gemulainya hilang babar blas! Kemarin pun saya jadi kagok untuk joget-joget lagi. Ternyata kekakuan itu masih kebawa-bawa sampai sekarang. Syukurlah saya akhirnya bisa juga ngikutin irama kaki instrukturnya, walaupun tetep sesekali masih saja salah. Mudah-mudahan aja pas acara nanti nggak malu-maluin.
   Beralih ke NextG. Setiap hari saya giat mem-follow-up orang. Kalau bisnis ini nggak bagus, saya nggak pede cerita ke orang dong. Tapi in Shaa Allah sejauh ini saya yakin, jadi nggak beban cerita ke siapa saja. Dan siap-siap dengan berbagai jenis penolakan, mulai dari yang diselimuti kata-kata penuh bunga sampai ke yang tegas-tegas menolak. Anehnya, saya senang dengan cara yang kedua. Rasanya orang itu justru baik hatinya karena dia membantu saya menghemat banyak waktu. Ketimbang yang banyak mengga'-menggo'nya, justru terasa seperti mempermainkan saya, rasanya seperti nggak dihargai. Sejak pengalaman membuat tulisan tentang para Aktor Besar Indonesia (ada di blog saya yang lainnya : www.sabbimovie.blogspot.com), saya benar-benar membuktikan bahwa usaha untuk mencapai sesuatu itu, sekecil apapun, pasti akan membuat perbedaan mendasar, kalau tidak ingin dikatakan besar. Begitulah yang saya lakukan setiap hari. Entah bercerita ke siapa saja, ngirim e-mail ke siapa saja, ngedit manual books-nya, nelepon sana-sini, masang status di BB dan akun FB khusus bisnis, dst. Dan saya nggak perlu mesti keluar rumah. Jangan salah ya? Dari rumah pun kita bisa 'melihat' dunia dan 'bertemu' banyak orang lho! Sing penting ada wifi dan yang terutama lagi : jangan lupa bayar tagihannya!:-D Intinya saya mau sampaikan disini : bisnis itu jangan pake' malu.
   Minggu lalu baru ada pertemuan workshop NextG yang diselenggarakan atas inisiatif para leaders di Makassar. Mereka ngundang pimpinan NextG dari Surabaya : Bapak Jeremy. Bapak Jeremy ini selalu punya tips-tips closing, ticketing dan recruitment yang jempolan. Saking berharganya informasi-informasi dari beliau, saya selalu bela-belain datang walaupun tempat acaranya begitu jauh dari rumah dan kadang-kadang sedang hujan deras. Saya bayar taksi PP sekitar 100ribu untuk bisa hadir di acara tersebut. Tapi it's worth it karena selalu saja ada ilmu baru buat saya. Disamping itu, caranya membawakan materi juga luwes dan tidak membosankan. Dan untuk ukuran pimpinan sebuah bisnis besar dengan income ratusan juta, Pak Jeremy itu sangat ramah, welcome dengan siapa saja dan beliau tidak sungkan-sungkan merespon setiap pertanyaan, komplain bahkan sms/bbm direspon satu-persatu. Semoga saja sikap rendah hatinya itu berlangsung selamanya ya. Dari pertemuan kemarin, kami mendapat info bahwa di NextG, sekitar April 2014 akan ada layanan tambahan berupa umroh, holly land, bayar listrik, air, Speedy dan lain-lain. Alhamdulillah, semoga lancar dan bisa cepat terwujud. Sekarang yang sudah ada adalah tiket pesawat, kereta api dan reservasi hotel. Keunggulan NextG dibanding puluhan pesaingnya, antara lain : deposit boleh Rp. 0,- (diisi hanya saat mau issued tiket saja), maskapai yang bergabung banyak banget (yang belum ada hanya Express Air), dalam menu sudah ada tampilan opsi-opsinya (tinggal klik-klik aja) dan kita bisa booking dan issued tiket sendiri tanpa bantuan operator. Info lainnya nyusul ya? Gotta go now. Kalau ada yang ingin ditanyakan, silahkan ke e-mail saya : erha7769@gmail.com. Wassalam.

Minggu, 22 Desember 2013

Cerita Sebelum Bergabung di NextG Travel Agent

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all ...

   Saya nggak bisa sering-sering posting di blog yang satu ini, tapi mudah-mudahan setiap posting dari saya bermanfa'at buat oranglain atau setidaknya saya bisa sedikit meringankan isi hati dan kepala saya.
   Cerita tentang perjalanan mudik ke Blora bersama Suami dan anak saya in Shaa Allah berlanjut suatu hari nanti. Sekarang ini saya ingin berbagi cerita tentang bisnis baru saya yang menurut saya cukup menjanjikan untuk menyejahterakan (atau 'mensejahterakan' ya? Maaf, tata Bahasa Indonesia saya belum sempurna-sempurna banget. Pardon my grammar) keluarga kita.
   Nama bisnis ini : NextGeneration Travel Agent atau di kalangan kami populer dengan sebutan NextG. Saya pertamakali mendapat info tentang bisnis ini dari kiriman BM (broadcast messenger) via Blackberry seorang tetangga sekomplek, sebut saja nama beliau Minerva McGonagall ya? Sebab saya ragu apakah beliau bersedia saya menyebutkan nama aslinya disini. Minerva McGonagall adalah salah seorang guru yang bijaksana, pandai dan dihormati di sekolah sihir Hogwarts dalam cerita dongeng Harry Potter karya penulis J.K. Rowling. Saya rasa tokoh ini pas dengan tetangga saya yang juga seorang mantan guru, bijak dan cukup dihormati di lingkungan tempat tinggalnya. Kembali ke NextG tadi, tidak seperti biasanya, saya langsung tertarik membaca kiriman BM itu yang antara lain menyebutkan bahwa calon member tidak perlu harus punya ijin usaha travel agent, tidak perlu repot dengan urusan karyawan atau tempat usaha; tapi punya akses penuh untuk ngecek, reservasi atau issued tiket pesawat dari rumah sendiri, dari dalam kamar tidur sendiri, atau bahkan saat bepergian sekalipun, cukup dengan memiliki gadget pendukung yang sudah punya koneksi internet seperti iPad, galaxy tab, android atau laptop. Juga tidak perlu deposit puluhan juta rupiah per maskapai seperti yang biasa diwajibkan pada travel agent konvensional. Keuntungan lainnya adalah untuk setiap tiket yang kita issued, kita dapat komisi langsung dari maskapai; untuk setiap orang yang kita rekrut, kita dapat bonus uang 1,2juta (1juta dipotong 10ribu untuk admin, masuk ke rekening pribadi kita. 200rb secara otomatis dikreditkan ke dalam saldo deposit kita) dan setiap terjadi sepasang di bawah kita, kita masih mendapat bonus 400ribu (300rb dikreditkan ke dalam rekening pribadi kita dan 100rb secara otomatis masuk lagi ke dalam saldo deposit kita). Saya langsung berminat dan bertanya pada Minerva McGonagall syarat apa saja yang harus dipenuhi. Awalnya ketika teman saya itu menjelaskan tentang uang 4juta yang harus disetorkan untuk membeli software dan mendapatkan dua web (jaringan dan ticketing), saya sempat merasa berat, karena saat-saat sekarang ini kami sedang banyak pengeluaran yang harus lebih diutamakan seperti sekolah anak kami yang tahun depan inshaAllah akan melanjutkan ke SMP, Suami yang berencana mengambil program S2, belum lagi biaya yang dibutuhkan untuk tabungan haji dan program hamil saya.
   Karena pertimbangan-pertimbangan di atas, saya pun mengatakan akan pikir-pikir dulu. Sempat saya bicarakan dengan Uda dan Uda yang mungkin karena orang kantoran dan sedikit skeptis terhadap bisnis-bisnis MLM, tidak terdengar antusias sama sekali. Ia yang serba hati-hati dalam menerima informasi-informasi baru seperti itu secara gamblang meminta saya melihatnya dari sisi Teori Bisnis dan tinjauan SWOT juga. Sayapun berpikir hal yang sama. Saya bukan orang baru di dunia MLM, jadi ngerti betul bahwa bukan MLM-nya yang nggak bagus, tapi sayanya yang nggak bakat deh kayaknya untuk urusan mengejar target bulanan, syarat tutup poin atau mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk join. Tapi beberapa hari kemudian, terjadi sebuah peristiwa kecil yang akhirnya mengubah perspektif Uda terhadap bisnis ini, walaupun belum sepenuhnya.
   Ceritanya begini. Suami saya yang seorang karyawan BUMN di sebuah perusahaan konstruksi saat ini sedang ditugaskan di sebuah proyek PLTU yang bekerjasama dengan pihak Antam dan perusahaan asal Jepang di suatu kota kecil di Propinsi Sulawesi Tenggara, sebut saja nama kotanya "PUM" ya. Menjelang Hari Raya Idul Adha 1435 H, Suami saya yang selalu mengharuskan diri untuk selalu bersama saya di hari raya seperti itu, baru mendapatkan tiket pada sore hari, dengan kata lain, ia tidak keburu Sholat Ied bersama saya dan anak kami. Betapa sedihnya kami semua saat Suami saya nelepon memberitahu berita itu tiga hari sebelum Idul Adha, kami sampai bertangis-tangisan di telepon. Saya yang gak tega dengar Suami saya nangis karena bakalan sendirian tanpa pelukan dan masakan saya saat Malam Takbiran, akhirnya ikut nangis juga. Anak kami yang melihat saya nangis pun jadi ikut nangis. Benar-benar malam yang menguras emosi kami sekeluarga. Saya mencoba menguatkan dengan mengatakan bahwa mungkin Bagian Umum Proyek belum nyoba mencari tiket di agen travel lain, siapatahu masih ada tiket tersedia di agen travel lainnya. Tapi kata Uda seharian itu sudah mencoba ngelobi Bagian Umum kantor maupun proyek, keduanya angkat tangan dan mengatakan tiket sudah terjual habis karena ada event Antam di kota PUM sehingga tiket-tiket itu mungkin diborong rombongan dari kota-kota lain. Penerbangan yang biasanya tiga kali seharipun menjadi hanya satu kali sehari khusus H-1 dan hari H. Sebagai istri, walaupun dalam hati juga sedih dan resah, saya pikir Suami yang sedang down seperti itu tidak perlu tahu perasaan saya. Saya akhirnya menguatkan hati Uda dan mengatakan sebelum hari Idul Adha tiba, kita harus semangat terus mencoba mencari tiket.  Saya masih yakin, dengan ijin Allah SWT, kami masih punya kesempatan berharap bisa bersama-sama saat Hari Raya Idul Adha.
   Singkat kata, setelah menutup telepon, saya menghubungi Mama saya yang langganan tetap sebuah agen travel besar di Makassar bernama Limbunan. Setahu saya, karena sudah belasan tahun jadi pelanggan setia Limbunan, orangtua saya biasanya tidak pernah gagal mendapatkan tiket pesawat ke kota manapun mereka mau. Saya baru mendapat jawaban keesokan paginya bahwa tiket dari kota PUM ke Makassar memang sudah ludes terjual. Saat itu saya tiba-tiba teringat Minerva McGonagall yang juga jualan tiket pesawat. Iseng saya minta tolong cek satu tiket untuk Uda. Eh diluar dugaan, Minerva McGonagall mengatakan masih tersedia tujuh seats dari PUM ke UPG! Saya segera minta di booking-kan dan teman saya bilang karena sudah tinggal dua hari lagi, time limitnya singkat, kalau tidak salah hanya empat jam. Saya senang sekali tapi lalu kecewa karena lagi-lagi Uda gak antusias. Katanya, "Kalau sudah ada kode booking gitu berarti sudah dibayar dong, Sayang? Sementara harganya dua kali lipat begitu, belum tentu juga kita ambil tiketnya." Memang soal harga itu juga sudah saya tanyakan, tapi Minerva McGonagall menjelaskan bahwa perbedaan harga itu karena perbedaan kelas-kelas; sementara soal kode booking, tidak masalah bila limit waktunya lewat, akan terhapus by system. Dengan sikap Suami yang masih sangat meragukan begitu, saya jadi terpengaruh dan ragu-ragu juga. Tapi saat teman saya mengingatkan waktu issued-nya sudah dekat dan bertanya apa saya mau issued atau tidak, saya beranikan diri mengiyakan karena Uda juga sepertinya fifty-fifty. Minerva mengatakan ia akan menggunakan depositnya dulu, asalkan saya sudah oke untuk di issued. Akhirnya, dengan Bismillah, saya pun mantap mengiyakan. Saya meyakinkan Uda bahwa kalaupun tiket itu bermasalah, tentu Minerva akan nggak enak hati juga untuk menagih uang tiket semahal itu. Saya terus menyemangati Uda.
   Sehari sebelum Idul Adha, sesuai jadwal tiket, Uda akan ikut satu-satunya penerbangan hari itu, yaitu pada jam 15.05. Paginya, Uda masih menghadiri meeting di site proyeknya. Suami saya adalah seorang yang teliti dan rapih untuk ukuran laki-laki, tapi khusus soal mesen tiket/hotel atau kapan harus berada di bandara untuk check in dll, wah... lelet banget! Hehehe. Jadi disini saya harus turun tangan, mengingatkan berkali-kali, sebab tak jarang Uda ketinggalan pesawat :-D Menjelang siang, saya sudah ribut ngingetin berkali-kali bahwa Uda harus sudah menuju bandara saat itu juga. Responnya masih saja bernada ragu. Berkali-kali juga Uda mengatakan bahwa Bagian Umum dimintanya ngecek dulu kode booking itu ke bandara, dan seterusnya, dan seterusnya. Karena alot begitu, saya jadi ngambek. Merasa upaya-upaya saya sia-sia semua. Tapi Uda tipe Suami Penyayang, akhirnya katanya, Uda pengen sekali kumpul dengan anak istri di rumah, Idul Adha bersama-sama. Ia akan ke bandara, tapi tanpa beban. Andai nggak bisa ya balik mess lagi. Saya jadi semangat lagi tapi juga mengatakan bahwa kita sama-sama berusaha, kalaupun ternyata tiket itu bermasalah, anggap saja Allah belum Meridhoi kita berkumpul kali ini.
   Saat Uda bilang sudah dalam perjalanan menuju bandara, saya mulai deg-degan karena kalau dipikir-pikir, nggak mungkin banget Bagian Umum kantor dan proyek yang sudah bertahun-tahun punya hubungan bisnis dengan agen-agen travel konvensional tidak mendapatkan tiket, sementara Minerva McGonagall yang baru memulai bisnis ini hanya dari rumahnya sambil mengurusi keluarganya justru bisa mendapatkan tiketnya, dari bisnis travel yang saya kenal atau join pun belum! Dan lebih gila lagi, saya memaksa Suami saya (yang juga sudah belasan tahun mempunyai kebiasaan terstruktur dibelikan tiket oleh perusahaan) untuk percaya pada saya dan teman saya yang sama-sama hanya ibu rumahtangga dengan bisnis-bisnis kecilnya! Mendadak badan saya terasa lemas dan saya yang saat itu sedang ngeloni anak tidur siang, jadi gelisah dan keluar kamar. Saya minum air mineral banyak-banyak dan duduk diam di sofa ruang tamu. Tenggelam dalam spekulasi-spekulasi pikiran saya sendiri. Perlahan-lahan saya jadi mengerti sikap Suami dan semua kekecewaan saya atas sikapnya kemarin dan pagi tadi tiba-tiba menguap entah kemana, berganti menjadi merasa bersalah dan khawatir. Saya berpikir begini : Suami saya sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa ia tidak bisa bermalam takbiran dan Sholat Ied bareng kami di Makassar. Dengan mendapatkan tiket untuknya dan memintanya datang ke bandara saat itu, sama saja saya menumbuhkan harapan baru di hatinya. Bagaimana kalau ternyata tiket itu palsu atau bermasalah? Apakah itu tidak sama dengan saya menyakiti hati Suami saya lagi karena harapannya hancur? Wah, you have no idea how melancolic i'am deh. Saya berpikir saya baru bisa tenang kalau Suami tercinta saya sudah berada di ruang tunggu bandara, atau bahkan saat sudah berada di atas pesawat. Sebelum itu, saya merasa perlu khawatir. Setelah penantian yang menegangkan, akhirnya Uda ngabarin sudah di ruang tunggu, Alhamdulillah nggak ada kendala apapun saat checked-in!
   Setelah di Makassar, kami masih sempat terheran-heran juga karena ternyata kalau tiket dikatakan sudah habis, kita tidak boleh menyerah mencari di tempat lain, bahkan bila tampaknya sudah mustahil akan mendapatkan sekalipun! Disini saya baru menyadari bahwa apa yang kita pikirkan demikian adanya ternyata masih bisa berkembang dengan jalan dan cara yang tidak meminta pemahaman kita atau pun harus atas sepengetahuan kita (mudah-mudahan cara membahasakannya terdengar pas di telinga pembaca). Yang paling membahagiakan saya adalah Suami saya berubah pikiran dan mengijinkan saya mendengarkan presentasi di rumah Minerva McGonagall. Seperti biasa, saya diantar-jemput, diberi dukungan penuh dengan kalimat-kalimat penyemangat, do'a dan kerjasamanya mengurus anak dan rumah selama saya berada diluar rumah.
   Di rumah Minerva McGonagall, saya juga berkesempatan mendengarkan presentasi lengkap yang dibawakan oleh upline Minerva, sebut saja namanya Mbak Vin. Mbak Vin berpembawaan tenang, sistematis dan sabar dalam menjelaskan dan menjawab semua pertanyaan saya. Orangnya juga cukup rama, membuat saya segera merasa berada di tengah-tengah teman lama.
   Berikut poin-poin penjelasan Mbak Vin :
1. Software NextG dibuat oleh tim IT maskapai Garuda dan Sriwijaya,
2. Software ini berisi 2 web yang akan diberikan kepada member yang sudah bergabung, yaitu web jaringan dan web ticketing, plus kita mendapatkan virtual account Bank Permata untuk keperluan deposit (deposit akan selalu tertera di bagian bawah web ticketing),
3. Dua keuntungan yang didapatkan saat join, yaitu 1. komisi langsung dari maskapai untuk setiap tiket yang kita issued, 2. setiap merekrut 1 orang bergabung, kita mendapatkan bonus uang 1,2juta. 1juta (potong 10ribu untuk admin) masuk rekening pribadi kita, 200rb masuk ke dalam deposit kita di web ticketing. Kemudian setiap terjadi sepasang di bawah jaringan kita, kita mendapat bonus uang lagi 400rb : 300ribu masuk ke dalam rekening pribadi kita dan 100rb kembali dikreditkan ke dalam deposit kita.
4. Web jaringan itu gunanya untuk memantau perkembangan orang-orang yang kita rekrut dan yang berada dalam cakupan jaringan kita (yang direkrut orang yang kita rekrut, dst, dst ke bawah). Juga bila ada yang akan bergabung di bawah sponsorship kita, kita bisa mendaftarkan mereka dengan mengisi data di web ini. Keterangan lebih lanjut bisa didiskusikan dan ditanyakan pada sponsor atau upline masing-masing,
5. Untuk web ticketing, sudah tersedia pilihan-pilihan di dalamnya. Kita tinggal membuka, meng-klik sana-sini dan rajin belajar aja biar makin mahir. Bila ada pertanyaan soal ticketing, bisa diajukan pada "Ask Helpdesk". Jawaban mereka akan dikirimkan ke e-mail add penanya yang nge-link dengan gadget sehingga kita bisa langsung melihat jawaban pertanyaan-pertanyaan kita. Dan setelah saya bergabung dengan NextG, saya membuktikan sendiri respon tim Helpdesk ini sangat cepat dan memuaskan. Saya selalu mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang saya ajukan;
6. Di NextG kita kerjasama dengan tim, jadi jangan ragu deh untuk bertanya atau mengajak teman-teman NextG kita berdiskusi,
7. Harga software yang (promo selama 2013) 4juta akan terasa kecil bila dibandingkan dengan kita membuka agen travel konvensional, mengeluarkan ratusan juta rupiah untuk sewa/beli tempat, gaji karyawan, urus ijin usaha, belum lagi kita harus deposit sekian juta per maskapai. kalau sudah dibandingkan dengan itu semua, 4juta terasa kecil kan?
8. Kalau sudah bergabung dengan NextG, kita sudah punya akses ticketing sendiri dirumah, bebas dari travel agent konvensional. Minimal kita bisa menggunakannya untuk diri sendiri dan keluarga. Kalau mau, untuk keluarga, kita tidak perlu mengambil komisinya, jadi jatuhnya harga tiket bisa lebih murah lagi. kalau bukan keluarga, kita selalu bisa mengambil komisinya;
9. Bisnis ini cocok buat siapa saja yang ingin punya penghasilan tambahan, ingin punya bisnis tapi hanya punya modal 4-5juta atau anak-anak usia SMP yang gemar menggunakan laptop dan gadget (mulai Januari 2014, harga software menjadi 4,5juta).
Semua keterangan lebih lanjut tentang poin-poin di atas, akan dijelaskan mendetail saat sudah bergabung.

Keterangan lebih lanjut, teman-teman bisa menghubungi saya di nomor 081343816080 atau di PiN BB 23902F09. In Shaa Allah dengan senang hati saya akan membantu menjelaskan. Terimakasih bagi yang sudah berbaik hati menyempatkan membaca :-)

Wassalam, Good day.

Sabtu, 31 Agustus 2013

1 Syawal 1434 H Part Three : Yogyakarta, Soto Lamongan & KaaL '88.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...

   Masih melanjutkan cerita kemarin, tanggal 9 pagi-pagi saya bangun mandi dan sholat Subuh, membangunkan Uda dan Icha Sholat Subuh, lalumelanjutkan nyiapin sarapan dan packing. Masih ada Rotiboy dari bandara Hasanuddin kemarin untuk dihabiskan Suami dan anakku pagi ini. Karena di rumah Mami Papi tersedia banyak, kami sengaja nggak bawa handuk dan sajadah. Jadi sejak semalam, kami sholat menggunakan plastik wrap koper sebagai sajadah darurat.
   Setelah mandi dan sarapan, Uda pamit membersihkan mobil dari bau rokok yang melekat di mana-mana. Saya diminta nunggu di kamar saja, "Ta' bersi'in dulu bau rokoknya biar Sayang nyaman dalam perjalanan yaa? Sekalian aku atur koper dan tas-tas kita," kata Uda sambil ngecup pipiku. Karena diminta nunggu di kamar aja, saya buka-buka ucapan-ucapan Lebaran yang sejak kemarin masuk bertubi-tubi ke Blackberry, sementara Lyza nyetel acara kartun di tv. Saya terkagum-kagum dengan begitu banyaknya ucapan yang panjang-panjang dan unik-unik. Satu yang jadi favorit saya adalah sebuah ucapan dari seorang distributor HDI langganan saya yang menyertakan gambar masjid yang bila diamati terdiri dari rangkaian huruf-huruf kanji. Saya copy paste (copas) ucapannya itu untuk membalas ucapan-ucapan dari saudara-saudara dan teman-teman lainnya. Ada beberapa dari mereka yang greetings-nya juga cukup unik untuk bisa saya copas dan dikirim silang. I just had to make sure i didn't send the greeting to it's sender :-D
   Menjelang jam 10 pagi kami start dari Surabaya menuju Blora lewat jalur tol. Seperti halnya kemarin, saya rajin ngabarin Mama dan Mami, hari itu saya juga ngabarin Mami waktu keberangkatan dari Surabaya. Malam sebelumnya Dek Anton (adik bungsu Uda) ngirim bbm, "titidj ya kak.. kami tunggu di rumah Nenek." Ada ide darinya untuk ngajak kami jalan-jalan ke Yogya, sekalian nganter Papi kontrol kesehatan. Saya sih selalu senang berkunjung ke Yogyakarta lagi. Kota kenangan masa remaja tempat saya pernah kuliah dulu yang selalu ngangenin. Di samping itu, kebetulan Alastor Moody dan Molly Weasley (maaf, saya harus ngasih nama samaran), Om dan tante kesayangan saya sedang berada di kota yang sama mengunjungi anak mereka  di Sleman. Akan sangat menyenangkan sekali andai saya bisa bertemu dan merasakan kehangatan kasih sayang mereka lagi dalam suasana Lebaran sekaligus ulang tahun saya begini, tapi rupanya Suamiku kelelahan dan merasa tidak sanggup bila harus memasukkan Yogyakarta ke dalam agenda mudik kali ini. Uda orang yang penuh perhitungan dan rasional, jadi saya tidak terlalu berharap yang muluk-muluk, sehingga bila Uda berkata "tidak", saya tidak akan merasa kecewa. Saya yakin semua keputusannya sudah dipikirkan dengan matang.
   Lewat telepon, Dek Anton masih memberikan usulan seperti mengembalikan saja mobil pada Mr. S dan melakukan perjalanan ke Blora dengan mobil travel atau membeli tiket pesawat dari Yogyakarta saja, tapi Uda masih bertahan dengan pendapatnya semula. Saya menunjukkan wajah nggak tega harus mengecewakan saudara-saudara yang jarang-jarang ketemu, Uda bisa 'membaca' itu dan berjanji sama adiknya untuk membicarakan soal itu nanti saja di Blora. Setelah menutup telepon, Uda berkata jujur bahwa baru kali ini ia benar-benar merasakan kelelahan yang luarbiasa. Travelling nyaris setiap dua-tiga hari sekali ke kota-kota yang berbeda, mengurusi proyek orang-orang asing di sebuah desa di Sulawesi Tenggara sambil terus 'memeras' otak merespon kiriman surel dalam bahasa asing yang datang bertubi-tubi tak kenal waktu selama sebulan terakhir sebelum mudik ini dirasanya begitu membuat tertekan dan kelelahan tenaga dan fikiran. Ditambah lagi pengalaman kami tahun lalu waktu mencoba jalan-jalan ke Yogyakarta sepulang dari Blora lalu kembali ke Surabaya lagi. Memang kami sempat silaturrahim ke rumah sodara-sodara dan sahabat yang berdomisili disana plus napak tilas karena saya dan Suami pernah lama tinggal di kota itu, tapi lelah dan waktu yang banyak terkuras juga membuat kali ini kami jadi mikir-mikir.
   Uda megang tangan saya waktu saya banyak diam setelah Uda bicara, "Sayang, kalau waktu kita panjang, aku juga senang kok jalan-jalan ke Yogya. Cuma waktu kita nggak banyak. Aku tanggal 14/15 sudah ditunggu di proyek. Lagipula hanya setahun sekali aku bisa ke Blora, tanah kelahiranku, kota tempat aku dibesarkan. Sama dengan Sayang kalau ke Luwuk gimana sih perasaannya? Jarang-jarang bisa datang, pengennya lama ada disana kan? Pengen napak tilas, nostalgia dan ketemu teman-teman lama. Aku sebenarnya pengen ngajak Sayang jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di Blora, seperti ke Waduk Tempuran. Ada waktunya nanti kita ke Yogya itu, ya Sayang yaa?" Saya berusaha meyakinkan Uda kalau saya ngikut saja apapun keputusannya. Nggak ke Yogya, nggak apa-apa. Ke Yogya pun hayuk-hayuk saja. Saya diam tadi sekedar merenungkan andai kami bisa ramai-ramai konvoi ke Yogyakarta, dengan seluruh sodara-sodara Uda berikut keluarganya masing-masing yang ramai dan riuh itu, plus Mami Papi ada di tengah-tengah kami, Subhanallah pasti akan menjadi satu perjalanan menyenangkan yang tidak akan terlupakan.
   Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami akan mampir makan siang Soto Lamongan tepat sebelum memasuki jalan tol Gresik. Soto dan krupuknya enak banget deh. Tempat-tempat persinggahan selanjutnya adalah pom bensin dan masjid. Uda Jum'atan di sebuah masjid di kota Babat. Selama nunggu Uda Jum'atan, menyenangkan sekali bisa ngobrol dan meladeni pertanyaan-pertanyaan anak ABG kami tentang banyak hal. Walaupun kadang-kadang saya harus narik perut karena ngomel, tapi ada saja tingkah atau celetukan yang bikin tertawa dari dia. 
   Oya, Uda baru ngomong pagi itu kalau acara reuni 25 tahun SMA-nya dilangsungkan siang hari mulai jam 13.00. Saya kaget setengah mati. Kirain acara penting itu dilangsungkan malam hari. Saya komplain kenapa baru ngasih tahu info itu, padahal kalau tahu acaranya siang begitu, saya tentu akan melakukan sesuatu supaya kami bisa berangkat lebih pagi lagi. Jam satu siang kami baru meninggalkan Babat, mana keburu sampai di Blora sebelum acara dimulai? Wah sayang sekali :-( padahal kalau datang tepat waktu, Uda bisa bertemu dengan para mantan gurunya, foto-foto dengan teman-teman yang tentunya belum pada pulang. Saya mengerti sekali pentingnya acara-acara seperti itu, jadi sepanjang jalan saya nanya-nanya terus apa Uda masih keburu hadir. 
    Saat memasuki Jepon, jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Saya udah lemes aja. Apa masih ada orang di tempat acara? Uda sih tetap tenang. "Kita datang aja walaupun telat. In Shaa Allah teman-temanku masih ada," katanya.
Sampai di rumah Mami Papi, kami disambut Mami, Haqqi (putra sulung Mbak Titik dan Mas Toni), Abrar dan Aisyah (putra putri Dek Anton dan Dek Anya), Papi dan Fikri (putra sulung Mbak Reni dan Da Wan). Saya langsung wudhu, sholat dan ganti pakaian. Sambil ngurus baju ganti Lyza, saya keluar kamar lagi dan bergabung dengan Mbak Titik, Mas Toni, Dek Anton, Dek Anya, Mbak Reni, Da Wan dan Fira (putri kedua Mbak Titik dan Mas Toni) yang sudah ngobrol ramai dengan Uda. Kami lalu pamit ke acara reuni Uda. Sebetulnya saya malu ikutan acara itu, tapi kata Uda udah lama pengen ngajak saya ikut dan berkenalan dengan teman-teman sekolahnya dulu. Uda sempat bercerita tentang singkatan "Kaal" di angkatannya yang merupakan ide Uda saat masih menjabat Ketua Alumni dulu. Maksudnya biar tampil unik dan beda dari angkatan-angkatan lain yang umumnya menggunakan singkatan yang sama. "Kaal" itu sendiri merupakan kepanjangan dari "Keluarga Alumni."
   Memasuki Gedung DPRD tempat acara berlangsung, surprisingly masih rame aja lho. Lega juga hati ini karena Suamiku masih sempat jadi bagian dari acara itu, meskipun sudah sangat terlambat. Ada seorang mantan guru (yang ternyata adalah guru terakhir yang meninggalkan tempat acara) yang sedang berjalan pulang langsung mengenali Uda dan mereka berjabat tangan erat. Saya selalu terharu dengan yang namanya Guru sampai-sampai lupa mengabadikan momen itu. Uda disambut hangat teman-teman seangkatannya (Suamiku dulu Ketua Osis, ketua kelas, Jagoan Matematika, juara kelas, pemuda masjid yang pandai mengaji dan banyak prestasi lainnya. Ternyata Suamiku dulu terkenal dan dikenang sampai sekarang lho. Hehehe... bangga sama Suami sendiri boleh ya?).
   Saya membiarkan Uda berkeliling menyapa teman-temannya yang berebut salaman dan ngobrol dengannya. Saya duduk saja di satu tempat, memperhatikan sisa-sisa acara yang masih berlangsung seperti foto bersama, tampilan slight yang memperlihatkan foto-foto jaman dulu angkatan '88 SMA 1 bergulir di layar-layar besar di sisi kiri dan kanan aula besar itu dan banyak teman-teman seangkatan Uda yang berseliweran dengan kaos seragam. Uda sejak awal berbisik, "Asem. Aku nggak punya kaos seragam e..." dan saya balas berbisik, "Tenang, Sayang... biasanya ada aja tuh disediakan kaos di tempat acara. Nanti Uda coba tanya panitianya." Alhamdulillah terbukti benar, seorang panitia laki-laki manggil seorang panitia perempuan yang bertanggungjawab atas kaos dan atribut reuni tersebut. Mbak Ina namanya. Dia langsung nyerahin kaos seragam dan sebuah tas ijo berisi suvenir Kaal '88. Orangnya berkacamata, ramah dan apparently, dialah teman sekolah perempuan Uda yang paling ramah dan welcome pada saya. Dia mau berepot-repot ria mencarikan saya minuman madu dalam kemasan gelas di antara timbunan gelas-gelas kosong dan setelah berhasil nemu satu, saya di ajak duduk dan ngobrol. "Namanya siapa?... Asalnya darimana?... Bisa bahasa Jawa kan?... Kapan tiba di Blora?... Kok anaknya gak di ajak?... Saya Ina, dulu temen marching band Heri... Tinggal di Makassar ya?... Saya punya temen orang Makassar lho di Jakarta... Kalau saya tinggal di BSD... " dst, dst. Kami ngobrol cukup lama dan setiap ada teman yang mendatangi, Mbak Ina selalu bilang, "Ini Mbak Herinaldi..." Hehehe...
   Walaupun sebagai salah satu panitia Mbak Ina harus ninggalin saya duduk sendirian, she kept coming back and said, "Aku temani istrinya Heri ahh... " Satu lagi temen Uda yang rajin moto sana-sini dengan kamera tele-nya (kali ini teman laki-laki), namanya Isnin. Mas Isnin beberapa kali nyapa saya dan setelah cukup lama ditinggal Mbak Ina, Mas Isnin duduk di tempat Mbak Ina, "Saya temani istrinya Heri kalo' gitu." Saya senang lihat Uda bahagia ngobrol dengan teman-teman sekolahnya. Ada romantika tersendiri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata mengetahui Suamiku sedang berkumpul dengan teman-teman sekolahnya dulu.
   Saya menghormati semua yang mengenakan seragam reuni KaaL '88 yang berada disitu sore itu terutama karena mereka adalah saksi hidup saat-saat orang yang saya cintai masih berusia belasan tahun, pernah muda dan mengenakan seragam putih abu-abu, sedangkan saya mengenalnya saat sudah menjadi pria dewasa berusia 30-an tahun. Bila memungkinkan, saya ingin bertukar tempat dengan mereka, diberi kesempatan mengenal lebih lama pria yang saya kagumi dan sayangi. Masa-masa remaja yang membingungkan dan melelahkan akan terasa indah andai punya seorang teman berkarakter seperti Uda. I'm sure i'd be a better person in those days. Well, toh hidup harus selalu disyukuri.
   Kembali ke acara reuni, saking lebih lamanya Mas Isnin duduk menemani saya ketimbang Uda sendiri, sampai-sampai ada seorang temannya dengan polos bertanya, "Nyonya, I'?" Mas Isnin buru-buru menjelaskan.  Saat Uda datang, Uda bilang, "Say, ini Isnin, dulu kita sering belajar bersama. Calon Menteri Pertanian nih. Dulu PMDK ke IPB." Mas Isnin tertawa malu dan nawarin kami foto-foto. Saya minta tolong Mas Isnin foto Uda di depan bentangan terpal bertuliskan perayaan 25 tahun angkatan mereka, tapi karena suasana ramai, Mas Isnin nangkepnya saya minta difoto sama Uda. Padahal bukan begitu maksud saya. Umumnya semua teman Uda welcome pada saya, tapi keramahan duo Mbak Ina dan Mas Isnin yang paling mengesankan saya. Oya, ada juga satu teman SMA-nya yang sudah saya kenal karena kami pernah mendatangi dia di hotel di Makassar. Boney namanya. Dari jauh, Boney sudah tersenyum lebar melihat saya dan saat salaman, kami sempat ngobrol sebentar.
   Sepanjang sisa waktu berada disana, saya juga terkesan dengan ide tampilan slight flashback itu. Siapatahu bisa diadopsi ke dalam pembuatan konsep reuni sekolah saya, terutama dengan teman-teman putih biru dan teman-teman purna paskib di Sulawesi. Bersama teman-teman tertentu yang terlibat di dalamnya, saya juga ikut jadi konseptor acara-acara reuni SMP dan PPI '94. Atau mungkin yang bersifat jangka panjang : Reunion Organizer. Siapa yang tahu ya? Toh saya dan Uda pernah membicarakan tentang ide organizer seperti itu dan Uda yang juga konseptor ulung karena sejak muda rajin ikut berbagai organisasi antusias sekali kalau di ajak diskusi soal-soal sejenis. Saya banyak 'menyerap' ilmu tentang organisasi dari Uda.
   Di slights yang ditampilkan, ada foto-foto angkatan mereka saat masih bersekolah dulu. Kalau nggak salah lihat nih ya (karena tempat duduk saya cukup jauh di belakang dan saya tidak pakai kacamata minus saya), ada foto dari kegiatan-kegiatan Pramuka, Marching Band, daftar absensi, dalam kelas, dan di seputaran sekolah. Lalu terakhir ditampilkan foto-foto semua alumnus dengan komposisi : foto jaman SMA dalam ukuran kecil di sudut bawah atau atas, foto terkini ukuran besar dan tampilan nama, pekerjaan, domisili sekarang dan nomor ponsel. Sebagai komparasi saja, kalau di acara reuni Spendoel pernah juga menampilkan slight serupa; bedanya, layarnya menjadi pusat perhatian di tengah, lampu dimatikan saat kami akan menonton dan yang ditampilkan hanya deretan foto mantan guru-guru, staf TU dan teman-teman seangkatan yang sudah meninggal. Di acara Uda, layarnya gede-gede di sisi kiri dan kanan dan penampilannya secara terus-menerus sepanjang acara. Hmmm, worth to try that.
   Menurut Mbak Ina, sumbangan dana minimal 300ribu tapi tidak diwajibkan bagi teman-teman mereka yang kurang beruntung dan sumbangan teman-teman yang mampu diharapkan bisa menjadi subsidi bagi golongan pertama tadi. Ada seorang teman mereka yang menyumbang 15juta sehingga kabarnya sanggup menutupi hampir semua anggaran untuk pengadaan kaos. Wow! Subhanallah, bisa dibayangkan betapa besar artinya teman-teman seangkatannya bagi Si-Penyumbang-15juta itu ya? Saya bertanya-tanya dalam hati, di angkatan saya, ada juga beberapa yang kaya raya seperti itu, tapi apakah mereka bisa seperti teman Uda yang pemurah itu? Wallahu'alam.
   Tak ada pesta yang tak usai. Menjelang Maghrib acara mulai sepi, kami pulang dan berkumpul lagi dengan keluarga besar di rumah. Disini aku baru bertemu dengan Della dan Sella. Rupanya waktu kami tiba, dua ponakan kami dari Mbak Titik dan Mbak Reni ini masih di supermarket. Saya terheran-heran melihat Sella yang tahun sebelumnya tinggi badannya masih di bawah Della, sekarang sudah sama tinggi dengan Della. Cepat sekali waktu berlalu bagi anak-anak seusia mereka. Berbeda dengan ponakan lainnya, Haqqi dan Sella tidak ada jeda malu-malunya. Mereka langsung ramai bercanda dengan saya dan Uda. Hehehe...
   Segini dulu cerita saya. Mudah-mudahan yang membaca tidak bosan.

Wassalam.

Selasa, 27 Agustus 2013

1 Syawal 1434 H Part Two : Surabaya.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

   Menyambung yang kemarin, menjelang siang hari, setelah kami sholat berjama'ah, saya minta Uda dan Lyza tidur sebentar sementara saya melanjutkan packing dan re-check semua bawaan dan semua yang akan ditinggalkan. Sebelum itu, semua ponsel dan power bank saya pastikan batere-nya terisi penuh, termasuk ponsel Lyza. Menurut catatan, isi semua koper dan tas bekal sudah sesuai, tapi saya perlu memikirkan hal-hal kecil seperti pakaian, alas kaki, perlengkapan mandi dan perlengkapan sholat yang akan dipakai selama nginap semalam di Surabaya, sehingga hanya koper itu saja yang diturunkan di hotel/penginapan nanti sedang lainnya tetap berada dalam mobil. Tas berisi obat-obatan saya masukkan dalam tas bekal bersama charger-charger dan hair dryer. Vitamin untuk Suami dan anak on set. Sedangkan untuk obat-obatan, saya bawa Panadol, Amoxsan, Mefinal, Cataflam, Incidal, Non-Flamin, Anadex, Norit dan plester. 'Amunisi' setia :-) Untuk saya sendiri sebenarnya vitamin-vitamin yang saya konsumsi untuk kesehatan rada rumit mengingat saya sedang program hamil (promil). Tapi untuk kepraktisan, sementara waktu saya milih bawa Renovit saja untuk menjaga stamina selama bepergian ini. Meskipun Renovit mengandung sedikit pewarna buatan, tapi Alhamdulillah kesehatan bisa terjaga selama bepergian kemarin.
Untuk bekal, saya bawa cheese roll Donaldson yang sudah dipotong-potong (our yummy fave cake) dan disusun rapih dalam tupperware, susu-susu ultra kemasan tetrapack, beberapa botol UC 1000 kesukaan Suami dan air putih (untuk berbagi beban, botol air putih ada yang ikut ransel Uda, ada yang ikut ransel Lyza), biskuit, susu-susu bear brand dan tentu saja kopi.
   Dasar Uda, yang selalu rapih dan teliti, diminta istirahat malah sibuk bantu-bantu saya packing. Tipsnya menggulung semua baju dalam koper ternyata lebih efisien ketimbang cara saya yang lebih suka meletakkan baju-baju itu dalam lipatan konvensional. Kira-kira jam 14.30 wita Mama Papa datang. Seperti biasa, sebelum berangkat ke bandara, saya tidak lupa nanya ke Uda dan Lyza : "kunci gembok? kode booking? Blackberry? HP? kacamata? Air minum? Kompor sudah dimatikan? Air sudah dimatikan?" Dan saat sudah duduk di atas jok mobilpun, saya masih harus menengok ke belakang dan menghitung jumlah bawaan plus ngecek isi tas. Ribet deh jadi perempuan.
  Alhamdulillah walaupun sudah memasuki menit-menit akhir boarding, kami masih sempat wrap koper-koper berikut 1 dus dan tidak perlu berlarian menuju gate. Sepanjang penerbangan menuju Surabaya, saya tidak pernah berhenti berdo'a, istighfar dan dzikir. Itu cara  ampuh untuk menenangkan hati saya.
   Setiba di Surabaya, hari sudah gelap. Saya dan Lyza ngikutin instruksi-instruksi Uda. Melihat saya banyak diam, Uda langsung tahu saya pusing nahan mabuk udara, jadi sambil nunggu barang-barang kami di atas conveyor belt yang berjalan, saya diminta duduk saja di atas trolley barang sambil minum air putih. 
   Diluar pintu arrival, kami disambut sopir subkon perusahaan tempat Uda bekerja. Sopir itu meminta kami nunggu disitu saja sementara dia ngambil mobil di parkiran. Sambil menunggu, Uda ngelus kepala saya sambil bilang, "Selama ini aku bepergian untuk kerja, bawaanku ringkes-ringkes aja. Cuma satu koper kecil masuk bagasi kabin dan ransel di punggung. Sekarang bawaan segini banyak..." katanya sambil ketawa menyapu pandangan ke arah jejeran dua koper besar, satu tas bekal dan satu dus besar pula, "...jadi berasa' banget aku ini kepala keluarga, punya keluarga. Bangga aku." Trus Lyza ngajak main tebak-tebakan, "Pa, tebak nanti mobilnya apa?" Setiap tahun menjelang akhir Ramadhan, ada subkon setia perusahaan Uda--sebut saja namanya Mr. S--akan nelepon Uda, nanya kepastian tanggal kedatangan kami di Surabaya. Hal yang sama berlaku bagi beberapa rekan kerja Uda yang mudik ke seputaran Jawa Tengah dan Timur. Alhamdulillah urusan kami selalu dimudahkan dengan mendapat pinjaman mobil setiapkali mudik ke tanah kelahiran Suamiku. Setiap tahun pula mobil yang dipinjamkan berbeda-beda dan kali ini kami dapat Fortuner diesel warna silver. Saat meluncur di atas tol menuju kota, sopir Mr. S bercerita tentang seorang rekan kerja Uda yang mendapat pinjaman mobil Harrier menuju Semarang. Kalau gak salah dengar, bahan bakarnya 1 liter per 3 km. Wow!
   Setelah sopir turun di kota, mengingat hari sudah malam dan besok pagi kami berencana melanjutkan perjalanan ke Blora, saya dan suami sepakat untuk nginep di family stay saja. Uda sudah tahu saya tidak rewel asalkan klosetnya bersih kinclong dan kasurnya empuk untuk istirahat saja, jadi sepanjang jalan menuju family stay yang dimaksud, Suamiku meyakinkan saya tempat ini dijamin bersih. Uda pernah beberapa bulan ditugaskan meng-handle urusan proyek di Lelangon dan tinggal di sebuah apartemen di daerah situ, jadi instead of nginep deket-deket Tunjungan Plaza (TP) dan nyaris selalu nyasar saat jalan-jalan di tempat asing segede itu, kali ini kami milih lokasi yang sudah dikenal untuk menghemat waktu. Alhamdulillah, beruntung kami mendapat family stay yang sesuai dengan harapan.
   Waktunya masak, bentar lagi Lyza pulang sekolah. To be continue ya. Wassalam.


Senin, 26 Agustus 2013

1 Syawal 1434 H Part One : Mama Papa LiHar & Duo Dokter-Hakim.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

   Alhamdulillah walaupun lama akhirnya bisa nulis lagi. Sebelum buka Lenovo, saya mikir dulu mau berbagi cerita tentang apa. Soalnya sering nih kejadian : saat belum buka laptop, bahan cerita banyak melintas di kepala. Begitu laptop membuka di depan saya, yang ada malah bengong, kadang-kadang menggo' ke FB atau baca IMDb. Teralihkanlah pokoknya. So, karena yang baru saja lewat adalah Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1434 H, pilihan judul jatuh pada peristiwa teranyar dulu deh.
   Seperti tahun-tahun yang lalu, setiapkali Lebaran, kami selalu mudik ke Blora-Jawa Tengah, kota kelahiran Suami saya dan sampai sekarang menjadi kota domisili mertua saya tercinta, meskipun aslinya mereka berdarah Minang tulen. Sejak kami menikah hingga kini Alhamdulillah tidak pernah absen mudik ke Blora, meskipun waktu berangkatnya berbeda-beda di setiap tahunnya. Berhubung orangtua saya dua-duanya masih ada dan domisili di kota yang sama dengan saya dan Suami, maka kadang-kadang kami melewatkan sholat Ied, sungkeman dan silaturrahim dulu bersama mereka di hari pertama Lebaran, lalu sore harinya kami took-off menuju Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Blora. Tapi pernah juga kami malah sudah bertolak menuju tanah Jawa tersebut beberapa hari sebelum Lebaran.
Keluarga di Makassar
    Tahun ini, kami berangkat dari Makassar pada hari H di sore hari. Sejak pagi, seperti biasa, saya sudah sibuk ngecek-ngecek keperluan suami dan anak untuk sholat Ied nanti, mulai dari pakaian, mukena, sajadah, peci, sarung, koran untuk alas sampai ke sarapan mereka. Yah, tugas rutin seorang ibu dan istrilah (yang ibu-ibu pasti langsung ngeh nih. Hehehe...). Sebenernya sudah saya siapkan sejak malam sebelumnya, tapi biasanya ada saja yang ketinggalan. Sehari sebelumnya suamiku sudah ngingetin bahwa pada saat Idul Fitri, kita disunnah-kan menyantap sarapan dulu sebelum berangkat Sholat Ied, sedangkan pada saat Idul Qurban, disunnah-kan sebaliknya. Jadi sejak malam, saya sudah nyiapin sop daging sengkel dengan sawi dan irisan wortel. Pagi tinggal dipanasin. Uda berkali-kali bilang enak dan hanya itu yang ingin didengar setiap juru masak rumahan di dunia ini.
   Tempat Sholat Ied di komplek perumahan kami sudah penuh sesak saat kami tiba. Saya dan anak saya hanya kebagian tempat di pinggiran jalan, tapi tetap bersyukur karena walaupun sayup-sayup, saya masih bisa mendengarkan topik yang sedang dibicarakan khotib, yaitu tentang krisis sosial dan pergaulan remaja sekarang yang sudah banyak yang 'menjauh' dari agama. Yang ta'at jadi bahan tertawaan karena dianggap aneh dalam pengucilan sementara yang tidak berada dalam jalan Allah yang lurus justru dianggap lumrah dalam masyarakat. MasyaAllah.
Pulang Sholat Ied, kami salam-salaman dulu dengan tetangga sebelah rumah sebelum saya dan Lyza sungkem sama Suami. Yah, karena kami bertiga sama-sama merasa masih punya kekurangan dan pasti ada salah dan khilaf terhadap satu sama lain, suasana haru tidak bisa dihindarkan. Saya nangis, Uda (panggilan suami saya) nangis, Lyza pun nangis, bahkan dia lama rebah di lutut Papanya, minta maaf dan meluk saya juga. Mudah-mudahan setiap hari kami bisa menjadi rahmatan lil 'alamin, lebih baik dari hari ke hari. Aamiin YRA.
   Setelah itu, kami menuju rumah Mama Papa yang sekomplek juga, jadi nggak begitu jauh. Saya agak kaget, waktu membukakan pintu rumahnya, tidak seperti biasanya, Papa yang pendiam dan sama sekali bukan tipe melankolik itu, menjawab salam saya dan bertanya, "Eyn sayang Papa?" jadi terharu dan sedih dengarnya. Masa' iya ada anak nggak sayang orangtuanya? Pertanyaan dan wajah Papa pagi itu mengisi fikiran saya selama berhari-hari kemudian.
   Pertama-tama kami sungkem dulu sama Mama Papa. Saya menangis, teringat dosa-dosa pada mereka di masa lalu dan betapa hati mereka begitu seluas samudera untuk saya. Kedua, saya bantu-bantu Mama nyiapin hidangan di dapur dan Uda nemenin Papa nonton Laporan langsung Sholat Ied di Masjid Istiqlal, Jakarta. Kami makan bersama sambil ngobrol dan foto-foto. Menu hari itu yang masih saya ingat sampai sekarang adalah : Burasa', ketupat, mi goreng, ayam bakar rica, ayam panggang dan coto Makassar. Ada juga cake-cake antara lain pemberian Dek Ana, pemberian dari pihak RSUP Wahidin (dikirim setiap tahun untuk para pensiunan mantan direksi mereka) sampai yang disiapkan Mama sendiri. Cake dari RSW itu yang terasa paling pas di lidah saya karena tidak eneg.
   Adik saya, Dek Ana dan Suaminya, Dek Iel beserta orangtua Dek Iel datang kira-kira pukul 10. Setelah makan, Dek Iel yang ramah dan kocak itu bercerita tentang perjalanan hidupnya jaman masih bersekolah di Malang plus masa-masa mengikuti tes Hakim, sesekali diselingi cerita dari Papanya yang juga ramah. Ramai sekali obrolan hari itu. Saking keseringan tertawa, pipi sampai terasa kaku. Hehehe.
   Well, si Lyza sudah pulang Kumon, udahan dulu yee. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin. Wassalam.

Jumat, 08 Maret 2013

Tante Sri Mandayati Dalam Kenangan

Assalamu'alaikum
Good day...


Ketemu lagi.
Alhamdulillah masih diberi kesehatan. Minggu ini minggu yang melelahkan buat saya. Hari Selasa seperti biasa jam 4 pagi saya sudah harus bangun, kali ini bukan sekedar nyiapin sarapan keluarga dan perlengkapan mereka ke kantor dan sekolah, tapi juga harus nyiapin keperluan Suami keluar kota karena Uda ada rapat dengan pihak Sumitomo dan Antam di Jakarta. Kalau Suami mau keluar kota gitu, saya selalu harus nyiapin pakaian, bekal rotinya, racikan susunya untuk breakfast yang saya masukkan dalam kantong-kantong plastik mini, obat-obatan dalam kotak kecil, sajadah, sarung, kaos kaki, air mineral, dst, dst. Pasti yang ibu-ibu faham tuh repotnya kayak gimana.
   Setelah nganter anak ke sekolah, kami langsung ke Bandara Sultan Hasanuddin lewat jalur tol. Jalur populer kami kalau mau ke bandara.
   Dari bandara, sambil nyetir, saya sedikit membayangkan kasur. Maklum, malam sebelumnya saya baru tidur di atas jam 23.30, jadi emang ngantuk banget. Saya pikir setelah nyuci piring-gelas bekas makan-minum, nyuci dan jemur-jemur pakaian; saya bisa tidur dulu barang sejam. Ternyata rencana hanya sekedar rencana. Dalam keadaan terjebak macet di depan Makassar Town Square, Mama nelepon dari Jakarta. Suaranya yang bercampur tangis langsung bikin lemes. Pasti nih kabar duka.
   Inna lillahi wainna ilaihi roji'un. Ternyata kabar duka datang dari sahabat lama Mama yang suaminya juga rekan sejawat Papa (dokter Murni Ra'uf) dari Luwuk sejak tahun 1980an. Namanya ibu Sri Mandayati. Sejak jaman bocah di Luwuk dulu, saya dan adik-adik biasa manggilnya : Tante Murni. Tapi baiknya dalam blog ini saya sebut : "Tante Sri Mandayati" saja, untuk mengenang beliau. Tante Sri Mandayati adalah seorang ibu rumahtangga teladan menurut saya. Sangat jarang yang namanya Tante Sri Mandayati ngider di mall atau jalan-jalan keluyuran dengan teman-temannya. Ia banyak berada di rumah mengurus Suami dan anak-anak. Dari Mama saya tahu, nyaris semua makanan untuk keluarganya juga dibikin sendiri lho; mulai dari selai, mentega, sirup, mayones sampai snacks dan camilan. Ayam yang di konsumsi keluarganya juga ayam kampung yang dibeli dari penjual langganan. Nyembelihnya nggak sembarangan. Beliau sahabat yang baik buat Mama, jenis sahabat yang mungkin sudah jarang ditemui jaman sekarang.
   Beberapa yang bisa saya ceritakan : Tante Sri ini rajin mendatangi Mama minimal seminggu sekali (berhubung rumah sangat berjauhan), kadang-kadang Mama bertamu ke rumahnya. Kalau beliau yang ke rumah Mama, ada satu-dua peralatan memasak Mama yang rusak seperti oven atau rice cooker, langsung diangkat dan dibawa ke tempat service untuk diperbaiki. Maksudnya sih biar nggak keburu rusak dan bisa cepet dimanfaatkan lagi mengolah makanan untuk keluarga. Kalau bikin kue kering, selalu disisain buat Mama, disimpan rapih dalam toples. Ayam-ayam kampung juga Mama ngambil ke rumahnya, sudah disembelih, dicabutin bulu dan dipotong-potong sesuai permintaan. Waktu Mama sakit karena pendarahan, beliau juga yang marut kunyit, bikin ramuannya dan di antar sendiri ke rumah Mama. Setiap hari selama Mama sakit, beliau datang dan nungguin Mama minum ramuannya. Tidak segan juga menegur bila ada yang salah. Kasih sayangnya untuk Mama yang membuat Mama merasa sangat kehilangan. Saya ikut merasakan itu, karena sesekali tante yang baik itu nelepon saya sekedar nanya kabar. Om Murni yang Soleh juga adalah saksi pada pernikahan saya dan Suami. Menurut Papa, waktu Mama Papa meminta kesediaannya untuk menjadi saksi pernikahan kami, beliau segera menyanggupi padahal permintaannya mendadak dan Om Murni sedang ada sesi operasi di RS. Jadi bagi saya dan Suami, kedua beliau tersebut adalah sahabat orangtua yang punya peranan penting dalam kehidupan kami dan keluarga sekaligus berkesan karena beliau berdua pernah menjadi bagian dalam momen kenangan indah kami.
   Setelah menerima telepon, perasaan saya campur aduk. Rasa kantuk lenyap begitu saja. Saya menyetir sampai rumah dulu karena udah deket juga, sarapan sebentar sebelum ganti pakaian yang pantas dan meluncur lagi ke rumah duka, sebelumnya jemput Tante Nunung dulu.
   Banyak sekali yang datang melayat. Kami nyaris tidak mendapat parkiran karena sejauh mata memandang, kendaraan parkir dimana-mana. Kebanyakan dari mobil-mobil itu berstiker ataupun punya plat logo (sebut saja begitu karena saya nggak tahu apa istilahnya di kalangan dokter) "IDI". Sambil berjalan menuju rumah duka, saya bertemu seorang Sp.OG ramah, namanya dr Fatmawati. Dulu pernah jadi pasiennya sebelum beralih ke dr Nusratuddin. Karena masih terbayang-bayang wajah Tante Sri, saya banyak diam dan membiarkan Tante Nunung dan dr Fatma berjalan sambil ngobrol di depan saya. Waktu tahu dari Tante Nunung saya kakak dr Rosdiana, dr Fatma malah ngajak saya ngobrol terus. Semangat doctorhood di antara para dokter memang patut diacungi jempol. Somehow, mereka akan saling mengenal satu sama lain.
   Rumah duka dipenuhi banyak pelayat. Kaum lelaki yang ingin ikut sholat jenazah pun banyak yang tidak kebagian tempat saking penuhnya. Pertama-tama tiba, saya mencoba masuk ke dalam kamar tidur dimana jenazah Tante Sri dibaringkan. Orang begitu penuh sesak tapi saya merangsek maju sampai berjarak hanya sejengkal dari kaki beliau. Ada rasa haru juga saat melihat penutup wajahnya dibuka cucu-cucunya yang ingin mencium wajah nenek mereka. Terbayang di masa kecil dulu, beliau yang menjahitkan rok saya bersama dengan rok seragam anak-anaknya sendiri karena saat itu Mama sedang ikut Papa yang studi M.H.A di Filipina. Masih terngiang juga suaranya... perhatian-perhatiannya... bulu mata lentik dan wajah putih bersih itu.
   Sebelum meninggal, beliau memang tidak pernah menggunakan riasan wajah berlebihan sehingga saat sudah meninggalpun, Tante Sri tampak seakan masih ada bersama kami. Nggak terasa airmata saya jatuh. Terharu juga karena selama sakitnya Mama selalu datang menjenguk, mengaji, ngobrol, nyuapin makannya; tapi ketika ia wafat justru ketika Mama dan Papa sedang menghadiri pesta pernikahan anak sodara di Jakarta. Saya sendiri hanya sempat menjenguk satu kali bersama Suami, karena Uda di luar kota, kami berencana hari Sabtu minggu ini baru akan datang lagi karena pengen ngaji berdua di sana. Sayang, Selasanya beliau sudah berpulang ke Rahmatullah. Terus terang saya nyeseeel sekali. Itu sebabnya dalam perjalanan dari bandara saya terus istighfar. Hal-hal sepele seperti itu sebisa mungkin disegerakan.
   Sementara karena alasan asma, Tante Nunung menunggu diluar rumah, saya bertahan selama mungkin dalam kamar itu sampai kami diminta keluar dulu oleh pihak keluarga. Nggak lama berselang, anak-anak Tante Sri sudah dalam posisi siap memandikan jenazah dalam kamar mandi. Saya sudah tidak mengenali mereka lagi karena terakhir benar-benar bertemu kalau tidak salah saat masih bocah-bocah di Luwuk tahun 1980an, mungkin hanya wajah Indri yang masih saya ingat karena ia hadir dalam pernikahan saya.
   Diluar, saya bergabung dengan Tante Nunung dan pengen sekali menyalami tangan Om Murni yang beberapa kali lewat di depan kami, tapi beliau diam seribu bahasa dengan mata sembap dan kepala tertunduk, tidak pernah menengok ke sekelilingnya. Jadi terharu melihat keadaannya. MasyaAllah, begitulah kondisi seorang suami soleh yang kehilangan istrinya yang solihah. Saya tidak tega menyapa beliau. Sambil mendengarkan cerita dr Fatma yang duduk di samping saya, saya bisa mendengar celotehan ibu-ibu disitu tentang kesan-kesan mereka akan sosok Tante Sri. Subhanallah, hanya orang istimewa yang sanggup membuat siapapun yang ditinggalkannya merasa seakan merekalah sahabat terdekatnya.
Keluarga besar Dr. Murni Ra'uf. Tante Sri duduk di tengah berkerudung coklat. Foto diambil dari album FB dr. Ihwan. Semoga berkenan.
   Selamat jalan, Tante Sri. Saya pribadi akan selalu mengingat Tante dalam kenangan dan do'a. Semoga dilapangkan kuburnya dan semoga Tante menjadi bidadari surga yang menantikan kedatangan suami yang soleh dari dunia fana ini. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin.


Wassalam.