Rabu, 02 September 2015

Pengalaman Mudik dengan Pesawat Udara

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...


Seperti biasa, baru bisa nongol lagi setelah lamaaaaaa banget. Hehehe...
Baru tergerak ngisi blog setelah nyadar kalau bedrest seharian ngikutin saran dokter kandungan itu sungguh membosankan dan malah bikin kepala pusing. So, here i am. ketak-ketuk keyboard laptop yang mulai berdebu karena semua kerjaan online belakangan banyak dikerjakan lewat tab dan Q5. Ngisi blog-nya sambil nonton Parkland di HBO Hits. Keren juga ini skenarionya. Saya suka film-film based on true story. Tapi saya nggak cerita film disini yah, karena ada blog khusus saya yang isinya seputar film di www.sabbimovie.blogspot.com. Ceritanya di sana aja.
Seperti biasa juga, Lebaran tahun ini mudik ke rumah mertua di Blora, Jawa Tengah. Suka ada yang nanya, "Mertua orang Jawa ya?" Bukan kok. Mertua saya orang Minang tulen. Hanya, setelah nikah di tahun 1960an, mertua tinggal di tanah Jawa (beberapa kali pindah), sampai akhirnya pensiun dan menetap di Blora. Betah banget di Blora. Saya menyaksikan sendiri kerukunan antar warga di Jawa itu juara punya deh. Dari kecil, anak-anak dibiasakan bersosialisasi dengan cara bermain keluar rumah di sore hari, sepedaan, jalan rame-rame dengan teman-teman sepantaran. Menurut saya pribadi, kebiasaan seperti ini bagus sekali untuk melatih anak-anak bersosialisasi sejak dini, bisa melakukan problem solve untuk masalah-masalah kecil mereka sehari-hari, meskipun dengan cara sederhana a la kanak-kanak. Selain itu, jadi punya kenangan masa kecil yang indah, teman-teman sepermainan yang meskipun suatu saat pasti akan berpisah, tapi di satu waktu kelak, bisa jadi reuni kembali. Jadi punya sesuatu untuk diceritakan. Ini pengalaman yang saya saksikan sendiri waktu masih tinggal di Yogya dulu. Kalau pengalaman fase Blora, mungkin karena disini banyak menetap pensiunan yang anak-anaknya sudah pada berkeluarga dan sukses di perantauan, yang saya saksikan ya kebiasaan orangtua-orangtua jaman dahulu yang suka saling menyapa akrab di jalanan, rajin bertamu dan saling membalas hantaran makanan. Kebiasaan yang dilestarikan warga sini. Saya suka nyoba kebiasaan bagus begini dengan para tetangga disini.
Di tahun-tahun sebelumnya sih dari Makassar kami ke Surabaya lalu biasanya langsung ke Blora lewat perjalanan darat dengan mobil yang disediakan rekanan adhi karya di Surabaya. Nah tahun ini karena Suamiku tercinta ditugaskan di Semarang officially dan beliaunya pengen banget anak istrinya lihat kota Semarang dan bertolak ke Blora dari sana dengan mobil yang disediakan, jadilah kami butuh total 6 tiket sekali berangkat ke Semarang karena harus transit di Jakarta. Dan pastinya nggak murah. Meskipun saya agen travel online, tetep nggak jaminan dapetin promo.
Wait, ada tamu. Ntar dilanjutkan ya. See you.
Melanjutkan kisah sebelumnya, jadilah kami sekeluarga berangkat lewat Semarang. Seru ternyata, terutama karena dari Makassar pesawat yang rencananya akan membawa kami ke Jakarta delay berjam-jam dan otomatis pesawat berikutnya dari Jakarta ke Semarangpun terancam 'hangus' tiketnya karena berlainan maskapai. Saya emang sengaja nggak ngambil penerbangan connect seperti biasanya karena udah pada habis (Well, biasanya kan dari UPG langsung Surabaya, banyak pilihannya. Kali ini mesti transit dan tiket penerbangan connect di peak season begitu ternyata nggak mudah ngedapetinnya). Di Bandara Hasanuddin kami udah berbagi tugas seperti biasanyalah style suami istri ini. Uda ngelobi dengan maskapai UPG-JKT di lantai bawah sedang saya konsen nelepon call center maskapai yang akan membawa kami dari JKT-Semarang. Sayangnya meskipun udah ngeluarin semua jurus ngelobi a la travel agent dan ibu-ibu memelas (biasanya sih berhasil), maskapai itu keukeuh tidak mau menjanjikan atau berkompromi apapun. Gosh yaa Allah! Uda memantau lewat telepon dan kami sama-sama harus kecewa karena misi bersama untuk ngelobi harus menemui jalan buntu. Saat akhirnya maskapai UPG-JKT lepas landas, kami sepakat untuk tawakkal saja dan pasrah dengan apapun yang terjadi. Berharap penerbangan menuju Semarang juga mengalami delay karena alasan bencana alam di Lombok ini toh mempengaruhi banyak rute penerbangan domestik. Andai nggak delay, dengan estimasi waktu tibanya, rasanya mustahil kami bisa nggak ketinggalan penerbangan berikutnya. Satu-satunya cara kami bisa duduk dengan sukses diatas kursi Batik Air menuju Semarang adalah dengan lari sprint segera setelah turun dari pesawat ini, ngantri ambil bagasi maskapai pertama, ke counter check in Batik Air, masukin bagasi seabrek sebelum menuju gate untuk boarding. Sungguh sangat mustahil, kecuali kami adalah keluarga The Incredibles. Hahaha. Ya sutralah, kalau udah kayak gitu, yang bisa dilakukan manusia hanya tawakkal. Mau gimana lagi? Ketinggalan pesawat apa boleh buat. Tapi Udaku yang Hebat itu ngajak tetap berpikir positif aja. Waktu sedang ngantri di boarding gate, meja kecil di sebelah kiri kami dikerubuti gerombolan manusia (kebanyakan bapak-bapak berjaket yang sedang marah-marah). Mereka komplain dengan keterlambatan yang molor berjam-jam hari itu. Para ground crew yang hanya berjumlah tiga orang nampak ketakutan dalam kepungan. Tidak ada satupun dari ground crew disitu yang ingin bernama "Achmad" saat itu karena sejak tadi namanya terus diteriakin orang banyak. Dicari-cari dengan macam-macam ancaman. Dimana-mana yang terdengar hanya suara teriakan dan gebrakan meja. Chaos bener.
Di Bandara Soetta, kami kembali berbagi tugas : Uda ke counter Batik Air sedang saya dan anak duduk di depan conveyor belt nungguin bagasi. Soal ketinggalan pesawat itu sudah pasti, sebab jam keberangkatan ke Semarang saat itu sudah lewat setengah jam dari schedule (udah siap-siap ngeluarin duit lagi untuk beli tiket baru). Yang mengejutkan, Uda muncul sejam kemudian sambil ngangkat bahu dan tersenyum menenangkan kearah kami yang udah lemas letih lesu duduk diatas trolley barang, sambil ngelus-ngelus kepala saya, Suami saya itu minta saya minum air putih dulu sebelum ngajak kami nyari makan malam. Di KFC aja yang paling deket. Lalu Suami mulai cerita tentang betapa riuhnya para penumpang di counter Batik Air saat itu. Ternyata banyak yang bernasib sama dengan kami karena tertahan rangkaian delay. Semua marah, semua menggebrak meja. Persis dengan yang terjadi di Makassar tadi. Lalu Suami mundur sesaat untuk mengamati situasi itu sambil mikir. Akhirnya setelah merhatiin seorang petugas laki-laki yang sejak tadi kelimpungan meladeni banyak komplain dan saat itu sedang minggir, mendekatlah Suami untuk ngelobi. Pake' jurus "bicara baik-baik" kalau nggak ingin dikatakan melas, Subhanallah, entah karena memang kami sedang beruntung aja atau terkesan dengan satu bapak-bapak ajaib yang tetep kalem di tengah-tengah amukan penumpang lainnya (biasanya Suami galak banget lho kalau ada kejadian kayak gini. Pernah ngalamin soalnya waktu terbang dengan Merpati beberapa tahun lalu saat bersama anak nengok Nenek dan harus mendarat darurat dinihari di Surabaya alih-alih di Makassar akibat cuaca buruk sejak dari Yogyakarta, semua penumpang kala itu kalap sementara Suami saya yang tadinya juga marah-marah akhirnya membantu para ground crew untuk nyarikan solusi dan berakhir happy ending), diam-diam petugas itu memberi tiga tiket gratis Lion Air untuk kami besok subuh ke Semarang. Begini katanya, "Pak, saya mohon maaf Bapak dan keluarga tetap nggak bisa berangkat malam ini juga. Penuh semua, Pak. Kami udah kewalahan ini karena memang harus mendahulukan penumpang yang sudah terlantar sejak pagi. Saya hanya bisa membantu tiga tiket ini free, tapi Bapak besok harus on time tiba disini lagi." Begitulah, meskipun rada kecewa karena rencananya ingin menghabiskan waktu semalam dulu explore Kota Semarang sebelum bertolak ke Blora, toh sisi baiknya kami punya tiket gratis. Yang cukup menyita energi justru lamanya kami duduk di KFC karena Uda nggak mau beranjak sebelum pasti mendapatkan hotel deket bandara dan kami harus di antar-jemput dari dan ke bandara. Saya ingin bertanya mengapa kami tidak naik taksi aja biar cepet sampe' di hotel? Tumit udah lecet-lecet begini dan badan pegel-pegel semua, tapi batal. Tahu banget dengan Suami yang pasti akan menasehati panjang kali lebar soal menahan diri, alasannya mengapa begini dan begitu dulu, dst. Toh beliau juga 'orang hotel' sekarang, saya nggak mau repot-repot mempertanyakan keputusannya yang serius dengan android-nya untuk hunting hotel. Tapi melihat wajah saya, Uda bisa 'membaca' kalau saya lelah dan bilang kalau ia juga sama lelahnya, minta saya dan Lyza bersabar lebih lama lagi. "Aku nggak bilang apa-apa, Sayang..." saya hanya merespon begitu sambil balas tersenyum balik. "Kalau cuma Uda sendiri nih, Uda tidur di bandarapun jadi. Tapi Uda bawa anak dan istri, harus tanggungjawab dapet tempat istirahat yang nyaman." 
Tepat saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.31 wib dan semua tulang ayam sudah habis dikasiin ke kucing yang setia nemenin kami duduk-duduk di KFC, datanglah mobil jemputan Puspamaya Hotel. Alhamdulillah malam itu setelah bersih-bersih badan, sholat dan nge-charge semua gadgets, kami bisa istirahat dan kembali diantar mobil yang sama menuju bandara keesokan harinya.
Tiba di Semarang, kotanya sepi karena ditinggal mudik sebagian besar masyarakat perantau. Mampir mess untuk mandi-sholat-ngaso dan beberes bawaan lagi, nyiapin mobil dan bekal selama perjalanan, mampir makan siang di Ayam Goreng Suharti lalu ke Blora kami menuju.




Selasa, 31 Maret 2015

MELUKIS

Assalamu'alaikum wr wb

Belakangan ini di sela-sela waktu luang, saya lagi seneng-senengnya nonton video Youtube tentang seni lukis, terutama tehnik melukis wajah dan pemandangan, menggunakan cat air dan cat minyak. Kadang-kadang juga mereka memberikan pelajaran menggambar. Favorit saya adalah Portrait Painter Pabst, Heather Rooney, Sheldon's Portfolio Art School, Sergey Gusev, agnescecile, Kevin Hill dan Wilson Bickford. Kalau ingin melihat gaya melukis yang brisik dimana pelukisnya nggak henti-hentinya bicara dan bahkan nyanyi, anda bisa tambahkan Bill Alexander Art juga (yang ini rada kocak. Hehehe. Kesan pertama buat saya : Alexander tampak seperti hitman Al Capone yang berasal dari Sisilia atau bahkan Don dari satu keluarga mafia asal Itali. Ternyata oh bukan, bukaaan! Alexander bukan mobster, dia pure seorang painter kok). Tehnik-tehnik melukis mereka luar biasa. Amazing banget!
Khusus untuk Bill Alexander, metodenya terkesan asal saput saja sehingga di awal memulai, orang bisa dibuat yakin bahwa ia sesungguhnya nggak tahu apa yang sedang dilakukannya. Tapi makin mendekati rampung, karyanya terlihat begitu indah sampe' bisa mengembangkan senyum di wajah seseorang. Yang begitu terukur dan sistematis adalah Sheldon, Wilson dan Agnes. Saya lebih menyukai mereka yang melukis sambil berbicara karena tips dan trik-triknya justru ada disitu. Untungnya saya faham bahasa Inggris, jadi mengasyikkan aja bisa mengerti sepenuhnya apa yang mereka katakan. They could easily absorbed in my mind. Hanya nggak ngerti aja kenapa untuk Bill Alexander, sering diberi subtittle. Hehehe... "Isn't that wonderful?", he'd say. Sedang untuk Sheldon, dia nampak seperti one of a kind dan menonjol di antara yang lain karena dalam kata-kata pengantarnya, selalu terselip jokes dan selain menggunakan cat minyak, beliau juga bisa pake' cat air, crayon, pensil dan acrylic.
Kesamaan yang dimiliki oleh para seniman ini (well, at least bagi mereka yang berbicara sepanjang kerja) adalah :
1. Untuk bisa melukis, tidak harus pandai menggambar. Beberapa dari mereka bahkan berkata kalo' mereka tuh kadang nggak menggambar sesuatu terlebih dulu. Sepenuhnya hanya 'menuangkan' apa yang tergambar jelas dalam benak. Jadi, kita nggak perlu mengikuti plek apa yang mereka gambarkan atau warna yang mereka gunakan. Keren kan kalau kemampuan melukis bisa beyond imagination kita?
2. Saat melukis, jangan terpaku pada keinginan untuk wajib sempurna! Sheldon berkata, "Murid-murid saya pada awalnya sering merasa harus sempurna segalanya. Ya Tuhan, mereka membuat gila diri mereka sendiri. Mereka membuat gila saya! Tarik nafas panjang dan santai aja, oke?"
3. Jangan berharap hasil akhir akan sempurna dalam percobaan-percobaan awal. Semua butuh proses dan latihan terus-menerus. Wilson Bickford berkata, "Semua butuh latihan dan ketekunan. Tentu saja! Apa sih yang tidak membutuhkan itu?" Nah tuh, pelajaran dari para pelukis handal kelas dunia (pelajaran juga buat saya) : Semua butuh proses dan latihan.
Nah, ngomong-ngomong soal melukis dan menggambar, saya dulu senang sekali menggambar. Tiada hari tanpa ngadep kertas, kalau bukan nulis jurnal, ya menggambar. Saya masih ingat, buku gambar stand by terus di meja belajar. Pewarnanya spidol atau pensil warna/perep kalau kata orang Luwuk (membaca "e" nya as in "ember"). Bahkan waktu Mama arisan, saya 'abadikan' dalam bentuk gambar. Kalau lagi mood, bisa detail banget (ehem, bangga sesekali tak mengapalah yaa...), sampe' diliatin Mama ke teman-temannya dan disimpan dalam laci lemari pakaiannya. Hehehe... Sering dapet nilai bagus deh untuk pelajaran Menggambar. Saya pernah mendapat angka 9 plus plus untuk gambar mendetail saya yang kata Bu Gurunya : miriiiiiip mendekati aslinya. Waktu itu beliau yang orang Jawa itu meminta kami menggambar meja yang di atasnya diberi taplak meja yang sedikit terlipat di bagian sudutnya dan ditahan dengan vas bunga. Saya nggak akan pernah melupakan wajah dan sense of art Guru Kesenian saya itu. Saking kesengsem sama hobi menggambar ini, saya pernah punya cita-cita jadi komikus. Niru-niru gambar Dewi Kunti dalam Buku Cerita Mahabhrata, Anita dalam serial di majalah Bobo dan tentu saja Donal Bebek dkk. Hahaha. Pernah juga nih saya menggambar Bapak A.H. Nasution dan Suami saya hanya dengan menggunakan pensil dan dalam bentuk titik-titik di atas gambar dasarnya. Yang untuk Sang Jenderal Besar, sayangnya sudah saya kirimkan beserta surat tahun 2000 ke alamat rumah beliau, jadi nggak punya fotonya sekarang. Tapi yang punya Suami Alhamdulillah masih tersimpan rapih. Saya buatin itu di hari ultahnya yang ke-40 tahun.
Nah, seiring dengan berjalannya waktu, makin keteteran dan nggak pernah sempat menggambar-menggambar lagi sekarang ini. paling banter oret-oretan sekenanya aja, itu juga sebatas sketsa-sketsa di atas kertas lepas dan seringnya malah gambar-gambar interior rumah. Hihihi... apa karena Suami Insinyur ya? #Lho.
Nah, belakangan saya kok teringat hobi yang satu ini, tapi ingin mencoba lagi dengan menggunakan cat air atau cat minyak. Terkesan lebih dewasa dari sekedar menggambar kali' ya? Lalu tergeraklah ingin melihat dan mempelajari tehnik-tehnik para maestro masa kini. Ketemulah nama-nama di atas. Keren-keren deh beliau-beliau itu. Banyak sekali tehnik dan trik yang bahkan tak pernah terbayang atau melintas di benak saya. Jadi nitip dibeliin perlengkapan melukis sama Suami yang kebetulan tugas di Jakarta. Kebetulan Suami tercinta juga penggemar lukisan, eh langsung dibeliin sepaket waktu jalan sama temennya ke Penville! Horeee, Senangnya sampe membuncah-buncah! Hahaha... Ntar saya susul fotonya kalau udah dibawain Suami weekend ini.
Oya, beberapa video boleh deh saya selipkan disini sebagai penutup cerita.

Thanks, guys. Wassalam.

Rabu, 21 Januari 2015

Tulisan Perdana Di 2015

Assalamu'alaikum wr wb

Yaa Allah, lama bener nggak post di blog-blog saya. Di blog film mungkin ada delapan bulanan. Payah deh. Maafkan yaa... terhalang terus dengan berbagai kesibukan a la mommies ini. Hehehe... Insya Allah yang membicarakan soal Hari Pahlawan itu akan saya lanjutkan.
Di bulan-bulan terakhir tahun 2014 saya dan Suami sibuk menyelesaikan urusan keluarga kecil kami (Classified. Sorry), lalu semangat mendandani rumah, hunting mobil sampai ke Jakarta, merancang ini-itu dan liburan akhir tahun dengan anak gadis kami ke Jakarta. Ditambah dengan urusan domestik saya dalam rumah, kegiatan-kegiatan pengajian dan ibu-ibu di organisasi Rukun Ibu Adhi kantor Suami dan rutin nge-gym, sudah cukup menyita waktu saya sehari-hari. Kalau ada waktu luang sedikit,  habis untuk membaca buku, curi-curi nonton film-film bakal review di blog film saya atau... tidurrrr. Hehehe... Itu bahasa ngelesnya, kalau mau jujur, mungkin sayanya aja yang masih kurang pinter bagi waktu. Karena semuanya di urus dan dihandle sendiri, jadi badan sudah kelelahan. Kalau lelah, saya wajib tidur karena kalau kurang tidur, saya jadi nggak bisa olahraga high impact (dilarang keras ama Suami) dan seharian mood dan tubuh saya 'pasang alarm' pusing dan mual terus. Jiahhh, alasan lagi. Hahaha... tapi soal tidur itu beneran lho! Jatahnya harus cukup kalau nggak mau nggak produktif seharian keesokan harinya.
Well, sebenernya nih pengennya liburan ke Bali lagi akhir tahun kemarin. Dua kali ke Bali kok waktunya serba terburu-buru dan belum semua tempat bisa puas dikunjungi, jadi rasanya kurang menikmati. Kalau mau jujur, saya pengen honeymoon dengan Suami di hotel keren, wisata kuliner secara baik dan benar (yang ujung-ujungnya nggak bikin perut murus-murus), menghirup aroma laut di pantai-pantai indahnya (yang ini belum pernah lho setiap ke Bali), nonton Tari Kecak dengan Suami dan anak di ketinggian Uluwatu sembari menikmati panorama sunset ciptaan Allah, santai jalan-jalan seharian di Krisna milih-milih oleh-oleh tanpa harus terburu-buru, bisa mengunjungi semua tempat wisata-menikmatinya-foto-foto sepuasnya.
Berhubung Suami masih ngantor pada Senin dan ada rakor pada hari Selasanya, maka akan sangat mubazir waktunya kalau kami ngotot liburan ke Bali kali ini, so diputuskanlah liburan akhir tahun kemarin ke Jakarta aja. Lagipula udah lama kami punya cita-cita ingin ngajak Icha ke Dufan, lihat Ancol, TMII dan Monas seperti dulu orangtua-orangtua kami ngajakin kami kesana. Kalau saya sih pengennya bisa ke museum-museum sebanyak mungkin, tur ke Istana Negara dan ziarah makam Opa dan Oma Jakarta di Tanah Kusir. Sayang manusia hanya bisa berencana, Allah juga yang Mengatur segala urusan manusia. Jangankan ziarah, ngunjungin satu museum pun kami nggak sempat. Pertamakali tiba di Jakarta itu tanggal 24 Desember. Kebetulan adik saya yang Sp.OG sedang pelatihan Laparoskopi di RS. Fatmawati selama tiga bulan dan tinggal di sebuah guest house di Tanjung Barat. She and her husband, they insisted us to stay there selama kami di Jakarta. Bukan guest house-nya yang mewah, bukan juga traktiran demi traktiran menyenangkan yang kami terima dari adik-adik kami yang generous ini, tapi hospitality mereka berdua, sikap ramah dan takzim yang mereka tunjukkan pada kami yang bikin senang dan betah.
Oya, pulangnya tanggal 03 Januari. Itu juga udah extended satu hari. Hehehe... Tentang liburan akhir tahun kami kemarin ntar di post lain yah. Nggak seru kalau nggak sama foto-fotonya. Nunggu Uda pulang Makassar dulu biar acara mindah-mindahin foto ke laptop bisa dibikin sekalian sekali kerja.
Pendek kata, saya beberapa bulan ini sulit sekali membagi waktu. Belum mahir aja kali' ya mengelola waktu. Hanya bisa menulis beberapa moments atau hal-hal penting yang kalau nggak dicatet pasti bakalan lupa. Baiklah, sampai disini dulu.

Wassalam.

Sabtu, 01 November 2014

WEEKEND ALL DAY LONG!

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...

Weekend kali ini banyak waktu ngisi blogs karena Uda ku absen pulang. Hiks...:-(
Pendidikannya di Jakarta agak ketat schedule setelah final exam. Yang biasanya Jum'at sore udah kelar kelasnya dan bisa langsung menuju bandara untuk pulang ke Makassar, kali ini kegiatannya sampai Sabtu. Yah, sedih sih... kita sama-sama nggak biasa berjauhan, jadi komunikasi aja yang dikencengin. Yang pasti, selalu sama-sama mensyukuri keadaan, bagaimanapun itu. Allah udah Ngasih begitu banyak nikmat.
Setelah final exam, selain diskusi dan evaluasi materi and so on, and so on; ternyata semua peserta Executive Program itu diharuskan breakfast dan lunch di beberapa hotel berbintang untuk kemudian membuat review tentang pelayanannya, hospitality para staff, kualitas makanan, menu, dan seterusnya. Tadi malah lunch di Resto Pawaka Valley, Sentul. Pastinya saya belum pernah kesana, tapi sounds fancy! Asyik ya? Diminta me-review kegiatan makan-makan! Hehehe...
Maaf... lanjut cerita ya... semalem abis ngeloni anak tidur, lama banget teleponan sama Uda... 
(02 Nopember, jam 07.50 wita)
So,  semalem itu saya baru tidur jam 00.45 wita karena setelah teleponan dengan Suami, saya masih membaca sebentar. Pagi-pagi jam 04.30 sudah harus bangun lagi nyiapin anak yang ikut Kegiatan Jalan Sehat bersama Walikota dalam rangka HUT Makassar yang ke-407. Tempatnya di Lapangan Karebosi, lumayan jauh dari rumah. Kami berangkat dari rumah jam 05.30, molor setengah jam dari target saya. Jadi sudah bisa dipastikan, kami bertemu dengan kemacetan luarbiasa sampai jarak pendek yang normalnya bisa ditempuh dalam 5 menit dengan mobil, tadi nyaris 45 menit sampai bisa lolos ke depan Lapangan Karebosi. Dimana-mana, bertebaran manusia berkaos oranye seperti yang dipakai anak saya. Tua muda, anak kecil sampai remaja, tumplek jadi satu di jalanan. Ruang gerak mobil jadi sempit banget. Walaupun bensin merosot drastis, saya cukup bersyukur body mobil nggak dapet tambahan baret. Melegakan akhirnya bisa keluar dari chaos itu tanpa goresan sedikitpun (satu hal yang perlu disyukuri kalau anda pengendara mobil di Makassar). 
Si Lyza yang sudah SMP itu saya lepas dengan bismillah, berbekal uang 20ribu, pulsa HP 15ribu, roti coklat dan Frestea yang dibeli semalem waktu mau ke rumah Oma Opa plus bawa bekal jatah susu bantal dan sebungkus Sozzis dari Pemkot yang memang sudah satu paket sama undangan yang dibagikan sekolah. 20ribu yang kemarin dibayarkan di sekolahan adalah biaya kontribusi yang kecil kalau dibandingkan dengan doorprize-nya yang ada rumah segala'! Begitu propagandanya.
Oya, semalem abis beli bekal anak di Alfamidi, saya sempatkan mampir rumah orangtua. Udah lama banget ditinggal ke Palu-Gorontalo-Luwuk. Akhir-akhir ini saya jadi sering kepikiran orangtua. Antara rindu, sedih, senang, kasihan, semua jadi satu. Rindunya karena sudah lama Mama Papa diluar kota, sedihnya ya karena sebagai anak, masih merasa belum sepenuhnya bisa membahagiakan orangtua. Usia Papa diatas 70 tahun, Mama sudah menjelang 60 tahun. Mami Papi mertua malah sudah melampaui usia 74 dan 77 tahun. Mudah-mudahan deh masih diberi kesempatan berbakti lebih lama.
Sekarang cerita urusan NextG dan tiket pesawat nih yaa... 
Kalau bicara urusan tiket, seperti yang pernah saya ceritakan dulu : yang namanya customers itu dimana-mana pasti beraneka ragam karakternya. Ada yang kalau beli tiket tuh cepet tanpa banyak drama dan pertanyaan. Mendadak issued pokoknya. Beda dengan customers lain yang tiket ke Jakarta dari Makassar (misalnya) menurut saya sudah sangat murah karena promo, masih juga dikatakan "mahal ya? Masih ada yang dibawah harga itu lagi?" atau yang minta tiket termurah, setelah dikasih info tiket termurah, muncul pertanyaan yang nggak perlu, "Itu sudah yang termurah? Kalau yang lewat bla... bla lebih mahal ya?" C'mon! Nah, kalau customers istimewa diatas, pertanyaan mereka lain lagi, "Kok murah ya?" Hihihihi... yang model begini ini saya demen. Apalagi mereka ini selalu pasti beli tiketnya, jadi kalau mereka nge-PiNG! di BBM untuk nanya tiket, mau saya sedang sakit kek, sedang nyetir kek, sedang persiapan baru mau tidur kek, atau bahkan baru aja tutup laptop; saya pasti akan bela-belain urus segera. Mobil dipinggirin dulu kalau lagi nyetir, tidur ditunda aja kalau lagi siap-siap tidur. Tab dan Q5 diberdayakan kalau laptop udah off. Selalu inget sama pesan Suami : "Bisnis Sayang yang manapun yang berpotensi menghasilkan uang, itu yang segera didahulukan yah. Hal yang sama juga berlaku dengan customers." Dan regular customers ini rata-rata pengertian. Mereka sudah tahu saya tidak nambah-nambah service fee, cukup hanya ngambil komisi resmi dari maskapai, dengan demikian, saya juga nggak nyimpen modal besar. Jadi, customers golongan ini selalu akan langsung transfer uangnya segera setelah mereka menentukan flights yang mereka inginkan. Transfernya juga cepet karena via sms banking dan hebatnya lagi, sekali mereka punya nomer rekening saya, langsung tuh di saved. Begitu oke dengan tiketnya, mereka nggak pake' nanya-nanya lagi nomer rekening saya. Langsung bet, bet, bet. Transfer berhasil! Jadi saya pun langsung bet, bet, bet, tiket ter-issued! Hehehe.
Meanwhile, at the opposite side, tentunya ada juga customers yang ibaratnya hard people to deal with (orang-orang dimana saya kesulitan kalau berurusan dengan mereka). Contoh soalnya sudah sering saya sebutkan di posts sebelumnya. Nah yang paling hit minggu ini adalah customer yang gayanya paling bikin saya sebel : Demanding banget (nge-PiNG! berulang-ulang, kadang-kadang sampe' nelepon berkali-kali nggak kenal waktu) mau nanya tiket, begitu sudah diinfokan apa yang mereka minta, eh... menghilang! Dikonfirmasi juga diem aja. Kalaupun merespon, isi responsnya nggak enak banget. Yang lagi kumpul dengan teman-teman kantornya sedang membahas urusan maha pentinglah, yang lagi sibuk dengan orang Kementrian ngurus urusan negaralah, yang minta saya sabar dikit nape lah. Ckckck! Padahal sudah sering saya jelaskan bahwa ketersediaan seats pesawat itu waktunya singkat sekali sebab saya kan online dengan para agen travel di seluruh Indonesia. Nanti beberapa jam kemudian atau beberapa hari kemudian, orang-orang seperti ini menghubungi lagi dan nanya tiket yang sama. Kalau harganya sudah naik, komentarnya : "Yah, yang kemarin sudah tidak ada ya?... kok jadi mahal sih?... Coba cek lagi penerbangan lain, kalau bisa yang harganya tidak jauh-jauh dari harga yang kemarin..." bla... bla... bla. Nah, ntar kalau sudah di booking-kan, giliran mau bayar juga adaaaaaa saja alesannya. Pake' drama-drama segala. Yang bilang time limit terlalu singkatlah, tidak ada yang antar dia ke ATMlah. Duh, itu kan bukan masalah saya sebagai agen travel? Toh saya pernah meng-handle dulu tiket beberapa dari mereka itu dan buntutnya saya juga yang kelimpungan nagih sana-sini. Lha yang ditagih acuh beibeh aja. Nggak ada kabar beritanya, sudah lewat dari batas waktu yang dia janjikan juga nggak ada revisi janjinya, giliran ditagih, jawabannya tajem-tajem coba. Saya yang korban akhirnya jadi tersangka, yang dianggap nggak peka dengan kesibukan dan masalah pribadinya. Pembayaran akhirnya terjadi setelah molor beberapa hari lho. Itu juga berkat upaya keras saya berjuang nagih setiap hari. Saya nggak suka banget deh sama customers model begini!  Nggak ada manner sama sekali. Nyebelin abis. Bikin kepala pening dan mengganggu mood aja. Memang sih pelanggan itu raja, saya mengerti poin itu; tapi please deh, Negara ini susah maju kalau customers seenaknya begitu. Lagipula yang dimaksud "Pelanggan/pembeli adalah raja" itu adalah pelanggan/pembeli yang demanding-nya positif, misalnya tidak menerima barang yang rusak saat diterima dan memperjuangkan haknya untuk mendapatkan ganti, yang suka nanya-nanya kritis spesifikasi barang sebelum membeli, yang mungkin nanya-nanya banyak flights demi mendapatkan komparasi yang menguntungkan dia. Kalau seperti itu kan enak? Semua ada aturannya, nggak sesuka hati aja. Pendapat saya pribadi begitu ya, karena sebagai pelanggan, saya juga bersikap seperti itu. Misalnya kaos yang pernah saya beli di sebuah mall di Blora untuk Suami saya ternyata setelah dicoba dirumah, kekecilan; dan saat mau dituker, struknya ketlingsut entah dimana. Yang saya lakukan? Ya saya tetap berangkat mencoba menukar di mall itu, tapi sebatas nyoba-biar-nggak-penasaran saja. Karena saya tahu saya yang salah, saya nggak akan protes andai petugasnya menolak dengan alasan tidak ada struk belanjanya. Kan begitu ya? Penjual dan pembeli sama-sama tahu diri dan tahu aturan. Ini saya harus ceritakan sebagai sharing aja. Lha kalau di agen-agen travel besar, customers model begini jelas nggak kepake'. "Anda punya uang, ayo beli. Tidak punya, jangan beli tiket... Mau yang murah, budgetmu berapa? Nggak ada yang sesuai budget ya nggak berangkat." Dan seterusnya begitu kan? Mereka nggak melayani drama-dramaan. Banyak ragam model bad customers lainnya yang nggak bisa saya ceritakan satu-persatu.
Sekarang sih, biar saya nggak sering-sering sakit kepala, kalau ada customers model begitu, saya berusaha untuk nggak terlalu mikirin. Tips dari Suami tercinta nih. Makin sering dia nggak merespon kalau saya menginfokan soal tiket, makin sering saya mengesampingkan dia dulu, prioritaskan yang potensial dulu. Ntar-ntar aja dong, toh sudah bisa dipastikan dia hanya nanya untuk membandingkan aja (cari yang paling murah)? Kalau dia sebut-sebut soal masalah pribadinya sampai nggak bisa ke ATM, saya diemin aja. Nggak perlu semua saya respon. Kalau masih ngotot cerita macem-macem untuk nyari justifikasi atas kesalahannya yang menyebabkan time limit lewat, saya akan merespon dengan saran supaya segera membuat mobile/internet banking untuk mempermudah urusan transfer uang. Sejak kejadian tidak mengenakkan soal handle-meng-handle tiket pesawat orang dulu, dengan sangat menyesal saya nggak mau lagi nalangin tiket bad customers. Demi kebaikan bersama, biar sama-sama enak aja. Lagipula saya memang nggak punya modal besar kok. Kalau sudah punya modal untuk diputarpun, harus tetap selektif.
Ssst, si nona udah sms minta dijemput lagi, jadi to be continued setelah saya pulang dari Karebosi ya.
(02 Nopember, jam 16.43 wita). Ternyata pulang dari Karebosi saya nggak bisa langsung ngisi blog lagi. Harus nyiapin makan siang anak, mantau dia ngapa-ngapain, nyuci-nyuci seragamnya untuk Senin besok dan ngurus beberapa tiket pesenan. Biar kate udah remaja juga, kalau nggak dikomando dan dipantau, masih aja nyante dengerin musik atau baca buku. Setelah itu malah ngantuk dan bobok deh ama anak. Eh sebelumnya ambil TM dulu biar bisa ngobrol sambil becanda ama Papanya di telepon. Hehehe... Ini tadi bangun tidur, abis sholat Asar, saya leyeh-leyeh lagi BBM-an ama Uda dan dek Ana. Suamiku pamit lunch di depan TMP Kalibata dan ke Kemang sebentar ama temen-temennya, saya sekalian nitip memory card untuk salah satu ponsel Blackberry yang baru 'sembuh sakit' beberapa minggu lalu. Trus adik bungsu saya yang dokter Sp.OG itu selain mesen tiket (inget cerita saya tadi pagi tentang regular customers? Nah, ini salah satunya), juga ngajak ngobrol soal tempat tinggalnya di guest house selama pendidikan Laparoskopi tiga bulan di RS. Fatmawati, Jakarta. Ceritanya kurang lebih begini (pake' gaya bahasa asli yang campur-campur ya? Apa adanya ini, nggak saya edit. Beginilah gaya bahasa kami sehari-hari kalo' ngobrol) :  
"Kak Reyn, this guest house is better than apartment! Lebih feels like home *sambil ngirim beberapa foto interior ruangan yang super duper keren* Tidak perlu naik turun tangga, no lift juga. Dua kamar dan komplit, semua ada. Bahkan lebe komplit dari torang pe rumah di Tenggarong. Hehehe... Yang punya arsitek, Kak Reyn. Dia kenal Om Ary Pedju. Guest houses-nya dibikin dengan konsep apartemen tapi hanya tiga unit dengan dua pintu, jadi penghuni tidak saling ketemu. Uniknya ada temanya masing-masing : Jawa, Bali, Cina. Torang dapat yang Cina lee. Penyewa lainnya ada pramugari dengan suaminya dan satunya lagi mahasiswa, anaknya Ketua KPPU. Owner-nya juga baik, suami istri, ramah-ramah, walaupun ada depe asisten, dorang sempatkan ketemuan dengan kitorang. Kalo' pemilik apartemen yang torang sewa dulu, selama tiga bulan di sana, torang te' pernah ketemu. Uniknya lagi, depe kotak voucher listrik ada tulisan : Jawa, Bali, Cina." Dan seterusnya obrolan berlanjut.
Keren ya? Di Jakarta itu banyak profesi keren yang mencengangkan lho, banyak ide-ide kreatif bertaburan. Sky is the limit. Kita jadi ngobrol soal bisnis masa depan, zona nyaman, kepindahan Uda ke Divisi Hotel di Jakarta, dst... dst. Mengenai Om Ary Pedju yang disebutkan adik saya diatas, beliau Insinyur senior kebanggaan keluarga besar Papa yang juga masuk jajaran think tank Kepresidenan RI. Tapi cerita mengenai beliau ntar aja ya nyusul di post lainnya.
Baiklah, Alhamdulillah kelar juga cerita panjang lebar hari ini. Lumayan deh, bisa mengalihkan pikiran dari rasa sedih karena kangen sama Suami dan orangtua saya. Terimakasih buat yang sudah membaca. Semoga akhir pekan kalian juga penuh warna. Good day and Wassalam.

Kamis, 30 Oktober 2014

Entri Di Ujung Oktober

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all

Hai, hai...
Belakangan sedang males nulis selain karena laptop ngadat terus dilanda virus. Urusan bisnis tiket jadi terganggu. Saya kesulitan mengakses web ticketing plus nggak bisa web check in. Web ticketing menjadi sering nge-hang, baik melalui Firefox maupun Google Chrome. Untung ada tab yang selama ini hanya duduk di bangku cadangan (Hahaha, bahasanya penggemar sepakbola) dan hanya saya gunakan untuk urusan tiket saat bepergian aja. Sang pemain bintang sedang cedera, jadi pemain cadangan diturunkan dan ternyata pemain cadangan dengan HALO Hybrid-nya cukup memuaskan Pelatih. Hehehe... bahasa sepakbola lagi.
Ngomong-ngomong soal kesibukan ibu-ibu, ibu-ibu itu makhluk yang paling beruntung sedunia. Mau disebutin rentetan keberuntungan itu? Nih ya :
1. Semua Ibu dipastikan sudah pernah mengalami yang namanya masa kanak-kanak, remaja dan gadis, tapi nggak semua gadis akan merasakan menjadi Ibu;
2. Pilihan busana ibu-ibu lebih beragam. Bisa pakai celana panjang, boleh pakai sarung, pakai kemeja tak mengapa, nganggo topi yo sah-sah wae'. Nah Bapak-bapak? Busananya dari itu ke itu aja sepanjang jaman. #Hehehe... ini kan topiknya soal keberuntungan wanita ya.
3. Bagi Ibu rumahtangga atau yang bekerja dari rumah, punya banyak kesempatan mengabdi ngurus keluarga dan lebih banyak waktu beribadah. Makin sering dirumah kan waktu ibadah jadi lebih panjang, ladang pahala juga lebih luas tebarannya kan ya?
4. Namanya Ibu-ibu, sudah punya anak, sudah punya Suami; hati tenang...
5. Setiap hari diberi kesempatan sama Allah untuk melatih kesabaran, keikhlasan , kepekaan, sekaligus kegesitan dalam banyak hal : manajemen waktu, manajemen keuangan sampai manajemen stress;
6. Punya banyak waktu upgrade iman, punya banyak waktu upgrade ilmu juga. Kalau saya lebih memilih mengisi otak dengan hal-hal yang bermanfa'at dan berbobot. Misalnya dengan membaca buku-buku berkualitas, seperti buku-buku agama, ilmu pengetahuan, motivasi dan pengembangan diri sampai ke novel-novel detektif. Tapi bukan berarti saya nggak nonton tv sama sekali ya? Bukan berarti saya nggak membaca majalah atau novel-novel cinta ya? Semua itu tetep, tapi pake' 'penyaring'. Misalnya untuk acara-acara tv, saya hanya menyaksikan ceramah-ceramah agama Mamah Dedeh/Kajian Quraish Shihab, nonton acara-acara kuis mendidik (misalnya Famili 100), talk show berbobot seperti Mata Najwa dan serial/film-film pilihan (ini wajib karena saya aktif menulis di blog film). Sedang untuk bacaan, saya masih suka baca koran. Majalah seperti Femina, AyahBunda, Tempo, Intisari, GoodHouseKeeping dan Martha Stewart. Novel-novel non detektif yang saya baca adalah tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer, Remy Silado, Danielle Steele, Mira W, Dee, Charlotte Bronte dan Linda Howard. Novel-novel detektif masih menjadi kegemaran saya sejak kecil : Agatha Christie, Enyd Blython, Mary Higgins Clark dan Sidney Sheldon. Khusus bacaan nih ya, saya senang dengan yang punya tata bahasa teratur dan berkelas, gaya bahasanya bernas dan tanpa ada cacat kesalahan penulisan sama sekali. Substansinya : di usia 30an, saya berusaha hanya mendengar dan melihat yang baik-baik saja, yang manfa'at saja dan yang sudah pasti akan membuat saya jadi ketambahan ilmu, melatih otak semakin pinter dan punya pikiran 'tajam'. Terus, kalau ada yang nanya, saya tahu updates news gimana dong? Ya biasanya lewat yang cara penyampaiannya cepat dan lugas aja, misalnya radio atau koran tadi.
7. Jadi punya banyak waktu me-time, misalnya : nyoba-nyoba resep masakan untuk Suami dan anak, berkebun, merawat diri, menata foto dalam album, bikin kliping, membaca, trial error model-model hijab (bagi yang berkerudung). Banyak deh. You name it lah. Menyenangkan jadi Ibu, meskipun harus jadi stay at home Mom.
8. Yang masih punya orangtua, Alhamdulillah sering-sering punya kesempatan berbakti.
Apalagi yah? Banyak pastinya. Jadi, nikmat Allah itu kalau kita hitung-hitung, ya sejatinya nggak terhitung. Harus banyak-banyak bersyukur dan kurangi mengeluh. Oya, kebiasaan baik yang selalu saya 'bunyikan' alarmnya dalam kepala juga tuh : JANGAN MENGELUH. Itu larangan terbesar buat diri saya sendiri. Sering sekali saya mengingatkan diri, juga menjaga lisan dan tidak mencela oranglain. Tiga hal yang saya hindari banget. Khawatir akan berbalik menyerang aspek-aspek tertentu dalam kehidupan saya. Nggak barokah hidup kalau kita sering mengeluh, bicara sembarangan atau menyakiti hati oranglain.
Ini cerita saya jadi bercabang-cabang ya? Maklum, borongan. Lama nggak post cerita, jadi dirapel. Hehehe. Segitu dulu kali' ya. Wassalam and good day.

Senin, 22 September 2014

A Trip To Surabaya : Bumimoro, Museum Kapal Selam Pasopati & Mami Papi.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Hai, semoga semua pembaca dalam keadaan sehat wal'afiat dan beraktivitas dengan sempurna sampai ke akhir hari, Aamiin... Seperti biasa, setiap melakukan perjalanan, sebisa mungkin saya ingin berbagi cerita di jurnal/blog, bahkan bila hanya saya pembacanya. Hehehe...
Baru ngisi blog lagi, semalem baru tiba dari Surabaya. Perjalanan yang singkat aja sebetulnya karena saya dan anak saya berangkat hari Sabtu, 20 September pagi, bertemu dengan Suami yang sudah tiba duluan di Surabaya langsung dari Jakarta. Senin malam kemarin sudah pulang Makassar lagi, sementara Uda kembali ke Jakarta karena hari ini pendidikannya berlangsung seperti biasa. Oya, kami ke Surabaya dalam rangka menghadiri pernikahan putri Mr. S di Graha Samudera, Bumimoro-Surabaya. Mr. S dulu hadir di pernikahan kami, ngamplop dalam jumlah besar dan selalu setia meminjamkan mobil pada kami setiap kami mudik ke Blora. He's our VIP friend, jadi ketika pertamakali menerima undangan pernikahan di kantor Uda, saya langsung terpikir akan hadir bersama Suami di acara itu. Kami merasa banyak berhutang budi, jadi wajib bagi kami berdua untuk hadir.
Saya dan Icha berangkat Sabtu pagi dengan Sriwijaya yang take-off jam 09.45 wita. Kami dapat tempat duduk paling belakang karena baru dibantu check in oleh seorang teman petugas bandara di last minutes. Nggak apa-apa sih buat saya, yang penting kami terangkut ke Surabaya. Yang kemudian menjadi masalah adalah penerbangan yang kurang mengenakkan. Sejak take off sampai akhirnya landing, pesawat terguncang-guncang keras. Proses landing pun tidak berlangsung mulus. Ketika akhirnya sudah menginjakkan kaki di Bandara Juanda sampai malam hari, saya masih merasa pusing dan mual karena jet lag. Ini baru ke Surabaya, gimana kalau keluar negeri ya? Fiuhhh... pathetic me :-) 
I hate fly actually... Hal yang paling menyenangkan tentu saja bisa bertemu Suami lagi setelah hampir dua minggu berpisah. Alhamdulillah Uda dapet pinjaman mobil dari Mr. Ng. Segala sesuatunya sudah diatur dan diperhitungkan Uda, termasuk soal urusan tiket pesawat, transport dan hotel. Biasanya kami berbagi tugas : saya yang handle urusan tiket pesawat, barang-barang bawaan dan biaya yang harus dikeluarkan selama di luar kota; Uda yang handle urusan transport dan hotel.
Hari Sabtu siang itu kami lunch di Restoran Palem Sari di Jalan Kartini. Restonya tidak begitu mewah tapi makanannya enak-enak, pelayanannya cepat, akurasi pesanan juga patut diacungi jempol. Kami langsung terkesan sehingga esok harinya kembali lunch di sana lagi bersama Mami Papi, dengan pesanan yang lebih banyak sampai pada kekenyangan. Hihihihi...
Di Hotel G Suites yang funky, kami serasa masuk salon besar karena nyaris semua petugasnya berdandan seperti para kapster : rambut merah, baju sempit-sempit dan celana melorot yang menyempit di bagian betis. Bahkan ada seorang petugas security pake' anting sebelah dan bergaya rambut mohawk! Sore itu setelah sholat jama', kami istirahat dulu karena sama-sama bangun terlalu pagi untuk mengejar pesawat. Pesawat saya jam 09.45 wita, tapi pesawat Uda jam 05.00 wib; So, saya tetep harus bangun jam 3 dinihari untuk membangunkan Uda lewat telepon. Dua setengah jam sebelum acara resepsi, saya sudah bangun duluan, mandi dan nyiapin segala keperluan Suami dan anak. Thanks to seragam bahan kain India pemberian seorang relasi Uda yang dijahit Tante Nun untuk saya-Icha dan Ko' Irian untuk Uda. Subhanallah, kain dengan kolaborasi warna yang indah sekali!
Butuh waktu setengah jam untuk kami akhirnya menemukan gedung tempat acara. Kata Mr. Ng yang sebelumnya nganter Uda survei ke lokasi, gedung milik TNI AL itu hanya digunakan untuk acara-acara oleh kaum jetset. Kami parkir tak jauh dari pos security tentara TNI AL, menyusuri jalan beraspal mulus yang di kiri kanannya berdiri rangkaian-rangkaian bunga ucapan selamat dari berbagai bank dan perusahaan. Memasuki bagian dalam gedung, suasana meriah langsung terasa. Saya jadi ingat acara pernikahan dek Ana beberapa tahun lalu yang juga semeriah itu. Sama-sama menggunakan jasa EO, ada photo booth dengan berbagai properti lucu, souvenir gede dan desain interior mewah dengan pilihan makanan berlimpah di mana-mana. Saya masih merasakan pusing-pusing dan mual akibat perjalanan pesawat pagi harinya, jadi kurang berselera makan malam itu. Uda dan Lyza yang antusias ngider nyobain makanan-makanan di sana. Hehehe. Kami bertemu dengan beberapa rekan dari Adhi Karya dan Rukun Ibu Adhi Makassar, satu diantaranya saya ajak foto bersama.
Esok harinya kami sarapan di Kitchen and Bar hotel. Uda meminta saya membantu me-review setiap hotel yang kami datangi. Sebetulnya, jauh sebelum Uda mengikuti pendidikan perhotelan, kami sudah punya tradisi nginep di hotel-hotel setiapkali ada rejeki lebih dan momennya pas saat long weekend atau jelang akhir tahun. Bahkan saat masih gadis, kalau tidak bisa bekerja sebagai wartawan perang di daerah-daerah konflik atau bekerja di Istana Negara, saya punya cita-cita bekerja di front office hotel lho. Alasan saya : 1. Saya senang mengurus rumahtangga dan hotel bagi saya laksana rumahtangga skala besar. Saya pikir, peluang saya untuk sukses disana cukup menjanjikan; 2. Saya senang bersosialisasi, senang bergaul dengan banyak orang, temen saya banyak, ada dimana-mana; saya fasih berbahasa Inggris dan excite dengan suasana kerja yang dinamis, hotel adalah tempat bekerja yang menyenangkan karena semua keinginan di atas terpenuhi. Pasti akan sangat menyenangkan bekerja di hotel; 3. Saya suka berangan-angan mengumpulkan tanda tangan tokoh-tokoh penting dunia untuk koleksi. Bisa dibayangkan kesempatan-kesempatan gratis yang akan saya dapatkan bila bekerja di hotel kan? Semua cita-cita itu tidak terwujud sampai hari ini karena saya terlalu permisif dengan campur tangan oranglain dalam memutuskan apa yang terbaik dalam hidup saya :-( Anyways, karena kali ini hotel yang kami tempati hanya bintang tiga, kami tidak bisa berharap banyak soal kenyamanan tempat bersantap. Tapi untuk ukuran hotel berbintang tiga, G Suites boleh dikatakan menyenangkan lah. Desain interiornya sederhana saja, dengan meja dan kursi dominan warna merah putih tanpa table manner komplit dan beberapa kursi empuk berbalut kulit hitam atau merah. Mini bar dipenuhi display gelas dan botol-botol raksasa Jack Daniels, begitu juga dengan semua lukisan yang tergantung di dinding, semua berlabel "Jack Daniels", semakin menegaskan ciri khas funky hotel yang terletak di daerah Gubeng ini.
Mami Papi tiba dengan mobil travel menjelang waktu Lohor dan kami menghabiskan waktu dua jam ngobrol di kamar Mami Papi. Malam itu Lyza tidur di kamar Mami Papi dan saya dan Uda di kamar lainnya.
Hari Senin pagi setelah sarapan, kami akhirnya mengajak Mami Papi mengunjungi Museum Kapal Selam Pasopati di Jalan Pemuda. Letaknya tidak begitu jauh dari hotel, Uda secara mengejutkan menguasai betul jalanan Surabaya. Bangga deh sama Suami saya, ia mengurus kami dengan sangat baik dan penuh tanggungjawab ;-) Entah karena saya memang penggemar sejarah ataukah memang museum itu luarbiasa sekali, saya sangat terkesan dengan Museum sejarah TNI AL tersebut. Saya tidak melewatkan kesempatan mengambil foto sebanyak mungkin. Bukan hanya saya; Uda, Mami Papi sampai Lyza pun terkagum-kagum lho dengan museum yang satu ini. Padahal biasanya anak-anak seusia dia suka bosen diajak ke museum. Lyza tidak begitu. Ia sangat manis dan memberikan momen-momen indah buat kami hari itu. Tidak terhitung kalimat ekspresif Uda, Lyza dan Mami Papi untuk menyatakan kekaguman dan rasa bangga Negara kita pernah punya kapal selam sebesar itu dengan prajurit-prajuritnya yang gagah berani. Sebagian orang mungkin akan tak bergeming karena bagi mereka, sejarah tidak berarti apapun. Tapi untuk sebagian lainnya, pengalaman seperti itu benar-benar tidak tergantikan. Saya baru tahu kalau video rama tentang sejarah kapal selam dan TNI AL baru akan diputar pada pukul 10.00 wib sementara saat itu jam baru menunjukkan pukul 09. 15 wib. Kasihan Mami Papi kalau harus menunggu lama, maka ditemani Lyza, saya mendatangi petugas pemutar video rama nya dan mulai melancarkan aksi meminta dispensasi. Hehehe. Alasan saya : orangtua yang sudah akan pulang ke Blora, Suami yang akan balik ke Jakarta dan saya dan anak yang akan pulang ke Makassar ini jarang-jarang punya waktu berkumpul seperti ini di Surabaya, padahal kami ingin sekali tahu sejarah kapal selam itu. Siapa tahu kami terkesan dan akan membawa rombongan lebih banyak lagi? Tidak butuh waktu lama untuk petugas itu berpikir, dia serta-merta meminta saya mengajak keluarga saya menyaksikan video rama saat itu juga meskipun pemutaran berikutnya sebenarnya baru akan terjadi 45 menit kemudian. Saya pun bergegas ngajak Uda dan Mami Papi yang sudah nunggu di bawah tenda payung merah deket kapal selam.
Dari museum, kami keliling nyari rumah makan yang kira-kira menyediakan take away nasi lauk lengkap dengan sendok makannya untuk dibawa Mami Papi dalam perjalanan pulang ke Blora. Mami Papi masih kenyang, mintanya dibungkus aja untuk perjalanan. Mami Papi adalah orangtua yang ta'at beragama, rendah hati, tidak pernah mengeluh, penuh kasih sayang, tidak suka menjudge dan tidak butuh upaya keras untuk menyenangkan hati mereka. Saya ingin hidup penuh ketenangan dan kedamaian hati seperti itu bersama Uda. Semua hal yang melekat pada Mami Papi itu yang selalu membuat hati ini sedih setiapkali harus berpisah lagi dengan mereka. Tidak terkecuali saat kemarin siang kami menemani Mami Papi menanti jemputan mobil travel di lobi Hotel G Suites. Rasanya sediiiih banget waktu nganter Mami Papi menaiki mobil travel hijau itu... Diam-diam saya dan Mami sepakat sering-sering berdo'a semoga Uda ditugaskan di Surabaya, biar deket sama Mami Papi; saya pun tidak terlalu jauh dengan Mama Papa di Makassar. Bisa sewaktu-waktu mengunjungi mereka juga. You know, setiapkali melihat orangtua kita melambaikan tangan saat berpisah, saat itu juga kita langsung merindukan mereka lagi. Tak peduli seberapa lama kita baru saja bertemu dan mengobrol dengan mereka. Don't you think? Itu yang selalu saya rasakan. Hanya bisa berdo'a dan berharap kami diberi kesempatan panjang untuk berbakti dan menyenangkan orangtua.
Begitulah, semalam akhir perjalanan kami di Surabaya ditutup dengan kembalinya Uda ke Jakarta dan saya dan Lyza ke Makassar. Pesawat saya Lion Air take off jam 17.50 wib, pesawat Uda Sriwijaya take off jam 20.00 wib. Sebelumnya saya sudah web check in melalui komputer di lobi G Suites, sayang Sriwijaya belum menyediakan layanan web check in, jadi ketersediaan seat sepenuhnya bergantung pada waktu kedatangan di bandara. Seperti biasa deh, Uda nemenin saya check in dulu, kami suka saling mengingatkan segala sesuatunya supaya tidak ada yang ketinggalan. Kami punya waktu 30 menit duduk-duduk dulu di luar gate saya (Gate 2). Selalu saling merindukan dan waktu bertemu serasa tidak pernah cukup. Hiks... Saya dan Lyza nangis saat tiba waktunya berpisah. Perasaan yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang saling menyayangi tapi harus tinggal berjauhan. Mudah-mudahan Allah SWT Meridhoi kehidupan kami, kami diberi rejeki yang halal dan selalu pandai bersyukur. 
Jarak antar seat Lion Air depan dan belakang masih sempit seperti biasa, tapi yang perlu diperhatikan adalah interiornya yang bersih dan nyaman. Bau AC-nya juga tidak sememabukkan bau AC Sriwijaya yang bikin saya mual. Begitu lelahnya saya sampai terkantuk-kantuk dalam pesawat dan dalam taksi Bosowa sepanjang jalan menuju rumah. Saya baru terjaga saat sudah mendekati Antang. Sampai rumah, hal pertama yang saya lakukan adalah manasin mobil, nyiram tanaman-tanaman, masak dinner dan buka semua pintu-pintu untuk pergantian udara. Baru setelah itu makan malam bersama Lyza dan bersih-bersih diri. Alhamdulillah Uda, juga Mami Papi sudah tiba dengan selamat di tempat tujuan masing-masing. Definitely need a big sleep. Pagi tadi, masih dengan rasa ngantuk yang mendera, saya menyiapkan segala keperluan Lyza ke sekolah, termasuk nyiapin kostum latihan basketnya, bekal lunch dan ngubungin ojek langganan untuk nganter ke sekolah. Bismillah, end of story today. Wassalam.

P.S : In Shaa Allah saya akan kembali untuk posting foto-foto (Sept, 23 2014).

Rabu, 03 September 2014

Mengenang Adik Asuh : Engkos Koswara

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Boleh dikata, cerita saya kali ini cerita usang, mengingat waktu pemicu idenya adalah tahun 2004 silam.
Di akhir tahun '90an, saat saya dan seorang adik masih kuliah di Yogyakarta, orangtua kami punya rumah pribadi di sebuah komplek perumahan di daerah Ringroad Utara. Bukan hanya mendapatkan banyak teman dan sahabat keluarga selama episode hidup itu, Mama dan Papa juga punya beberapa anak asuh, sebutan populer bagi orangtua yang menampung para siswa Sekolah Penerbang (SEKBANG) TNI AU saat mereka libur/weekend. Normalnya yang rutin berkunjung hanya dua orang (sebut saja Ade' dan Sorong), tapi kadang-kadang mereka juga mengajak beberapa temannya, meskipun hanya mampir makan dan duduk-duduk ngobrol sebelum akhirnya pergi lagi. Untuk Ade' dan Sorong, orangtua saya membuatkan kamar khusus di sisa tanah di atas lahan sempit di belakang rumah kami. Mungkin karena nggak punya anak laki-laki, Mama dan Papa dengan ikhlas melakukan itu. Saya dan adik-adik pun senang karena serasa punya sodara laki-laki yang tidak pernah kami miliki sebelumnya. Setiapkali mereka datang, Mama atau saya biasanya masak untuk makan siang dan makan malam mereka (soal adik-adik spesial ini, lain waktu saya cerita lagi. Kali ini pengen cerita tentang seseorang yang lain).
Saat Ade' dan Sorong masing-masing sudah ditempatkan di TNI AL Surabaya dan Kepolisian Pondok Cabe , Ade' punya teman sekolah masa kecilnya di Jawa Barat yang meskipun seangkatan, baru diterima masuk SEKBANG pada tahun 2000. Suatu malam, saat saya sedang sendiri di rumah, Ade' yang kebetulan sedang jalan-jalan ke Yogya ngajak saya menemani dia ke SEKBANG dan kenalan dengan temannya itu, namanya Engkos Koswara. Saya masih ingat dia muncul di ruang tamu mess dengan badan kurusnya yang dibalut kaos putih dan celana panjang biru tua. Meskipun usianya sama dengan Ade', dia tetap menunjukkan sikap hormat layaknya yunior ke senior seperti lazimnya dalam dunia militer. Selama perjalanan, Ade' sudah ngasih kata pengantar betapa unik dan lugunya temannya yang bernama Engkos itu. Dan setelah saya bertemu langsung, Can't agree more, ceritanya itu memang terbukti. Engkos anak yang ramah, lugu dan sangat sopan. Bahkan kesopanannya yang berlebihan mungkin terasa janggal di jaman ketika tata krama sudah mengalami degradasi saat itu. Saya langsung merasa seperti mendapatkan lagi adik laki-laki baru setelah Ade' dan Sorong ditugaskan di luar Yogya. Engkos pernah beberapa kali berkunjung dan nginap di rumah. Yang paling berkesan buat saya adalah adik yang baik hati itu tidak pernah mengeluh. Ia pernah berjalan kaki sekitar 4 km di siang bolong setelah turun dari Kopata di jalan raya Ringroad dan sesampainya di rumah, dengan wajah sumringah berkeringat  dan aksen sundanya yang khas, dia berujar sambil melangkah masuk, "Fiuhhh, maaf ya Mbak... Engkos tadi jalan kaki dari depan. Ibu ada? Sehat-sehat semua, Mbak?"--Gaya bicaranya dengan membahasakan diri sebagai orang ketiga (menyebut nama diri sendiri).

Hal berkesan adalah soal makanan. Yang paling digemarinya dari masakan saya adalah Terong Pete' Sambel. Sebenarnya itu hasil kreasi saya dari bahan-bahan yang ada dalam kulkas : terong, pete, cabe merah, tomat dan gula merah. Hehehe... Tapi tahukah anda apa komentarnya setelah melahap menu itu dengan tiga piring nasi? "Enak banget, Mbak Reyn masakannya. Terimakasih banyak ya Mbak. Engkos jadi inget Mama di Subang. Mama tahu ini makanan kesukaan Engkos, jadi kalau Engkos pulang kampung, pasti dimasakin beginian." 
Pernah suatu ketika, Engkos akan menghadiri sebuah pesta pernikahan. Begitu gugupnya dia sampai berkali-kali mematut diri di hadapan saya, bertanya apakah dandanannya sudah rapih atau ada yang kurang pas. Lucu sekali gayanya, seperti bocah berusia 12 tahun alih-alih 22. Sampai ketika sudah ditempatkan di markas TNI AD di Semarang, Engkos masih menjaga tali silaturrahim dengan kami di Yogya. Di masa-masa penugasan di Semarang itu, ia juga sempat beberapa kali mampir ke rumah di Yogya. Kali pertama dia pernah nemenin saya dan Mama jalan-jalan ke Mall Galeria, dengan Lyza yang masih batita. Kami ke mallnya sambil gotong-gotong kereta bayi Lyza waktu itu. Untung ada Engkos, dia yang telaten bolak-balik melipat dan membuka kereta itu, termasuk menggotong saat mau naik turun eskalator. Yang luarbiasa : dia pake seragam komplit dengan atributnya sebagai Siswa Sekolah Penerbang, tapi nggak sedikitpun dia ragu dan malu melakukan itu semua. Kali kedua adalah ketika dia nelepon ke ponsel saya nanyain saya mau dibawain apa dari Semarang. Waktu itu saya ingat, saya sedang di atas bis Kopaja (apa Kopata ya? Sampe' lupa saya) dalam perjalanan mau membayar tagihan listrik rumah di kantor PLN Mangkubumi Yogyakarta. Saya menolak mesen apapun tapi dia maksa nanya terus sampai sayapun bilang "makanan khas Semarang aja, Dek.". Akhirnya dia bawain kami Lumpia Semarang.
Sampai saat dia ditugaskan di Aceh yang kala itu masih merupakan wilayah konflik pun, Engkos masih sesekali menelepon nanyain kabar kami sekeluarga dan bahkan sempat ngirim fotonya bersama calon istri ke Mama melalui MMS (populer di jaman itu). Rasa berterimakasihnya pada kami sekeluarga atas kebaikan menampung dan menjadikannya bagian dari keluarga selama di Yogyakarta selalu diucapkan berkali-kali, meskipun kami yakin semua keluarga akan melakukan hal yang sama.
Tapi kebersamaan kami layaknya keluarga ternyata tidak berlangsung lama. Pada tanggal 12 Oktober 2004 menjelang Maghrib, saya yang waktu itu masih rajin ngikutin berita di tv, membaca newstickers yang muncul di layar televisi tentang sebuah helikopter jenis Bell dengan nomor registrasi 5078 milik TNI AD yang pada siang hari itu jatuh di km. 34 jalan antara Takengon, Aceh Tengah-Bireun, Aceh. Delapan personel TNI AD dilaporkan tewas dalam kecelakaan tersebut. Untuk sesaat, pikiran saya melayang pada Engkos karena saat kontak terakhir sekian bulan sebelumnya, dia pernah bercerita tentang tugas barunya sebagai co-pilot helikopter TNI AD di Aceh sana. Seingat saya, sudah cukup lama juga adik asuh saya itu tidak memberi kabar karena keberadaannya di daerah konflik yang tentunya sangat membatasi ruang gerak, tapi buru-buru saya menepis pikiran itu. Di saat perasaan mulai nggak enak, malam itu sekitar pukul 19.37 wib, Mama nelepon menyampaikan kabar duka yang juga diperkuat Ade' yang mengabarkan via SMS bahwa Engkos termasuk salah satu korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Inna lillahi wainna ilaihi roji'uun. Saya terpukul dan sangat sedih mendapat kabar dari Ade'. Hari itu, saya kehilangan seorang adik asuh yang sudah saya anggap seperti adik laki-laki saya sendiri. Adik yang baiiik sekali hatinya.
Oya, berikut nama-nama personel TNI AD yang tewas dalam kecelakaan helikopter Bell tersebut :
1. Kapten Pilot Mayor Pnb. Heru Iryanto
2. Co-pilot Letda Pnb. Engkos Koswara
3. Teknisi Serda Sulaiman
4. Teknisi Serda Yarjun
5. (Penumpang) Letkol. Suparman
6. (Penumpang) Mayor Rudi
7. (Penumpang) Letnan Dwi Yuda Febrianto
8. (Penumpang) Pratu Irawan

Jaman dulu saya senang sekali ngikutin Olimpiade (terutama olahraga beregu seperti basket, voli, renang indah dan atletik cabang lari estafet) dan berita. Saking gandrungnya, sampe' rajin nyatet segala. Maklum, dulu kan belum populer Google atau search engines sejenis di internet. Nggak ada wifi-wifi an dan sebagainya. Berita apapun jadi semacam harta karun yang harus saya 'selamatkan'. Nggak ada yang lebih memuaskan dibanding nyatet dan nyimpen sendiri semua detail berita. Nah, khusus berita kecelakaan heli Engkos ini, ada beberapa catatan saya jaman itu yang masih rapih tersimpan dalam organizer saya dengan sumber berita dari berbagai reportase berita stasiun tv RCTI, Metro TV dan SCTV. Saya bagikan aja disini :
1. 12 Oktober 2004 jam 20.31 wib--Belum diketahui penyebab pasti jatuhnya heli jenis Bell milik TNI AD, tapi siang tadi memang cuaca sedang buruk.
2. Jubir Koopslihkam Letkol CAJ. Asep Sapari membantah jatuhnya heli karena ditembak oleh GAM (Gerakan Aceh Merdeka-R). Sebelumnya, GAM di wilayah Batee Iliek Pimpinan Darwis Djeunib mengklaim telah menembak jatuh helikopter tersebut dengan kalashnikov dan granat peluncur.
3. 12 Oktober 2004 jam 22.15 wib--Semua korban tewas telah di evakuasi.
4. Letda Dwi Yudha Febrianto akan dimakamkan di Surabaya. Almarhum bertugas di Aceh sejak Nopember 2003 sebagai Danramil. Yudha adalah Lulusan Terbaik AKMIL (Akademi Militer-Magelang) tahun 2002 dan pernah mendapatkan "Pedang Trisakti Wiratama".-This one stayed young forever.
5. Pernyataan dari KASAD (Kepala Staf Angkatan Darat) Ryamizard Ryacudu : "Heli jenis Bell 205 yang jatuh di Takengon-Bireun itu dibuat pada tahun 1970 dan digunakan sejak tahun 1974, tapi hingga kini masih layak terbang kok! Jangan berspekulasi macam-macam dulu ya! Kita masih selidiki terus penyebabnya itu!"-Galak, seperti biasanya:-) Tapi emang harus begitu, Jenderal.
6. 13 Oktober 2004 jam 16.25 wib--Jajaran KODAM Iskandar Muda mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati delapan prajurit TNI AD yang tewas dalam kecelakaan helikopter jenis Bell-205 di Bireun kemarin.
7. Sementara itu, TNI AD telah mengirim tim untuk menyelidiki penyebab di belakang jatuhnya heli jenis Bell-205 tersebut.-I wonder how's precisely the investigation go?
8. 13 Oktober 2004--KASAD kembali menegaskan bahwa kejadian yang menimpa heli AD tersebut adalah murni kecelakaan dan bukan karena tembakan GAM.
9. 13 Oktober 2004 jam 20.00 wib--Jenazah delapan anggota TNI AD tiba di Jakarta, disambut dengan upacara kehormatan militer. Tidak ada yang lebih membanggakan bagi seorang prajurit selain gugur saat menjalankan tugas. Yang menggetarkan hati adalah : Almarhum Engkos harus mencoba berkali-kali mendaftar di SEKBANG sebelum akhirnya keterima. Begitu besar keinginannya menjadi tentara. Saya pernah nanya kenapa Engkos begitu gigihnya mendaftar di Sekbang sampai berkali-kali? Bukannya banyak profesi lain yang menjanjikan untuk anak muda seperti dia? Lalu dijawab bahwa sejak dulu dia memang hanya ingin jadi tentara dan membuat bangga ibu dan keluarga besarnya. Dan dia diwafatkan dalam keadaan sedang bertugas untuk sebuah profesi yang begitu dicintainya.

Ade' rajin ngubungin saya untuk mengabarkan perkembangan terkini dan ngasih alamat rumah Engkos di Subang kalau-kalau ingin ngirim karangan bunga. Kami juga nitip sejumlah uang untuk keluarganya.
Mengapa seringkali orang baik dipanggil lebih cepat? Saya teringat sebuah perumpamaan manis seorang Ibu untuk putranya yang bertanya hal serupa, dalam salah satu share kisah mengharukan di beranda Facebook, "Kalau adik berada di sebuah taman dengan banyak bunga dan ada yang sedang mekar dengan indahnya, kira-kira bunga yang mana yang akan adik pilih untuk dipetik?" Tentu siapapun akan memetik bunga yang paling indah kan?"
Kelihatannya saya memang tidak ditakdirkan memiliki adik laki-laki. Sedih rasanya... Hanya bisa mendo'akan dan berharap saat sakaratul maut, dia tidak merasakan sakit lama-lama dan husnul khotimah. Anak baik, yang tidak pernah mengeluh dan tidak pernah berprasangka buruk pada siapapun, killed in action; therefore, forever young :-(
Sejak kepergiannya, saya sering merenung tentang kematian, yang begitu tipis bedanya dengan kehidupan dan bisa datang menjemput manusia kapan saja, tidak peduli tua atau muda. Tidak peduli apakah sedang sakit atau dalam keadaan sehat wal'afiat. Kalau kemudian saya sering melarang diri sendiri untuk dikit-dikit ngeluh, itu sebagian besar untuk Engkos. Untuk mengenang sifat-sifat baiknya semasa hidup. Saya selalu ingat adik yang satu itu setiap hari. Sejak hari kepergiannya sampai saat ngetik ini. Al-Faatihah untuk Engkos Koswara. Semoga dilapangkan kuburmu, Dek. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin.
By the way, apa kabar Ade' dan Sorong, adik-adik asuh lainnya itu? Sorong entah gimana kabarnya sekarang. Tahun 2008 dia pernah mampir ke rumah Mama Papa di Makassar. Kalau nggak salah ingat, dia disewa menerbangkan helikopter untuk Kalla Group (yang juga pemilik perumahan yang kami tempati sehingga helipad-nya memang dalam lokasi perumahan kami). Waktu itu saya dan Suami masih numpang di Pondok Indah Mertua, jadi kami sempat ketemu sebentar. Sayang, Uda sedang parah-parahnya kena cacar air 'hasil' tularan Lyza, jadi nggak bisa diajak terbang dengan heli deh. Hehehe. Serius lho mau di ajak waktu itu. Karena saya harus nungguin Suami, Lyza belum sembuh betul dan Mama takut; akhirnya hanya Papa yang bersedia mengajukan diri untuk touring dengan Sorong. Semua yang lebih muda dirumah kalah dengan Papa. Hahaha.
Kali kedua, kami bertemu lagi di Hotel Marbella, Bandung saat Ade' nikah tahun 2011. Saya dan Suami datang mewakili Mama dan Papa yang berhalangan hadir, Sorong masih setia sebagai penerbang helikopter TNI AD.
Dan untuk Ade', setelah 10 tahun pengabdian di TNI AL, dia beralih menjadi Pilot Garuda Indonesia. Sampai sekarang.


Wassalam.



Selasa, 02 September 2014

Another Quiet Days

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Setelah weekend yang riuh, melelahkan sekaligus membahagiakan hati saya; saya sekarang berada di hari kerja dan hari sekolah lagi. Suami sudah kembali ke Jakarta menunaikan pendidikannya lagi dan anak kembali bersekolah dari pagi sampai sore hari. Tinggallah saya sendiri dalam kesunyian. Kalau saya tidak menyetel TV atau mendengarkan celotehan Farhan dan Asri di Delta FM, pretty much quiet around here. Hanya terdengar suara seretan sapu di atas aspal penuh daun dari asisten rumah  Mr. D yang seakan tak pernah berhenti di pagi dan sore hari. Saking rajinnya, dedaunan yang gugur dari pohon-pohon depan rumah saya dan tetangga sekitar rumah Mr. D, disapu semua sama orang-orang suruhannya itu. Selain itu, ada suara gemericik air penyiram bunga dan sesekali suara kendaraan, entah orang nyasar, tamu tetangga, penjual keliling atau petugas security yang berpatroli. Selebihnya, sunyi saja karena jalanan depan rumah kami jalan buntu, tidak banyak mobil lalu lalang. 
Kalau sedang nyetrika, harus mengurusi tiket orang atau duduk di depan laptop; saya suka nyetel TV, mostly film karena sambil nunduk, saya tetap bisa mengetahui jalan cerita hanya dengan mendengarkan dialognya saja. Tapi kalau beraktivitas sana-sini dalam rumah seperti nyuci-nyuci, masak, nyapu ngepel atau beresin kamar; saya lebih senang mendengar siaran radio Farhan Asri In The Morning. Kalau semua kerjaan rumah sudah kelar, saya mengisi waktu posting blog atau membaca. Intinya, setiap hari harus mendengar dan mendapat ilmu dan hal baru.
Weekend kemarin sepertinya lebih banyak di rumah. Uda senang menghabiskan waktunya di Makassar bersama saya dan Lyza di rumah. Ngobrol, becanda dan sharing tentang apasaja. Saya beruntung punya Suami family man yang senang mendekap saya berlama-lama di atas dadanya sambil ngobrol tentang apasaja, senang berdiskusi tentang segala hal dalam hidup dan doyan masakan saya. Suami dan anak saya adalah penggemar berat masakan-masakan saya. My number one fans. Kata Suami, "Rumahku adalah restoran yang menyajikan menu-menu paling enak di dunia, dimasak dengan penuh cinta oleh orang yang aku sayangi." Saya beruntung karena itu adalah jenis pernyataan romantis yang bisa saya dapatkan setiap hari dari Suami saya lho. Lyza pun terbiasa membawa bekal setiap ke sekolah. Salah satu kalimatnya yang juga membuat saya terharu seperti setiapkali terucap dari Uda adalah, "Lyza nggak suka makanan di kantin sekolah, Ma. Dingin dan rasanya nggak enak e. Senengnya masakan Mama aja buat bekal Lyza ya Ma."
Kami hanya keluar beli seragam sekolah tambahan untuk Lyza hari itu, ke Gramedia dan belanja kebutuhan rumah di Lotte Mall Panakkukang. Di Gramedia, Uda beliin bacaan ini : "Seri Buku Tempo : Tokoh Militer SOEDIRMAN, Seorang Pahlawan, Seorang Martir." Tahu deh kesukaan istri. Hehehe. Saya suka koleksi seri tokoh seperti ini karena TEMPO adalah salah satu media cetak kesukaan saya. Sudah 'mengenal' TEMPO sejak usia sembilan tahun karena Papa langganan majalah itu. Walau hanya bisa mengagumi foto unik bulanan dan mencuri baca rubrik-rubrik spesialnya sebelum akhirnya majalahnya diambil Papa, tapi itu cukup memupuk kebiasaan membaca. Mereka credible, tata bahasanya teratur dan enak dibaca, informasi yang disampaikan mendetail dan akurat, ditambah lagi mereka punya konsistensi sense of belonging yang tinggi terhadap para pahlawan dan tokoh bangsa ini sehingga merasa perlu memberitakan sejarahnya secara rinci. Rasanya saya sehati dengan TEMPO. Hehehe... Sekarang koleksi yang sudah ada : Kartosoewirjo dan Tiga Serangkai Bung Karno-Bung Hatta-Bung Sjahrir. Bener-bener sangat menikmati momen-momen membacanya. Selain Seri Buku TEMPO, saya juga mengoleksi TEMPO Edisi Khususnya; antara lain Bung Karno, R.A. Kartini dan Douwes Dekker.
Oya, sebelum ke Makassar kemarin, Uda berkali-kali bilang akan ngasih kejutan buat saya. Yang pertama adalah membawakan peralatan rumahtangga yang dipesan khusus dari MNC Shopping dan kedua adalah minggu kemarin. Ia pamit keluar mess dengan dua teman sesama peserta pendidikan selama di Jakarta. Mereka juga dua family men (sebut saja Mr. Es dan Mr. De) yang tidak pernah absen pulang ke keluarganya di Surabaya setiap weekend dan saya senang Suami saya bergaul dengan orang-orang seperti mereka, banyak info penting dan berguna yang bisa mereka sharing bersama. Salah satu dari mereka membeli mobil bekas di Jakarta sehingga bisa mereka gunakan di waktu-waktu seperti kemarin itu. Uda merahasiakan tempat yang mereka datangi supaya saya have no idea dibelikan apa. Tapi malam itu kebetulan saya harus menggeser jadwal tiket UPG-JKT Uda dari Senin menjadi Selasa karena Senin ternyata tidak ada kuliah dan Uda pengen cepet-cepet pulang Makassar biar waktunya lebih lama disini. Kalau mau mengubah jadwal penerbangannya, pihak Garuda minta saya transfer sejumlah uang biaya penalti melalui ATM malam itu juga dalam dua-tiga jam ke depan. Uda yang melakukan tugas itu dan ketika mengirim bukti transfernya, saya bisa melihat lokasi mesin ATM-nya berada di ITC Kuningan. Hehehe... Tapi biar nggak 'merusak' momen, saya nggak menyebut apapun soal itu.
Ulangtahun saya tahun ini cukup berkesan karena meskipun sederhana, tapi dirayakannya dalam beberapa episode : pertama pada 11 Agustus pagi-sore bersama Uda dan Lyza di rumah dengan masakan saya atas permintaan mereka plus cake rainbow gede tinggi yang enak banget dari de' Ana dan de' Iel, kedua pada 11 Agustus malam bersama Mama dan keluarga tante Nun dari Luwuk (dapet kado buku dari adik-adik Pido Bersaudara), lalu ketiga (lagi) bersama Uda dan Lyza. Kali ini mereka menghadiahi saya gelas kopi besar dari Lyza dan (ini yang istimewa karena bawanya sambil digendong Uda sepanjang perjalanan panjang dari Jakarta sampai Makassar) dua set vaccuum cleaner canggih untuk rumah dan mobil (Entah siapa sebenarnya yang paling senang dengan barang-barang itu : saya atau Suami. Kalo kata temen-temen gaul : Hadiah Modus. Hehehe. Tapi tetep Alhamdulillah dong, kan buat rumah bersama juga); Keempat bersama Mama, Lyza, Om Ucok, Om Sugeng dan tante Nunung di Ayam Penyet Perintis dan terakhir adalah weekend barusan : saya dapat sesuatu yang bisa saya gunakan sebagai supportlah untuk ngerjain bisnis online saya. Nah, hadiah terakhir ini rupanya kejutan yang dibeli Suami di ITC Kuningan. Hehehe. Ah, Suamiku Idolaku.
Oya, untuk semua momen itu ada dokumentasi yang heboh, ucapan do'a dan perhatian yang luarbiasa untuk saya, terutama sekali dari Suami dan anak. Bersyukur banget dikelilingi orang-orang yang berarti dalam hidup saya.
Well, demikian "Weekend Riuh" yang baru saja berlalu, selalu ada hari-hari sunyi yang menyediakan waktu bagi saya untuk mengisi blog. See you.

Wassalam.


Jumat, 29 Agustus 2014

Surabaya At Last

Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Ini sedikit sisa cerita yang tertinggal dari perjalanan mudik 1 Syawal 1435 H barusan.
Kami memasuki Surabaya tanggal 02 Agustus malam, langsung check in di Santika Gubeng yang sudah kami urus reservasinya melalui Agoda. Banyak manfa'at setelah Uda mengikuti program pendidikan perhotelan dari adhi karya bekerjasama dengan Trisakti, salah satunya tentang tips dan trik bila ingin melakukan reservasi ke hotel-hotel berbintang 4-5 dengan harga terjangkau.
Boleh dikata, cita-cita ingin jalan-jalan di Surabaya gagal lagi kali ini. Lagi-lagi hanya sempat mencari dinner dan jalan-jalan di Matahari aja. Besoknya ada waktu sedikit untuk beli sesuatu untuk Lyza dan Uda plus makan siang di Ayam Goreng Suharti. Sopir Mr. S kali ini begitu ramah dan menguasai jalanan Surabaya. Tidak ada acara nyasar atau eyel-eyelan dalam mobil. Uniknya lagi, ia sama sekali tidak mau menerima uang tips yang kami berikan. Abdi yang sekarang sudah jarang kita temui.
Oya, sebelum turun sarapan pagi itu, saya sempat membaca harian Jakarta Post. Headline news dan berita-berita di hari itu antara lain : Fuel subsidy ban sparks protests (Larangan subsidi bahan bakar menimbulkan banyak protes); Boat accident : bodies of 20 passengers, including 9 children, recovered (Kecelakaan kapal : jenazah 20 penumpang, termasuk 9 di antaranya anak-anak, telah ditemukan), Epidemic : Ebola moving faster than control efforts (Penyebaran Virus Ebola lebih cepat daripada upaya pencegahan) dan Sumo : Egyptian wrestler storms his way into ancient sport (Pegulat Yunani mengukuhkan diri dengan gaya olahraga kuno). Yang menarik hati saya adalah berita : 1. Exodus : Accidents and incidents on the low (Kecelakaan dan insiden terkait musim mudik Lebaran dapat ditekan serendah mungkin) dan 2. Dialogue : Interfaith house of prayer to be built in Berlin (Rumah ibadah antar agama dibangun di Berlin). Subhanallah untuk kedua berita ini. Ada perasaan senang dan terharu setelah kelar membacanya. Tapi biar nggak bosen atau kepanjangan bagi audience yang tidak ingin membaca, detailnya ada dalam blog wordpress saya ya :-)
Alhamdulillah meskipun waktunya sempit, kebersamaan saya dengan Suami dan anak selama di Surabaya cukup membuat hati saya senang dan fikiran rileks. Selalu ada hari esok untuk kembali lagi ke Surabaya. Aamiin Yaa Robb.


Sabtu, 23 Agustus 2014

Slondok Magelang di Baureno

                                                                                                               Makassar, 23 Agustus 2014
Assalamu'alaikum wr wb
Good day

Setelah kebersamaan yang singkat dengan keluarga besar di Blora, hari keberangkatan kami ke Surabaya pun tiba pada 02 Agustus siang. Setiap akan meninggalkan Blora, yang paling berat rasanya adalah harus berpisah dengan Mami Papi. Saking beratnya, waktu keberangkatan suka diundur-undur sampai sudah mepet banget. Akhirnya setiapkali punya maksud ingin jalan-jalan seharian di Surabaya sebelum pulang ke Makassar, selalu saja gagal karena hari sudah malam saat kami memasuki Surabaya dan hanya punya dua-tiga jam untuk sekedar cari makan malam. Happened all the time.
Dibanding saya dan Lyza, Uda mungkin lebih sanggup menata perasaannya meskipun saya tahu hatinya juga sedih. Caranya mengekspresikan kesedihan dengan banyak diam. Saya selalu nangis setiapkali mobil kami menjauh dari rumah Mami Papi. Kasih sayang dan perhatian Mami yang hangat dan tulus yang selalu saya rindukan segera setelah berpisah dari Mami. Papi pun sosok orangtua bijaksana yang ngangenin. Jadi wajar kalau selalu sedih setiap momen seperti ini tiba. Lyza apalagi. Nangis dan sedihnya bisa berhari-hari. Kemarin bahkan setelah meninggalkan rumah Kakek Nenek, dia minta Papanya belok ke jalan depan rumah Kakek Nenek sekedar lewat sekali lagi. Bukan karena kami mellow, tapi karena dibanding keluarga saudara Uda lainnya, kami yang paling jauh kota domisilinya. Dengan kesibukan Uda dan tidak ada yang bisa saya mintai tolong menjaga dan mengurus Lyza di rumah, kami jadi jarang-jarang bisa ke Blora selain saat mudik seperti itu.
Salah satu snack yang dibawain Mami dalam tas bekal kami adalah Slondok Magelang. Mami ya begitu itu perhatiannya : tahu Uda seneng Krupuk Rambak produksi rumahan, besoknya sudah dibelikan Mami banyak-banyak. Lihat saya senang makan krupuk Slondok dalam toples di rumah Mami, hari itu saya dibawakan yang banyak. Saya baru tahu ada Slondok dalam tas kami sesaat sebelum kami mampir sekalian silaturrahim di rumah kerabat Mami Papi lainnya.
Slondok itu saya makan sambil sesekali nyuapin Uda yang ngegodain, "Suaminya juga mau dong, Sayang. Pengen tahu rasanya snacks yang dimakan istriku e." Hehehe... bukannya nggak mau nawarin, tapi saya tahu Suami nggak doyan ngemil seperti saya, tapi karena ingin ikut rame dengan istri dan anak, Uda ikutan makan meskipun perutnya sempat mules karena nggak biasa. He's a sweet Man. Karena 'bekerjasama', walhasil beberapa kilometer sebelum masuk pelataran masjid di Baureno, sebungkus besar Slondok Magelang itu habis sudah. Hihihi...
Sedikit tentang Slondok Magelang ya? Camilan asal Magelang yang masuk kategori "Krupuk" ini terbuat dari bahan singkong yang diolah sedemikian rupa sehingga rasanya menjadi mirip rasa kentang. Menurut onlinelarissa.blogspot.com, di Magelang terdapat banyak home industries yang memproduksi ratusan jenis Slondok dengan keunikan rasa dan tampilan kemasan yang beraneka ragam. Ada varian rasa bawang dan rasa manis pedas yang dijual per gram sampai per kilogram.
Akhirul kalam, sampai disini dulu Kisah Slondok. Selamat beraktivitas buat semua pembaca. Wassalam dan good day.



Sate Blora dan Batik Mbloro

Assalamu'alaikum wr wb
Good day everyone

Banyak cerita tertinggal sejak terakhir kali saya posting tentang rangkaian cerita Ied Mubarak 1 Syawal 1435 H. Beberapa diantaranya adalah saya yang tidak melewatkan kesempatan menyantap Sate Blora mumpung sedang berada di kota asalnya. Rasanya memang nikmat sekali. Ada citarasa gurih dan manis di atas setiap daging ayam empuk. Racikan kuahnya juga beda dengan racikan kuah sate pada umumnya. Kuliner ini adalah juara di hati saya : Selalu saya cari setiap ke Blora. Hahaha. Karena kalau sudah di Blora Lyza jadi jarang bersama saya dan Suami berhubung sudah bertemu saudara-saudara sepupunya dan Mami Papi dan yang lainnya sepertinya kurang suka bila berkali-kali mengunjungi bakul Sate Blora, maka seringnya saya hanya pergi makan kuliner yang satu ini bersama Suami saya saja. Biasanya kami naik mobil tapi seringkali dengan goncengan berdua aja menggunakan motor Papi. Rasanya lebih syahdu dan merakyat. Biasanya sambil makan sate, saya dan Uda ngobrol dan berdiskusi tentang banyak hal.
Sebelum atau setelah makan sate, kami bisa sambil mengelilingi kota yang masih banyak dipenuhi rumah-rumah tua (in which i love to watch). Uda suka cerita dimana ia biasa bermain di masa kecil, tempatnya dilahirkan, bersekolah, sampai ke jalan yang dilalui untuk berangkat ke sekolah. Uda juga senang menunjukkan rumah-rumah teman-teman masa kecil sampai remajanya, rumah guru-guru sekolahnya dulu, rumah teman-teman Mami Papi sampai ke rumah-rumah gedongan warga Cina peranakan. Saya menikmati setiap momen Uda bercerita tentang hal-hal seperti itu. Dan kalau laper lagi, biasanya saya nemenin Uda makan Pecel Tahu. Saya? Teteeep... Sate Blora. Hehehe...
Cerita lainnya adalah di pagi hari sebelum bertolak menuju Kota Solo, saya dan Uda nganterin Mami ngambil cabai giling, daging sapi dan kikil di RM. Padang milik Uni Yus. Uni Yus adalah keluarga Mami yang rajin menjenguk Mami Papi sekaligus sering memberi Mami stok cabe giling. RM Uni Yus yang 'digandeng' dengan toko pakaian itu sangat ramai pengunjung. Itu kunjungan kedua saya. Kunjungan pertama saya terjadi dua tahun sebelumnya dan saya langsung terkesan dengan sambutan Uni Yus yang hangat. Pada kunjungan yang juga bersama Mami dan Uda kala itu, saya diperkenalkan dengan Suami Uni Yus yang menurut Uda adalah orang yang rajin dan kreatif, saya juga berkesempatan mengunjungi dapurnya yang sederhana tapi penuh dengan peralatan masak canggih berukuran raksasa. Uni Yus yang ramah bercerita bahwa ia hanya dibantu dua tenaga setiap harinya. Saya terkesan sekali. Subhanallah. Kemarin saat berkunjung, saya dan Uda tidak masuk sampai ke dapur. Kami sudah disuruh Mami duduk manis aja di meja paling belakang yang berdekatan dengan pintu menuju dapur. Kali ini kami tidak menerima tawaran makan nasi lauk karena diam-diam saya dan Uda sudah berencana makan Sate Blora lagi sebelum berangkat ke Solo :-D Sambil nunggu Mami yang ngambil pesenan ke dapur, seorang asisten Uni Yus datang membawakan minuman untuk saya dan Uda. Yang membuat saya terkaget-kaget saat itu adalah Uda yang terus makan buah jambu yang disuguhkan di hadapannya :-D selain sayur-sayuran, saya tahu Suami saya itu doyan makan buah, tapi nggak nyangka kalau Uda juga senang jambu dan dalam jumlah banyak pula. Hehehe. Pulangnya, tanpa sepengetahuannya, saya ambil sebanyak yang saya bisa untuk bekal perjalanan ke Solo.
Dari tempat Uni Yus, mendadak Mami nanya apa saya pernah menginjakkan kaki di Mall Luwes. Saya jawab "belum", jadilah saya dan Mami jalan-jalan di sana sementara Uda pulang mandi dulu. Saya beli kaos berkrah untuk Uda dan Papi plus jilbab untuk anak-anak dan Mbak-Mbak di rumah. Khusus dek Anya jilbabnya besar-besar, model yang tidak dijual bebas di mana-mana. So, she was the only woman in the house didn't get that. Dari mall itu, terlontar ide untuk  melihat-lihat sejenak Batik khas Blora. Waktu saya datang merawat Mami sakit di Bulan Maret barusan, Da Ril pernah bercerita tentang Batik Blora yang populer disebut "Batik Mbloro". Sayang waktu itu saya belum sempat melihat karena kepentingannya lain saat itu. Menurut Da Ril, batik khas Blora itu sekarang sedang booming dan Pemda setempat bahkan meminta semua pegawai ramai-ramai mengenakan batik ini setiap hari required. Mami ngajak kami ke ruko di Pusat Oleh-Oleh Blora. Tempatnya sekaligus lokasi terminal bis luar kota. Masih baru, jadi masih bersih (mudah-mudahan selamanya bisa sebersih itu). Ada dua toko berdampingan yang menjual batik dalam motif yang nyaris sama, hanya saja salah satunya juga menjual kaos oblong. Saya tahu Uda suka banget sama kaos jadi saya ajak aja Uda milih-milih. Ada dua tokoh besar asal Blora yang namanya sudah tidak asing lagi dan sering Uda ceritakan, mereka adalah Samin dan Pramoedya Ananta Toer. Uda bahkan selalu mengajak saya melewati rumah Pramoedya sekedar untuk melihat dan foto-foto karena tahu saya penggemar karya-karyanya. Mudah-mudahan suatu waktu nanti saya diajak Suami saya untuk bertamu dan melihat-lihat dalemnya rumah beliau ya? Hehehe... Tiap tahun mung dijhak lewat thok...#TepokJidat. Uda kalau mau beli sesuatu, milihnya nggak bisa sebentar. Banyak nanya dan banyak aspek yang dipertimbangkan sampai saya pegel. Jadi bisa dipastikan, dengan sedikit waktu yang kami punya saat itu, Uda belum bisa menjatuhkan pilihan. Saya hanya membeli sarimbit untuk saya dan untuk pasangan Pimpinan di kantor Suami di Makassar yang istrinya begitu perhatian dan ramah sama saya. Saya ingat beliau yang asli Madura itu pernah berkata kalau ia senang koleksi batik dari berbagai daerah. Batik Mbloro saya rasa adalah oleh-oleh yang paling pas untuk beliau. Sarimbit batik itu dihargai @Rp. 99.000,- Sayangnya untuk saya dan Uda, hanya tersedia satu untuk motif yang kami sukai, jadi Mami ngajak kami melihat di tempat lain. Batiknya cukup bagus, kemasannya juga keren. Untuk batik tulisnya tentunya lebih mahal per meternya karena one of a kind, tidak diproduksi massal.
Tujuan terakhir kami hari itu adalah pasar tradisional. Saya turun menemani Mami dan setelah mengambil pesanan dalam pasar, sambil nunggu Uda muter mobil, saya duduk bersama Mami di atas bangku kayu depan jalan raya. Dalam perjalanan pulang itulah, Papi nelepon Mami dan menyampaikan info bahwa Dek Anton dan Dek Anya sudah pulang dari acara puncak reuni SMA. Kami berencana berangkat ke Solo setelah acara reuni mereka kelar sehingga kabar dari Papi itu menjadi pertanda bahwa sebentar lagi kami akan berangkat. Tapi setelah nge-drop Mami di rumah, Uda tetep ngajak saya makan Sate Blora. "Masih cukup kok waktunya. Kita kan sudah siap, tinggal Sholat dijamak aja." Alhamdulillah, sempat juga merasakan nikmatnya Sate khas Blora hari itu.

Kamis, 14 Agustus 2014

Whilst in Blora, Central Java.

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all...

Waktu baru tiba di Blora jelang dinihari 30 Juli 2014, karena kelelahan, saya fikir saya berhalusinasi saat melihat rambut Papi putih semua. Selama ini frame wajah Papi dalam ingatan saya adalah dengan tampilan rambut hitam lebat. Ternyata keesokan harinya, kami baru tahu bahwa rambut Papi sudah tidak di toning lagi karena alasan tertentu.
Seperti biasa deh, keponakan yang berjumlah delapan orang menambah riuh suasana rumah Mami Papi. Kalau kata Uda, "Orang sekampung dalam satu rumah." Hehehe... It's a compliment yaa! Sejak sebelum adzan Subuh berkumandang, semua penghuni rumah sudah pada bangun. Ada saja aktivitas yang dikerjakan sebelum dan setelah Subuhan. Biasanya sih para lelaki sholat Subuh berjama'ah di masjid dimana Papi selalu menjadi imam dan yang perempuan berjama'ah bergantian dalam rumah. Setelah itu ada yang menyempatkan mengaji, lalu sibuk di dapur dengan beragam kegiatan pagi hari. What amazed me the most adalah pertumbuhan para keponakan yang terlihat signifikan dari tahun ke tahun. Dengan pengecualian untuk Aa' Haqqi yang sudah bekerja di Jakarta; uni Fira (yang tahun ini resmi menjadi mahasiswi Itenas, Bandung) tampak makin kurus dan kalem. Tinggi badannya didahului jauh oleh Sella, Della dan bahkan Lyza yang masih berusia SMP. Abrar sendiri sudah semakin gede, Aisyah yang rajin dan Taqqi yang sekarang sudah lancar berbicara. Fiqri putra Da Wan dan Mbak Reni juga nggak kalah jangkung dan pendiamnya. Lebih banyak menyendiri dan bungkam bila sedang berkumpul ramai-ramai. Saya senang melihat rambut ponakan-ponakan perempuan yang sudah remaja : lurus, panjang, tebel. Andai rambut Lyza bisa selurus itu, mungkin akan saya biarkan tumbuh memanjang juga.
Pada hari Kamis setelah dek Anton memimpin acara reuni sekolahnya (seperti Uda ku, dek Anton dulu juga Ketua OSIS di SMA lho :-D), kami berangkat menuju Solo untuk silaturahim ke Tante Solo (kakak ipar Mami) yang akan berangkat haji tahun ini. Dari Solo, rombongan berencana langsung ke rumah mbak Reni di Yogya untuk menyudahi liburan. Katanya di sana ada tempat rekreasi laut di Wonosari. Meskipun Uda jelas menegaskan tidak mau ikut rombongan ke Yogya dengan alasan lelah nyetir ke Surabaya, dalam hati saya masih berharap kami bisa ikut ke kota dimana saya pernah tinggal selama 10 tahun itu. Selalu rindu untuk kembali ke sana. Diam-diam saya menyelipkan beberapa potong pakaian kami bertiga dalam tas bekal kami. Hehehe...
Selain saya dan Uda, yang ikut dalam mobil kami : Mami, Papi dan Abrar. Lyza ikut mobil dek Anton dan dek Anya yang isinya anak-anak semua :-D Sedang anggota keluarga lain ikut dalam dua mobil terpisah. Kehadiran Abrar dalam mobil bersama Uda yang seneng becanda dengan anak-anak pastinya ramai terus. Saya, Mami dan Papi tertawa terus mendengar celotehan Abrar yang bersahut-sahutan dengan Om nya. Karena lelah, saya menggantikan Uda nyetir mulai dari Purwodadi. Tapi sesaat sebelum memasuki Kota Solo, Uda mengambil alih karena hari mulai gelap dan saya tidak memakai kacamata minus saya. Selama ada Uda, saya tidak pernah diijinkan nyetir di malam hari, khawatir dengan kondisi mata saya yang rabun jauh.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang seakan tidak pernah usai karena harus bolak-balik mencari-cari alamat rumah, Alhamdulillah sampai juga kami di rumah Tante Solo. Adzan Maghrib yang sudah berkumandang beberapa menit sebelumnya membuat kami harus sholat Maghrib berjama'ah dulu sebelum makan malam masakan Tante Solo. Lalu setelah itu Papi memimpin (ceille... memimpin. Bahasaku tinggimen... apa dong ya?), yaaa Papi memberi semacam kata sambutan mengenai kedatangan kami, selain silaturrahim Idul Fitri, tentunya juga ingin melepas keberangkatan Tante Solo dengan do'a, semoga menjadi haji mabrur dan kembali ke tanah air dengan selamat. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin. Tante Solo juga meminta kami untuk selalu menjaga tali silaturrahim dan menitipkan keluarganya pada keluarga besar Mami Papi.
Setelah berpamitan dengan keluarga Tante Solo nih yang sedikit mengharu-biru, terutama buat Lyza. Dia menangis sedih karena Papi dan Uda memutuskan tidak ikut ke Yogya seperti harapannya (dan harapanku juga sebetulnya). padahal seluruh anggota keluarga, mulai dari sodara-sodara sampai ke ponakan-ponakan sudah ngebujukin sedemikian rupa, ada yang kompak berseru, "Om Heri! Om Heri!" giliran Uda mulai goyah dan setuju dengan syarat nanti nyetirnya harus gantian dengan aku, ehh Papi yang bersikeras nggak mau karena tidak bawa baju ganti dan sejak awal rencananya akan kembali ke Blora lagi. Saya dan Mami hanya bisa pasrah. Kalimat-kalimat dek Anton, dek Anya, Mbak Titik dan anak-anak, "Kasihan Lyza, Kak..." "Ayo dong, Kak. Ke Yogya aja dulu rame-rame, besok kan bisa lanjut pulang Blora?" "Kasihan Lyza, dek Reyna..." "Te, masa' tega dek Lyza dibiarin sedih gitu?" mengiang terus di telinga saya selama perjalanan pulang ke Blora. Saya banyak diam karena sedih. Kasihan banget sama anak kami yang harus sendirian lagi. Dia tidak bicara sama sekali sepanjang perjalanan pulang. Saya pikir inilah mudik terkelam kami selama ini :-(
Walaupun tidak kebagian tugas nyetir lagi, saya nyaris tidak tidur karena ingin menjaga Suami yang terus menyetir sejak tadi. Waktu perjalanan dari Surabaya ke Blora, saya bisa nyaman tidur karena tahu ada Lyza yang menyanggupi menjaga Papanya nyetir. Saat itu dia sedang ceria-cerianya karena akan bertemu dengan sepupu-sepupunya. Kali ini situasinya sangat berbeda. Diajak foto sebelum rombongan berpisah saja, dia sudah nggak mau, apalagi diminta nemenin Uda nyetir. Sesekali Uda butuh minum atau makan sesuatu yang tak jarang harus saya suapi.
Esok harinya, menjelang Jum'atan, sambil meletakkan songkok di atas kepala di depan cermin, Uda berkata bahwa ada hikmahnya kami tidak ikut ke Yogya. Hari gini tentu rombongan baru menuju tempat rekreasi siang hari setelah Jum'atan, pulangnya bisa jadi malam hari. Gimana kami bisa kembali ke Blora dan melanjutkan ke Surabaya tanpa merasa kelelahan? Yah, beginilah dinamika kehidupan.
Segini dulu ya? Wassalam.

Rabu, 13 Agustus 2014

Balada Mudik

Assalamu'alaikum wr wb
Good day all ...

Pertama-tama, tentunya saya harus ngucapin : Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1435 H buat semua teman pembaca yang merayakan, mohon maaf lahir dan bathin yaa...
Kedua, saya merasa sedikit guilty karena masih ada hutang cerita mudik dua tahun lalu. One day, in Shaa Allah akan saya tepati.
Mudik kali ini boleh dikata rada kelam kalau tidak ingin secara ekstrem mengatakan "gagal". Tapi who knows ya? Bagi sebagian orang, mungkin justru yang kelam seperti inilah yang dikatakan "berkesan". To me? "kelam" it is. Tetep ya? Hehehe...
Resolusi keluarga kami tahun ini adalah efisiensi anggaran rumahtangga mengingat Suami sedang menjalani Pendidikan Executive Program dari kantornya, anak masuk SMP, saya yang sedang gencar program hamil lagi dan rencana kami mengganti kendaraan. Cita-cita dan semangat itu terpaksa harus tak sejalan seiring dengan mandegnya pembayaran mobil kami dari pembeli yang belum lunas membayar, tapi sudah menggunakan dan membongkar bodi dan interior mobil lama kami. Belum lagi janji-janji kosongnya soal waktu pembayaran yang molor jauh dari waktu yang disepakati bersama, sulit diajak komunikasi, BPKB sudah di tangannya dan galakan dia daripada kami! Duh, MasyaAllah bener-bener cobaan. Pelajaran berharganya adalah : sebisa mungkin, jangan menjual barang pada keluarga/kerabat, apalagi kalau sifat dasarnya emang nggak punya rasa tanggungjawab. Dijamin : lengkaplah sudah penderitaanmu!
Hal lainnya yang tak sejalan dengan semangat efisiensi tadi adalah pengeluaran untuk tiket pesawat yang secara tak terduga justru tekor gila-gilaan akibat lamanya mengambil keputusan tanggal keberangkatan plus karena jadi orang yang terlampau baik. Kenapa bisa begitu? Karena sama-sama tidak ingin mengecewakan Mama, kami manut aja dengan usulnya untuk tidak mengambil jalan tol menuju bandara dengan alasan di hari kedua Lebaran, jalanan Makassar diperkirakan akan lengang, terbukti dengan suasana pertigaan PLTU deket PLN Tello yang sunyi senyap. Siapa sangka, kurang dari 3 KM mendekati Bandara Hasanuddin, kami terperangkap dalam kemacetan parah yang nyaris tak bergerak! Setelah muter balik lewat PT. Kima untuk potong kompas di tol pun, tidak banyak yang bisa kami lakukan selain ikut berbaris rapat-rapat dalam kemacetan yang sama. Padahal seorang kenalan di bandara sudah membantu kami check in sejak pagi, kami hanya perlu memasukkan bagasi saja. Sebut saja namanya "Jey". Saya sudah cemas sejak Jey mengirim SMS kedua bahwa kami masih ditunggu. Waktu memasuki jalan tol yang macet itu, SMS Jey sudah berjumlah 8 kali! Papa yang duduk di kursi di depan saya masih mencoba menenangkan saya, "Tenang, Eyn. Masih riki ini," lalu berkelakar ke Uda yang duduk di belakang setir, "Bendahara so pusing." And they laughed together! Kehadiran dua pria yang saya kagumi dan sayangi itu dalam mobil mungkin yang paling menentramkan hati saya saat itu. Selain dari itu, hanya membuat hati ini mangkel. Sayangnya, classified, tidak bisa saya ceritakan disini. Pesawat kami dijadwalkan berangkat jam 13.45 wita, tapi mengingat kemacetan sudah berlangsung hampir dua jam dan diperkirakan banyak penumpang yang terjebak didalamnya, maka sampai jam 14.00 wita, rupanya pesawat kami masih menunggu kedatangan para penumpangnya di bandara. Akhirnya, pada pukul 14.35 wita, SMS ke-sepuluh Jey meruntuhkan semua harapan saya : "Ibu, sudah panggilan ketiga. Mau berangkat mi pesawat ta'." Saya pikir mereka akan menunggui sampai setiap penumpangnya duduk di kursi masing-masing, ternyata mereka hanya menjaring penumpang sebanyak mungkin yang bisa tiba di jam batas toleransi yang mereka tentukan. Well, they can't wait forever juga kan?
Di bandara, kami masih diajak Jey berlarian ke Gate 2, saking nggak sempat lagi, semua barang yang rencananya akan dimasukkan bagasi, harus digotong ramai-ramai ke ruang tunggu. Dan ternyata memang takdir kami untuk tidak ikut pesawat jam 13.45 wita tersebut. Hiks, so close...
Seorang petugas laki-laki dari Sriwijaya menyarankan kami mengecek harga tiket pesawat Sriwijaya yang akan berangkat berikutnya : jam 15.00 wita dan jam 17.35 wita. Katanya kemacetan di luar bandara akan berlangsung lama dan akan ada saja penumpang-penumpang di kedua jam keberangkatan itu yang ketinggalan pesawat. Kalimatnya itu rasanya nggak enak di saya karena sama dengan kami mendo'akan oranglain bernasib sama dengan kami, tapi sikon memaksa kami berpikir dan bertindak cepat. Kalau sudah sampai di situasi seperti ini, kami cepat mengambil keputusan dan berbagi tugas. Uda turun ke loket Sriwijaya bersama Junaedi dengan barang-barang yang akan masuk bagasi pesawat, sedang saya bersama Icha tetap menanti di atas dengan barang-barang yang akan masuk bagasi kabin. Tugas saya enak? Jelas! Begitulah Suami saya : saya diminta melakukan pekerjaan seringan mungkin dan biar beliau yang mengemban bagian-bagian terberat. Saya bahkan diminta menunggunya di Starbucks sambil bergantian sholat dengan Icha.
Saya melihat Jey berdiri mengawasi kami dari kejauhan dengan tampang prihatin. Dia memang punya otoritas untuk melobi hal-hal kecil di bandara, but not big enough for things like this dan kami sepenuhnya mengerti itu. Wajahnya bersemu senang saat saya menyerahkan kantong plastik berisi nasi rendang dalam styrofoam, dua buah ketupat utuh dan setoples kue kering Lebaran.
Hampir setengah jam kemudian, Mama nelepon nanya bagaimana nasib kami dan apakah saya sempat bertemu dengan dek Mona dan Ucan yang juga baru tiba dari Gorontalo. Setelah dapat kabar dari Uda kalau akhirnya kami ikut pesawat jam 17.35 wita, saya akhirnya turun keluar pintu keberangkatan untuk berjumpa dengan adik kedua saya yang jarang-jarang bisa saya temui. Dalam setahun belum tentu kami bisa bertemu lho, kalaupun bertemu, tidak pernah lama-lama. Sebenarnya waktu itu dada saya sesak karena fikiran penuh, melihat adik saya turun dari mobil itu ingin rasanya saya menangis. Serasa baru kemarin kami bermain dan hanging out bersama selama apapun kami mau. Tapi Alhamdulillah saya berhasil menguasai perasaan saya. Airmata saya hanya akan membuat sedih semua yang ada dalam mobil itu dan itu adalah hal terakhir yang saya inginkan. Dek Mona mencium tangan saya. kami berpelukan, saling menjauhkan bahu untuk berpandangan sebentar dan berucap maklum untuk pertemuan sesaat itu. Ponakanku semata wayang yang super duper lucu terlihat makin besar, dengan rambut keriwil yang dipotong rapih, dia tersenyum lebar melompati lutut Opa yang duduk bersamanya di jok belakang. "Tante Rrreyyyn...!" Saya peluk dia erat-erat and that's it! Kami berpisah deh :-(
Karena saya belum pegang tiket terbaru, saya jadi nggak bisa masuk kembali, jadilah ngambil baggage trolley dan duduk sambil nelepon Mami dan Uda. Setelah Uda keluar dan ngabari perkembangan terbaru, barulah saya menghubungi Call Center Sriwijaya. Sempet emosi juga bicara dengan mereka. Singkat kata, semuanya serba tekor, termasuk perasaan. Sampai saat dengar suara Mami, tangis saya pecah sudah. Astaghfirullaaah...
Saya mengangsurkan kopi yang saya belikan Uda di Starbucks tadi sambil kami menenangkan diri. Selama ini, kalau mau keluar kota dengan pesawat, kami selalu mengambil jalan tol menuju bandara. Yang sangat disayangkan adalah mengapa kami sempat-sempatnya memikirkan perasaan oranglain yang tidak berangkat dan membiarkan oranglain yang memutuskan jalan mana yang harus kami lalui? Begitulah jadinya kalau terdapat banyak kepentingan di atas kendaraan yang sama. Andaipun tadi kami sudah melewati tol sejak awal dan pada akhirnya tetap terjebak kemacetan, toh itu keputusan kami? Rasanya tidak akan seperti saat ini... Dan yang paling bikin miris adalah saya agen tiket. I could've been better... #Shy.
Diluar itu semua, hal yang paling melegakan adalah sikap Uda yang selalu tenang dan bisa menguasai diri. Saya tidak tahu darimana Suami saya bisa bersikap seperti itu dalam segala situasi. You Believe it, believe it not.
Setelah akhirnya semua urusan kelar, kami berjalan masuk ruang tunggu. Seluruh energi serasa terkuras habis. Uda dan Lyza sholat ke mushola bergantian dengan saya biar ada yang nungguin tas-tas dan bagasi kabin. Setelah itu, Uda tidur di pangkuan saya di atas kursi tunggu sambil menunggu panggilan boarding. Saya masih menyempatkan diri ng-issued tiga tiket pesawat untuk teman. Setelah boarding, kami diminta naik ke sebuah mobil minivan berisi ground crew (i guess). Anehnya, penumpang mobil itu hanya kami bertiga dan saat memasuki pesawat, semua penumpang lainnya sudah duduk manis di kursinya masing-masing. Saya memandang Uda dengan terheran-heran, tapi Uda ngecup dan berbisik, "Ssssst... yang penting kita berangkat." Hehehe...
Waktu mau duduk, pramugari dan seorang ground crew sempat bersikeras kami duduk terpisah-pisah di antara kursi-kursi kosong. Come on, guys! Bagaimana bisa satu keluarga duduk terpisah-pisah? Alhamdulillah ini pun bisa kelar karena mereka akhirnya mengalah. Saya lega melihat Uda tidur pulas dan Lyza sumringah melihat pemandangan di luar jendela.
Sekitar jam 19.30 wib kami tiba di Surabaya. Yaa Allah, siapa nyana, maksud hati ingin tiba lebih cepat di Blora sebelum gelap menyergap, akhirnya jatohnya malem juga tiba di rumah Mami Papi :-D

Pelajaran saat itu :
1. Tetapkan tanggal keberangkatan mudik lebih dini lagi,
2. Tidak ada yang lebih berhak selain yang akan bepergian yang boleh memutuskan jalan mana yang akan dilalui.

Terimakasih sudah menyempatkan membaca. Wassalam.